19 November 2014

In Ayah View

Sejak baca postingan ini saya penasaran pengen nyobain sama Suami Prohemer karena... lakik eike bukan tipe yang ngumbar-ngumbar perasaan. Mengumbar pikiran iyes. We discuss a lot. Ngumbar perasaan? Nei. Ngomong cinta aja kudu dipaksa Ya Allah.

Jadi ga mengejutkan kalau jawabannya ya Suami Prohemer banget.... apalah yang saya harapkan. Haha. Here we go.. parenthood as he sees it.

------

1. Apa, sih, yang pertama kali kepikiran saat nan dan r baru lahir?
Apa yah, jujurnya lupa. Karena a tipikal yang jalanin aja apa yang ada di depan yah nggak ada yg kepikiran macam-macam.

2. Were you prepared (terj: a siap)?
Ini siap apaan? Karena diriku terlahir dalam kondisi (siap menghadapi) apapun. Segalanya mesti dihadapin. Siap nggak siap yang mesti dijalanin. Did I run away from anything?

3. Dalam 8 tahun jadi ayah, apa hal yang paling memorable?
Nggak kepikiran? Everything has own memory. The best part I know there is noone is perfect. Everyone have their own problem, every child have their own disability that every parent must deal and accepted.
(Ini mungkin merujuk saat pertama kali kami tahu kemampuan motorik Jendral Kancil tertinggal. Sedih? Iya. It's a mixed feeling, see how your briliant kid dealing with something.. mmm i still figure out how to describe this feeling)

4. Apa memori favorit A tentang Nan? Kalau R?
Tentang nan: nggak tau
Tentang R: nggak tau
(SEE!! SEE!)

5. What’s your favorite thing about being a dad?
Bisa menjadi sahabat anak-anak dan berbagi share 

6. Apa hal paling memorable dari masa kecil yang ingin diulang ke duo R?
Everyone have their own journey.

7. Apa visi A buat duo R?
Mereka bisa menjalani apa yang terbaik bagi mereka dan profesionalisme.

8. Apa yang ingin A lakukan bersama anak saat anak-anak sudah besar?
Nggak tau

9. Apa yang mau A tanamkan ke anak?
Agama, keberanian, tanggung jawab, jujur, profesional dan cerdas 

10. What parts of yourself do you hope anak-anak ends up with? (Terj: bagian -sifat, tubuh, dll- apa dari A yang maunya nanti ada di anak-anak? 
Nggak ada, terima aja yang sudah ada.

11. If you could do this all over again, what would you change?
Nothing

----

See? Hahaha... anyway.. makasih ya suami udah jawab-jawab. Makasih udah ngasuh anak-anak. Makasih udah selalu menyempatkan diri dengar, main, jadi imam, ngajarin ngaji, dan bacain cerita buat anak-anak meaki dirimu lelah banget dan sibuk banget. We love you. I love you more than Duo R. And Happy belated fathers day suamiii.


Read More

31 October 2014

Tiga Kebaikan

Suatu ketika saya meminta bantuan Al, teman saya di kantor. Ternyata bantuan itu membuat Al harus mengeluarkan uang dan ujungnya saya berhutang sama Al.

Cuma karena saat itu lagi sibuk, saya belum sempat bayar. Namanya hutang kalau ga langsung dibayar jadinya ya lupa. Saya lupa, Alnya juga. Waktu saya ingat punya hutang, Alnya udah lupa nominalnya berapa.

Pusing ga?

Akhirnya karena saya memaksa bayar (ya iyalah maksa.. kan yang ngutang eike) dan Al juga bingung nominalnya berapa... Al memutuskan dibayar dengan tiga perbuatan baik.

Eh buset.. malah bikin tambah bingung.

Masalahnya kriteria baik itu kan absurd. Senyumin orang aja kan bisa dinilai baik. Nah kalau kriterianya gitu.. eike udah baik dong tiap hari. Melakukan tiga kebaikan itu ya jadi gampang. Dan dasar manusia, dikasih susah ngeluh dikasih mudah ngeluh juga. Saya ga terima kalau penyelesaian hutang piutang ini semudah itu.

