09 July 2014

Tell them not to rape



Saya ga 100% setuju dengan jargon "Dont tell us how to dress. Tell them not to rape." Iya, orang beriman dan berakal akan mikir beribu-ribu kali sebelum melakukan kejahatan. Tapi ga semua orang imannya tinggi terus. Ga semua orang akalnya dipakai terus. Saya ga akan menggantungkan keamanan diri kepada asumsi semua orang beriman dan semua orang berakal. Saya yang bertanggung jawab atas keamanan saya.
Loh.. Yang diperkosa itu bajunya ga seksi kog. Yang diperkosa anak kecil atau nenek nenek atau waria atau orang ga waras yang jangankan seksi, kalau dia manggil, lakilaki noleh aja enggak. Kabur iya. (Cung yang keringat dingin kalau disamperin Mas-sis di lampu merah)
Tapi... Manatau, saat saya pakai baju ketat, pakai rok mini, pakai celana gemes, pakai baju dengan belahan dada rendah, ada yang tersulut syahwatnya. Dan mungkin.. Dia tidak memperkosa saya, namun beralih ke orang lain yang kebetulan ada, kebetulan tidak bisa membela diri.
Lalu saya siapa? Pemicu? Bukan. Siapa juga yang mau jadi pemicu pemerkosaan. Kalau busana saya yg memancing syahwat harusnya semua lelaki netesin air liur. Ini enggak.
Iya... Itu karena masih ada orang yang memakai akalnya. Masih ada yang memegang imannya. Dan sekali lagi.. Ga bisa saya mengharapkan semua orang beriman dan berakal terus. Yang bisa saya kontrol ya diri saya. Dan saya memilih ga mau jadi pemicu.

Read More

27 February 2014

Jendral Kancil Sunat (1)

.... Desember kemarin. 

ibuk apa ini.. milestone besar, penting, dan sekali seumur hidup-iye... kebayang aja kalau sunat musti dua kali. Abis dong- anaknya baru dicatat dua bulan kemudian. 

Tepatnya pas hari ibu, tanggal 22 Desember. Gampang ya diingatnya.. bukan.. bukan dipas-pasin. Jadi begini.. kita mulai dari awal ya. Duduk dong. Ehm.. iya.. makasih teh botolnya. *penulis mulai berhalusinasi*

Jadi Jendral Kancil sudah minta disunat sejak naik kelas 2 SD. Sekitar pertengahan tahun lah. Saya sih langsung setuju aja. Mumpung anaknya yang minta nih.. Ayuk lah. Sekarang juga kita ke dokter sunat. Tapi.. Bapaknya bilang tunggu liburan aja, biar ga perlu ijin lama. Waktu itu saya masih bersikeras agar sunatnya dilaksanakan dengan cara seksama dan dalam tempo secepat-cepatnya. Argumen saya, jaman robot udah pergi ke bulan begini sunat kan ga sesakit dahulu, recoverynya juga cepat. Jumat sunat, Senin sudah bisa beraktivitas dong ya. Tapi Bapaknya keukeh bilang libur aja, mau metode apapun sembuhnya ga secepat itu neng... 

Yo wes.. secara saya gak pernah disunat, kita nurut sama yang sudah berpengalaman kan. Jadi sambil nunggu libur tengah semester, saya mulai googling-googling tempat sunat di Bandung. 

Rekomendasi pertama tentu saja The Legen(wait for it)dary Bypass Soekarno Hatta. Klinik khitan bypass soekarno hatta ini paling terkenal di Bandung, ibarat Aqua di pergalonan, Pampers di perpopokan, Odol di perpastagigian. Secara sudah 40 tahun lebih ya malang melintang di dunia sunat-sunatan ini. Sekarang sih namanya Khitanan Paramedika, meski tetap terkenal dengan Sunat Bypass. 

Cuma karena yang ditawarkan cuma metode konvensional, Sunat Bypass ini dicoret dari pilihan kita. 

Emaknya cuma bisa nungguin Jendral Kancil saat weekend, jadi perlu sunat yang ga terlalu sakit. Kebayang deh repotnya Ibu kalau harus ngasuh Captain Kid sambil ngurusin Jendral Kancil yang kesakitan.Meskipun kata Ibu, sunat disini kabarnya anak yang sebelumnya takut dan nangis-nangis, kelar sunat malah ketawa-ketawa. 

Hahaha.. kayak ketok magic ya.. ga tau diapaain di dalam, keluar-keluar kinclong aja. Cuma eike pikir itu kan ketawa-ketawanya pas di sana.. obat biusnya masih mempan. Pas di rumah?

Alternatif selanjutnya adalah Klinik Khitan Seno Medika. Tau klinik ini karena sering dilewatin saat kita turun gunung ke kota. Dan ternyata waktu digoogling, dia terkenal dong. Ya.. secara gedungnya juga gede Capcai. Kau pikir darimana uangnya.

Waktu ditanya-tanya via BBM metode sunat yang digunakan di klinik Seno Medika ini cuma metode konvensional, tapi ga pakai perban-perban seperti Khitan Bypass. Saya sempat tergoda banget karena Klinik Seno ini banyak ples-plesnya. Waktu itu ada promo diskon 50% kalau sunat di musim liburan, dapat merchandise juga, dapat foto juga. Ples pigura *dadah-dadah sama Jonas* Sungguh ya.. perempuan itu (Lu aja kali Capcai..) lemah terhadap diskon dan bonus *lirik manis emak-emak yang beli deterjen gegara bonus mangkok cantik*

Waktu saya oprek-oprek web-nya, di sini ada toko yang menyediakan baju koko, sarung, celana sunat, roti buaya, mainan dan berbagai printilan sunat lainnya. Penting ini buat emak-emak yang cuma ketemu anaknya pas weekend. Ga perlu repot belanja kesana-kemari lagi. Terus mereka juga menyediakan antar jemput khitanan dan penginapan. Palugada sekali. 

Sunatnya bagaimana? Mengutip dari blog ini -yang anaknya sunat di sana-
 
 “Sini ya, difoto dulu”, kata petugas. Ternyata ucapan mau difoto itu hanya taktik agar si anak tidak takut. Ajaib, si anak menurut saja seolah-olah terhipnotis tanpa merasa takut sama sekali. Pengantar hanya boleh sampai di depan pintu saja,  Eh, lima belas menit kemudian si anak sudah keluar sambil senyum-senyum. Di kepalanya ada topi hadiah dari dokter, lalu tangannya memegang sebungkus besar makanan ringan kesukaan anak-anak. Anak-anak keluar dengan memakai celana seperti dia masuk. Saya tanya anak saya apa yang terjadi di dalam. Katanya dokter mengajaknya ngobrol-ngobrol, lalu disuruh melihat TV di depan. Tahu-tahu sudah selesai. Sakitnya hanya waktu disuntik kebal, seperti digigit semut.
Cuma.. karena metodenya masih konvensional.. mari kita skip saja ya. Cari klinik lain. 

