SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

27 July 2016

Ini lagi capek lihat postingan poligami di grup whatsapp dan facebook. Jadi maafkan kalau pedas.

Begini, sebagai muslim saya ga mengharamkan poligami. Sama Allah diperbolehkan, jadi silahkan. Suami punya pilihan untuk berpoligami. Istri punya pilihan mau dipoligami atau tidak. Seperti poligami, perceraian diperbolehkan di Islam.

Suami mungkin melihat poligami sebagai jalan melaksanakan sunah nabi, menjaga nafsu, membantu perempuan lain, atau sebagai tantangan. Istri mungkin melihat ini sebagai sarana ibadah, pintu masuk ke surga. Jadi bisa saja ada istri yang ikhlas bahkan menganjurkan.

Tapi sudah pernah nanya ke anak-anaknya? Bagaimana rasanya melihat bapak punya istri lain? Bagaimana rasanya bapak tidak ada karena harus menghabiskan waktu bersama keluarga lain? Bagaimana rasanya punya ibu yang menangis diam-diam saat cemburu melanda? Apa mereka nanti mau berpoligami? Mau dipoligami? Coba didengar.

Pernah ngobrol sama orang tua isteri? Gimana rasanya melihat anak mereka dipoligami? Coba diajak ngobrol.

Nikah kan bukan hanya soal suami dan istri. Ada anak. Ada mertua. Ada orang tua. Kalau sudah menikah tidak bisa hanya memikirkan keinginan sendiri saja.

Nikah juga bukan sekedar menghalalkan persetubuhan, menghalalkan mata melihat yang menarik hati, atau menghalalkan tangan menyentuh. Ibadah itu bukan hanya persetubuhan. Silahkan dilihat lagi tujuan menikahnya apa. Apakah poligami ini sejalan dengan tujuan pernikahan?

Kalau ditanya, apa istri ga bangga dengan suami yang bisa menjaga nafsunya dan memilih cara yang halal daripada selingkuh?

Ada banyak suami yang tidak berpoligami dan tetap bisa menjaga nafsunya tanpa berselingkuh. Ada. Dan tidak sedikit. Kalau anda belum pernah ketemu, mungkin nyarinya di tempat yang salah.

Terakhir, silahkan berpoligami kalau memang dibutuhkan dan meningkatkan kualitas anda. Mengutip Quraish Shihab di artikel ini, poligami itu seperti pintu darurat pesawat. Harus dibuka pada kondisi bahaya untuk menyelamatkan diri. Namun akan berbahaya jika dibuka saat kondisi normal.

Jadi tolong dipertimbangkan masak-masak pengaruhnya ke orang-orang yang anda cintai sebelum melakukannya. Bukan sekedar "Kan diperbolehkan lalu kenapa tidak? Lebih baik melaksanakan sunah daripada selingkuh? Ini kan membantu perempuan juga." Yakin itu bukan sekedar pembenaran saja?

Poligami

27 July 2016 capcai bakar

Ini lagi capek lihat postingan poligami di grup whatsapp dan facebook. Jadi maafkan kalau pedas.

Begini, sebagai muslim saya ga mengharamkan poligami. Sama Allah diperbolehkan, jadi silahkan. Suami punya pilihan untuk berpoligami. Istri punya pilihan mau dipoligami atau tidak. Seperti poligami, perceraian diperbolehkan di Islam.

Suami mungkin melihat poligami sebagai jalan melaksanakan sunah nabi, menjaga nafsu, membantu perempuan lain, atau sebagai tantangan. Istri mungkin melihat ini sebagai sarana ibadah, pintu masuk ke surga. Jadi bisa saja ada istri yang ikhlas bahkan menganjurkan.

Tapi sudah pernah nanya ke anak-anaknya? Bagaimana rasanya melihat bapak punya istri lain? Bagaimana rasanya bapak tidak ada karena harus menghabiskan waktu bersama keluarga lain? Bagaimana rasanya punya ibu yang menangis diam-diam saat cemburu melanda? Apa mereka nanti mau berpoligami? Mau dipoligami? Coba didengar.