Akhirnya saya mikir apa kebaikan yang bisa saya lakukan di luar kebiasan saya. Peningkatan kebaikan lah ceritanya. Nantangin banget emang si Al ini.

Kebaikan pertama adalah saya nawarin snack (yang saya dapat gratis pulak) ke adik lucu yang lagi sama-sama nungguin ayam bakar matang di warung. Kecil yaa.. hahaha. Tapi saya senang.. soalnya ini ga ngeluarin uang.. beda lah. Orang  (saya) biasanya gampang ngeluarin uang karena ngangap itu sedekah dan bakal balik berlipat-lipat. Tapi suka susah berbuat baik karena.. in my case males dimamfaatin.

Padahal.. banyak orang yang cuma sekedar butuh diajak ngobrol atau disenyumin.

Yang kedua, saya selalu kagum dengan cerita warung kopi yang memberikan kopi gratis untuk gelandangan. Kopi-kopi ini dibayar oleh pelanggan lain yang mampu. Pengen banget bikin warung makan begini (karena saya tau gimana rasanya kelaparan dan ples gengsi minta-minta). Tapi namanya ga mau repot ya itu cuma impian.

Sampai mbak kantor cerita, kalau sedekahnya dia itu ya dengan nitip duit di kantin kantor buat bayar makanan mas-mas cleaning service. Dan saya tercerahkan.. ih benar juga ya. Nolong yang dekat, bantu Ibu Kantin juga. Secara kalau kita yang pegawai aja harus bawa bekal atau puasa dari senin sampai kamis biar berhemat, kebayang lah gimana mas-mas cleaning service ini berjibaku.

Dan karena langsung diamanahkan buat orang tertentu, insyaallah lebih tepat sasaran. Buat orang yang benar-benar butuh.. bukan yang sekedar pengen makanan gratis.

Udah sebulan berlalu saya masih merasa ngutang satu kebaikan. Belum kelar ini. Kebanyakan mikir sih.. mikir ini bermamfaat ga? Caranya gimana? Saya pernah pengen bayarin ongkos orang tapi ya itu kebanyakan mikir. Akhirnya ga jadi.Dua kebaikan lain saya lakukan mendadak.. ga pakai mikir-mikir. Langsung aja. Dan puas. 

Gimana? Keren ya cara si Al. Ga sekedar "Udah lah gw ikhlasin utang lu" tapi "Utang lu gw ikhlasin, trua lu balas ke orang lain ya."  Hehe.

Read More

27 October 2014

Yes You Can!


Sssst... can you keep a secret? 

Ini novel Bahasa Inggris pertama yang selesai saya, emak-emak pekerja lulusan PTN berusia 29 tahun,  baca. Hahaha. 

Milestone di usia 29 tahun. Novel ya ceu.. tadinya saya mau mengklaim ini buku bahasa inggris pertama, tapi saya baru ingat kalau buku cerita Jendral Kancil atau Captain Kid sudah tamat saya baca. Jadi diralat... ini novel bahasa inggris pertama yang sekesai saya baca.

Kog baru sekarang? Padahal dari dulu saya berniat membaca buku bahasa inggris agar makin lancar ngomong inggris. Dari dulu saya sempat membeli beberapa buku impor meski dengan perasaan gentar takut ga tamat. Buku yang saya pilih adalah buku "Yang penting tipis, jadi selesai dibaca"

Karena takut ga selesai..saya benaran ga pernah selesai membaca buku-buku berbahasa inggris itu. Padahal sudah dipilih buku "Yang penting tipis". Sejak itu saya ga pernah berani ngelirik buku-buku impor dan cuma terkagum-kagum mendengar teman membaca buku impor setebal kamus KBBI. Mereka kalau ngigau musti pakai bahasa inggris juga sangking jagonya. 

Sampai saya memenangkan kuis sewa buku gratis dari Reading Walk. 

Saat itu meski sempat tertarik dengan beberapa buku impor, saya memutuskan menyewa buku-buku terjemahan saja. 