Alternatif selanjutnya adalah Pusat Khitan Sumbawa. Saya tahu klinik ini dari theurbanmama, dan baru ngeh kalau ini dekat sekolah saya dulu. Mengutip dari artikel di Urban Mama:

Pusat Khitan Sumbawa
Jl. Sumbawa No.9 Bandung (022-4224743)
Metode Cauter
Tarif utk 12th kebawah: Rp. 400.000 + pendaftaran Rp. 20.000
Kalau mau pakai salep yang bagus tambah lagi Rp. 125.000
kontrol gratis
Boleh didampingi
Metode Konvensional
Tarif utk 12th kebawah: Rp. 600.000 + pendaftaran Rp. 20.000
Kalau mau pakai salep yang bagus tambah lagi Rp. 125.000
Kontrol & buka jahitan gratis
Tidak boleh didampingi

Nah ini ada pilihan metode cauter. Cuma saya masih mikir-mikir.. pertama lokasinya jauh. Eh salah.. lokasi rumah kita yang jauh. Hihi. Terus hasil baca-baca tentang berbagai metode sunat di Parenting, ada metode yang lebih baru dari metode cauter, metode smart clamp.
Metode ini tergolong baru, dan termasuk metode yang paling aman dan cepat. Dalam metode ini, sebuah tabung sekali pakai diselubungkan ke penis. Kulup yang akan dipotong dijepit pada perbatasan batang dan kepala penis, lalu dipotong dengan pisau bedah mengikuti alur yang sudah dibuat sebelumnya.

Tidak terjadi perdarahan karena pembuluh darah tertutup oleh klem. Jahitan dan perban juga tidak diperlukan karena klem akan terus berada di tempatnya sampai luka mengering (biasanya pada hari keempat). Pasien bisa langsung beraktivitas setelah prosedur sunat selesai.

Terus metode sunat smart clamp ini diklaim paling berestetika. Hasilnya paling ganteng. Jadi anaknya ga hanya ganteng hati dan wajah.. itunya juga ganteng. Auw...Terus mau anaknya kegemukan atau kelangsingan ga masalah, bisa diatasi. Saya makin mantap memilih metode ini.  Nah seingat saya di Klinik Mutiara Cikutra yang dekat rumah ada flyer sunat smart clamp ini. Jadi klinik mutiara ini lengkap-kap-kap. Ada periksa hamil, pijat hamil, spa bayi, senam hamil, imunisasi, terapi, bersalin, konselor laktasi, klinik umum sampai sunat. Tau klinik ini juga karena Captain Kid pernah imunisasi di sini dan bagus. Jadi Yo wes.. kita pilih klinik ini saja. Dekat rumah dan ada smart clampnya. Meski ya.. websitenya tidak menjanjikan potongan harga, merchandise, maupun foto. Ternyata.. metode lebih penting dari bonus.

Ehm.. berlanjut ke session berikutnya ya.. Udah panjang aja.
-----

Bypass Soekarno Hatta
Alamat: Jalan Soekarno hatta No.111 Bandung (100 meter, dari pintu tol Pasirkoja)
Telepon:  022-6016666; 022-6016448 
Hp:  081-394-601-166
Metode: Konvensional, tidak boleh didampingi orang tua.
Kelas: Biasa (Rp350ribu) dan VIP(Rp850ribu)
Bedanya, VIP obat biusnya lebih lama, ada ruangan khusus, dan waktu sunatnya bisa milih Pagi jam 6 sampai jam 7 atau siang jam 1 sampai jam 4. Kalau yang biasa mau gak mau disunat jam 4 sampai 5 subuh.

Sebenarnya sih.. sunat itu makin pagi makin bagus, karena anak belum banyak gerak. Aliran darah belum kencang. Cuma secara bangunin anak jauhhh sebelum subuh itu cobaan jadi pilihan jam 6 sampai jam 7 pagi itu lebih reliable.  

Btw, sekarang Klinik Bypass ini buka cabang di Bogor, Bekasi dan Jogja juga. Uwooo... jadi dokter sunat kayaknya menguntungkan ya.

Alamat: Jl. Ahmad Yani No.675-677 Cicadas-Bandung
Telepon: (022) 723 2007
No.Hp : 0811 222 4242
E-mail : medikaseno@gmail.com
Pin BB : 2A3DCE5A
Metode: Konvensional, tidak boleh didampingi
Kelas: Umum (350ribu, bius tahan 1,5jam ada biaya tambahan untuk kasus tertentu); Khusus (550ribu, bius tahan 4 jam, ga ada biaya tambahan. Untuk anak usia 4 s.d 12 tahun); dan VIP (850ribu, bius tahan 7 jam, ga ada biaya tambahan, bisa buat bayi) Waktu khitannya juga beda-beda untuk tiap kelas. Seperti biasa.. makin murah bisa makin pagi. Dokternya masih segar dan sabar. Hihi.

Alamat: Jl. Cikutra no 115 A-B, Bandung
No Telepon: 022 7216058
Metode: Konvensional, cauter, smart clamp, boleh didampingi dan diabadikan

Artikel soal metode-metode sunat:

Read More

25 February 2014

Ga Perlu Rewel Ya

Kamis 13 Februari kemarin, orang tua ibu meninggal. 

Ini Ibu pengasuh Jendral Kancil dan Captain Kid ya. Bukan Ibu (kandung) saya maupun suami prohemer. Soalnya setiap saya sebut "Ibu" semua orang mikirnya itu Ibu kandung saya atau suami saya. Ga.. Mama di Medan. Mamak di Palembang. Saya dan suami berdua saja di Bandung. Jadi ngasuh anak nya ya berdua aja. Iya.. penekanan ini Ibu bukan Mama maupun Mamak karena sini mau sombong kalau kita main rumah-rumahan nya dan main anak-anakannya berdua aja.

Jadi dari Kamis sampai Jumat Captain Kid diasuh sana-sini. Hari pertama, meski saya tahu Ibu pasti sibuk banget, Captain Kid diajak ke rumahnya. Hari kedua diasuh Teteh yang jaga kantor suami. Untung Captain Kid anaknya senang sama siapa aja. Dipegang siapa aja mau. Anteng. Ketemu keramaian malah hepi. Malah sibuk merangkak kemana-kemari.

Emaknya? Saya sudah tanggung buat ijin.
 
Weekdays berikutnya saya bawa Captain Kid ke Jakarta. Seminggu penuh! Biar Ibu juga beres ngurusin pemakaman dsbnya. Yang ngasuh? Ga ada. Daycare penuh dan mihil beuts. Jadi saya pakai metode minta ditemani tantenya selama saya tinggal ke kantor. Besoknya saya bawa ke kantor karena tantenya mau bimbingan. Besok-besoknya? Saya kerja dari kostan. Tantenya mau cari jurnal dan bikin skripsi.Kog ga dibawa ke kantor lagi? Itu.. anaknya super riang kalau lihat orang banyak.. jadinya sibuk ketawa dan kurang tidur. Malamnya rada hangat. Hahaha.

Jumat sore, ikut saya balik ke Bandung. Ikutan waiting list travel. Ikutan macet-macet di jumat sore. Hasilnya? Dari tidur enak sampai "Aku bingung harus tidur posisi apa lagi Bunda.. masih ngantuk tapi posisinya udah ga ada yang enak iniiii." Alhamdulillah.. punya anak dua-dua kalau di perjalanan pada manis-manis semua. Cukup disodorin nenen.. lumayan bisa adem. 
 