Pernah ngobrol sama orang tua isteri? Gimana rasanya melihat anak mereka dipoligami? Coba diajak ngobrol.

Nikah kan bukan hanya soal suami dan istri. Ada anak. Ada mertua. Ada orang tua. Kalau sudah menikah tidak bisa hanya memikirkan keinginan sendiri saja.

Nikah juga bukan sekedar menghalalkan persetubuhan, menghalalkan mata melihat yang menarik hati, atau menghalalkan tangan menyentuh. Ibadah itu bukan hanya persetubuhan. Silahkan dilihat lagi tujuan menikahnya apa. Apakah poligami ini sejalan dengan tujuan pernikahan?

Kalau ditanya, apa istri ga bangga dengan suami yang bisa menjaga nafsunya dan memilih cara yang halal daripada selingkuh?

Ada banyak suami yang tidak berpoligami dan tetap bisa menjaga nafsunya tanpa berselingkuh. Ada. Dan tidak sedikit. Kalau anda belum pernah ketemu, mungkin nyarinya di tempat yang salah.

Terakhir, silahkan berpoligami kalau memang dibutuhkan dan meningkatkan kualitas anda. Mengutip Quraish Shihab di artikel ini, poligami itu seperti pintu darurat pesawat. Harus dibuka pada kondisi bahaya untuk menyelamatkan diri. Namun akan berbahaya jika dibuka saat kondisi normal.

Jadi tolong dipertimbangkan masak-masak pengaruhnya ke orang-orang yang anda cintai sebelum melakukannya. Bukan sekedar "Kan diperbolehkan lalu kenapa tidak? Lebih baik melaksanakan sunah daripada selingkuh? Ini kan membantu perempuan juga." Yakin itu bukan sekedar pembenaran saja?

26 July 2016

Suami Prohemer heran liat Jendral Kancil yang betah banget di rumah. Ga main ke luar sama temannya. Bahkan ada temannya yang datang pas dia ga ada, ga dikunjungi balik. Kalau teman-temannya datang ya main. Kalau ga? Anaknya main sendiri.

Saya bilang "Ga apa-apa. Saya juga dulu teman-teman datang ke rumah, mereka main di garasi.. saya baca buku atau nonton di dalam kamar." Senang-senang aja kog. Ga merasa kurang pergaulan.

Kalau lagi mau main sama teman ya main. Persis JendKancil, kalau lagi ingin.. tiap minggu bisa minta ijin main ke rumah temannya. Kalau ga? Disuruh main malah bete.

Buat orang ekstrovret seperti Tuan Suami, mungkin sulit memahami ada orang yang betah ga berinteraksi dengan orang lain. Percayalah suami.... ga masalah. Nanti pelan-pelan diajarin bergaul itu perlu.

Emaknya ngikik aja.

Anaknya Introvert. Bapaknya Ekstrovert.

26 July 2016 capcai bakar

Suami Prohemer heran liat Jendral Kancil yang betah banget di rumah. Ga main ke luar sama temannya. Bahkan ada temannya yang datang pas dia ga ada, ga dikunjungi balik. Kalau teman-temannya datang ya main. Kalau ga? Anaknya main sendiri.

Saya bilang "Ga apa-apa. Saya juga dulu teman-teman datang ke rumah, mereka main di garasi.. saya baca buku atau nonton di dalam kamar." Senang-senang aja kog. Ga merasa kurang pergaulan.

Kalau lagi mau main sama teman ya main. Persis JendKancil, kalau lagi ingin.. tiap minggu bisa minta ijin main ke rumah temannya. Kalau ga? Disuruh main malah bete.

Buat orang ekstrovret seperti Tuan Suami, mungkin sulit memahami ada orang yang betah ga berinteraksi dengan orang lain. Percayalah suami.... ga masalah. Nanti pelan-pelan diajarin bergaul itu perlu.

Emaknya ngikik aja.

10 July 2016

Saya belajar, dalam hidup manusia bisa tumbuh dikelilingi orang-orang yang mengajarkan bahwa yang biasa-biasa saja sudah cukup untuknya. Orang-orang yang memandang dirinya sebelah mata. Yang menilai kalau ia bagus adalah semestinya sehingga tidak perlu dihargai. Sehingga ia terbiasa menjadi biasa-biasa saja.