Namun saat buku pesanan tidak ada dan saya tidak sempat mencari-cari buku penggantinya. Saya memasrahkan pesanan kepada Mbak Indri dari Readingwalk. Clue dari saya cuma... "Saya suka kisah cinta yang manis-manis gitu mbak. Kalau bisa bahasa inggris ya"

Tadinya saya juga masih takut-takut mengajukan syarat full bahasa inggris ini. Takut bosan. Takut ga ngerti. Takut ga selesai. Takut rugi, minjam tapi ga dibaca. Tapi ya sudahlah. Saya benaran ga ada waktu buat milih-milih lagi.

Jadi saat paket dari Readingwalk tiba, saya memilih membaca novel ini terakhir. Suprisingly saya cocok sama pilihan Mbak Indri. Saya tamat baca novel ini. Bisa juga ternyata.

Mungkin karena saya tertarik dan penasaran dengan ceritanya. Mungkin karena meskipun saya ga mengerti beberapa kata tertentu saya tetap bisa paham jalan ceritanya. Mungkin saya penasaran Jack Harper menyimpan rahasia penting apa. Mungkin karena saya ga sabar ngebayangin Emma dan Jack jadian.

Kagum saya. Ternyata baca novel impor itu ga sesulit yang saya bayangkan. Ternyata saya bisa loh. Gilak... kemarin-kemarin saya meremehkan diri sendiri. *benturin pala barbie*

Dari sini saya dapat pencerahan.. kalau saya yakin ga bisa, maka ga bisalah jadinya. Sebaliknya kalau saya yakin bisa... saya beneran bisa. Padahal yakin bisanya saya kemarin itu masih diselimuti keraguan besar. Namun karena saya berpikir "Ya sudahlah ga ada ruginya ini.. dicoba aja" saya jadi berani mencoba. Saya pelan-pelan mulai berpikir "sepertinya saya bisa deh." Kebayang gimana powerfullnya pikiran saya bisa ini kalau ga pakai acara ragu-ragu. 

Jadi ternyata yang penting berani. Berani mencoba walau takut ga bisa.

Keyakinan ini ternyata bisa diterapkan pada soal sekolah. 

Sebagai anak yang tumbuh di keluarga lumayan, saya selalu yakin akan menamatkan kuliah S1. Pasti bisa jadi sarjana. Ga mungkin ga bisa.

Keyakinan ini pasti berbeda untuk anak-anak dari keluarga tidak mampu. Mereka tidak pernah memikirkan sekolah S1. Buat mereka itu mimpi. Angan-angan. Jadilah mereka tidak berani mencoba masuk kuliah, meski sudah banyak orang yang bilang kuliah itu gampang. Yang penting masuk dulu.. bayarnya bisa cari beasiswa sana-sini. Tapi mereka sudah terlanjur tidak berani mencoba.

Ini persis sama saat saya memikirkan kuliah S2. Buat saya kuliah S2 itu mahal. Karena mama-papa saya selalu bilang mereka cyma mampu nyekolahin sampai S1. Kalau mau sekolah lagi ya beasiswa. Tapi beasiswa itu susah, saingannya pintar-pintar. Jadilah saya maju-mundur mengajukan aplikasi beasiswa. Saya ga berani. Menurut saya, saya ga mampu. Padahal mana tau? P

Jadi.. sekarang saya sedang buru-buru membangun keberanian saya, buru-buru menghilangkan keraguan akan kemampuan diri saya sendiri. If you think you can, than Yes! You can!

Ini juga yang coba saya dan suami prohemer terapkan sama Jendral Kancil dan Captain Kid. Apapun cita-cita mereka kami selalu bilang.. iya.. kamu pasti bisa. Meski saat ini hitung-hitungan di atas kertas tampak mustahil. Saya percaya saat kita yakin kita bisa, kita selalu bisa melihat peluang/cara untuk mewujudkannya. Setidakmungkin apapun kondisi itu kelihatannya. 

-------

Btw Chicklits are my guilty pleasure. Isinya dangkal. Cuma kisah cinta manis-manis gitu. Padahal buku itu mahal.. jadi kalau beli, prinsip saya pilihlah yang optimal. Optimal faedahnya. Optimal insightnya. Dan chicklit ini ga optimal. Dia cuma bacaan ringan yang menghibur kepala. Macam telenovela.