Lalu senin ini saya kembali ke kostan, kostan yang sudah didatangin anak bayi itu. Di depan pintu ada mainannya. Di tempat tidur ada baju kotornya. Baju kotor yang wangi dia. Di kamar mandi ada embernya. Lihat jendela, ingat anaknya nepuk-nepuk di situ. Lihat karpet ingat anaknya merangkak di situ. Ambil minum, ingat seminggu kemarin tiap ambil minum khawatir anaknya nangis karena ditinggal di kamar. Tiduran.. ingat kemarin kita bagi-bagi tempat tidur kecil itu. Yang sangking kiciknya anaknya muter badan udah sampai ujung kasur. Terus.. mata basah. Ga bisa ditahan.

Kali ini boleh nangis ya. Boleh ga masang muka hepi meski ninggalin anak-anak dan suami di sana. Bentar aja. Tapi adeknya ga perlu rewel disana ya. Bunda kangen aja. Kangen kamu dan kakak. Kangen ayah juga. Kangen kita.

Read More

15 January 2014

Rekap. Postingan kog rekap melulu.

Ya ampun last publish November tahun 2013 aja dong. Hahaha. Penulis apa ini. Jadi.. terakhir bahas apaan sih? *lirik blog* 

Ooo bahas foto studio pertama Captain Kid.  Sejak foto pertama itu, kita sudah foto keluarga lagi..Masya Allah.. narsisnyoooo.. Bukan.. (bukan itu aja maksudnya) foto kali ini demi memenuhi permintaan kakek dan nenek Palembang yang sudah punya empat cucu tapi ya cucu-cucunya ga pernah kelihatan di Palembang. Jadi tiap ngobrolin cucu-cucu ke tamu-tamunya, ga ada yang percaya. Iya.. orang palembang itu memang aneh. Aneh-aneh bikin cinta. (cepat-cepat diralat sebelum dipelototin suami).

Jadi foto kedua mengajak adik-adiknya suami. Kali ini suami foto pakai jas dong.. Subhanallah cakep banget. *foto menyusul*

Jadi inget kata Mama waktu Suami (saat itu masih pacar) nganterin mama ke stasiun bandung pakai kemeja. "Suami (saat itu masih pacar) ganteng ya Capcai kalau rapi gitu." hohoho... aura premannya ilang kali ya. Tapi.. sudah.. sudah.. itu hidung suami sudah kembang kempis karena terlalu bangga.

Dan kalau di series kali ini Jendral Kancil tampak kurang ekspresif.. harap maklum ya.. dia lagi sakit. Sakit perut masuk angin karena telat makan akibat keasyikan main. Panjang ya nama penyakitnya. Tapi Captain Kid sudah lebih ekspresif ya.. meski setiap teriakan "Cheese" yang gegap gempita dia nangis ketakutan. Ya.. Satu orang Palembang itu kan suaranya sudah membahana.. maka bayangkan saja jika ada 3,5 orang Palembang. *dipelototin lagi*

Terus apalagi ya? Soal perdinasan dalam rangka nyinden, setelah kemarin dinas ke Palembang, sempat nyinden ke Medan, Makassar, dan Yogya. Saya sih tampaknya kalau dinas ya disitu-situ saja.. secara Balai Diklatnya ya cuma di tiga kota gitu. Nanti detail nyindennya, jalan-jalan, makan-makan, dan belanjanya menyusul ya. Kalau sempat.

Apah? Ada yang ngajak nyinden di kota lain? *aminnnn*

Terus, soal peras-memeras susu dan Long Distance ASIX. Alhamdulillah seminggu lagi Captain Kid -insyaAllah- Captain Kid berumur 160 hari. Udah bisa mulai MPASI. Emaknya udah mulai searching menu dan peralatan tempur.

Stok ASIP masih ada. Banyak. Secara kedoyanan anaknya akan susu perahan ini naik turun bak gelombang samudera. Kenapa ga naik terus kayak harga dollar sih Dek? Minimal kayak harga emas lah.  

Jadi ada masa-masa dia mau nyusu pakai sendok. Hello bayi ndut. Terus masuklah ke masa-masa ga mau lagi pakai sendok. Saking ga maunya, anak bayi cuma pupup seminggu sekali. Oh iya... paling gampang memantau kesehatan bayi itu ya lewat pupupnya toh. 

Maka emaknya menyerah.. baiklah dek.. kita pakai dot. Meski kata buku ga boleh, ya kalau anaknya ga nyusu gimana ceritanya. Teori boleh fleksibel kalau kondisi lapangan berbeda. Di awal-awal pemakaian dot, anaknya menyusu dengan lincah dong. Kalau dulu butuh waktu 1,5 hari biar anteng menyusu dengan lahap tanpa omelan, sekarang begitu ditinggal emaknya subuh-subuh, anaknya menyusu dengan lahap. Frekuensi pup pun menjadi 3 atau 2 hari sekali. 

Untungnya ga bingung puting. Tiap lihat pabrik susunya langsung dilahap. Emak bahagia. Berat badan anak naik bagus. 

Hingga... mendadak anaknya ga mau nyusu pakai dot. Nyusunya dikit lagi. Berat badannya turun lagi. Ons-ons yang berhasil diperoleh bulan lalu hilang semua. Hiks.. apa lagi? Mulai deh dicoba pakai suntikan obat dan gelas. Mari berdoa minum susunya banyakan lagi.

Drama, tips-tips, dan peralatan tempur untuk menyukseskan Long Distance ASIX ini akan dibahas terpisah ya. Sekali lagi, kalau sempat.

Terus Jendral Kancil sudah disunat om... tante. Bahasan detailnya menyusul juga. Ini harus ditulis, soalnya udah dapat korting blogger dari tempat sunatnya. Iyes.. promosi terus dong...

Terus.. hape saya hilang. Ini kehilangan pertama. Jadi nyesaknya, ya nyesak. Hape ini hape pertam ayang dibeli pakai gaji beneran. Dulu HP-Hp saya kalau ga warisan emak bapak ya hadiah dari Suami. Atau hadiah kuis. Pernah sih beli hape dari gaji magang. Tapi kalau dari gaji kerja beneran, ini deh hape pertamanya. Terus hilangnya waktu saya pergi arisan. Jadi saya masih.. masih banget  mengharap henpon ini balik kembali. Masih berpikir ini nyelip lalu habis baterai jadi ga bisa dihubungin. Hahaha.. iya ya.. tahap pertama masih denial, jadinya ga gitu sedih. Tahap kedua mulai menerima kenyataan jadi berasa sedih. Hari ketiga masuk tahap marah.. jadi ga mau beli hape mahal dulu. Malas ah.. takut hilang. Ya.. saya masih menunggu masuk tahap acceptance. Jadi ridho beli hape mahal lagi dengan resiko hilang.

Oke.. gitu  dulu.. jadi saya punya berapa hutang postingan? Ples upload-upload foto ya. Tapi lumayan kan.. ga gitu kangen lagi sama Capcai Bakar. :D Kangen kan? Kangen!