Saya juga belajar, manusia hanya perlu satu orang yang meyakini bahwa ia bisa mendapatkan yang terbaik. Ia hanya pantas menjadi paling hebat. Ia pasti menjadi seseorang yang luar biasa karena dia bukan orang biasa-biasa.

Saya beruntung dipertemukan dengan Suami Prohemer. Orang yang selalu memaksa saya menjadi luar biasa karena ia meyakini saya punya potensi. Orang yang selalu gemas melihat saya tidak menggunakan potensi saya. Orang yang memaksa saya berani bermimpi besar. Orang yang percaya tidak pernah ada mimpi yang terlalu muluk. Orang yang mendorong saya agar bergerak mewujudkan mimpi itu.

Terima kasih Suami. Selamat 34 tahun. Terima kasih sudah belasan tahun menjadi penyemangat yang tak kenal lelah. Semoga mimpi punya menara, mesjid, panti asuhan, perumahan, peternakan, kantor di mana-mana, ibadah di tanah suci, ngopi-ngopi depan menara Eiffel, dan lain-lain terwujud. Amin!

Selamat 34 untuk Orang Luar Biasa

10 July 2016 capcai bakar

Saya belajar, dalam hidup manusia bisa tumbuh dikelilingi orang-orang yang mengajarkan bahwa yang biasa-biasa saja sudah cukup untuknya. Orang-orang yang memandang dirinya sebelah mata. Yang menilai kalau ia bagus adalah semestinya sehingga tidak perlu dihargai. Sehingga ia terbiasa menjadi biasa-biasa saja.

Saya juga belajar, manusia hanya perlu satu orang yang meyakini bahwa ia bisa mendapatkan yang terbaik. Ia hanya pantas menjadi paling hebat. Ia pasti menjadi seseorang yang luar biasa karena dia bukan orang biasa-biasa.

Saya beruntung dipertemukan dengan Suami Prohemer. Orang yang selalu memaksa saya menjadi luar biasa karena ia meyakini saya punya potensi. Orang yang selalu gemas melihat saya tidak menggunakan potensi saya. Orang yang memaksa saya berani bermimpi besar. Orang yang percaya tidak pernah ada mimpi yang terlalu muluk. Orang yang mendorong saya agar bergerak mewujudkan mimpi itu.

Terima kasih Suami. Selamat 34 tahun. Terima kasih sudah belasan tahun menjadi penyemangat yang tak kenal lelah. Semoga mimpi punya menara, mesjid, panti asuhan, perumahan, peternakan, kantor di mana-mana, ibadah di tanah suci, ngopi-ngopi depan menara Eiffel, dan lain-lain terwujud. Amin!

04 July 2016

Saya selalu ingin sekolah di luar negeri. Mungkin karena dulu lihat Mama Papa belajar di Eropa. Tapi inginnya itu baru sebatas ingin. Usahanya minimal. Dulu waktu SMA dan kuliah saya pernah ikut seleksi pertukaran pelajar, yang dua-duanya gagal di tahap terakhir. Setelah itu ya ga pernah usaha lagi buat mewujudkan keinginan belajar di luar.

Untungnya punya suami yang ambisius. Rasanya kalau Suami Prohemer tipe yang lempeng-lempeng dan ga punya mimpi muluk-muluk, saya akan tenang-tenang saja dengan kondisi apapun. Tinggal di rumah, nganter anak sekolah, masak makan siang, anter makan siang ke kantor suami, dan nulis blog. Gitu terus setiap hari juga saya puas-puas aja. Ya ditambah seminggu sekali ke salon dan (minimal) sebulan sekali belanja baju baru. 

Dialah yang semenjak saya lulus S1, sibuk "mengingatkan" untuk mencari beasiswa. Mengingatkannya ini setiap saya ngobrol dengan Suami loh ya. Setiap hari, tiga kali sehari. Setiap ketemu. 

Bikin kesal sebenarnya. Bahkan saya pernah (sering ding) marah dan bilang Suami mengrongrong. Bwahahaha. Untungnya beliau ga patah hati lalu berhenti "mengingatkan saya". Dan sayapun belajar mengabaikan "peringatannya". Kurang ajar ya?