Sayangnya kalau sudah seharian berkutat dengan pekerjaan, kepala ini rasanya berat banget kalau masih diisi novel penuh makna favorit saya. Capek. Kerja mikir.. pas mau santai-santai baca novel masih harus mikirin derita pemeran utama. Masih harus membayangkan orang berjuang. Membayangkan saya membayangkannya saja sudah bikin capek. Capekception.

Nah.. karena sekarang saya sudah bisa menamatkan novel impor,  saya jadi tetap bisa membaca buku ringan tanpa perasaan bersalah. Toh sekalian melatih bahasa inggris. Optimal faedahnya kan? Not too guilty pleasure right?  *ngikik sambil lihat-lihat daftar buku di Readingwalk*


Read More

Weekend 44/52

Berhubung kebanyakan isi postingannya tentang weekend, maka mari kita ganti judul jadi "Weekend ke sekian dari 52 minggu jatah setahun". Biar beda.. biar ketauan juga tahun ini tinggal berapa minggu. Dan.. tau-tau 2014 tinggal 8 minggu ya kakak... Ish cepat aja kakak...

Apa kabar janji-janji?

Baiklah.. weekend kemarin Capcai dan keluarga.... *drum roll please*

Gak kemana-mana.

Jeng..jeng... tutup tirai.

Hahaha.. iya weekend kemarin kita gak kemana-mana karena

Captain Kid Kena Campak

Anak bayik tiba-tiba demam malam kamis. Ga mau minum susu. Apalagi makan. Ga mau main. Maunya diem aja. Dikompres juga ga mau. Akhirnya dikasih parasetamol.

Besoknya udah mau minum susu walau dikit. Diare juga. Udah minta main. Iya... Minta malah. Makan ya sesuap dua suap. Maksimal 7 suap.

Malamnya emak pulang lihat anak lemes-lemes ganteng, tapi ga mau didekatin. Terus tiba-tiba punya tenaga buat main. Iya... anak bayiknya tengah malam keliling-keliling rumah dengan hepinya. Karena udah hepi.. saat ditinggal ibu balik dia adem aja.

Emak yang ngantuk terus matiin semua lampu... tidur lagi deh.

Sabtu Minggu, demamnya masih muncul sekali-sekali. Mulai muncul ruam semuka-muka, sekaki, dan setangan. Cuma nafsu minum susunya udah nambah.. udah kayak normal. Makannya masih ga mau. Dikasih bubur ogah. Nasi tim juga ogah. Tapi cireng sama cakue mau. Jadi segala snack sehat ga sehat kita jejelin. Masuklah dikit-dikit. Susunya kita jejelin terus biar badannya ga panas. Terus biar ada makanan masuk.. susunya kita tambahin telur ayam kampung.

Alhamdulillah semangat mainnya ada. Mau main terus. Mau jalan-jalan terus..malah mau ikutan kakak main air.

Semoga segera pulih ya...

Terus kita juga ga jalan-jalan jauh karena Suami Prohemer kakinya keseleo.

Iya.. ga ada badai ga ada gempa, suami prohemer jatuh di jalan. Ditolong mbak-mbak yang manggil dia adek (mulai keliatan modusnya?). Dipijit sama ahli tulang. Dibawa ke dokter kantor. Hasilnya.. asam uratnya tinggi.

Lhoh? Iyes.. asam urat tinggi bikin sendi kaki yang keseleo susah sembuh. Suami prohemer juga disuruh berenang aja.. ga perlu lari 6 km 6 km itu. 

Jadi weekend kemarin suami tidur, anak bayi tidur, emak namatin buku dan nonton Gravity, anak gede berenang sendiri. Tetap hepi. 

Read More

22 October 2014

Weekend Kemarin

Weekend kemarinnn... ntar ya diingat-ingat dulu.

Oh... saya balik dari Medan sabtu pagi. Sabtu siang harus tes TPA.

