SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

16 August 2016

Capcai 30 Sekian. Lupa.

16 August 2016 capcai bakar


Nah kalau kali ini yang ultah saya, tapi sungguh... saya lupa ulang tahun ke berapa. Udah ga ngitung kali ya. Jadi suka beberapa kali pas ke rumah sakit dan ditanya umurnya berapa saya harus ngitung dulu. Pokoknya tiga puluhan sekian deh. Entah tiga puluh berapa. Hahaha.

Terus ulang tahunnya ngapain?

Ga ngapain-ngapain sih. Ga makan ke luar. Ga beli kue juga. Karena, capek habis dari Jakarta dan.. keuangan lagi ngepas, ngepas banget. Bwahahha. Iya nih.. persiapan road2UK nya butuh biaya banyak. Banyaknya sih buat ngurus-ngurus kesehatan sebelum anak-anak dan Tuan Suami dibawa. Bolak-balik ke dokter, berbagai macam dokter. Beli-beli buat keperluan di sana malah belum. Bismillah aja. 

Lalu seperti biasa yang ngucapin mama, papa, adek, kakak, sahabat-sahabat dari kecil, dan Jendral Kancil. Tapi tahun ini nambah dapat ucapan dari pacarnya si adek. Bwahahha. 

Karena ga ada kue, dan mungkin kasian sama istri, Tuan Suami eksperimen malam-malam bikin kue pas saya lagi tidur. Bahan-bahan yang mau dibikin buat pisang goreng, sama beliau diubah jadi bahan kue. Terus karena ga tau di mana mentega dan (mungkin) menghemat telur, kuenya ga pakai mentega dan telur. Saya dibangunin pas mau manggang karena ga ketemu cetakan kue di mana. Hahahhaa.

Kuenya jadi? Jadi sih.. tapi keras kata suami. Menurut suami ini kue gagal. Jadi beliau memutuskan membeli martabak telur dan es krim. Kata saya sih kuenya masih kemakan. Habis juga dimakan saya dan Captain Kid. Soalnya saya dan Captain Kid lidahnya sama, apapun yang pakai coklat pasti enak. Hahaha. 

Suami eike manis kannnn... secara istrinya aja bikin kue kalau kesambet. Bikinin suami kue uang tahun aja belum pernah. Terlalu emang. 

Lalu itu Jendral Kancil diapain? Dijadiin kado kata Suami. Bwhahaha. Makasih ya. Kalian emang kado buat saya. Orang-orang sabar sama emak yang suka ngambek ga jelas dan ngomel panjang lebar. Muahhh!!! 


15 August 2016

TB Certificate untuk Visa UK

15 August 2016 capcai bakar

Setelah punya paspor harus ngurus apa nih? Visa dong ya. Nah, untuk memperoleh visa UK ada syarat sertifikat bebas TB. Jadi mari diurus sertifikat bebas TBnya sebelum menjadwalkan wawancara visa. Bikinnya gimana?

Kedutaan Inggris hanya menerima sertifikat bebas TB dari beberapa Rumah Sakit saja. Di Jakarta, Rumah sakit yang ditunjuk ada dua, yaitu RS Premier Jatinegara dan RS Premier Bintaro. Selain di Jakarta ada di mana lagi? Cuma ada di Bali dan Surabaya. Karena ongkos ke Bali dan Surabaya tidak diganti, maka sayapun memilih RS Premier Jatinegara.

Kog Jatinegara? Karena dari Bandung bisa turun di stasiun Jatinegara kalau naik kereta api. Ini alasannya ga kuat sih. Soalnya kalau mau ke Bintaro tinggal naik travel Cititrans dari Bandung. Terus pulangnya bisa makan burger Blenger. Sejujurnya, waktu itu saya ga kepikiran aja. Mikirnya karena bawa anak-anak, enakan naik kereta api, jadi pilih Jatinegara aja lah. 

Padahal kalau di Jatinegara itu sistemnya first come first serve. Jadi kalau ga mau kelamaan ngantri, harus datang pagi-pagi. Siangan dikit? Ya lama ngantri rontgennya. Sedangkan di Bintaro, sistemnya kita dapat slot jam sekian. Jadi ga perlu datang pagi-pagi banget. Datang pas jam jadwal kita periksa aja. 

Terus di kedua rumah sakit ini, ga bisa dadakan datang. Harus daftar dulu. Jadi begitu punya perkiraan kapan paspor biru saya selesai, saya langsung mendaftarkan diri ke RS Premier Jatinegara. Kog nunggu paspor biru? Soalnya harus membawa paspor yang akan digunakan. Kalau pakainya paspor hijau, ya cukup paspor hijau aja. 

Sebenarnya janjiannya juga ga perlu jauh-jauh hari banget. Dua atau tiga hari sebelum jadwal yang diinginkan, masih ada slot kosong kog. Kalau mau daakan juga bisa. Jadi bikin janji hari ini untuk besok. Setelah janjian, perlu dokumen apa saja?
  1. Paspor asli yang akan digunakan untuk berangkat
  2. KTP asli
  3. Pasfoto berwarna ukuran 4x6 2 lembar. RS Premier Jatinegara mensyaratkan latar belakangnya harus biru. Kalau Bintaro, yang penting berwarna. Terserah warna apa saja. Psst.. kata perawat Jatinegara, kalau kebetulan ga bawa.. ya ga masalah. Masa disuruh pulang lagi. 
  4. Kalau pernah rontgen paru sebelumnya, silahkan dibawa. => yang mana ga ditanyai sama dokternya juga. (--')
Kalau mau bawa keluarga aka dependent gimana? Buat suami/istri dan anak berusia di atas 11 tahun dokumen yang diperlukan sama saja. Tesnya boleh ga barengan. Tapi kalau berangkatnya sama-sama, hasil tes baru dikeluarkan kalau semuanya (yang mau berangkat) sudah tes juga.  

Kalau dependantnya anak kecil yang belum berusia 11 tahun? Cukup tes kesehatan saja. Jadi ga perlu dirontgen. Jendral Kancil yang 10,5 tahun juga ga dirontgen. Dokumennya?
  1. Paspor asli yang akan digunakan untuk berangkat
  2. Pasfoto berwarna ukuran 4x6 2 lembar. 
  3. Akte kelahiran
  4. Buku imunisasi. 
Cerita sedikit ya, saat tes kesehatan buat anak-anak ini, dokternya cuma nanya apakah imunisasi wajib anak-anak saya lengkap? Dokternya tidak meminta saya menunjukkan buku imunisasi. Padahal saya kan mau mamer... kalau imunisasi yang tidak wajibpun lengkap kog. Bwahahaha. Gagal mamer deh. 

Kalau lagi hamil? Syaratnya tinggal ditambah surat persetujuan untuk dirontgen oleh dokter kandungan, surat persetujuan ini juga harus mencantumkan usia kehamilan. Kalau dokternya ga setuju gimana? Ya cari dokter yang setuju. Ihik. 

Eh emangnya bisa dokter kandunganya ga setuju? Kenapa?

Ya bisalah. Jadi hasil baca-baca di internet, rontgen yang dilakukan pada trimester kedua ataupun ketiga relatif tidak memberikan dampak apapun karena masa pembentukan janin sudah lewat dan dosis radiasinya sangaaaat kecil, namun tetap saja ada kemungkinan efek samping di masa depan. Logikanya sih, anak dibawah 11 tahun saja tidak dirontgen apalagi bayi dalam kandungan. Sehingga jika tidak diperlukan rontgen ya gak usah dilakukan, tunggu setelah melahirkan saja. 

Terus kalau kepaksa bagaimana? Ada dua cara sih. Pertama, anda bisa meminta Sputum Test saja atau tes dahak. Anda akan diminta RS mengumpulkan dahak pagi hari sebelum makan. Pengumpulan dahak dilakukan di rumah sakit selama tiga hari. Selanjutnya dahak akan dibiakan di laboratorium selama tiga bulan (apa dua bulan, saya lupa).  Jadi kalau memilih cara ini, persiapkan jangka waktu yang lumayan panjang sebelum keberangkatan.

Kedua, anda bisa meminta dokter kandungan menuliskan surat persetujuan yang menyatakan kalau rontgen boleh dilakukan dengan perisai tambahan. Kalau perlu perisainya dobel. Iya, perisai atau apron buat menutupi kandungannya didobel. Di RS Premier Jatinegara bisa minta perisai/shield dobel. 

Kalau sekiranya dokter kandungan selama ini belum memberikan surat persetujuan, silahkan meminta surat persetujuan ke dokter kandungan di RS Premier. Siap-siap biaya tambahan ya.. mahal euy dokternya. (ujar anak bandung yang biasanya cuma menghabiskan Rp150rb di RS Santosa, lalu kaget pas lihat tagihan dokter kandungan di RS Premier Rp500rb lebih aja.)

Oke, dokumen yang diperlukan sudah. Sekarang hari H-nya. 
  1. Lakukan pendaftaran ulang di gedung MCU. Jangan kebalik.. saya malah nunggu antrian di gedung rawat inap. Jadi aja lama. 
  2. Naik ke lantai 7. Berikan paspor, KTP, dan foto kepada bagian pendaftaran. 
  3. Anda akan diberikan formulir data pribadi yang harus diisi. 
  4. Draft sertiffikat diberikan oleh RS untuk dikoreksi. Pastikan nama, no paspor, dan alamat sudah benar. 
  5. Menunggu panggilan rontgen. Kalau anak-anak menunggu diperiksa dokter.
  6. Dirontgen/diperiksa.
  7. Bayar Rp690ribu untuk rontgen. Untuk anak-anak cukup Rp330ribu saja. Terima debit dan kredit. 
  8. Pulang.
Hasilnya kalau bagus, bisa diambil keesokan harinya, kecuali hari minggu. Kalau tidak dihubungi rumah sakit, berarti hasil tesnya bagus. Kalau dihubungi? Harus tes sputum dulu sebelum sertifikat dikeluarkan. 

Apalagi ya? Oh, sertifikat bebas TB ini berlaku selama 6 bulan. Jadi sesuaikan dengan jadwal wawancara visa ya. 

Lalu karena sertifikatnya sehari jadi, begitu paspor biru selesai, silahkan daftar untuk wawancara visa. Ga perlu nunggu sertifikat TB (kalau yakin bebas TB ya) karena pas daftar wawancara visa, sertifikatnya ga diminta. Sertifikatnya baru dibutuhkan saat wawancara. 