Terus kog tiba-tiba tahun ini saya serius cari beasiswa? Karena comfort zone saya hilang. Tahun pertama kerja, saya masih beradaptasi dengan kantor. Tahun kedua, saya ikut pendidikan menjadi Trainer dan sibuk mempersiapkan metode mengajar. Tahun ketiga, saya ikut pelatihan jadi auditor. Tahun keempat, sibuk audit. Tahun kelima? Stuck. Saya dapat jadwal mengajar maksimal dua kali dalam sebulan. Selebihnya saya bengong-bengong cantik di kantor. Sampai-sampai saya (dan teman-teman) punya jargon "Ngobrol-ngobrol dapat duit." Karena benaran ga ada kerjaan sama sekali. Memperbaharui bahan ajar? Mmm... udah lebih dari dua tahun ngajar itu aja. Khatam. Pengen ngajar yang lebih serius tapi pengalaman audit saya masih minim. Minta ikut ngeaudit lagi? Ga diijinin. Ya salam. 

Prinsip saya kalau ninggalin keluarga, kariernya harus berarti dong ya. Masa ninggalin anak-anak cuma buat ngobrol-ngobrol ga jelas di kantor. Rugi. Jadi karena terus-terusan bengong di kantor, mulailah saya dengan serius menelusuri tawaran beasiswa di kantor. Serius menpersiapkan persyaratan yang diperlukan. Serius ikut seleksinya. 

Alhamdulilah tahun ini dapat beasiswanya. Alhamdulillah juga keterima di universitas yang saya inginkan. Alhamdulillah sekarang masih ketar-ketir ngurus paspor dinas, visa, akomodasi, dan sekolah anak-anak. Karena rencananya mau bawa anak-anak dan suami eh harus bawa anak-anak dan suami. Tolong ya Allah. Hahaha. Mohon doanya ya, urusan paspor, visa, dan keberangkatan kami sekeluarga bisa dipermudah, lancar, dan tepat waktu. Doain juga ada dananya. 

Dengan postingan ini, semoga postingan berlabel sedang mencari beasiswa bisa bertambah dan berkembang menjadi sedang di UK. See you!!

Scholarship Journey: The Beginning

04 July 2016 capcai bakar

Saya selalu ingin sekolah di luar negeri. Mungkin karena dulu lihat Mama Papa belajar di Eropa. Tapi inginnya itu baru sebatas ingin. Usahanya minimal. Dulu waktu SMA dan kuliah saya pernah ikut seleksi pertukaran pelajar, yang dua-duanya gagal di tahap terakhir. Setelah itu ya ga pernah usaha lagi buat mewujudkan keinginan belajar di luar.

Untungnya punya suami yang ambisius. Rasanya kalau Suami Prohemer tipe yang lempeng-lempeng dan ga punya mimpi muluk-muluk, saya akan tenang-tenang saja dengan kondisi apapun. Tinggal di rumah, nganter anak sekolah, masak makan siang, anter makan siang ke kantor suami, dan nulis blog. Gitu terus setiap hari juga saya puas-puas aja. Ya ditambah seminggu sekali ke salon dan (minimal) sebulan sekali belanja baju baru. 

Dialah yang semenjak saya lulus S1, sibuk "mengingatkan" untuk mencari beasiswa. Mengingatkannya ini setiap saya ngobrol dengan Suami loh ya. Setiap hari, tiga kali sehari. Setiap ketemu. 

Bikin kesal sebenarnya. Bahkan saya pernah (sering ding) marah dan bilang Suami mengrongrong. Bwahahaha. Untungnya beliau ga patah hati lalu berhenti "mengingatkan saya". Dan sayapun belajar mengabaikan "peringatannya". Kurang ajar ya?