Read More

19 November 2013

Photo Studio Pertama Captain Kid

Dulu waktu baru ada Jendral Kancil saya punya obsesi akan ada foto studio, tiap bulan, sampai anaknya setahun. Terus setelah itu akan ada foto keluarga tiap tahun. Nyatanya? Cuma ada foto Jendral Kancil waktu berumur satu bulan dan satu tahun. Foto keluarga? Cuma ada waktu saya wisuda, Om-nya wisuda, dan foto hamil kemarin. Eaaaa... rencana ya.. secara biaya imunisasi lebih prioritas ya Mak...

Kog ga pakai kamera saku aja? Errr.. dulu belum punya kamera saku. Begitu punya kamera.. kog fotonya belum seciamik foto studio ya? *ditoyor mas-mas fotographer studio terus disodori flayer kursus singkat Mahir fotografi*

Kembali ke foto studio pertamanya Captain Kid, demi menjunjung asas keadilan,  kemarin saya bawalah anak bayi ini foto studio. Kalau dulu kakaknya umur sebulan atau dua bulan sudah diajak foto studio..adiknya ada peningkatan dikit lah... umur tiga bulan baru diajak foto. Hahaha. 

Captain Kid.. Rambutnya belum merata ituuu
Jendral Kancil. Mukanya beda ya...


Berduaaa... "Sini dek.. ngadap sini.."

Kostumnya juga sama. Baju merah-merah yang dipakai ini adalah baju yang 8 tahun lalu dipakai kakaknya. Hihi.. udah dikasih kemana-mana taunya balik lagi. Yo wes.. nanti dipigurain itu baju. *rencananya*
 
Terus personelnya.. kalau dulu Jendral Kancil cuma foto sendirian karena Bapaknya ogah difoto terus emaknya ngambek karena bapaknya ga mau difoto, sekarang Captain Kid foto sama semua-mua. Malah Bapaknya paling gaya.

 
Hasilnya gimana? Capek ya harus tetap pose sambil nunggu anak bayinya ketawa. Pegal dan keringatan. *puk-puk Jendral Kancil yang udah sabar banget walau capek*

Jadi... tahun depan foto lagi? Insyaallah.. *kirim proposal ke suami*

Read More

25 October 2013

Dinas ke Palembang

Saya baru pulang dari Palembang lohhhh. 

Terus kenapa? Bukannya tiap lebaran ke Palembang ya? *dialog imajiner bersama pembaca*

Iya sih.. tiap lebaran saya ke Palembang. Tapi yang sekarang beda.. ini perjalanan dinas pertama saya yang tujuannya Palembang. Huwooo... yang serba pertama-pertama kan harus cerita gitu. Ya kan? Kan. Jadi saya mau cerita bedanya ke Palembang saat bulan puasa dengan saat hari biasa. Kalau pas puasa dan lebaran kan banyak tempat makanan yang tutup. Nah,di hari biasa enggak. Pada buka semua. Jadi saya bisa menjajal banyak makanan palembang. Iye..wisata dinas kuliner.

Saya berangkat dari Jakarta pukul 7 malam lewat banyak. Lalu mendarat dengan selamat di bandara Sultan Mahmud Baharuddin II setelah sejam-an nonton Monte Carlo. Iya.. ada tivinya dong.. tumben kan penerbangan singkat pakai tivi-tivian segala. Jadi bilang apa pembacaaaa? Alham-du-lillah.

Terus, begitu sampai di bandara, saya agak bengong-bengong. Ini bandaranya kog lebih bagus ya? Kog cakepan sih? Pakai krim apa? *dikira iklan tje fuk* Rupanya cuma pakai shampo sedang ada perluasan bandara, jadi bangunannya baru-baru dan kinyis-kinyis gitu. Di luar bandara malahan ada replika jembatan ampera. Ini saya yang ga ngeh apa emang baru dibangun sih?

sumber gambar: noppy blog

Setelah agak bengong-bengong lihat kekinclongan bandaranya, saya juga bingung gimana pergi ke hotelnya. Setiap ke Palembang (yang tentunya bersama suami), kita selalu nunggu dijemput atau naik taksi tembak. Jadi persepsi saya di Bandara Palembang itu ga ada taksi argo. Bingung karena saya ga tau lokasi hotelnya dan ga tau rentang ongkos taksinya. Gimana bisa menang pas tawar-menawar? Untunglah ternyata di Palembang ada taksi berargo. ADA TAKSI ARGO SODARA-SODARA! HUWOOOO! *dikeplak wong palembang pakai kapal selam*

Jadi dekat pintu keluar, kita akan melihat booth taksi bandara. Tinggal daftar deh.. terus nanti digiring bapak supir ke taksinya. Ya ke taksinya dong ya, masa ke rumahnya. Biayanya daftarnya cuma Rp6.000. Terus kemarin dari bandara  ke hotel cuma habis Rp65.000,00.


Gambar diambil dari webnya
Selama di Palembang saya menginap di Swissbelinn hotel. Dekat kantor dan masuk budget. Dilihat dari webnya sih bagus ya.. tapi... itu karena dia fotogenic. Cih. Fasilitasnya sih persis seperti gambar (minus pemanas air dan teh-teh), tapi kualitasnya enggak. Bangunannya tua. Dindingnya banyak yang terkelupas. Lantainya juga. They really need a renovation. Kalau kualitas handuk, sprei, bantal, air, dll sih ga masalah.

Terus.. karena hotelnya terletak di pinggir jalan, suara kendaraan terdengar jelas ke dalam kamar. Beruntung buat saya yang hanya terbangun kalau dengar suara anak nangis, suara lalu lintas ini ga begitu ganggu. Malah nemenin. Iya.. sini penakut kalau harus tidur-tidur sendiri. Apalagi kalau dapat kamar nyempil di ujung lorong. Terus malam-malam ada yang gedor-gedor  kamar sebelah dengan gedoran debt collector. Yuk... 

Ketidakpuasan terhadap pilihan hotel ini secara tersirat terlontar juga dari Bapak Bos. Beliau bolak-balik nanya rate hotel-hotel lain. Maaf ya Pak.. ga maksud. Cuma rate kita ga nyampe pak kalau ke Novotel atau Aryaduta. Maap pak..

Keuntungan milih hotel di pinggir jalan itu adalah banyak tempat makan di sekeliling hotel dan ada Alfamartnya juga.... Penting loh buat emak-emak irit ples menyusui yang selalu kehausan tapi ogah beli air mineral mahalnya hotel. Ngomong-ngomong soal menyusui dan asi perah, minibar di hotel ini ga dingin mamak... ice pack eike ga ada yang beku. Kamar sama kulkas, lebih dingin kamar dong. Saya udah minta tolong room service agar diijinkan menggunakan freezer dapur mereka. Tapi ga ada tanggapan. Aku.. pasrah aja. 

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

sumber dari yukmakan.com
Besoknya sebelum ke kantor, kita wisata kuliner makan siang dulu. Makanan "berat" khas Palembang adalah pindang patin. Pindang patin ini semacam sup ikan yang dibumbui pedas. Mirip-mirip asam padeh padang.

Di Palembang ada dua tempat makan pindang patin yang  terkenal. Pertama restoran Musi Rawas, ini sangking larisnya mau makan saja kita harus ngantri satu jam. Masyaallah.. makannya aja cuma lima belas menit. Terus tempatnya biasa aja. Jadi ga terlalu enak buat duduk-duduk lahap apalagi buat menjamu bapak bos.