Kalau bawa anak-anak persiapkan makanan berat, snack, dan minuman. Soalnya lamaaaaa. Saya kemarin cuma bawa snack aja. Alhasil anak-anak kelaparan dan ga sabar nunggu. Galon ada sih, gelasnya ga ada. Jadi boleh banget bawa tupperware kosong. Mainan, buku cerita, dan buku mewarnai juga boleh banget dibawa. Nunggunya ngebosenin.  

Tes TB dari web UKVI

Artikel tentang rontgen paru saat hamil

10 August 2016

Captain Kid Tiga Tahun!

10 August 2016 capcai bakar

Jadi akhir Juli kemariiiiin, anak kicik si Captain Kid ulang tahun dan sama emak belum diposting aja dong. Emak macam apa ini. Jadi di ulang tahun ketiga ini ga ada perayaan apa-apa sih. Hahhaa. 

Nak kalau kamu baca, ga ada perayaan ini bukan karena emak bapak kurang sayangnya. Tapi karena, yah Adek belum ngerti juga sih. Terus kalau mainan dan kue-kue cantik itu, kita sering beli. Ga usah nunggu adek ultah juga dibeli. Kog kakak dulu dirayain? Euforia anak pertama ya Nak. Bwahahha. Ampunnnnn. 

sekarang kalau makan duduknya di atas meja dong!

Jadi pas Captain Kid ulang tahun, emak harus ngajak Suami Prohemer dan Jendaral Kancil ke lab buat foto gigi. Selesai nungguin kakak dan Ayah foto, kita makan di Carnivor. Ga dalam rangka makan mewah buat ulang tahun anaknya sih, tapi simply karena laper aja dan tempat makan yang dekat ya Carnivor ini. 

Selesai makan, kita jalan kaki ke Jonas. Mau foto buat visa. Kebayang  ga sih, udah seharian keluar rumah, jalan becek-becek, selesai makan pulak.. itu anaknya difoto meuni kucel banget. Banget. Tapi keajaiban kamera ya.. ga bersisa kucelnya. Hahaha. 

Waktu jalan kaki ke Jonas itu, Jendral Kancil sempat ngomong 
"Adek ulang tahun kog ga diajak senang-senang sih Bunda. Naik mobil, bus, atau kereta api kesukaan Adek. Ini malah diajak jalan kaki ke mana-mana."

Dan kita jawabnya apa saudara-saudara?
"Adek itu asal dibawa jalan aja udah senang Kak. Ga ngeluh capek. Bahagia aja."
Lah iya.. itu anaknya ketawa-ketawa aja. Jalan kaki sambil main-main, minta diseret Aybun atau diayun-ayun. 

Terus udah bisa apa? Udah bisa loncat! Ya ampun.. akhirnya bisa loncat yang beneran kedua kakinya ngawang gitu loh. Udah bisa ngitung one to ten. Manggil bundanya "Midaaaaaa" dan sudahlah kita sahkan saja panggilan Mida ini karena panggilan Bunda udah banyak. 

Bablingnya banyak banget. Tapi ya masih belum jelas ngomong apa. Kalaupun jelas ya baru satu kata aja. Misalnya "minum", "iis" buat pipis, " udah", "susu", "truck", "bus", "mam", "meong", "tut tut...", "brum.. brum.." 

Iya.. udah telat. Saya juga sudah mulai memikirkan  membawa Captain Kid ke dokter tumbuh kembang. Kecurigaan kita sih, karena emang jarang diajak ngobrol, terus bahasa yang dikenali itu bahasa inggris, bahasa indonesia. Cuma dua bahasa tapi anaknya nonton film doraemon dalam bahasa jepang, terus suka dengarin applikasi yang ngenalin benda-benda dalam bahasa polandia. Hahaha. Sama kita settingannya bahasa inggris. Anaknya yang ngubah-ngubah sendiri jadi berbagai bahasa. Yang paling dia suka ya bahasa Polandia. Jadi mungkin ini jadi alasan anaknya bingung pakai bahasa apa, lalu memutuskan pakai suara bendanya aja. Toh suara kucing di semua bahasa kan miaw.. miaw...

Sekarang sih lagi suka-sukanya niru suara yang dia dengar. Kalau diputarin video klip lagu-lagu, nyanyinya semangat banget. Suaranya kencang ples pakai acara loncat-loncat. Kemarin malah niru "O Shit!" setelah nonton film orang gede sama kita. *tutup muka*

Yang lainnya gimana? Senyumnya masih bikin hati hangat. Setiap lihat senyum Captain Kid pasti langsung senang. Ngambeknya masih. Kalau dilarang pasti langsung tiduran di lantai ga peduli lagi di jalan, di mall, atau di rumah. Cuma ya ga pakai nangis dan mau langsung bangkit begitu diminta. Kalau dimarahin ya langsung nangis. Masih suka berantem sama kakak. Kalau mau sama-sama baca buku atau liat gadget, sengaja banget posisinya nutupin pandangan kakak. Kakaknya sih kadang-kadang tabah, kadang-kadang balas jahil.

Masih doyan main air. Sekarang karena udah sampai ke bak cuci piring kalau pakai kursi, suka minta nyuci piring. Emaknya tutup mata dan melipir ke kamar aja kalau udah begitu. Soalnya pasti becek dan berantakan. Pernah saya lupa nyingkiran sayuran yang udah dipotong... balik-balik sayurannya udah di tempat cuci piring semua. Hahahaha *ketawa sedih*

Semoga sehat terus ya dek. Jadi anak sholeh kebanggan Ayah Bunda. Jadi penyelamat ayah bunda di akhirat. Semoga tambah pintar, baik rupanya, baik hatinya, lancar rizkinya, tercapai cita-cita Adek, dimudahkan urusannya, dikuatkan diri Adek. Semoga adek selalu dalam lindungan Allah, didekatkan kepada orang-orang baik, dicintai oleh siapapun yang melihat adek, dan dijauhkan dari orang jahat. Terus.... akur-akur sama Kakak ya. Kakaknya disayang, jangan dijudesin terus tiap mau meluk adek. Love you. 

08 August 2016

Membuat Paspor Biru

08 August 2016 capcai bakar

Tadinya mau bikin kisah-kisah di label sedang mencari beasiswa ini berurutan. Mulai dari tes TPA, TOEFL, IELTS, bikin surat rekomendasi dosen dan atasan, bikin surat motivasi, daftar kampus, dll. Cuma, kalau nunggu berurutan takutnya malah ga ketulis apapun. Hahaha. Jadi ini sambil jalan ya. Sambil saya ngurus-ngurus, sambil nulis. Yang lainnya diselap-selip ya.


Jadi kalau mau berangkat ke luar negeri itu perlu paspor kan ya? Sebagai aparatur negara saya bisa berangkat dengan paspor dinas yang berwarna biru itu. "Bisa" dalam arti, kalau mau pakai paspor hijau juga boleh kog. Ga harus pakai paspor biru. Lalu ngapain bikin paspor biru? Soalnya dengar selentingan kalau ga pakai paspor biru, nanti penyesuaian ijazah pas pulangnya susah. Tapi katanya ga juga sih, sekarang cuma butuh surat ijin setneg aja. Nah.. karena waktunya buru-buru, daripada kenapa kenapa saya sih milih bikin aja. Ga rugi ini kog, secara kalau pakai paspor biru katanya bisa bebas visa ke beberapa negara. Salah satunya Prancis. Hohoho. Ya ampun.. ini info apa sih kog kebanyakan katanya. *salamin pembaca*

Di kantor saya syarat membuat paspor biru adalah sebagai berikut, pssst.. tiap instansi beda-beda ya syaratnya. Silahkan ditanyakan ke bagian yang berkaitan dengan perjalanan dinas luar negeri masing-masing, :

A. Kelengkapan ke Setneg:
  1. Letter of Acceptance (unconditional) dari kampus
  2. Surat Ijin Belajar (SIB) dari SDM
  3. Surat Perjanjian dan pernyataan yang di ttd Karo SDM
  4. Fotokopi TOEFL/IELTS
  5. Daftar Riwayat Hidup (DRH) yang didownload dari SISDM
  6. Letter of Guarantee dari pemberi beasiswa
  7. Nota Persetujuan (khusus SPIRIT)
B. Syarat Pengurusan Paspor Dinas
  1. Pasfoto 4x6 sebanyak 6 lembar
  2. fotokopi SK PNS, Karpeg, dan name tag kantor yang dilegalisir Biro SDM, 2 eksemplar
  3. DRH Paspor yang ditandatangani Kabag PM 2 eksemplar
  4. Paspor lama jika masa berlakunya habis
  5. Fotokopi KTP
Dokumen lengkapnya bisa didownload di sini ya. 

Oke, sekarang mari dibahas satu persatu ya berdasarkan urutan saya ngurusnya.

Fotokopi TOEFL/IELTS dan KTP. Ini mah tinggal fotokopi aja kan ya. Gampang. Ga perlu dikasih tau caranya kan ya.. Perlu? Apah?!!

Download DRH dari SISDM. Login ke sisdm, pada bagian sebelah kiri ada icon rumah. Pilih Pengelolaan Pegawai lalu DRH dan DRH singkat. Setelah masuk ke halaman "DRH Singkat", pilih cetak pada bagian paling atas. Silahkan dilihat printernya. Ada kan? Ada ah. Masa ga ada. 

Legalisir fotokopi SK PNS, KarPeg, Name Tag dan DRH Paspor. Sambil nunggu diterima kampus idaman atau kampus manapun yang mau menerima saya,  saya mengurus semua dokumen legalisir ini. Soalnya butuh tanda tangan Kabag PM. Khawatir pas butuh Bapak Kabag sedang dinas ke luar kota, maka saya mengurusnya sesegera mungkin. Tinggal fotokopi dan mengisi DRH Paspor lalu diserahkan ke Biro SDM untuk diteruskan ke Bapaknya. Begitu semua syarat lain sudah ada, legalisir-legalisir ini tinggal saya ambil. 

Kalau Karpegnya hilang bagaimana? Coba ditanya ke SDM ada pertinggalnya ga. Kalau ga da ya nasib harus bikin baru lagi dan makan waktu lamaaaaa. Kabarnya sih bisa sampai dua bulan. Minimal tiga minggu. Ya salam. 