Terus kog tiba-tiba tahun ini saya serius cari beasiswa? Karena comfort zone saya hilang. Tahun pertama kerja, saya masih beradaptasi dengan kantor. Tahun kedua, saya ikut pendidikan menjadi Trainer dan sibuk mempersiapkan metode mengajar. Tahun ketiga, saya ikut pelatihan jadi auditor. Tahun keempat, sibuk audit. Tahun kelima? Stuck. Saya dapat jadwal mengajar maksimal dua kali dalam sebulan. Selebihnya saya bengong-bengong cantik di kantor. Sampai-sampai saya (dan teman-teman) punya jargon "Ngobrol-ngobrol dapat duit." Karena benaran ga ada kerjaan sama sekali. Memperbaharui bahan ajar? Mmm... udah lebih dari dua tahun ngajar itu aja. Khatam. Pengen ngajar yang lebih serius tapi pengalaman audit saya masih minim. Minta ikut ngeaudit lagi? Ga diijinin. Ya salam. 

Prinsip saya kalau ninggalin keluarga, kariernya harus berarti dong ya. Masa ninggalin anak-anak cuma buat ngobrol-ngobrol ga jelas di kantor. Rugi. Jadi karena terus-terusan bengong di kantor, mulailah saya dengan serius menelusuri tawaran beasiswa di kantor. Serius menpersiapkan persyaratan yang diperlukan. Serius ikut seleksinya. 

Alhamdulilah tahun ini dapat beasiswanya. Alhamdulillah juga keterima di universitas yang saya inginkan. Alhamdulillah sekarang masih ketar-ketir ngurus paspor dinas, visa, akomodasi, dan sekolah anak-anak. Karena rencananya mau bawa anak-anak dan suami eh harus bawa anak-anak dan suami. Tolong ya Allah. Hahaha. Mohon doanya ya, urusan paspor, visa, dan keberangkatan kami sekeluarga bisa dipermudah, lancar, dan tepat waktu. Doain juga ada dananya. 

Dengan postingan ini, semoga postingan berlabel sedang mencari beasiswa bisa bertambah dan berkembang menjadi sedang di UK. See you!!

27 May 2016

Suka kesal sama tukang parkir yang tiba-tiba datang saat kita mau keluar dan pergi begitu uang berpindah? Sama saya juga. Cuma saya mencoba bersabar dengan berpikir bersama rejeki kendaraan pribadi ada uang parkir yang harus dibayar. Ga mau bayar parkir ya ga usah bawa kendaraan.

Cuma sekali-sekali ya lepas juga lihat kelakuan tukang parkir. Yang paling baru sih pas kemarin nemenin Suami Prohemer belanja ke ciwalk.

Disclaimer dulu, saya juga sering kog ketemu tukang parkir yang baik. Yang benaran kerja, bukan malak bermodalkan peluit. Kalau ketemu yang baik, saya ga keberatan bayar parkir. Ikhlas lahir batin.

Sayangnya tukang parkir motor yang depan xtrans ciwalk, tidak. Saat memarkirkan kendaraan, suami langsung dikasih tiket yang memberitahukan kalau tarifnya 3000 rupiah. Naik aja. Suami bersikeras cuma mau bayar 2000, tarif "normal" yang dinaikan sepihak juga dari 1000 rupiah.

Tukang Parkir: parkirnya 3000

Suami: naik? Biasanya kan 2000

TP: itu di tiketnya juga ditulis. udah 2 tahun jadi 3000 dari xtransnya belum dibangun sampai selesai.

Capcai: tiketnya bikin sendiri, ya bisa suka-suka hati bapak nulis tarif.

TP: ini ditentuin pengurusnya. Kita kan juga setor ke dishub.

C: Ya memang harus setor ke dishub. Kan dapat ijin dari mereka. Sama dishub juga cuma boleh mungut sesuai perda pak. 500 rupiah. Ini 3000.

Saya sih tetap membayar "kekurangan bayar" yang diklaim tukang parkir ini. Tapi sewot ga terima. Sewotnya karena tukang parkirnya ngotot merasa benar karena dia punya karcis yang menyatakan tarif parkir sekian, bawa-bawa dinas perhubungan pulak. Karcis dia yang bikin. Kalau dia tulis 5juta berarti saya harus bayar 5juta? Dasar hukum karcis dia apa?