Tes TPA

Mmm... tes TPA tahun lalu saya jeblok. Bwahahaha. Maluk! Kalau melihat nilainya tampak mustahil saya bisa lolos di kantor sekarang. Eh.. tapi saya masuknya bersih kog, jalur usaha mandiri. Tahun ini gimana? Sepertinya sih sama aja. Haha.. pasrah... secara masih kecapekan abis dinas ke luar pulau dan ga pakai belajar juga.

Hasil bincang-bincang dengan sesama peserta tes TPA, soal-soalnya memang lebih susah. Mungkin mengakomodir kepintaran anak-anak jaman sekarang. Sudah berapa sering sih kita dengar

"Pelajaran anak jaman sekarang yah.. susah banget. Gw belajar materi itu -masukan satu level kemudian-"

Jadi sepertinya soal TPA jaman dahulu bisa diselesaikan anak muda nan kinyis kinyis itu sambil merem. Maka.. Bapenas dengan niatnya meningkatkan level kesulitan mereka.

Saya? Bengong lihat banyak soal yang harus ditebak. Ditambah mas-mas pengawas yang muda dan tampan nangkring di sebelah saya. Tampang eike segitu cluelessnya ya.. sampai terindikasi akan berbuat apa saja mengorbankan integritas saya yah mas? Hahaha... kalau saya jadi ga bisa ngerjain apa-apa itu karena grogi didekatin terus ketauan banyak yang kosong.. cantik-cantik kog nebak.

Jadi mari kita serahkan saja hasilnya kepada Allah. Semoga tebakan yang ga pakai lihat soal itu banyak benarnya.

Kelar tes TPA saya langsung cabut ke Bandung. Hello weekend! HELLO!

Kerja Bakti dan Main Air

Minggu pagi, suami kerja bakti. Istri? Berkedok main air saya mandiin anak-anak di halaman. Barbar yes?  Enaknya rumah di pojokan itu.. tetangga ga ada yang lihat ada keluarga kecil nan bahagia mandi di halaman. Saya malahan sempat keramas juga. Bwahaha.

Main air itu bikin lapar dan ngantuk ya... tapi ga ada makanan secara belum masak. Nyulangin Captain Kid pakai makanan seadanya, anaknya juga mau ga mau gitu. Ya udah tidur aja kita.

Anak-anak tidur, saya masak ikan pepes tanpa daun pisang itu. (Yang seninnya dituduh Ibu itu ikan bumbu pindang. Pukpuk dong...)

Toko Buku dan Makan Iga

Malamnya kita cabut buat jalan-jalan. Tadinya mau ngajak  Captain Kid mandi bola.. soalnya udah 15 bulan, main di playground mall aja anak ini belum pernah. Kasian anak desa. Tapi kakaknya mau ke toko buku. Ya udah.. kakak milih buku, Captain Kid keliling-keliling toko sambil bawa buku pelajaran SMA atau SMPTN. Gaya banget. Kayak ngerti aja. Diajak ke rak buku anak-anak malah ga mau.

Jendral Kancil senang, Captain Kid senang. Win win solution lah ya mak.

Kelar milih buku sekarang saatnya MAKANNNN!

Makan di Iga WS aja (mana janji weekend kemarin mau ngurangi jajan?). Iga buat suami dan Jendral Kancil, sop buntut buat saya dan Captain Kid.

Iga ini ada dekat jalan pramuka sebelah bebek slamet. Buat saya menu daging-dagingannya enak. Mendoannya ketebelan. Menu ayam juga enak. Senang lah.

Minumannya gimana? Enak? Ehm.. kita pesannya air putih biasa aja. Hahaha.

Kelar makan kita pulang.... tidur. Bye weekend.. see you!

Read More

Rizki itu soal rasa

Rizki itu soal rasa, adalah judul artikel yang pernah saya baca. Dan saya mengamininnya. Rizki itu bisa terasa besar atau kecil. Bisa terasa cukup atau kurang. Padahal jumlahnya ya segitu-gitu aja.