KAlau kamu menemukan bagian-bagian yang membingungkan di DRH Paspor, ini catatan saya yang tadinya kebingungan juga:
  • Kemampuan Bahasa Asing, tulis saja bahasa asing apa yang dikuasai. Saya sih cuma bahasa Inggris dan bahasa kalbu.
  • Pengalaman kerja, saya isi dengan pekerjaan saat ini
  • Bagian konduite calon, pengetahuan bahasa, dan kesehatan yang diisi oleh Tim Screening, diisi "Baik". 
  • Security Clearance, diberi tanda "----"
Pasfoto Berwarna 4x6. Di sini sih disyaratkan 6 lembar, tapi waktu dikumpulkan ke bagian pembuatan paspor cuma butuh 4 lembar. Nah, yang ribet ketentuannya fotonya itu.
  • memakai jas/blazer
  • berdasi bagi pria
  • bagi yang memakai jilbab, jangan sampai berbayang di kening. 
  • latar belakang putih
  • kertas foto glossy/mengkilap
Yang ribet itu... ketentuan bagi pemakai kerudung. Saya bikin fotonya sampai tiga kali dong. Subhanallah yaaaa. 

Foto 1, Foto 2, dan Foto 3

Foto pertama saya pakai tukang foto dekat kantor suami. 15ribu aja. Crop-annya ga rapi. tapi ya sutralah. Ternyata ditolak bagian yang ngurus paspor karena di kening ADA BAYANGAN kerudung dan ALISNYA KETUTUP kerudung. Yuk. Sarannya biar ga ada bayangan di kening, fotonya pakai dalaman kerudung. terus kerudungnya dimundurin jauh ke belakang. 

Karena perlu buru-buru, sayapun melipir ke Kalibata Mall dekat kostan. Cuma ada satu studio foto, Mega's Photo namanya. Sekali foto 50ribu sekian, dapat 4 lembar. Cetak satu foto 3ribu. Minimal 3 lembar. Langsung jadi sih... tapi kog ALISNYA MASIH KEPOTONG? Terus kenapa retouchnya menor gitu? Ga alami banget. Yang bikin saya tambah ilfill adalah kog warnanya kuning? Bukan putih. Ini gigi kelamaan ga disikat apa pas foto sih? 

Foto terakhir dan yang saya serahkan untuk paspor adalah foto ketiga yang diambil di Studio Foto Sinar Matahari di Bendungan Hilir dekat kantor. Saya tinggal bilang perlu pas foto untuk visa atau paspor, mereka langsung paham. Harganya? 95ribu aja untuk 4 lembar foto. Ihik. Mahal ya.

Foto Jonas

Soalnya kalau di Bandung, tinggal melipir ke Jonas. 25ribuan aja udah dapat yang bagus. Ga ada bayangan meski tanpa dalaman kerudung. Jonas ini juga sabar banget pas fotoin Captain Kid. Bisaan dong dapat foto anaknya yang menghadap kamera, senyum, dan ga keliatan gigi. Aih, senangnya! Pokoknya benaran diarahin biar benar-benar bagus. Jonas.. aku padamu. 

Letter of Guarantee dari pemberi beasiswa. Kalau di Spirit, setelah memasukkan jurusan dan kampus yang dituju di Transpar (websitenya penerima beasiswa Spirit), kita tinggal menunggu disetujui kantor (sesuai dengan visi misi organisasi) dan Bappenas (rangking 400 dunia). Setelah disetujui, penerima beasiswa mengirimkan email ke Bappenas untuk dibuatkan Guarantee Letter. Minta Guarantee Letter ini boleh sebanyak-banyaknya sih. Sesuai dengan jumlah kampus yang dituju. Rekornya, ada yang minta sampai 21 buah. Saya sih baru minta 14 buah dan udah ditanyai sama Bappenasnya. Ditanyai "Mbak sebenarnya mau ngelamar ke kampus mana sih???" Hahahaha. 

Unconditional Letter of Acceptance. Selanjutnya, dokumen-dokumen lain yang tersisa membutuhkan LoA ini. Jadi silahkan dipastikan ingin sekolah di mana. Setelah mengirimkan syarat-syarat pendaftaran ke kampus yang dituju, nanti kita dapat balasan dari kampusnya, diterima penuh, diterima dengan syarat tertentu, atau ditolak. Kalau diterima tanpa syarat apa-apa lagi alias Unconditional, selamat... tinggal milih mau menerima tawaran itu atau ga. Kalau masih ada syarat seperti nilai IELTS tertentu alias conditional, kita tinggal melengkapi syaratnya untuk memperoleh unconditional offer. Kalau ditolak? Coba kampus lain. Masih banyak. Tenang. 

Tips saya, memutuskan mau ke kampus mananya dibuat tenggat waktu biar urusan lain (yang masih panjang itu) bisa selesai on time. Kalau kelamaan galau dan milih-milih, urusan birokasi yang lain-lain takut terhambat euy. 

Surat Ijin Belajar. Begitu sudah dapat LoA Uncon, LOAnya diberikan ke bagian SDM untuk dibuatkan SIB dan Surat perjanjian tugas belajar (dua pihak antara pegawai dengan instansi). Draft Surat Perjanjiannya akan diemailkan. Kita tinggal print dan menempelkan materai. Lalu diserahkan ke SDM. 

Surat Perjanjian dan pernyataan yang dittd Karo SDM. Sebenarnya kedua surat ini tidak membutuhkan LoA, cuma karena yang tanda tangan pejabat, surat-surat yang membutuhkan tanda-tangan beliau semacam SIB dan Surat Perjanjian Tugas Belajar disatukan dengan kedua surat ini. 

Loh kog surat perjanjiannya ada dua jenis? Yang satu buat ke Setneg diketahui Karo SDM. Isinya sih perjanjian akan mematuhi Peraturan Presiden No. 12 Tahun 1961 dan Surat Keputusan Menteri Pertama No. 224/MP/1961 tentang Tugas Belajar. Yang satu lagi surat perjanjian antara pegawai yang tugas belajar dengan instansinya. Yang ini disimpan di instansi saya.

Nah, secara yang tanda-tangan pejabat, maka waktu penyelesaiannya juga tergantung keberadaan beliau di kantor. Waktu saya mengurus paspor dinas ini, karena kepotong cuti lebaran, jadinya sih menunggu lebaran selesai. Lama dong? Iyes. Kalau ga kepotong lebaran dan bapaknya ada di kantor, mungkin paling lama cuma butuh tiga hari.

Nota Persetujuan dari Bappenas. Ini... bikinnya juga panjang kalau diceritakan. Sabar ya. *keretekin jari* Setelah dapat LoA, silahkan mengirim LoAnya via email ke Bappenas. Nanti dibalas dengan dokumen-dokumen apa saja yang dibutuhkan untuk membuat Nota Persetujuan (NP) dan Surat Perjanjian Tiga Pihak (SP3P). 

Dokumen yang dibutuhkan adalahhhh.... tarakdungces!
  1. Surat Penerimaan Universitas tanpa syarat (unconditional letter of acceptance)
  2. Rincian Pembiayaan dari Kampus =>Biasanya tertera di dalam Surat Penerimaan, jadi pakai LoA aja juga boleh.
  3. Formulir Pra Keberangkatan => Download dari TRANSPAR. Sesuai dengan unconditional letter of acceptance atau informasi tertulis dari Universitas. Ditandatangani Karo SDM. Jadi ini didownload sendiri dan langsung diserahkan ke SDM bareng Surat Perjanjian dan Pernyataan di atas. 
  4. Formulir Penempatan Kembali => Download dari TRANSPAR. Sesuai dengan unconditional letter of acceptance atau informasi tertulis dari Universitas. Ditandatangani Karo SDM.  Dibarengin juga yes.
  5. CV => format bebas. Ga ada petunjuk khusus. 
  6. Foto 3x4 (2 lembar) => berwarna, latar bebas. Saya pakai aja foto pertama yang ditolak itu. Biar dia ada mamfaatnya. 
  7. Surat Tugas Belajar => yang kita bikin di atas tadi. 
  8. Surat Perjanjian Dua Pihak (SP2P) => Jika ada. Karena ini jika ada saja, maka saya ga menunggu surat perjanjian tugas belajar. Biar cepat kelar. :p

Setelah semua dokumen terkumpul silahkan diemail ke Bappenas. Besoknya kita langsung dikirim draft SP3P. Kalau isinya sudah benar, draft tadi bisa diprint dan ditempelkan materai, lalu diberikan ke SDM (lagi.. yeah.. i know) untuk ditandatangani Karo SDM. Nanti tinggal nunggu SP3P nya ini selesai ditandatangani, baru dikembalikan ke Bappenas. Tiga hari kerja kemudian, SP3Pnya sudah bisa kita ambil. Secara SP3P ini tidak dibutuhkan untuk mengurus dokumen lain, ngurusnya bisa disambil ngurus NP. 

Nah, dari semenjak kirim berkas hingga NP bisa diambil, dibutuhkan waktu 5 hari kerja. Nanti kita juga diberitahu via email kapan NPnya bisa diambil. Hardcopy dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk NP, bisa diserahkan saat mengambil NP ini. Biar ga bolak-balik. 

NPnya sudah ditangan? Hore!! Silahkan dikumpulkan dan diberikan ke bagian pembuatan paspor di instansi masing-masing. Waktu yang dibutuhkan? Minimal dua minggu. Hahaha. Kalau mau repot dan bikin sendiri, katanya sih lebih cepat dan gratis. Tapi ga tau ya... soalnya saya ga bikin sendiri. 

Nanti setelah dua minggu, kita akan memperoleh satu buah paspor yang sudah ada cap exit permitnya, surat ijin setneg, dan surat rekomendasi visa. 

Ya ampun.. selesai juga. Sampai ketemu di cerita medical check up buat syarat visa ya!

Update
Exit Permit ini ijin perjalanan luar negeri yang berlaku untuk satu kali perjalanan. Artinya nanti kalau balik ke Indonesia, terus mau ke luar lagi, ya harus bikin exit permit lagi. Nah masa berlaku exit permit itu cuma dua bulan. Kalau sampai masa berlaku habis, masih belum berangkat juga, maka kita harus memperpanjang exit permit.

Caranya gimana? Bawa paspor dinas, surat permohonan exit dari Instansi dan Setneg ke Kemenlu. Prosesnya butuh waktu 3-4 hari. Bisa diurus sendiri dan gratis kog. :D

27 July 2016

Ini lagi capek lihat postingan poligami di grup whatsapp dan facebook. Jadi maafkan kalau pedas.
Begini, sebagai muslim saya ga mengharamkan poligami. Sama Allah diperbolehkan, jadi silahkan. Suami punya pilihan untuk berpoligami. Istri punya pilihan mau dipoligami atau tidak. Seperti poligami, perceraian diperbolehkan di Islam.

Suami mungkin melihat poligami sebagai jalan melaksanakan sunah nabi, menjaga nafsu, membantu perempuan lain, atau sebagai tantangan. Istri mungkin melihat ini sebagai sarana ibadah, pintu masuk ke surga. Jadi bisa saja ada istri yang ikhlas bahkan menganjurkan.