Dinas perhubungan memang mengsubkontrakan pengelolaan tempat parkir tertentu kepada pihak ketiga, namun besaran tarifnya tetap harus sesuai perda. Ga bisa bikin tarif sendiri. Dan boleh lihat perda kota bandung, tarif parkir motor itu masih 500 rupiah.

Tapi yang paling bikin sewot itu karena tukangnya ngaku-ngaku tarif 3ribu ini sudah jalan lebih dari 2 tahun. Maksud dia saya udah dua tahun ga ke ciwalk gitu? Ngajak gelut.


Tarif Parkir

27 May 2016 capcai bakar

Suka kesal sama tukang parkir yang tiba-tiba datang saat kita mau keluar dan pergi begitu uang berpindah? Sama saya juga. Cuma saya mencoba bersabar dengan berpikir bersama rejeki kendaraan pribadi ada uang parkir yang harus dibayar. Ga mau bayar parkir ya ga usah bawa kendaraan.

Cuma sekali-sekali ya lepas juga lihat kelakuan tukang parkir. Yang paling baru sih pas kemarin nemenin Suami Prohemer belanja ke ciwalk.

Disclaimer dulu, saya juga sering kog ketemu tukang parkir yang baik. Yang benaran kerja, bukan malak bermodalkan peluit. Kalau ketemu yang baik, saya ga keberatan bayar parkir. Ikhlas lahir batin.

Sayangnya tukang parkir motor yang depan xtrans ciwalk, tidak. Saat memarkirkan kendaraan, suami langsung dikasih tiket yang memberitahukan kalau tarifnya 3000 rupiah. Naik aja. Suami bersikeras cuma mau bayar 2000, tarif "normal" yang dinaikan sepihak juga dari 1000 rupiah.

Tukang Parkir: parkirnya 3000

Suami: naik? Biasanya kan 2000

TP: itu di tiketnya juga ditulis. udah 2 tahun jadi 3000 dari xtransnya belum dibangun sampai selesai.

Capcai: tiketnya bikin sendiri, ya bisa suka-suka hati bapak nulis tarif.

TP: ini ditentuin pengurusnya. Kita kan juga setor ke dishub.

C: Ya memang harus setor ke dishub. Kan dapat ijin dari mereka. Sama dishub juga cuma boleh mungut sesuai perda pak. 500 rupiah. Ini 3000.

Saya sih tetap membayar "kekurangan bayar" yang diklaim tukang parkir ini. Tapi sewot ga terima. Sewotnya karena tukang parkirnya ngotot merasa benar karena dia punya karcis yang menyatakan tarif parkir sekian, bawa-bawa dinas perhubungan pulak. Karcis dia yang bikin. Kalau dia tulis 5juta berarti saya harus bayar 5juta? Dasar hukum karcis dia apa?

Dinas perhubungan memang mengsubkontrakan pengelolaan tempat parkir tertentu kepada pihak ketiga, namun besaran tarifnya tetap harus sesuai perda. Ga bisa bikin tarif sendiri. Dan boleh lihat perda kota bandung, tarif parkir motor itu masih 500 rupiah.

Tapi yang paling bikin sewot itu karena tukangnya ngaku-ngaku tarif 3ribu ini sudah jalan lebih dari 2 tahun. Maksud dia saya udah dua tahun ga ke ciwalk gitu? Ngajak gelut.


29 February 2016

Ngidam Sawo Dulu

29 February 2016 capcai bakar

Dulu.. waktu hamil Jendral Kancil saya ngidam sawo banget banget. Pengen banget makan sawo. Ini ga biasa... karena saya ga pernah suka sawo. Teksturnya lembek-lembek benyek gitu. Namanya ngidam, yang suka jadi ga suka banget. Yang ga suka jadi suka banget. 

Sayangnya masa itu nyari sawo susah. Saya dan Suami Prohemer sudah keliling kemana-mana tapi ga ketemu. Entah memang lagi ga musim atau kami yang ga tahu harus nyari ke mana.


Akhirnya setelah dicari berhari-hari, kami menemukan penjual buah sawo di pasar kaget Gasibu. Sangking leganya,Tuan Suami langsung beli sekilo dong. Misi menunaikan ngidam istri selesai. Begitu dapat, seingat saya, buahnya ga saya makan sama sekali... antara memang ga suka atau sudah lewat pengennya.