Beda dengan restoran Sri Melayu ini. Tempat makannya nyaman banget. Besar, jadi daya tampungnya banyak. Rindang juga karena dikelilingin pohon. Parkirannya juga luas. Terus kalau mau suasana lain kita bisa milih makan di pendopo-pendopo. Pendopo-pendopo ini dibangun di atas kolam ikan. Hoho... siap-siap deh terkaget-kaget saat ada ikan yang meloncat. Kalau bawa Jendral Kancil sepertinya bakal senang deh ngeliatin ikan-ikannya.

Disini saya memesan pindang tulang (iga sapi), bukannya pindang patin. Soalnya saya ga begitu suka ikan air tawar. Doyannya ikan laut yang dagingnya kenyal-kenyal karena melawan arus samudera. Untuk minumnya saya memesan es kelapa utuh/ es dogan. Sambil menunggu pesanan datang, pelayannya akan membawakan berbagai macam lauk dan lalapan pelengkap. Lalapan disini bukan sayuran mentah tapi potongan sayur macam pare, terong, labu yang sudah direbus. Lauk-lauk penggembiranya ada ikan seluang goreng. Ikan seluang ini mirip teri medan yang besar-besar itu. Tapi ga kering dan ga asin. Terus ada bedug, yang bentuknya mirip sate lilit bali. Bedug ini olahan dari ikan gabus dan pepaya muda. Terus ada tempoyak juga, duren yang difermentasikan. Terus, apalah artinya makan di sumatera tanpa beraneka macam sambal. Ada sambal mangga yang pedas dan sambal minyak yang asin-asin segar. Aku suka.

Selain Pindang tulang dan patin, RM Sri Melayu ini juga menyediakan pindang salai (ikan asap, rasanya alot-alot gimana gitu dengan aroma yang khas) dan pindang udang. Kalau bawa Jendral Kancil sepertinya bisa dicoba pindang udang ini. Iya ya.. namanya emak-emak, lihat tempoyak ingat suami. Makan es kelapa yang enak itu langsung ingat Jendral Kancil. Kayaknya kalau diajak minum es kelapa ini bakalan doyan deh. Karena meski dihidangakan bersama tempurung dan sabutnya, air kelapa ini sudah ditambahi gula. Manis. Jendral Kancil pasti doyan. Terus es kelapanya juga dicemplungi potongan daging kelapa yang tebal-tebal. Aku suka... Ayuk suamiii!

Ternyata setelah ngobrol sama suamii, katanya rumah makan Sri Melayu ini restoran mahal buat dia. Jadi Suami juga belum pernah makan di situ. Hihi.. Itu kan dulu, waktu masih jadi remaja kinyis-kinyis tapi kere.. sekarang kan sudah bapak-bapak, sudah terjadi penebalan dompet dan tubuh.

Setelah makan, saya langsung melipir ke kantor. Literally, saya benaran melipir, soalnya kantor dan Sri Melayu ini sebelah-sebelahan. Ramah-tamah dulu sebelum FGD Trainning Need Analysis (TNA) 2014. Senang deh kalau FGD gini. Banyak ketemu orang pintar dengan pemikiran hebat. Selama FGD itu kita ngebahas banyak masukan untuk diklat-diklat, mata pelajaran, instruktur, sampai ide membangun balai diklat baru. Seru. Ga ngantuk sama sekali padahal FGDnya di siang bolong.

Selesai FGD, kita kembali ke hotel. Awalnya kita berencana jalan-jalan keliling kota ya.. tapi apa daya ada laporan yang harus diselesaikan. Namanya juga perjalanan dinas, tugasnya dulu dong Mak yang diutamakan. Baiklah... mari kita begadang bikin laporan. Sebelumnya.. makan Martabak Har dekat hotel boleh ya Pak Bos?

 sumber: budaya-indonesia.org
Martabak Har (Haji Abdul Rozak) ini menurut saya sama seperti martabak telur, minus daging. Isinya ya cuma telur saja. Dihidangkan bersama kuah gulai dengan rebusan kentang dan sambal kecap. Cara makannya seperti gambar disamping ya.. Bukan dijadiin lauk.. *lirik teman dinas bareng ini.. :p* Rasanya gimana? 

Saya kan fansnya martabak telur mesir yang berlimpah daging itu ya.. jadi pas ketemu marttabak ini ya biasa aja. Bikin kangen iya. Bikin gila menahan rindu, enggak.

Waktu makan di Martabak Har, kita juga mesan nasi minyak berserta lauk pauk. Lauk-pauknya dihidangkan ala restoran padang gitu, digebrokin ramai-ramai di meja biar pembeli ngiler terus ngambil lebih dari satu lauk. Untungnya saya kuat iman.. walau sangat tergoda buat nambah lauk lain. Saya cuma makan kari kambing sedangkan teman saya makan ayam. Pilihan menahan diri dengan satu lauk ini ternya tepat sekali. Karena.... harga lauk-pauknya ditembak banget deh. *Lirik gemas kasir martabak Har.*

Bayangin ya.. makanan khasnya aka martabak Har itu cuma Rp15.000 rupiah. Tapi ayamnya Rp22ribu, Kari kambing Rp40ribu, sayur kacang doang Rp15ribu, dan teh susu Rp10ribu. Gilak. Kari kambing sepotong 40ribu aja.. pengen dikremes deh. Terus sayur gulai kacang sepiring kecil harganya sama dengan martabak. Hih! Aku blog-in nih.. blog-in. Biar semua orang tau.

Kecewa ditembak sama Martabak Har, kita memutuskan jalan-jalan dulu. Biar fresh ngerjain laporan. Alasan... padahal mah emang pengen jalan-jalan dulu. Lagian Bapak Bos pergi jalan-jalan ini. Kita diam-diam ikut jalan-jalan juga dong. Jangan bilang-bilang yes?

Tujuan pertama, kemana lagi kalau bukan ngeliat Jembatan Ampera. Ikonnya Kota Palembang. Ngeliatnya dari Benteng Kuto Besak aja. Biar ringkes. Sayangnya hari itu lampunya mati. Jadi ga gonta-ganti warna kayak biasanya. Yah....



Ternyata kalau di hari biasa  Benteng Kuto Besak ramai banget. Banyak pedagang kerak telor. Saya sempat bingung... ini di Palembang apa PRJ? Terus ramainya sama anak kecil yang main-main. Dek ga sekolah apa? Ini malam sekolah loh..

Tempat makannya di dingklik gitu. Kelar makan sekalian nyuci piring mungkin.

Selain anak kecil ada juga muda-mudi yang pacaran. Makan di restoran terapung. Kalau buat pasangan emak-bapak yang berduit makan di River Side Restoran bisa jadi pilihan. Buat muda-mudi yang masih minta duit jajan? Cukup restoran ini aja. Sama-sama terapung kan? Hihi.
 
Resteron terapung ekonomis dengan latar River Side Restoran.
Berhubung kita baru makan di  Martabak Har, acara makan-makan di sini terpaksa dilewatkan. Walau sempat masuk dan belagak mau makan di River Side padahal cuma numpang-numpang lihat aja. Mari main foto-fotoan saja di Benteng Kuto Besak. Meng-abuse kamera pocket.