Tapi sudah pernah nanya ke anak-anaknya? Bagaimana rasanya melihat bapak punya istri lain? Bagaimana rasanya bapak tidak ada karena harus menghabiskan waktu bersama keluarga lain? Bagaimana rasanya punya ibu yang menangis diam-diam saat cemburu melanda? Apa mereka nanti mau berpoligami? Mau dipoligami? Coba didengar.

Pernah ngobrol sama orang tua isteri? Gimana rasanya melihat anak mereka dipoligami? Coba diajak ngobrol.

Nikah kan bukan hanya soal suami dan istri. Ada anak. Ada mertua. Ada orang tua. Kalau sudah menikah tidak bisa hanya memikirkan keinginan sendiri saja.

Nikah juga bukan sekedar menghalalkan persetubuhan, menghalalkan mata melihat yang menarik hati, atau menghalalkan tangan menyentuh. Ibadah itu bukan hanya persetubuhan. Silahkan dilihat lagi tujuan menikahnya apa. Apakah poligami ini sejalan dengan tujuan pernikahan?

Kalau ditanya, apa istri ga bangga dengan suami yang bisa menjaga nafsunya dan memilih cara yang halal daripada selingkuh?

Ada banyak suami yang tidak berpoligami dan tetap bisa menjaga nafsunya tanpa berselingkuh. Ada. Dan tidak sedikit. Kalau anda belum pernah ketemu, mungkin nyarinya di tempat yang salah.

Terakhir, silahkan berpoligami kalau memang dibutuhkan dan meningkatkan kualitas anda. Mengutip Quraish Shihab di artikel ini, poligami itu seperti pintu darurat pesawat. Harus dibuka pada kondisi bahaya untuk menyelamatkan diri. Namun akan berbahaya jika dibuka saat kondisi normal.
Jadi tolong dipertimbangkan masak-masak pengaruhnya ke orang-orang yang anda cintai sebelum melakukannya. Bukan sekedar "Kan diperbolehkan lalu kenapa tidak? Lebih baik melaksanakan sunah daripada selingkuh? Ini kan membantu perempuan juga." Yakin itu bukan sekedar pembenaran saja?

Poligami

27 July 2016 capcai bakar

Ini lagi capek lihat postingan poligami di grup whatsapp dan facebook. Jadi maafkan kalau pedas.
Begini, sebagai muslim saya ga mengharamkan poligami. Sama Allah diperbolehkan, jadi silahkan. Suami punya pilihan untuk berpoligami. Istri punya pilihan mau dipoligami atau tidak. Seperti poligami, perceraian diperbolehkan di Islam.

Suami mungkin melihat poligami sebagai jalan melaksanakan sunah nabi, menjaga nafsu, membantu perempuan lain, atau sebagai tantangan. Istri mungkin melihat ini sebagai sarana ibadah, pintu masuk ke surga. Jadi bisa saja ada istri yang ikhlas bahkan menganjurkan.

Tapi sudah pernah nanya ke anak-anaknya? Bagaimana rasanya melihat bapak punya istri lain? Bagaimana rasanya bapak tidak ada karena harus menghabiskan waktu bersama keluarga lain? Bagaimana rasanya punya ibu yang menangis diam-diam saat cemburu melanda? Apa mereka nanti mau berpoligami? Mau dipoligami? Coba didengar.

Pernah ngobrol sama orang tua isteri? Gimana rasanya melihat anak mereka dipoligami? Coba diajak ngobrol.

Nikah kan bukan hanya soal suami dan istri. Ada anak. Ada mertua. Ada orang tua. Kalau sudah menikah tidak bisa hanya memikirkan keinginan sendiri saja.

Nikah juga bukan sekedar menghalalkan persetubuhan, menghalalkan mata melihat yang menarik hati, atau menghalalkan tangan menyentuh. Ibadah itu bukan hanya persetubuhan. Silahkan dilihat lagi tujuan menikahnya apa. Apakah poligami ini sejalan dengan tujuan pernikahan?

Kalau ditanya, apa istri ga bangga dengan suami yang bisa menjaga nafsunya dan memilih cara yang halal daripada selingkuh?

Ada banyak suami yang tidak berpoligami dan tetap bisa menjaga nafsunya tanpa berselingkuh. Ada. Dan tidak sedikit. Kalau anda belum pernah ketemu, mungkin nyarinya di tempat yang salah.

Terakhir, silahkan berpoligami kalau memang dibutuhkan dan meningkatkan kualitas anda. Mengutip Quraish Shihab di artikel ini, poligami itu seperti pintu darurat pesawat. Harus dibuka pada kondisi bahaya untuk menyelamatkan diri. Namun akan berbahaya jika dibuka saat kondisi normal.
Jadi tolong dipertimbangkan masak-masak pengaruhnya ke orang-orang yang anda cintai sebelum melakukannya. Bukan sekedar "Kan diperbolehkan lalu kenapa tidak? Lebih baik melaksanakan sunah daripada selingkuh? Ini kan membantu perempuan juga." Yakin itu bukan sekedar pembenaran saja?

26 July 2016

Suami Prohemer heran liat Jendral Kancil yang betah banget di rumah. Ga main ke luar sama temannya. Bahkan ada temannya yang datang pas dia ga ada, ga dikunjungi balik. Kalau teman-temannya datang ya main. Kalau ga? Anaknya main sendiri.

Saya bilang "Ga apa-apa. Saya juga dulu teman-teman datang ke rumah, mereka main di garasi.. saya baca buku atau nonton di dalam kamar." Senang-senang aja kog. Ga merasa kurang pergaulan.

Kalau lagi mau main sama teman ya main. Persis JendKancil, kalau lagi ingin.. tiap minggu bisa minta ijin main ke rumah temannya. Kalau ga? Disuruh main malah bete.

Buat orang ekstrovret seperti Tuan Suami, mungkin sulit memahami ada orang yang betah ga berinteraksi dengan orang lain. Percayalah suami.... ga masalah. Nanti pelan-pelan diajarin bergaul itu perlu.

Emaknya ngikik aja.

Anaknya Introvert. Bapaknya Ekstrovert.

26 July 2016 capcai bakar

Suami Prohemer heran liat Jendral Kancil yang betah banget di rumah. Ga main ke luar sama temannya. Bahkan ada temannya yang datang pas dia ga ada, ga dikunjungi balik. Kalau teman-temannya datang ya main. Kalau ga? Anaknya main sendiri.

Saya bilang "Ga apa-apa. Saya juga dulu teman-teman datang ke rumah, mereka main di garasi.. saya baca buku atau nonton di dalam kamar." Senang-senang aja kog. Ga merasa kurang pergaulan.

Kalau lagi mau main sama teman ya main. Persis JendKancil, kalau lagi ingin.. tiap minggu bisa minta ijin main ke rumah temannya. Kalau ga? Disuruh main malah bete.

Buat orang ekstrovret seperti Tuan Suami, mungkin sulit memahami ada orang yang betah ga berinteraksi dengan orang lain. Percayalah suami.... ga masalah. Nanti pelan-pelan diajarin bergaul itu perlu.

Emaknya ngikik aja.

10 July 2016

Saya belajar, dalam hidup manusia bisa tumbuh dikelilingi orang-orang yang mengajarkan bahwa yang biasa-biasa saja sudah cukup untuknya. Orang-orang yang memandang dirinya sebelah mata. Yang menilai kalau ia bagus adalah semestinya sehingga tidak perlu dihargai. Sehingga ia terbiasa menjadi biasa-biasa saja.

Saya juga belajar, manusia hanya perlu satu orang yang meyakini bahwa ia bisa mendapatkan yang terbaik. Ia hanya pantas menjadi paling hebat. Ia pasti menjadi seseorang yang luar biasa karena dia bukan orang biasa-biasa.

Saya beruntung dipertemukan dengan Suami Prohemer. Orang yang selalu memaksa saya menjadi luar biasa karena ia meyakini saya punya potensi. Orang yang selalu gemas melihat saya tidak menggunakan potensi saya. Orang yang memaksa saya berani bermimpi besar. Orang yang percaya tidak pernah ada mimpi yang terlalu muluk. Orang yang mendorong saya agar bergerak mewujudkan mimpi itu.

Terima kasih Suami. Selamat 34 tahun. Terima kasih sudah belasan tahun menjadi penyemangat yang tak kenal lelah. Semoga mimpi punya menara, mesjid, panti asuhan, perumahan, peternakan, kantor di mana-mana, ibadah di tanah suci, ngopi-ngopi depan menara Eiffel, dan lain-lain terwujud. Amin!

Selamat 34 untuk Orang Luar Biasa

10 July 2016 capcai bakar

Saya belajar, dalam hidup manusia bisa tumbuh dikelilingi orang-orang yang mengajarkan bahwa yang biasa-biasa saja sudah cukup untuknya. Orang-orang yang memandang dirinya sebelah mata. Yang menilai kalau ia bagus adalah semestinya sehingga tidak perlu dihargai. Sehingga ia terbiasa menjadi biasa-biasa saja.

Saya juga belajar, manusia hanya perlu satu orang yang meyakini bahwa ia bisa mendapatkan yang terbaik. Ia hanya pantas menjadi paling hebat. Ia pasti menjadi seseorang yang luar biasa karena dia bukan orang biasa-biasa.

Saya beruntung dipertemukan dengan Suami Prohemer. Orang yang selalu memaksa saya menjadi luar biasa karena ia meyakini saya punya potensi. Orang yang selalu gemas melihat saya tidak menggunakan potensi saya. Orang yang memaksa saya berani bermimpi besar. Orang yang percaya tidak pernah ada mimpi yang terlalu muluk. Orang yang mendorong saya agar bergerak mewujudkan mimpi itu.

Terima kasih Suami. Selamat 34 tahun. Terima kasih sudah belasan tahun menjadi penyemangat yang tak kenal lelah. Semoga mimpi punya menara, mesjid, panti asuhan, perumahan, peternakan, kantor di mana-mana, ibadah di tanah suci, ngopi-ngopi depan menara Eiffel, dan lain-lain terwujud. Amin!

04 July 2016

Saya selalu ingin sekolah di luar negeri. Mungkin karena dulu lihat Mama Papa belajar di Eropa. Tapi inginnya itu baru sebatas ingin. Usahanya minimal. Dulu waktu SMA dan kuliah saya pernah ikut seleksi pertukaran pelajar, yang dua-duanya gagal di tahap terakhir. Setelah itu ya ga pernah usaha lagi buat mewujudkan keinginan belajar di luar.