Mengingat susahnya nyari buah sawo saat saya hamil dulu, begitu punya rumah sendiri.. Tuan Suami sengaja menanam pohon sawo di halaman. Alasannya "Biar ga susah kalau kamu kepengen lagi."

Yang mana enggak. Hamil Captain Kid saya ga ngidam sawo. Namun setiap ngelihat buah sawo, Suami selalu cerita gimana dulu susahnya nyariin keinginan saya.

-----------

Yang Tuan Suami ga tahu adalah... 


Sebenarnya saya waktu itu kepengen makan buah kiwi banget banget. Iya.. kiwi. Bukan sawo.

Sebagai pasangan muda yang baru meniti rumah tangga, saya mikir-mikir kalau mau minta dicariin kiwi. Mahal. Hahaha. Masa-masa hamil Jendral Kancil, keuangan kami cukup banget. Cukup buat beli susu hamil yang selalu saya minum ketika cuma bisa makan indomie (karena uang udah abis padahal suami belum gajian). Cukup buat meriksa kandungan ke dokter sekali-sekali aja. Cukup buat beli peralatan bayi, setelah bayinya lahir. Pokoknya cukup. (Kan katanya rejeki ga ada yang kurang.. yang ada cukup dan berlebih.)

Jadi waktu itu rasanya kalau minta dibeliin kiwi yang mahal, saya nambah beban suami. Maka saya berpikir buah apa yang mirip kiwi tapi murah. Muncullah sawo di pikiran saya. Kiwi itu dua biji aja belasan ribu kan ya.. sementara sawo sekilo cuma lima ribuan.


Waktu saya ngasih tau Tuan Suami, baru-baru ini...setelah Jendral Kancil berumur 10 tahun, Tuan Suami cuma bilang..

"Kalau beliin kiwi aja, aku masih sanggup. Nyarinya juga lebih gampang daripada sawo."
Dan setelahnya.. ia membelikan saya buah kiwi. Mungkin biar isterinya ga penasaran. Makasih ya. I know you will grant all my wish. Meski harus bersusah-payah. Buat saya cukuplah yang susah itu ngebeliin kapal pesiar aja. *dikeplak mamah dedeh* Yang lainnya cukup diganti dengan pelukan sampai sesak napas, kecupan di mata, dan kata cinta ribuan kali. oh.. ples ridhonya aja ya Suami. Muahhh!! 

25 February 2016

Cerita Segelas Kopi: Lessons from Love, Life, and Loss Cerita Segelas Kopi: Lessons from Love, Life, and Loss by Melanie Subono
My rating: 1 of 5 stars

“Gue jarang kesel sama orang, sampai suatu hari, seorang wartawan yang kelar bertanya tentang hidup dan penyakit gue akhirnya menutup wawancara dengan satu pertanyaan yang membuat gue pengen ngamuk …

‘Mbak Mel,  kalo besok mati nih, mau diinget orang sebagai apa, Mbak? Apa yang udah Mbak lakukan selama ini?’

Dan untuk pertama kalinya dalam hidup gue, gue speechless dan kehilangan spontanitas gue menjawab pertanyaan. Dan sejak hari itu juga, dengan cara gue sendiri, gue berjanji akan menjadi orang yang berguna buat siapapun dalam apapun yang gue lakukan, dengan cara apapun yang gue mampu, baik musik maupun tulisan. Baik sebagai orang yang memberi motivasi, maupun kritik. And here I am.”
-------

Buku Cerita Segelas Kopi nya Melanie Subowo ini selesai saya baca kurang dalam sehari. Bukan karena bagus banget, tapi karena pengen cepat selesai dan pindah ke buku lain. Bukunya melelahkan.

Saya tahu banyak blog bagus dan inspiring yang dibukukan. Dan buku ini sepertinya banyak mengambil dari blognya penulis, yang dirasa menggugah. "Seperti" karena saya ga tau alamat blog mbaknya yang mana, beliau punya banyak. Dan yang di blogdetik archievenya (daftar tulisan) ga ada. Ya masa mau ditelusuri satu-satu. Tambah lelah nanti.