Benteng Kuto Besak dari kejauhan

Sok-sok artistik padahal kameranya ga bisa nangkap.

Bangkitnya Ayuk Sungai Musi. Film horor garapan Capcai

Udah keliling-keliling benteng. . Tapi malam masih panjang... harus ngapain lagi iniii? Kalau datangnya siang-siang, naik perahu dan berlayar di suangai musi bisa jadi pilihan. Kalau malam, ga ada perahu yang berangkat. Gelap banget.. ga keliatan apa-apa di sungainya. Setelah bingung-bingung.. kita akhirnya melipir ke Mesjid Agung. Mau lihat air mancur yang warna-warni. Sayangnya... air mancurnya lagi direnovasi. Eaaaaa... yo wes lah.. foto-foto saja di depan mesjidnya. 


Model buat kalender tahun depan.

Lalu its a wrap! Mari balik ke hotel dan ngerjain laporan.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Besoknya setelah menyerahkan laporan ke kantor kita makan pempek di Vico. Ini pengalaman pertama saya makan pempek disini. Biasanya kan di Candy. Foto-fotonya nyulik dari banyumurti.net. Sila di-klik ya.. buat ulasan pempek vico yang lebih lengkap.

banyumurti.net
Di setiap tempat makan pempek, kita akan disuguhi sepiring pempek beraneka ragam. Jadi bisa puas nyicipin aneka model pempek. Mulai pempek telor kecil, adaan, kulit, tahu, pastel, keriting, dan lenjer.  Kalau kurang tinggal nambah aja. Terus harganya ga dihitung per piring kog. Yang dihitung berapa buah yang dimakan. Jadi bisa ga diabisin.

Katanya andalan di sini adalah pempek kulit dan cukanya. Buat saya, pempek kulitnya terlalu tebal. Jadi kurang crispy. Saya malah lebih suka pempek pastelnya (pempek yang diisi cacahan pepaya muda). Kalau pempek tahu masih enakan Candy. Cukanya memang lebih enak dan lebih pedas daripada Candy.

Buat variasi pempek? Sepertinya lebih lengkapan makan di Cek Bakar. Disini ga ada lenggang atau pempek bakar.

banyumurti.net

Kalau makan pempek kurang nendang, silahkan dicoba makan tekwan atau model. Mirip sup-sup gitu. Bedanya tekwan sama model apa sih?? Kalau tekwan itu bola-bola kecil, sedangkan model itu potongan pempek telur besar.


banyumurti.net

Minuman khas palembang itu es kacang merah. Kayak es campur yang diisi kacang merah. Saya kemarin malah mesan es tape. Hahaha. 






Kalau mau bawa pempek ini untuk oleh-oleh bisa loh.. dia menyediakan berbagai paket oleh-oleh mulai dari 100ribu sampai 250ribu. Kalau mau yang kecil-kecil aja bisa. Kalau mau dicampur dengan pempek kapal selam atau lenjer yang besar juga bisa. Nanti kotaknya sudah dipacking dan  diikat. Tinggal dibawa pergi. Kalau mau dikirim ke saudara juga sudah bisa. Tinggal sebutin alamatnya. 

Kata saya, kalau soal dibawa pulang pempek vico masih kalah dengan candy. Di candy pelayanannya lebih cepat dan ga pakai repot. Pilih-pilih, bayar, langsung dilumurin tepung. Di vico saya masih harus bolak-balik nanya udah selesai dipacking apa belum. Gitu mau nambah lagi juga harus nunggu sejam. Huh. Kemarin saya beli paket yang berisi 40 pempek kecil seharga 100ribu. Saya kira isinya ada pastel, keriting, tahu, etc. Ternyata cuma telur, lenjer, dan adaan. Huh lagi. Tapi... pempek manapun di Palembang jauh-jauh-jauh lebih enak dari pempek di Jawa. Jadi ya tetap hepi tumi. :D

Jadi.. kapan kita balik ke Palembang suami? Gak usah nunggu lebaran ya...

-----------------
Swissbelinn Hotel
Jl. Jend. Sudirman No. 1111A
Palembang 30128  
Tel    : 0711 371 000

Rumah Makan Sri Melayu
Jl. Demang Lebar Daun No.1 , Palembang - Sumatera Selatan. Punya cabang juga di Kebayoran Baru dan Bintaro


Rumah Makan Har
Jalan Jendral Sudirman No 1078
Simpang Sekip, Palembang

Pempek Vico
Jalan Letkol Iskandar no 541-542 (Seberang PIM)

Read More

18 October 2013

Film, Laptop, Lalu Kalian

Setelah lama ga nonton film, tadi malam saya nonton film lagi. Seperti biasa.. laptopnya ditaruh di perut. Yang beda cuma.. kali ini ga ada anak bayi di perut. Ga ada yang nendang-nendang lagi. Dan saya sendirian di kostan. Lalu brebrs mili.

Read More

24 September 2013

Pijat di Bersih Sehat

Waktu saya tes Toefl/EPT di LIA kemarin, saya memutuskan harus pijat. Mumpung lagi di luar tanpa anak bayi. Mumpung stok susu yang dikeluarkan sudah sampai malam. Mumpung pinggang saya sakit. Sakitnya sih biasa aja.. kalau dibandingkan sakit saat melairkan. Ya iyalah masa ya iya sih. *krik* Cuma kalau kelar mandiin anak bayi saya pasti bungkuk-bungkuk.. ga bisa langsung tegak. Pas ruku juga.. ga bisa rata. Sakit cuy.

Tadinya mau pijat di salon sekalian hair spa-meni-pedi, tapi pijatan salon kan begitu ya.. lembut-lembut cantik.. curiga ga nendang. Jadi saya memutuskan mencoba Bersih Sehat saja. Panti pijat keluarga yang famous di dunia maya ini.

Sampai di lokasi, saya lalu memilih pijat tanpa lulur selama satu jam. Itu yang paling murah sih....*goyang-goyang malu*. Soalnya lagi bokek dan belum mompa dari pagi, jadi mau yang cepat selesai aja. Begitu masuk saya langsung senang dengan interiornya. Bersih, sebersih namanya. *ditoyor pembaca yang merasa kalimatnya sungguh sangat novelis 70an*. Karena saya sendirian saya diantar ke ruangan yang khusus buat wanita. Kalau datang sama suami boleh milih seruangan. 

Saya diminta buka baju oleh terapisnya. Karena ga disediakan disposable undies, ya silahkan saja dipakai undiesnya. Ga bakal dimarahin terapisnya kog. Sebelum tengkurap terapisnya menawarkan untuk menggunakan aromatherapy (gratis) dan diinjak. Secara saya ga gitu doyan wangi aromatherapy, saya tolak dong. Lagian lagi pilek.. rasanya sih ga bakal kecium aroma apapun. 

Soal tawaran diinjak juga saya tolak karena ga yakin sanggup nahan sakitnya. Yo wes dipijat-pijat saja. Pijatannya enak tapi sakit. Ini antara tenaga pemijatnya kekerasan atau badan saya yang memang lagi rontok parah. Sepertinya sih yang kedua, soalnya ada lokasi-lokasi yang ga sakit saat dipijat. Terus Ibu pemijatnya ini semangat betul kalau saya kesakitan. Makin sakit makin fokus dese mijat disitu. Hiks.. mau teriak kog ya malu. 