Dalam Islam, rizki sesorang itu sudah ditentukan. Soal takdir ini, yang saya pahami adalah Allah sudah menentukan rizki seseorang. Kalau berusaha pakai level 1 maka rizkinya sekian, kalau berusaha level 5, rizkinya sekian tambah sekian. Yah.. bisa jadi dua orang yang level usahanya sama-sama 5 tapi rizkinya beda karena takdirnya sudah begitu.*

Terus ga usah usaha dong.. kan udah ditentukan. Ya kalau ga mau usaha juga ga masalah. Sama Allah ga akan  ada mahluk yang dibiarkan tanpa rezeki. Akan selalu ada nyamuk untuk cicak, akan ada selalu remahan makanan untuk semut, dan begitu juga akan ada selalu makanan buat hambanya. Ada... Cuma dapatnya segitu aja. Yakin ga mau usaha lebih buat dapat lebih banyak?

Terus kapan rizki terasa banyak? Saat disyukuri. Rizki kalau tidak disyukuri tidak akan pernah terasa banyak. Ada orang yang selalu merasa miskin, kurang uang.. padahal kalau hitung-hitungan hartanya dibawa ke financial planner maka hey kamuuuuu harta kamu lebih banyak dari si A loh.. pendapatan kamu juga.

Orang yang tidak pernah mengeluh kekurangan uang bukan berarti hartanya melimpah ruah.. menurut saya sih.. dia merasa hartanya cukup. Kalau sudah cukup.. apalagi sih yang mau dikeluhkan.

Memangnya orang begini ga pernah kepepet?

Pernah lah... eh kog saya yang jawab.

Pastinya pernah. Kalau terlihat tenang dan ga ada masalah.. karena masalahnya diceritain ke Allah, minta solusinya ke Allah, nunggu solusi yang pasti ada dari Allah, dan nunggu pertolongan Allah yang pasti datangnya. Ish.... gimana ga tenang dan kalem coba.

Nah... pemikiran ini yang coba saya tanamkan ke hati saya. Rizki itu soal rasa. Jadi coba dirasa cukup. Kalau merasa tidak cukup terus.. saya takutnya sama Allah beneran ditidakcukupkan. Baik nominalnya.. baik rasanya.

Merasa cukup.. merasa sudah dilebihkan.. lalu beneran dilebihkan.

Toh katanya watch your thoughts, they become words. Watch your words, they become actions, watch your actions, they become habits. Watch your habits, they become character. Watch your character, it becomes your destiny.

Jadi kalau kepikiran kurang terus.. ngomong susah melulu, lama-lama beneran jadi orang susah.. ada rizki apapun dianggap ga ada. Ga enak.

Lagian kog doyannya berlomba-lomba menjadi orang paling susah sih? Gagal paham saya.

Terakhir, dalam islam itu orang yang paling perlu dibantu itu malah orang yang tidak meminta padahal ia membutuhkan. Ga percaya? Baca surah Al Baqarah deh.

Terus.. (ini beneran terakhir) hadis tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah itu ada awalannya.

"Sesungguhnya harta itu indah dan manis. Barang siapa yang mengambilnya dengan lapang hati maka akan diberikan berkah kepadanya. Barangsiapa yang mengambil dengan kerakusan (mengharap-harap harta), maka Allah tidak memberikan berkah kepadanya, dan perumpamaannya (orang yang meminta dengan mengharap-harap) bagaikan orang yang makan, tetapi tidak kenyang (karena tidak ada berkah padanya). Tangan yang di atas lebih baik daripada yang di bawah."

Yuk ah.. berhenti mengemis mulai merasa cukup biar berkah.

-----

*Soal rizki itu takdir.. saya masih bingung antara takdir seperti di atas atau mau usaha level 5 atau 1 ya dapatnya sekian juga. Cuma kalau usahanya level 5 maka rizkinya diberikan di atas nampan. Kalau level 1, rizkinya dilempar ke tanah.

Macam PNS... yang rajin atau yang malas dapatnya sama aja. Cuma kalau rajin dapat segitu ya berkah... yang malas ya sambil dicaci orang.

Read More

21 October 2014

Presiden baru!

Tanggal 20 Oktober kemarin Indonesia merayakan pesta rakyat peralihan kepemimpinan dari Pak SBY ke Pak Jokowi.

Heboh sih..

Saya? Saya dulu pernah senang banget waktu Pak SBY terpilih pertama kali. Senang banget.