Untungnya punya suami yang ambisius. Rasanya kalau Suami Prohemer tipe yang lempeng-lempeng dan ga punya mimpi muluk-muluk, saya akan tenang-tenang saja dengan kondisi apapun. Tinggal di rumah, nganter anak sekolah, masak makan siang, anter makan siang ke kantor suami, dan nulis blog. Gitu terus setiap hari juga saya puas-puas aja. Ya ditambah seminggu sekali ke salon dan (minimal) sebulan sekali belanja baju baru. 

Dialah yang semenjak saya lulus S1, sibuk "mengingatkan" untuk mencari beasiswa. Mengingatkannya ini setiap saya ngobrol dengan Suami loh ya. Setiap hari, tiga kali sehari. Setiap ketemu. 

Bikin kesal sebenarnya. Bahkan saya pernah (sering ding) marah dan bilang Suami mengrongrong. Bwahahaha. Untungnya beliau ga patah hati lalu berhenti "mengingatkan saya". Dan sayapun belajar mengabaikan "peringatannya". Kurang ajar ya?

Terus kog tiba-tiba tahun ini saya serius cari beasiswa? Karena comfort zone saya hilang. Tahun pertama kerja, saya masih beradaptasi dengan kantor. Tahun kedua, saya ikut pendidikan menjadi Trainer dan sibuk mempersiapkan metode mengajar. Tahun ketiga, saya ikut pelatihan jadi auditor. Tahun keempat, sibuk audit. Tahun kelima? Stuck. Saya dapat jadwal mengajar maksimal dua kali dalam sebulan. Selebihnya saya bengong-bengong cantik di kantor. Sampai-sampai saya (dan teman-teman) punya jargon "Ngobrol-ngobrol dapat duit." Karena benaran ga ada kerjaan sama sekali. Memperbaharui bahan ajar? Mmm... udah lebih dari dua tahun ngajar itu aja. Khatam. Pengen ngajar yang lebih serius tapi pengalaman audit saya masih minim. Minta ikut ngeaudit lagi? Ga diijinin. Ya salam. 

Prinsip saya kalau ninggalin keluarga, kariernya harus berarti dong ya. Masa ninggalin anak-anak cuma buat ngobrol-ngobrol ga jelas di kantor. Rugi. Jadi karena terus-terusan bengong di kantor, mulailah saya dengan serius menelusuri tawaran beasiswa di kantor. Serius menpersiapkan persyaratan yang diperlukan. Serius ikut seleksinya. 

Alhamdulilah tahun ini dapat beasiswanya. Alhamdulillah juga keterima di universitas yang saya inginkan. Alhamdulillah sekarang masih ketar-ketir ngurus paspor dinas, visa, akomodasi, dan sekolah anak-anak. Karena rencananya mau bawa anak-anak dan suami eh harus bawa anak-anak dan suami. Tolong ya Allah. Hahaha. Mohon doanya ya, urusan paspor, visa, dan keberangkatan kami sekeluarga bisa dipermudah, lancar, dan tepat waktu. Doain juga ada dananya. 

Dengan postingan ini, semoga postingan berlabel sedang mencari beasiswa bisa bertambah dan berkembang menjadi sedang di UK. See you!!

Scholarship Journey: The Beginning

04 July 2016 capcai bakar

Saya selalu ingin sekolah di luar negeri. Mungkin karena dulu lihat Mama Papa belajar di Eropa. Tapi inginnya itu baru sebatas ingin. Usahanya minimal. Dulu waktu SMA dan kuliah saya pernah ikut seleksi pertukaran pelajar, yang dua-duanya gagal di tahap terakhir. Setelah itu ya ga pernah usaha lagi buat mewujudkan keinginan belajar di luar.

Untungnya punya suami yang ambisius. Rasanya kalau Suami Prohemer tipe yang lempeng-lempeng dan ga punya mimpi muluk-muluk, saya akan tenang-tenang saja dengan kondisi apapun. Tinggal di rumah, nganter anak sekolah, masak makan siang, anter makan siang ke kantor suami, dan nulis blog. Gitu terus setiap hari juga saya puas-puas aja. Ya ditambah seminggu sekali ke salon dan (minimal) sebulan sekali belanja baju baru. 

Dialah yang semenjak saya lulus S1, sibuk "mengingatkan" untuk mencari beasiswa. Mengingatkannya ini setiap saya ngobrol dengan Suami loh ya. Setiap hari, tiga kali sehari. Setiap ketemu. 

Bikin kesal sebenarnya. Bahkan saya pernah (sering ding) marah dan bilang Suami mengrongrong. Bwahahaha. Untungnya beliau ga patah hati lalu berhenti "mengingatkan saya". Dan sayapun belajar mengabaikan "peringatannya". Kurang ajar ya?

Terus kog tiba-tiba tahun ini saya serius cari beasiswa? Karena comfort zone saya hilang. Tahun pertama kerja, saya masih beradaptasi dengan kantor. Tahun kedua, saya ikut pendidikan menjadi Trainer dan sibuk mempersiapkan metode mengajar. Tahun ketiga, saya ikut pelatihan jadi auditor. Tahun keempat, sibuk audit. Tahun kelima? Stuck. Saya dapat jadwal mengajar maksimal dua kali dalam sebulan. Selebihnya saya bengong-bengong cantik di kantor. Sampai-sampai saya (dan teman-teman) punya jargon "Ngobrol-ngobrol dapat duit." Karena benaran ga ada kerjaan sama sekali. Memperbaharui bahan ajar? Mmm... udah lebih dari dua tahun ngajar itu aja. Khatam. Pengen ngajar yang lebih serius tapi pengalaman audit saya masih minim. Minta ikut ngeaudit lagi? Ga diijinin. Ya salam. 

Prinsip saya kalau ninggalin keluarga, kariernya harus berarti dong ya. Masa ninggalin anak-anak cuma buat ngobrol-ngobrol ga jelas di kantor. Rugi. Jadi karena terus-terusan bengong di kantor, mulailah saya dengan serius menelusuri tawaran beasiswa di kantor. Serius menpersiapkan persyaratan yang diperlukan. Serius ikut seleksinya. 

Alhamdulilah tahun ini dapat beasiswanya. Alhamdulillah juga keterima di universitas yang saya inginkan. Alhamdulillah sekarang masih ketar-ketir ngurus paspor dinas, visa, akomodasi, dan sekolah anak-anak. Karena rencananya mau bawa anak-anak dan suami eh harus bawa anak-anak dan suami. Tolong ya Allah. Hahaha. Mohon doanya ya, urusan paspor, visa, dan keberangkatan kami sekeluarga bisa dipermudah, lancar, dan tepat waktu. Doain juga ada dananya. 

Dengan postingan ini, semoga postingan berlabel sedang mencari beasiswa bisa bertambah dan berkembang menjadi sedang di UK. See you!!

27 May 2016

Suka kesal sama tukang parkir yang tiba-tiba datang saat kita mau keluar dan pergi begitu uang berpindah? Sama saya juga. Cuma saya mencoba bersabar dengan berpikir bersama rejeki kendaraan pribadi ada uang parkir yang harus dibayar. Ga mau bayar parkir ya ga usah bawa kendaraan.

Cuma sekali-sekali ya lepas juga lihat kelakuan tukang parkir. Yang paling baru sih pas kemarin nemenin Suami Prohemer belanja ke ciwalk.

Disclaimer dulu, saya juga sering kog ketemu tukang parkir yang baik. Yang benaran kerja, bukan malak bermodalkan peluit. Kalau ketemu yang baik, saya ga keberatan bayar parkir. Ikhlas lahir batin.

Sayangnya tukang parkir motor yang depan xtrans ciwalk, tidak. Saat memarkirkan kendaraan, suami langsung dikasih tiket yang memberitahukan kalau tarifnya 3000 rupiah. Naik aja. Suami bersikeras cuma mau bayar 2000, tarif "normal" yang dinaikan sepihak juga dari 1000 rupiah.

Tukang Parkir: parkirnya 3000

Suami: naik? Biasanya kan 2000

TP: itu di tiketnya juga ditulis. udah 2 tahun jadi 3000 dari xtransnya belum dibangun sampai selesai.

Capcai: tiketnya bikin sendiri, ya bisa suka-suka hati bapak nulis tarif.

TP: ini ditentuin pengurusnya. Kita kan juga setor ke dishub.

C: Ya memang harus setor ke dishub. Kan dapat ijin dari mereka. Sama dishub juga cuma boleh mungut sesuai perda pak. 500 rupiah. Ini 3000.

Saya sih tetap membayar "kekurangan bayar" yang diklaim tukang parkir ini. Tapi sewot ga terima. Sewotnya karena tukang parkirnya ngotot merasa benar karena dia punya karcis yang menyatakan tarif parkir sekian, bawa-bawa dinas perhubungan pulak. Karcis dia yang bikin. Kalau dia tulis 5juta berarti saya harus bayar 5juta? Dasar hukum karcis dia apa?

Dinas perhubungan memang mengsubkontrakan pengelolaan tempat parkir tertentu kepada pihak ketiga, namun besaran tarifnya tetap harus sesuai perda. Ga bisa bikin tarif sendiri. Dan boleh lihat perda kota bandung, tarif parkir motor itu masih 500 rupiah.

Tapi yang paling bikin sewot itu karena tukangnya ngaku-ngaku tarif 3ribu ini sudah jalan lebih dari 2 tahun. Maksud dia saya udah dua tahun ga ke ciwalk gitu? Ngajak gelut.


Tarif Parkir

27 May 2016 capcai bakar

Suka kesal sama tukang parkir yang tiba-tiba datang saat kita mau keluar dan pergi begitu uang berpindah? Sama saya juga. Cuma saya mencoba bersabar dengan berpikir bersama rejeki kendaraan pribadi ada uang parkir yang harus dibayar. Ga mau bayar parkir ya ga usah bawa kendaraan.

Cuma sekali-sekali ya lepas juga lihat kelakuan tukang parkir. Yang paling baru sih pas kemarin nemenin Suami Prohemer belanja ke ciwalk.

Disclaimer dulu, saya juga sering kog ketemu tukang parkir yang baik. Yang benaran kerja, bukan malak bermodalkan peluit. Kalau ketemu yang baik, saya ga keberatan bayar parkir. Ikhlas lahir batin.

Sayangnya tukang parkir motor yang depan xtrans ciwalk, tidak. Saat memarkirkan kendaraan, suami langsung dikasih tiket yang memberitahukan kalau tarifnya 3000 rupiah. Naik aja. Suami bersikeras cuma mau bayar 2000, tarif "normal" yang dinaikan sepihak juga dari 1000 rupiah.