Melihat gelagat si Ibu yang fokus di punggung dan pundak, saya memberanikan diri request dipijat di pinggang. Dari tadi cuma kesenggol dikit. Si ibu lalu dengan semangat bilang "Kalau gitu diinjak ya." Errr.. baiklah.. daripada sudah mahal-mahal tapi sakitnya ga mental. Yukk.. tarik napas. 

Dan.... sakitnya ampun daaaah. Pool. Ini mijaknya ga asal mijak sih..pas banget titik-titik yang ditekannya. bahkan saat punggung saya diinjak, bisaan dong tulangnya bunyi keretek-keretek.. Aku kagum. 

Hasilnya gimana? Sakitnya sih ilang tapi belum mental semua. Lumayan lah,.. kalau digerakin sudah  ga sakit tapi ya masih kerasa. Pundak saya yang menjadi sasaran pijat si Ibu malah kerasa aagak nyut-nyutan. Padahal tadinya biasa aja. Ya.. masih enakan dipijat paraji (dukun bayi) sih. Waktu dipijat paraji saya langsung berasa segar dan punya tenaga buat beres-beres rumah. Kalau ini ya biasa aja.

Sayangnya, ibu parajinya ga datang-datang lagi walau sudah dipanggil. Mungkin kemarin bayarnya kurang. Itu yang saya ga doyan dari "tarif seikhlasnya". Kalau kurang malah bikin ga enak. Padahal kalau punya tarif ya pasang aja.. biar sama-sama enak kan? Kan.

Akhir kata ijinkanlah saya bertanya kepada pembaca sekalian.. kalau pijat di salon atau panti pijat gini kan kita suka dapat shower puff/sisir yang masih diplastikin ya, masih baru. Itu boleh dibawa pulang apa ga sih? *Pembaca bubar*

*tutup tirai bilik pijat*


Bersih Sehat Bandung
Jl. Sultan Tirtayasa No 31. Bisa jalan kaki dari EF Banda/Total Buah Segar
022 4260765(84)
Tarif sejamnya 100ribu untuk pijat saja. Maksimal 2,5 jam seharga 250ribu. Bisa lulur juga, sejamnya 175ribu. Tarif lengkap silahkan klik ini.
Harga dan fasilitas beda-beda tergantung cabang. Ada yang gratis spa, sauna dan aromatherapy. Kalau yang di Bandung ini cuma ada aromatherapy (sepertinya).

Read More

23 September 2013

Tes Toefl ITP dan EPT

Mmmm... kalau saya kabar-kabarin CPNS lagi bukaan dimana-mana telat ga? Telat dong ya.. secara udah ada yang ditutup. *nanya sendiri jawab sendiri* Jadi lagi musim penerimaan CPNS nih dan saya perhatikan sekarang perkiraan nilai toefl muncul sebagai salah satu dokumen yang disyaratkan. Sepertinya mau menghemat uang negara yang digunakan untuk menyelenggarakan tes bahasa inggris. Maka dengan cerdasnya pemerintah menyuruh orang-orang yang butuh kerjaan buat tes sendiri. Pakai duit sendiri tentunya.

Ini agak nusuk ya.. mau kerja buat cari uang harus keluar uang buat tes. Yang ga punya pemodal pasti agak berat keluar uang buat ikut tes-tes begini. Tes toefl itu ga murah loh.. 200ribuan minimal. 

Jadi karena kemarin suami yang melihat karier saya suram di tempat kerja sekarang memaksa saya buat ikutan tes-tes lagi. Sebenarnya saya agak malas.. ya masih sama-sama PNS gitu loh. Yang sekarang kan sudah salah dua PNS teroke di Indonesia. Jenjang karier saya aja yang ga oke. Jadi saya mensyaratkan mau ngelamar kalau penempatannya di Bandung. Kalau enggak.. gak usah. Nunggu OJK saja. Tambatan hati setelah belum berhasil masuk BI. Sayangnya di OJK kebentur umur. Saya kira masih bisa, makanya kaget pas tau tahap administrasi aja ga lolos. 

Saya yang "ipk nya 3,75-pengalaman oke-organisasi oke-sertifikasi oke" ga lolos administrasinya. Huh *ditoyor jamaah*. Setelah ditelaah sepertinya bermasalah di umur. Ya umur-umur segini memang sudah bukan kelas staf baru lagi.. Ketuaan. Encok, jadi ga bisa disuruh fotokopi dan antar surat, apalagi ganti galon ruangan. 

Kog maksa harus di Bandung? Soalnya meski saya ngomel-ngomel saya ngelihat dipaksa dan diomelin emaknya bikin banyak perubahan baik pada Jendral Kancil. Sama saya ga ada itu ceritanya nunda-nunda ganti baju gitu balik dari sekolah, nunda bikin PR, baju kotor ga di laundry bucket, handuk ga dijemur, ga latihan hapal surat pendek, ga nyapu lantai abis makan, dannn banyak lagi. *pukpuk Jendral Kancil* Jendral Kancil juga bilang kalau Bunda ngomel jauh lebih menyeramkan dari ayah, jadi dia kepaksa patuh. 

Apalagi hari ini tiba-tiba ada yang nanya "Bunda kapan ke Jakarta?" gitu dijawab minggu depan langsung keluar suara sedih. Beuhhhh... iris aja nak.. iris aja hati emak.. *sambil sodorin jeruk nipis buat tetesan* 

Ya.. saya lagi nyari-nyari kerjaan di Bandung. Nyari beasiswa juga biar bisa ngelamar BI lagi. Makanya kemarin juga ikutan tes toefl, buat ngelamar kerja juga buat ngelamar beasiswa. Ternyata sekarang tempat les-tempat les semacam TBI dan EF itu ga mengadakan prediction test lagi. Diganti dengan Toefl ITP. Kalau prediction test kan bisa dilakukan kapan aja, kita tinggal daftar terus tes, nah kalau ITP ini berjadwal dan cuma diadakan sebulan sekali. Untungnya sih.. jadwal tes ITP di berbagai tempat les itu beda-beda setiap bulannya. Jadi lebih longgar waktunya. Ga enaknya.. biaya untuk ITP lebih mahal daripada sekedar prediction test. 

Hasil survei kemarin TBI pasang harga paling murah, 215ribu rupiah. EF 225ribu rupiah, dan ITB 235rupiah. Ya sekitar-sekitar itu.. saya lupa. Ingatnya cuma TBI paling murah, ITB paling mahal. Terus Toefl ITP ini cuma bisa dipakai untuk beasiswa, kalau mau melamar kerja jadi CPNS kebanyakan mintanya hasil tes EPT LIA. Nah lo...

Di Bandung yang menyelenggarakan cuma LIA Martadinata. LIA-LIA lain tidak. Tesnya diselenggaran seminggu sekali, hari Selasa pagi. Buat yang buru-buru,tenang saja.. kalau lagi ramai permintaan (seperti bukaan CPNS) LIA juga mengadakan ujian tambahan di hari Jumat kalau jumlah pesertanya banyak. Kemarin saya cukup meninggalkan nomor telepon dengan pesan minta ditelpon kalau ada tes di hari Jumat. Bayarnya bisa di hari itu juga, asal datangnya sebelum jam 9 pagi. Biayanya 225ribu rupiah.