Waktu itu rasanya Indonesia bisa jadi apapun. Bisa jadi lebih baik. Meski seiring waktu saya merasa ada penurunan rasa puas akan pak SBY, tapi saya yakin beliau sudah berusaha sebaik mungkin. Terlepas apapun tujuan keputusannya ya.

Makanya saat sekarang orang heboh akan Pak Jokowi.. saya malah lempeng. Sewaktu memilih pun saya setengah berharap pilihan saya tidak menang. Saya takut beliau tidak amanah dan saya berkontribusi akan itu. Aneh ya..

Lost of hope? Ga sih... orang baik dan ingin memperbaiki Indonesia banyak kog.. sayangnya orang DPR/DPRD/DPD/MPR juga banyak ya.. hahaha.

Anyway, Terima kasih Pak SBY. Dan.. selamat ya Pak Jokowi, semoga amanah ya Pak.

Btw.. fansnya baikan napa.. didukung gitu. Siapapun yang kepilih kan perlu dukungan kita. Iya.. perlu dikritik juga.. tapi kritiknya mbok ya pakai cinta gitu.. kritik yang disampaikan untuk memperbaiki.. bukan menjatuhkan.

Read More

20 October 2014

Ikan pepes tanpa daun pisang

Saya kalau lagi rajin atau lapar, jadi senang masak. Masak jaman sekarang itu kan gampang.. tinggal googling resep, ikutin, jadi deh. Cuma meskipun rasa lapar sering datang, rasa rajinnya jarang datang.. jadinya saya suka takut kalau mau invest perslatan makan yang canggih-canggih. Takut cuma kepakai sekali.

Jadi peralatan masak saya standar banget. Wajan beli di pasar, panci beli di pasar, wajan hadiah, dan talenan pasar. Bahkan kukusanpun saya baru punya sekarang-sekarang. Dulu ngukus itu pakai metode alat buat ngangkat gorengan ditaruh di atas panci. Fotonya kemana ya..

Sampai akhirnya agak berani beli presto dan hepicall. Alhamdulillah dua ini lumayan kepakai buat bikin apapun yang lunak-lunak dan apapun yang bakar-bakar. Sempat bikin brownies hangus pakai hepikol.. hahaha.

Nah kemarin saya kepengen bikin pepes ikan, tapi males ngambil daun pisang. Jadinya mau dikukus aja di mangkok. Terus baru ngeh kalau saya belum punya pinggan anti panas. Dulu pernah pakai mangkok untuk tempat kukusan.. dan mangkoknya sukses kebelah jadi dua. Hahaha.

Mikir-mikir mau pakai apa... sampai mata saya bertatapan dengan panci kecil yang sudah patah pegangannya. Oke.. itu aja. Kalau panci kan musti kuat dikukus. Dan sukses! Hore!!!

Pepesnya gimana? Sukses sih.. cuma itu.. lupa ngalasin tutup panci kecilnya pakai kain biar air ga netes... jadinya malah agak becek. Next time...

Ini resep ikan pepes tanpa daun pisangnya

Bahan:
6 potong ikan, lumurin dengan garam dan air perasan jeruk nipis
Serai
Daun kemangi
Gula garam

Bumbu:
Haluskan
6 siung bawang putih
6 siung bawang merah
Seruas kunyit
Kemiri yang disangrai (saya tadi ga pakai.. ga ada stoknya)
Cabai merah dan cabai rawit secukupnya.

Cara:
Campur bumbu halus dengan ikan, masukkan serai dan daun kemangi serta gula garam. Aduk. Kukus selama 25 menit.

Jadi deh. Gampang kan?

Jadi.. saya udah boleh ngajuin proposal beli pinggan tahan panas nih?


Read More

Pengabdian Itu ya Gini

Sudah dua kali... pikiran buat mengundurkan diri dari kantor yang sekarang muncul. Dulu ga pernah... mungkin karena dulu saya merasa cukup bersabar sampai keadaan memperbolehkan saya pindah ke Bandung.

Lalu.. datanglah hamil. Datanglah anak bayi. Saat ada beberapa yang boleh pindah dengan alasan hamil dan punya anak bayi.... saya mengajukan penempatan sementara saja ditolak... bahkan jauh sebelum permohonannya sampai ke SDM.