Tukang Parkir: parkirnya 3000

Suami: naik? Biasanya kan 2000

TP: itu di tiketnya juga ditulis. udah 2 tahun jadi 3000 dari xtransnya belum dibangun sampai selesai.

Capcai: tiketnya bikin sendiri, ya bisa suka-suka hati bapak nulis tarif.

TP: ini ditentuin pengurusnya. Kita kan juga setor ke dishub.

C: Ya memang harus setor ke dishub. Kan dapat ijin dari mereka. Sama dishub juga cuma boleh mungut sesuai perda pak. 500 rupiah. Ini 3000.

Saya sih tetap membayar "kekurangan bayar" yang diklaim tukang parkir ini. Tapi sewot ga terima. Sewotnya karena tukang parkirnya ngotot merasa benar karena dia punya karcis yang menyatakan tarif parkir sekian, bawa-bawa dinas perhubungan pulak. Karcis dia yang bikin. Kalau dia tulis 5juta berarti saya harus bayar 5juta? Dasar hukum karcis dia apa?

Dinas perhubungan memang mengsubkontrakan pengelolaan tempat parkir tertentu kepada pihak ketiga, namun besaran tarifnya tetap harus sesuai perda. Ga bisa bikin tarif sendiri. Dan boleh lihat perda kota bandung, tarif parkir motor itu masih 500 rupiah.

Tapi yang paling bikin sewot itu karena tukangnya ngaku-ngaku tarif 3ribu ini sudah jalan lebih dari 2 tahun. Maksud dia saya udah dua tahun ga ke ciwalk gitu? Ngajak gelut.


29 February 2016

Ngidam Sawo Dulu

29 February 2016 capcai bakar

Dulu.. waktu hamil Jendral Kancil saya ngidam sawo banget banget. Pengen banget makan sawo. Ini ga biasa... karena saya ga pernah suka sawo. Teksturnya lembek-lembek benyek gitu. Namanya ngidam, yang suka jadi ga suka banget. Yang ga suka jadi suka banget. 

Sayangnya masa itu nyari sawo susah. Saya dan Suami Prohemer sudah keliling kemana-mana tapi ga ketemu. Entah memang lagi ga musim atau kami yang ga tahu harus nyari ke mana.


Akhirnya setelah dicari berhari-hari, kami menemukan penjual buah sawo di pasar kaget Gasibu. Sangking leganya,Tuan Suami langsung beli sekilo dong. Misi menunaikan ngidam istri selesai. Begitu dapat, seingat saya, buahnya ga saya makan sama sekali... antara memang ga suka atau sudah lewat pengennya.

Mengingat susahnya nyari buah sawo saat saya hamil dulu, begitu punya rumah sendiri.. Tuan Suami sengaja menanam pohon sawo di halaman. Alasannya "Biar ga susah kalau kamu kepengen lagi."

Yang mana enggak. Hamil Captain Kid saya ga ngidam sawo. Namun setiap ngelihat buah sawo, Suami selalu cerita gimana dulu susahnya nyariin keinginan saya.

-----------

Yang Tuan Suami ga tahu adalah... 


Sebenarnya saya waktu itu kepengen makan buah kiwi banget banget. Iya.. kiwi. Bukan sawo.

Sebagai pasangan muda yang baru meniti rumah tangga, saya mikir-mikir kalau mau minta dicariin kiwi. Mahal. Hahaha. Masa-masa hamil Jendral Kancil, keuangan kami cukup banget. Cukup buat beli susu hamil yang selalu saya minum ketika cuma bisa makan indomie (karena uang udah abis padahal suami belum gajian). Cukup buat meriksa kandungan ke dokter sekali-sekali aja. Cukup buat beli peralatan bayi, setelah bayinya lahir. Pokoknya cukup. (Kan katanya rejeki ga ada yang kurang.. yang ada cukup dan berlebih.)

Jadi waktu itu rasanya kalau minta dibeliin kiwi yang mahal, saya nambah beban suami. Maka saya berpikir buah apa yang mirip kiwi tapi murah. Muncullah sawo di pikiran saya. Kiwi itu dua biji aja belasan ribu kan ya.. sementara sawo sekilo cuma lima ribuan.


Waktu saya ngasih tau Tuan Suami, baru-baru ini...setelah Jendral Kancil berumur 10 tahun, Tuan Suami cuma bilang..

"Kalau beliin kiwi aja, aku masih sanggup. Nyarinya juga lebih gampang daripada sawo."
Dan setelahnya.. ia membelikan saya buah kiwi. Mungkin biar isterinya ga penasaran. Makasih ya. I know you will grant all my wish. Meski harus bersusah-payah. Buat saya cukuplah yang susah itu ngebeliin kapal pesiar aja. *dikeplak mamah dedeh* Yang lainnya cukup diganti dengan pelukan sampai sesak napas, kecupan di mata, dan kata cinta ribuan kali. oh.. ples ridhonya aja ya Suami. Muahhh!! 

25 February 2016

Cerita Segelas Kopi: Lessons from Love, Life, and Loss Cerita Segelas Kopi: Lessons from Love, Life, and Loss by Melanie Subono
My rating: 1 of 5 stars

“Gue jarang kesel sama orang, sampai suatu hari, seorang wartawan yang kelar bertanya tentang hidup dan penyakit gue akhirnya menutup wawancara dengan satu pertanyaan yang membuat gue pengen ngamuk …

‘Mbak Mel,  kalo besok mati nih, mau diinget orang sebagai apa, Mbak? Apa yang udah Mbak lakukan selama ini?’

Dan untuk pertama kalinya dalam hidup gue, gue speechless dan kehilangan spontanitas gue menjawab pertanyaan. Dan sejak hari itu juga, dengan cara gue sendiri, gue berjanji akan menjadi orang yang berguna buat siapapun dalam apapun yang gue lakukan, dengan cara apapun yang gue mampu, baik musik maupun tulisan. Baik sebagai orang yang memberi motivasi, maupun kritik. And here I am.”
-------

Buku Cerita Segelas Kopi nya Melanie Subowo ini selesai saya baca kurang dalam sehari. Bukan karena bagus banget, tapi karena pengen cepat selesai dan pindah ke buku lain. Bukunya melelahkan.

Saya tahu banyak blog bagus dan inspiring yang dibukukan. Dan buku ini sepertinya banyak mengambil dari blognya penulis, yang dirasa menggugah. "Seperti" karena saya ga tau alamat blog mbaknya yang mana, beliau punya banyak. Dan yang di blogdetik archievenya (daftar tulisan) ga ada. Ya masa mau ditelusuri satu-satu. Tambah lelah nanti.

Kenapa baca bukunya berasa baca blog aja? Karena alur cerita antar satu bab ke bab lain ga ada, banyak ide yang diulang di beberapa tulisan...berkali-kali, dan terakhir saya kebingungan apa yang ingin disampaikan penulis di setiap artikelnya. Idenya banyak dan ga terarah. Apalagi sepertinya ditulis dalam kondisi emosi. Akhirnya yang seperti saya bilang tadi, membaca buku ini menguras energi. Berasa temenan sama orang yang marah-marah melulu.

Padahal isinya inspiring loh, tentang hak asasi, perempuan, pantang menyerah, cinta indonesia, dan banyak lagi. Seandainya penulis, editor, dan penerbitnya mau menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengatur artikel-artikelnya. Biar ada benang merah, ga terlalu melebar ke mana-mana, dan lebih terarah. Marah-marahnya gak masalah lah kalau memang gaya mbaknya

View all my reviews

Review: Cerita Segelas Kopi: Lessons from Love, Life, and Loss

25 February 2016 capcai bakar

Cerita Segelas Kopi: Lessons from Love, Life, and Loss Cerita Segelas Kopi: Lessons from Love, Life, and Loss by Melanie Subono
My rating: 1 of 5 stars

“Gue jarang kesel sama orang, sampai suatu hari, seorang wartawan yang kelar bertanya tentang hidup dan penyakit gue akhirnya menutup wawancara dengan satu pertanyaan yang membuat gue pengen ngamuk …

‘Mbak Mel,  kalo besok mati nih, mau diinget orang sebagai apa, Mbak? Apa yang udah Mbak lakukan selama ini?’

Dan untuk pertama kalinya dalam hidup gue, gue speechless dan kehilangan spontanitas gue menjawab pertanyaan. Dan sejak hari itu juga, dengan cara gue sendiri, gue berjanji akan menjadi orang yang berguna buat siapapun dalam apapun yang gue lakukan, dengan cara apapun yang gue mampu, baik musik maupun tulisan. Baik sebagai orang yang memberi motivasi, maupun kritik. And here I am.”
-------

Buku Cerita Segelas Kopi nya Melanie Subowo ini selesai saya baca kurang dalam sehari. Bukan karena bagus banget, tapi karena pengen cepat selesai dan pindah ke buku lain. Bukunya melelahkan.

Saya tahu banyak blog bagus dan inspiring yang dibukukan. Dan buku ini sepertinya banyak mengambil dari blognya penulis, yang dirasa menggugah. "Seperti" karena saya ga tau alamat blog mbaknya yang mana, beliau punya banyak. Dan yang di blogdetik archievenya (daftar tulisan) ga ada. Ya masa mau ditelusuri satu-satu. Tambah lelah nanti.

Kenapa baca bukunya berasa baca blog aja? Karena alur cerita antar satu bab ke bab lain ga ada, banyak ide yang diulang di beberapa tulisan...berkali-kali, dan terakhir saya kebingungan apa yang ingin disampaikan penulis di setiap artikelnya. Idenya banyak dan ga terarah. Apalagi sepertinya ditulis dalam kondisi emosi. Akhirnya yang seperti saya bilang tadi, membaca buku ini menguras energi. Berasa temenan sama orang yang marah-marah melulu.

Padahal isinya inspiring loh, tentang hak asasi, perempuan, pantang menyerah, cinta indonesia, dan banyak lagi. Seandainya penulis, editor, dan penerbitnya mau menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengatur artikel-artikelnya. Biar ada benang merah, ga terlalu melebar ke mana-mana, dan lebih terarah. Marah-marahnya gak masalah lah kalau memang gaya mbaknya

View all my reviews
Crying 100 Times Crying 100 Times by Kō Nakamura
My rating: 0 of 5 stars

“To love, to honor. To cherish, to help. Until death do us apart.”

Waktu itu, kami sedang memperbaiki sepeda motor tuaku. Waktu itu, ia memintaku untuk menjenguk Book, anjing tua kesayanganku yang sekarat. Dari dulu, Book sangat menyukai suara mesin motorku.