Nah.. saya nyesal deh ga ikut tes TPA dan Toefl gratis yang diadakan kantor. Lumayan yak biayanya. 

Bedanya ITP dengan EPT gimana? ITP bisa digunakan untuk melamar beasiswa, EPT sepertinya tidak. hasil ITP berlaku untuk dua tahun, sedangkan EPT hanya setahun. Hasil tes EPT lebih cepat keluar daripada ITP. ETP anatara 3 s.d 7 hari sedangan ITP dua mingguan. Trus... tes EPT di LIA ini lebih susah dari ITP. Believe me.. eike dua kali tes bahasa inggris di Kemenlu (yang providernya LIA) ga lulus-lulus. Padahal Toefl ITP saya lumayan gede.

Nah sekarang saya sedang menunggu hasil tes EPTnya. Penasaran skornya berapa kog ga lulus-lulus Kemenlu. BTW, yakin mau jadi PNS? Yakin? Ga nyesal? *ngikik*


LIA MARTADINATA BANDUNG
Jl. Riau no 20 A Bandung 40115
nomor telepon: 022 4221117

Read More

18 September 2013

Karena Lima Puluh Ribu Selembar

Meski sempat beberapa kali hujan-hujan lucu, musim panas sudah resmi mendatangi Bandung.

Musim hujan yang kelamaan bikin saya kaget-kaget cantik sama panasnya kemarau kali ini. Sangking panasnya saya merasa mandi sore itu wajib. Mandi malam jadi sunah muakad. Buat perempuan yang menjungjung tinggi penghematan air dengan mandi sekali sehari ini, gejala mewajibkan mandi sore itu bisa memberikan gambaran yang jelas kepada hadirin dan hadirat bagaimana gerahnya bandung akhir-akhir ini.

Nah kalau saya kepanasan, saya berasumsi Anak Bayi juga kepanasan. Maka setiap anak bayi rewel padahal sudah disusui-disendawa-ganti popok., saya menyalahkan udara panas ini. Cerdas ya? *ditoyor*

Bayi yang riwil, bikin emak yang sudah gerah tambah gerah. Udahlah ga bisa nongkrong depan kipas angin karena takut meresikokan anak bayi kembung, ditambah cemas-panik sedap lihat anak riwil. Merembes lah semua itu keringat. Gerah. Siramin aku.. Siramin aku agar sejuk Pak Ustad.

Jadilah selama beberapa malam saat anak bayi rewel, saya buka kaca jendela sedikit.. Masukin angin malam. Begitu anak bayi tidur lagi, kacanya ditutup. Biar ga masuk angin. Kalau masuk angin kan nanti rewel juga. Ga solutif.

Jendral kancil dan suami gimana? Tidur nyenyak depan kipas angin. Kalau kedinginan tinggal minta selimut. *melirik iri*


Melihat anak bayi dan emaknya riwil tiap malam, suami programmer memutuskan membeli AC. Iyaaa AC. Butuh AC di (desa) bandung yang agak ke gunung ini, kog agak gimana gitu ya? Kog berasa manja. Kog tiba-tiba membenarkan global warming. Kog tiba-tiba berasa kiamat makin dekat. Lah?!

Tapi ini beneran panas. Sumpah. Suer.

Maka satu malam setelah menyusuin anak bayi dan meninggalkan perahan 50ml, saya dan suami berburu AC ke toko elektronik. Kami punya waktu dua jam sebelum Captain Kid (aka anak bayi) bangun dan minta susu lagi.

Ohh.. Di Bandung ada dong toko elektronik pinggir jalan yang buka sampai malam. Di jalan ABC. Toko-toko pinggir jalan ini bahkan menerima kartu kredit dengan cicilan 0%. Oke lah sekarang. Kalau mau yang produk segala merk ada tinggal ke Elektronik Solution. Ini juga buka sampai malam.

Pilihan kami ya Electronic Solution ini.. Cucu matanya lebih panjang. Cuci mata yang kena restrain budget. Ketahuan deh kalau lagi bokek. *gosok-gosok dompet berharap keluar jin*

ACnya yang kecil aja. 1/2 PK cukuplah. 3/4 PK ideal.  Kamarnya kan belum seluas lapangan futsal. Setelah tawaf di barisan AC sampai sol sepatu nipis, kita naksir AC inverter. AC inverter ini suhunya bisa menyesuaikan sendiri. Jadi kalau dihidupin seharian (ya kan anak bayinya seharian di rumah) ga makan listrik banyak-banyak.

Tips buat yang mau beli AC, low watt ga selalu berarti hemat listrik. Lah kalau dia perlu waktu lebih lama untuk mendinginkan ruangan kan listriknya banyak juga. Karena itu menggunakan AC dengan PK yang sesuai luas ruangan itu penting. Terus AC low watt penggunaan listriknya stabil. Dari pertama dihidupkan sampai dimatikan. Ini cocok untuk pemakaian AC yang kurang dari 8 jam sehari. Kalau lebih (seperti saya)? Hematan pakai AC tipe inverter. Karena dia mendinginkan lebih cepat (dengan watt lebih besar) lalu pelan-pelan menurunkan suhu (dan watt juga) sesuai kondisi ruangan. Kalau sudah mencapai suhu yang diinginkan ya dia turun. Gitu.

"Okee bungkus!" Kata saya ke mbak-mbak salesnya.
Bukannya ngebungkus pakai karet tiga mbaknya malah ngomong "Ini belum masuk biaya peralatan dan masang ya Bu."
"Hmmm.. Berapa mbak biaya tambahannya?"

Sumpah saya baru tahu harga yang tertera itu hanya untuk ACnya. Harga selang dan kawan-kawannya beda lagi.

"400ribu sekian bu."
"Oke"
"Terus tambah biaya transport Bu karena ibu tinggalnya di kabupaten"
"Okelah.." Karena sudah beberapa kali beli barang di sini, saya tahu kalau ada ongkos transport

"Terus Bu.." Tambah mbaknya
"Iya mbak?" Mulai mengeluarkan tatapan sadis. Mau apa lagi? Apa? Apa? Kuras saja aku.
"Karena kabupaten, biaya pasangnya tambah 50ribu lagi"
"Hmmm"
"Dibayar di tempat saja Bu"
"Hmmm... Ga jadi mbak" saya langsung balik badan.

Kalau ada tambahan biaya transport sih saya ngerti. Lebih jauh maka butuh bensin lebih banyak kan? Nah kalau biaya pasang jadi nambah itu yang saya ga ngerti. Pasang di kota maupun di desa kan sama. Orangnya segitu.. Tenaganya segitu.

Kalau yang ngantar sama yang pasang beda mobil, masih masuk akal. Yang ga masuk akal itu kenapa bayar di tempat? Kog ga di kasir aja seperti tambahan biaya transport?

Bukan.. Ini bukan karena 50ribu selembar saja. Ini karena komponen biayanya ga jelas. Saya jadi ogah.

Tapi sekarang masih kepanasan.. Tapi itu ga jelas biayanya... *garuk-garuk dinding*

Lalu galau sambil mandi tengah malam terus lirik katalog AC.

Read More
 

©2009capcaibakar | by TNB