Lalu saya cari jalan lain.. mungkin kalau status saya bukan trainer tapi auditor.. saya bisa minta pindah ke Bandung.

Namun... setelah menyelesaikan diklat auditor dengan cemerlang.. setelah mengorbankan masa-masa menyusui anak.. wacana pindah saja sudah ditolak.

Saya bingung harus apa.

Saat ini saya capek sakit hati setiap Captain Kid asing melihat saya. Saat ini saya capek mikirin Jendral Kancil belajar sendiri. Saat ini saya capek berantem sama Suami Prohemer karena badan capek itu disentil dikit emosinya melimpah ruah. Saat ini saya capek di jalan... sambil ketakutan gaji yang cukup banget buat hidup di Jakarta itu dipotong karena saya telat. Potongannya bisa bayar SPP Jendral Kancil. Saat ini saya capek iri hati lihat orang yang dekat dengan siapa bisa pindah sesukanya. Saat ini saya capek... capek mengharapkan bos-bos saya paham kondisi saya.. capek mengharapkan mereka berempati.. they never know how its feel until they walk in my shoes.

Ga.. saya ga galau Pak. Saya tau yang saya mau. Saya mau dan sudah mengusahakannya terjadi.

Terus saya harus nyoba apa lagi? I hate myself when grundel grundel like this. Hahaha.

Saya tahu resiko saat masuk ke kantor ini adalah ditempatkan di mana saja. Yang saya ga tau adalah betapa kesempatan ditempatkan di mana saja itu tidak berlaku adil. Dan iri itu.... parah ya... makan jiwa.

Sekali ini boleh ya...

I hate my job.
I hate my office.
I hate me who posting this and blamming others for my conditions.
I hate me.

-ditulis saat nungguin travel, dini hari, tapi sudah pasti telat ke kantor. Halo potongan pendapatan bulan ini...

Read More

15 October 2014

Dibawa Hepi

Dikirimin foto ini pagi-pagi sama suami prohemer...

Tiap hari sekolah, Captain Kid ikut Ayah nganterin kakak ke sekolah. Naik motor. Ih.. sebelum protes ga masuk angin apa? Doain ya bisa segera mampu beli mobil tunai. Haha. Lagian sama Suami Prohemer anak bayik dibungkus berlapis-lapis. Insyaallah kuat.

Seru ya!

Padahal itu sudah pukul 7.10 pagi. 7.30 Jendral Kancil masuk sekolah. Rumah ke sekolah butuh 30 menit. Tapi tetap senang-senang dulu. Haha.

Kalau ada emaknya udah ngomel-ngomel pasti.

Ayahnya emang jago kalau bikin hepi-hepi. Kalau Jendral Kancil terlalu telat buat ke sekolah, acara belajarnya diganti pergi ke museum. Yang penting belajar sesuatu. Hahaha.. Kalau emaknya pasti tetap nyuruh sekolah. Diketawai? Gpp.. biar lain kali ga mau telat lagi.

Buat saya, Jendral Kancil butuh sedikit (sedikit saaaaja) sikap santai Ayahnya. Soalnya Jendral Kancil ini saya banget. Ga mau melanggar peraturan, sistematis, kalau ada hal yang di luar rutinitas bakal dipastikan berkali-kali boleh dilakukan atau tidak. Kurang fleksibel lah... Jadi biar ga sekaku saya, dia butuh disantaiin bapaknya.. butuh diarahkan kalau kita tetap bisa senang meski ga sesuai rencana.

Tapi Jendral Kancil juga harus diajarin tepat waktu.. apalagi kalau janjian sama orang. Kalau dia telat, dia menghilangkan waktu temannya dan ga bisa diganti. Ngehilangin barang orang masih bisa diganti. Ngehilangin waktu orang? Gantinya ga ada.

Ya itu... berusaha tepat waktu, tapi kalau ga bisa ya.. dibawa hepi aja. Kayak tadi pagi..

Dan.. mereka hepi banget kan yaaaa....

Read More
 

©2009capcaibakar | by TNB