Waktu itu, Aku melamarnya. Waktu itu aku merasa aku adalah pria paling bahagia di dunia. Aku kira, kebahagiaan ini tidak akan berakhir. Tapi...

-------

Dulu saya pernah bikin janji sendiri kalau mau baca buku-buku ringan seperti ini saya ga akan membeli terjemahannya. Pertama karena kadang-kadang terjemahannya kurang klik di hati dan kedua biar ga terlalu merasa bersalah setelah menghabiskan waktu untuk baca novel cinta-cintaan, saya bisa beralasan ini untuk latihan bahasa inggris. :p

Cuma, ada masanya saya bosen baca novel sambil buka kamus. Capekan buka kamusnya. Jadi saya memutuskan beralih ke novel korea.. soalnya ga mungkin beli yang bahasa korea kan? Saya belum bisa bahasa korea.

Iya.. saya pikir ini novel korea. Saya baru sadar ini novel jepang setelah membacanya agak jauh. Kog datar ya? Efisien banget novelnya. Ga seperti novel korea yang lucu, romatis berlebih, dan bikin banjir air mata. Ternyata memang novel jepang. Hahaha.

Novelnya efesien. Mungkin karena penulisnya lelaki dan orang jepang. Ga ada penggambaran rasa cinta berlebihan atau rasa sedih yang menyayat hati lalu bikin pembaca ikut berurai air mata.

Datar tapi bagus. Saya suka karena berhasil bikin penasaran. "Judulnya Crying 100 Times, kapan nih tragedinya muncul" begitu terus pikiran saya saat membacanya. Saya juga penasaran sama kisah anjingnya, yang mana cuma jadi mukadimah aja. I want more Book!

Cuma saya jadi punya gambaran bagaimana lelaki menghadapi kejadian yang menyedihkan. Harus tetap kerja, tetap tegar, meski hati gundah gulana.

So, do i recomended it? Ya baca aja. Lumayan kalau lagi nunggu-nunggu pesawat atau lagi di pesawat dan pesawatnya ga nyediain in flight entertainment. Kenapa pesawat? Karena baca ini ga bakalan nangis dan diliatin penumpang lain. :D


View all my reviews

Review: Crying 100 Times


Crying 100 Times Crying 100 Times by Kō Nakamura
My rating: 0 of 5 stars

“To love, to honor. To cherish, to help. Until death do us apart.”

Waktu itu, kami sedang memperbaiki sepeda motor tuaku. Waktu itu, ia memintaku untuk menjenguk Book, anjing tua kesayanganku yang sekarat. Dari dulu, Book sangat menyukai suara mesin motorku.

Waktu itu, Aku melamarnya. Waktu itu aku merasa aku adalah pria paling bahagia di dunia. Aku kira, kebahagiaan ini tidak akan berakhir. Tapi...

-------

Dulu saya pernah bikin janji sendiri kalau mau baca buku-buku ringan seperti ini saya ga akan membeli terjemahannya. Pertama karena kadang-kadang terjemahannya kurang klik di hati dan kedua biar ga terlalu merasa bersalah setelah menghabiskan waktu untuk baca novel cinta-cintaan, saya bisa beralasan ini untuk latihan bahasa inggris. :p

Cuma, ada masanya saya bosen baca novel sambil buka kamus. Capekan buka kamusnya. Jadi saya memutuskan beralih ke novel korea.. soalnya ga mungkin beli yang bahasa korea kan? Saya belum bisa bahasa korea.

Iya.. saya pikir ini novel korea. Saya baru sadar ini novel jepang setelah membacanya agak jauh. Kog datar ya? Efisien banget novelnya. Ga seperti novel korea yang lucu, romatis berlebih, dan bikin banjir air mata. Ternyata memang novel jepang. Hahaha.

Novelnya efesien. Mungkin karena penulisnya lelaki dan orang jepang. Ga ada penggambaran rasa cinta berlebihan atau rasa sedih yang menyayat hati lalu bikin pembaca ikut berurai air mata.

Datar tapi bagus. Saya suka karena berhasil bikin penasaran. "Judulnya Crying 100 Times, kapan nih tragedinya muncul" begitu terus pikiran saya saat membacanya. Saya juga penasaran sama kisah anjingnya, yang mana cuma jadi mukadimah aja. I want more Book!

Cuma saya jadi punya gambaran bagaimana lelaki menghadapi kejadian yang menyedihkan. Harus tetap kerja, tetap tegar, meski hati gundah gulana.

So, do i recomended it? Ya baca aja. Lumayan kalau lagi nunggu-nunggu pesawat atau lagi di pesawat dan pesawatnya ga nyediain in flight entertainment. Kenapa pesawat? Karena baca ini ga bakalan nangis dan diliatin penumpang lain. :D


View all my reviews

19 February 2016

Baca-baca twitter yang lagi ramai (ga ramai sih.. yang bahas paling seakun dua akun) soal pencabulan remaja oleh artis. Terus ada yang komentar "Lakik gimana bisa dicabuli sih... kan tinggal gebuk aja."

Saya... prihatin. *i love you pak es be ye*

Prinsip saya, kalau kita ga pernah di posisi orang itu kita ga akan tahu gimana rasanya. Ga akan tahu. Kita cuma bisa berasumsi.

Jadi, kalian pernah dicabuli? Pernah dilecehkan sampai tahu "Lu harusnya bisa ngelawan. Lu harusnya ga dicabuli. Lu bisa teriak. Bisa kabur." Sampai bisa komen begitu?

Let me tell you how it is feel.

When it happen, otak lu berhenti bekerja. Lu kaget. Lu ga tahu harus ngapain. Everything move in slow motion. Saat lu sadar lu harus ngelakuin sesuatu, lu harus teriak biar ada yang bantu. Suara lu hilang. Lu berusaha keras ngeluarin suara tapi ga ada yang keluar dari mulut lu. Mungkin sama kayak pas ngeliat hantu atau ngeliat perampok lagi beraksi.

Iya lu kaget. Karena lu ga mengharapkan itu terjadi. Lu ga nyangka orang itu akan berani, akan tega, atau kepikiran buat melecehkan lu.

Lu juga takut. Secara suara ga ada. Otak ga bisa mikir. Dan biasanya pelakunya orang yang lebih powerfull daripada korban. Entah lebih gede, lebih tua, lebih punya jabatan, atau lebih kuat aja. Terus gimana?

Metode orang melawan stres itu cuma dua. Fight or flight.  Lu bisa ngelawan. Atau lari. Mana yang terjadi biasanya karena kebiasaan aja. Insting. Insting itu dilatih. Karena itu anak-anak harus diajarin bela diri. Jadi kalau ada yang macam-macam, instingnya otomatis langsung masuk mode "fight." Badannya langsung gerak untuk melawan, meski otaknya ga bisa mikir. Orang dewasa juga harus berulang kali belajar metode self defense. Dan melatihnya biar badan ga lupa.

Kalau ga? Ya lu cuma bisa kabur serta berharap ga disusul pelaku.

Jadi... kalau ada pencabulan atau pemerkosaan atau pelecehan, ga usahlah nyalahin korban. Entah dia lelaki. Entah dia perempuan. (S)He already in pain Nyai... Yang salah itu pelaku.

Kog Bisa?

19 February 2016 capcai bakar

Baca-baca twitter yang lagi ramai (ga ramai sih.. yang bahas paling seakun dua akun) soal pencabulan remaja oleh artis. Terus ada yang komentar "Lakik gimana bisa dicabuli sih... kan tinggal gebuk aja."

Saya... prihatin. *i love you pak es be ye*

Prinsip saya, kalau kita ga pernah di posisi orang itu kita ga akan tahu gimana rasanya. Ga akan tahu. Kita cuma bisa berasumsi.

Jadi, kalian pernah dicabuli? Pernah dilecehkan sampai tahu "Lu harusnya bisa ngelawan. Lu harusnya ga dicabuli. Lu bisa teriak. Bisa kabur." Sampai bisa komen begitu?

Let me tell you how it is feel.

When it happen, otak lu berhenti bekerja. Lu kaget. Lu ga tahu harus ngapain. Everything move in slow motion. Saat lu sadar lu harus ngelakuin sesuatu, lu harus teriak biar ada yang bantu. Suara lu hilang. Lu berusaha keras ngeluarin suara tapi ga ada yang keluar dari mulut lu. Mungkin sama kayak pas ngeliat hantu atau ngeliat perampok lagi beraksi.

Iya lu kaget. Karena lu ga mengharapkan itu terjadi. Lu ga nyangka orang itu akan berani, akan tega, atau kepikiran buat melecehkan lu.

Lu juga takut. Secara suara ga ada. Otak ga bisa mikir. Dan biasanya pelakunya orang yang lebih powerfull daripada korban. Entah lebih gede, lebih tua, lebih punya jabatan, atau lebih kuat aja. Terus gimana?

Metode orang melawan stres itu cuma dua. Fight or flight.  Lu bisa ngelawan. Atau lari. Mana yang terjadi biasanya karena kebiasaan aja. Insting. Insting itu dilatih. Karena itu anak-anak harus diajarin bela diri. Jadi kalau ada yang macam-macam, instingnya otomatis langsung masuk mode "fight." Badannya langsung gerak untuk melawan, meski otaknya ga bisa mikir. Orang dewasa juga harus berulang kali belajar metode self defense. Dan melatihnya biar badan ga lupa.

Kalau ga? Ya lu cuma bisa kabur serta berharap ga disusul pelaku.

Jadi... kalau ada pencabulan atau pemerkosaan atau pelecehan, ga usahlah nyalahin korban. Entah dia lelaki. Entah dia perempuan. (S)He already in pain Nyai... Yang salah itu pelaku.

18 February 2016

Penemuan Baru

18 February 2016 capcai bakar

Saya suka roti. Suka banget. Jadi rasanya kalau harus diet no karbo dan ga boleh makan roti atau mie saya bakal judes setengah mati. Roti kesukaan saya itu yang dipanggang terus pakai isian coklat dan keju. Jadi coklat dan kejunya melting-melting belepotan gitu. Keju doang juga suka... asal makannya sama yang manis. Kayak Suami Prohemer, ganteng manis nan gagah gitu. Iya ini lagi kangen berat.

Karena belum punya panggangan roti (iya ini kode Suami), saya suka beli roti sandwichnya Sari Roti. Rotinya lembut ga pakai pinggiran, coklatnya cair, keju susunya juga cair dan banyak. Enak. Banget. Sayangnya dia ga punya varian coklat -keju. Adanya coklat aja. Keju aja. Kacang aja. Blueberry aja. Srikaya aja.

Karena ga ada varian coklat-keju, saya harus memilih mau makan roti coklat atau roti keju. Ini dilema *dikeplak menkominfo yang lagi galau mau nutup tumblr atau ga* Setelah melakukan percobaan beberapa kali *dilempar mikroskop sama ilmuwan* saya berkesimpulan bahwa roti sandwich rasa keju lah yang memberikan tingkat kepuasan paling tinggi buat saya. Cheese to the win.

Setelah sekian lama berpuas diri dengan makan yang rasa keju aja, suatu hari saya menemukan sesuatu yang baru. Yang mengejutkan.

Waktu itu saya lagi duduk-duduk sholehah di mesjid Salman ITB dan melihat seorang lelaki muda *ukhti... jaga pandangan ukhti* sedang memakan roti sandwich sari roti, wait for it, dua biji yang ditumpuk jadi satu. Rotinya ditumpuk jadi satu! Jadi satu sodara-sodara!!

Saya langsung tercerahkan. Ini revolusioner. Ini solusi atas problem saya. Saya bisa makan roti coklat dan keju dengan cara ini. Anak ITB.. kalian luar biasa!!

iya makannya di tempat tidur. :p

Maka saya mulai melakukan pengujian atas solusi ini. Pengujian pertama kog rasanya ga enak ya. Saya kecewa. Tapi seseorang tidak dikatakan peneliti kalau berhenti di percobaan pertama. Maka saya mencoba lagi. Kali ini posisi rotinya saya ubah. Coklat di atas. Ga enak. Coklat di bawah, ga enak juga. Menurut saya metode gabung ini menghilangkan rasa kejunya. Coklatnya terlalu dominan. Kejunya ilang. Me not like lah.

Mungkin baru enak kalau ditambah roti keju lagi di atasnya. Cuma.. ya ampunnnn lapar pisan Neng sampai makan roti 3 sekaligus?

Jadi saya kembali saya ke makan roti keju sama yang ganteng manis dan gagah itu.

Conan diambil semena-mena dari Bukabuku. Miiko dari ignya Ono Eriko. Semena-mena juga.

Penemuan baru lainnya adalah.. komik mikko 28 dan conan 87 udah keluar dong. Akhirnyaaaa setelah sekian lama yaaa. Cuma Miikonya premium edition yang harganya 55ribu aja (pssst.. kalau di bukabuku cuma 44ribu loh. di rumah buku sepertinya lebih murah) . Ini seharga novel loh. Ih. Meski berbonus pounch. Tapi tetap ih ah. Cuma ya tetap dibeli. Bwhahaha. *pilinpilin ujung baju*  Terus saya baru tau pounchnya ada beraneka ragam. Kemarin di gramedia kalibata cuma ada yang ijo gambar miiko kecil-kecil. Saya pengen yang gambar miiko gede juga. *dipelototin suami* hahaha.

Saya baru punya yang no 3 dari kiri. Pengen yang ujung kanan juga. Hihi.

Oke.. sekian updatean penting ga penting ini. Daripada kangen saya kan? Kan? *balik sibuk lagi*

03 February 2016

Pukul 8 pagi ini saya dihubungi Jendral Kancil. Ia baru bangun padahal sekolah sudah dimulai setengah jam yang lalu. Saya langsung marah.

Saya mengomeli Jendral Kancil. Dia sudah kelas empat dan setiap pertemuan orang tua murid dan guru, gurunya mengingatkan manajemen waktu Jendral Kancil. Ia sering terlambat sehingga tidak sempat mengikuti hapalan quran yang berujung hapalannya tertinggal dibandingkan teman-temannya. Padahal sudah dibangunkan saya (lewat telepon) dan ayahnya pukul setengah tujuh.

Saya paham, ayahnya tidur lagi setelah membangunkan Jendral Kancil karena malamnya lembur dan menjaga Captain Kid. Apalagi tadi malam dapat laporan Captain Kid ngamuk-ngamuk. Suami saya baru bisa tidur (meski sudah mengantuk) setelah lewat pukul 2 dini hari. Setiap hari. Jadi wajar ia tidur lagi setelah membangunkan Jendral Kancil. Ia harus cukup segar untuk bisa menyetir dan mengantar anak kami.

Kenapa lembur? Karena siangnya harus menjaga Captain Kid. Sudah seminggu ini pengasuh kami sakit. Dan kalaupun pengasuh kami tidak sakit, pekerjaan suami sebagai pemilik perusahaan menyita banyak waktu. Ibarat punya bayi seorang lagi.

Karena itu saya menuntut Jendral Kancil lah yang harus bisa mengurus dirinya dan bisa mengatur waktunya sendiri. Tidur lebih cepat. Segera mandi begitu dibangunkan, sehingga tidak sempat ngantuk lagi. Saya marah karena ia tidak bisa mengatur dirinya.

Padahal, seringkali Jendral Kancil tidak bisa segera tidur karena masih di kantor Ayah, nungguin ayah selesai kerja dan pulang. Sampai di rumah dia juga masih memaksakan diri biar bisa main dulu dengan ayah dan adek.

Padahal kalau emaknya ada di sana, anaknya bisa segera pulang begitu selesai sekolah dan bisa main dulu. Kalau emaknya ada di sana, pasti bisa tanpa henti ngomelin biar tidur lebih cepat dan segera bangun. Jadi tadi saya marah ke siapa? Ke Jendral Kancil atau ke diri sendiri yang menuntut terlalu tinggi kepada anak? 

Menuntut anak saya lebih cepat dewasa, menuntut ia mampu mengurus keperluan sekolah sendiri, meminta ia mampu mengerjakan tugas sendiri, menuntut ia bisa memutuskan tugas apa yang dikumpulkan ke sekolah, dll. Padahal itu seharusnya tugas saya. Tugas saya, ibunya.

Saya pernah kaget waktu tahu Jendral Kancil memutuskan menunda mengumpulkan tugas karena ia perlu koneksi internet dan printer. Ia menunggu sampai bisa ke kantor Ayahnya. Padahal kalau cerita ke kami, kami pasti memberikan tethering internet dan pergi ke tukang fotokopian untuk mencetak tugasnya. Tapi anaknya tidak bercerita dan memutuskan sendiri. Saya jadi sedih. Iya anak saya mandiri tapi bukankah anak-anak harusnya tidak dipusingkan hal-hal begini ya.. tugas saya sebagai orang tua yang pusing-pusing.

Kalau sudah begini, saya cuma bisa meminta sama Allah, tolong kumpulkan kami bersama jika itu yang terbaik buat kami. Saya tidak tahu caranya, sepertinya mustahil. Tapi engkau Maha Tahu, engkaulah sebaik-baiknya perencana. Jika engkau mengijinkan maka apapun bisa terjadi. Tolong ya Rahman ya Rahim.

Marah ke Siapa?

03 February 2016 capcai bakar

Pukul 8 pagi ini saya dihubungi Jendral Kancil. Ia baru bangun padahal sekolah sudah dimulai setengah jam yang lalu. Saya langsung marah.

Saya mengomeli Jendral Kancil. Dia sudah kelas empat dan setiap pertemuan orang tua murid dan guru, gurunya mengingatkan manajemen waktu Jendral Kancil. Ia sering terlambat sehingga tidak sempat mengikuti hapalan quran yang berujung hapalannya tertinggal dibandingkan teman-temannya. Padahal sudah dibangunkan saya (lewat telepon) dan ayahnya pukul setengah tujuh.

Saya paham, ayahnya tidur lagi setelah membangunkan Jendral Kancil karena malamnya lembur dan menjaga Captain Kid. Apalagi tadi malam dapat laporan Captain Kid ngamuk-ngamuk. Suami saya baru bisa tidur (meski sudah mengantuk) setelah lewat pukul 2 dini hari. Setiap hari. Jadi wajar ia tidur lagi setelah membangunkan Jendral Kancil. Ia harus cukup segar untuk bisa menyetir dan mengantar anak kami.

Kenapa lembur? Karena siangnya harus menjaga Captain Kid. Sudah seminggu ini pengasuh kami sakit. Dan kalaupun pengasuh kami tidak sakit, pekerjaan suami sebagai pemilik perusahaan menyita banyak waktu. Ibarat punya bayi seorang lagi.

Karena itu saya menuntut Jendral Kancil lah yang harus bisa mengurus dirinya dan bisa mengatur waktunya sendiri. Tidur lebih cepat. Segera mandi begitu dibangunkan, sehingga tidak sempat ngantuk lagi. Saya marah karena ia tidak bisa mengatur dirinya.

Padahal, seringkali Jendral Kancil tidak bisa segera tidur karena masih di kantor Ayah, nungguin ayah selesai kerja dan pulang. Sampai di rumah dia juga masih memaksakan diri biar bisa main dulu dengan ayah dan adek.

Padahal kalau emaknya ada di sana, anaknya bisa segera pulang begitu selesai sekolah dan bisa main dulu. Kalau emaknya ada di sana, pasti bisa tanpa henti ngomelin biar tidur lebih cepat dan segera bangun. Jadi tadi saya marah ke siapa? Ke Jendral Kancil atau ke diri sendiri yang menuntut terlalu tinggi kepada anak? 

Menuntut anak saya lebih cepat dewasa, menuntut ia mampu mengurus keperluan sekolah sendiri, meminta ia mampu mengerjakan tugas sendiri, menuntut ia bisa memutuskan tugas apa yang dikumpulkan ke sekolah, dll. Padahal itu seharusnya tugas saya. Tugas saya, ibunya.

Saya pernah kaget waktu tahu Jendral Kancil memutuskan menunda mengumpulkan tugas karena ia perlu koneksi internet dan printer. Ia menunggu sampai bisa ke kantor Ayahnya. Padahal kalau cerita ke kami, kami pasti memberikan tethering internet dan pergi ke tukang fotokopian untuk mencetak tugasnya. Tapi anaknya tidak bercerita dan memutuskan sendiri. Saya jadi sedih. Iya anak saya mandiri tapi bukankah anak-anak harusnya tidak dipusingkan hal-hal begini ya.. tugas saya sebagai orang tua yang pusing-pusing.

Kalau sudah begini, saya cuma bisa meminta sama Allah, tolong kumpulkan kami bersama jika itu yang terbaik buat kami. Saya tidak tahu caranya, sepertinya mustahil. Tapi engkau Maha Tahu, engkaulah sebaik-baiknya perencana. Jika engkau mengijinkan maka apapun bisa terjadi. Tolong ya Rahman ya Rahim.