Kenapa baca bukunya berasa baca blog aja? Karena alur cerita antar satu bab ke bab lain ga ada, banyak ide yang diulang di beberapa tulisan...berkali-kali, dan terakhir saya kebingungan apa yang ingin disampaikan penulis di setiap artikelnya. Idenya banyak dan ga terarah. Apalagi sepertinya ditulis dalam kondisi emosi. Akhirnya yang seperti saya bilang tadi, membaca buku ini menguras energi. Berasa temenan sama orang yang marah-marah melulu.

Padahal isinya inspiring loh, tentang hak asasi, perempuan, pantang menyerah, cinta indonesia, dan banyak lagi. Seandainya penulis, editor, dan penerbitnya mau menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengatur artikel-artikelnya. Biar ada benang merah, ga terlalu melebar ke mana-mana, dan lebih terarah. Marah-marahnya gak masalah lah kalau memang gaya mbaknya

View all my reviews

Review: Cerita Segelas Kopi: Lessons from Love, Life, and Loss

25 February 2016 capcai bakar

Cerita Segelas Kopi: Lessons from Love, Life, and Loss Cerita Segelas Kopi: Lessons from Love, Life, and Loss by Melanie Subono
My rating: 1 of 5 stars

“Gue jarang kesel sama orang, sampai suatu hari, seorang wartawan yang kelar bertanya tentang hidup dan penyakit gue akhirnya menutup wawancara dengan satu pertanyaan yang membuat gue pengen ngamuk …

‘Mbak Mel,  kalo besok mati nih, mau diinget orang sebagai apa, Mbak? Apa yang udah Mbak lakukan selama ini?’

Dan untuk pertama kalinya dalam hidup gue, gue speechless dan kehilangan spontanitas gue menjawab pertanyaan. Dan sejak hari itu juga, dengan cara gue sendiri, gue berjanji akan menjadi orang yang berguna buat siapapun dalam apapun yang gue lakukan, dengan cara apapun yang gue mampu, baik musik maupun tulisan. Baik sebagai orang yang memberi motivasi, maupun kritik. And here I am.”
-------

Buku Cerita Segelas Kopi nya Melanie Subowo ini selesai saya baca kurang dalam sehari. Bukan karena bagus banget, tapi karena pengen cepat selesai dan pindah ke buku lain. Bukunya melelahkan.

Saya tahu banyak blog bagus dan inspiring yang dibukukan. Dan buku ini sepertinya banyak mengambil dari blognya penulis, yang dirasa menggugah. "Seperti" karena saya ga tau alamat blog mbaknya yang mana, beliau punya banyak. Dan yang di blogdetik archievenya (daftar tulisan) ga ada. Ya masa mau ditelusuri satu-satu. Tambah lelah nanti.

Kenapa baca bukunya berasa baca blog aja? Karena alur cerita antar satu bab ke bab lain ga ada, banyak ide yang diulang di beberapa tulisan...berkali-kali, dan terakhir saya kebingungan apa yang ingin disampaikan penulis di setiap artikelnya. Idenya banyak dan ga terarah. Apalagi sepertinya ditulis dalam kondisi emosi. Akhirnya yang seperti saya bilang tadi, membaca buku ini menguras energi. Berasa temenan sama orang yang marah-marah melulu.

Padahal isinya inspiring loh, tentang hak asasi, perempuan, pantang menyerah, cinta indonesia, dan banyak lagi. Seandainya penulis, editor, dan penerbitnya mau menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengatur artikel-artikelnya. Biar ada benang merah, ga terlalu melebar ke mana-mana, dan lebih terarah. Marah-marahnya gak masalah lah kalau memang gaya mbaknya

View all my reviews
Crying 100 Times Crying 100 Times by Kō Nakamura
My rating: 0 of 5 stars

“To love, to honor. To cherish, to help. Until death do us apart.”

Waktu itu, kami sedang memperbaiki sepeda motor tuaku. Waktu itu, ia memintaku untuk menjenguk Book, anjing tua kesayanganku yang sekarat. Dari dulu, Book sangat menyukai suara mesin motorku.

Waktu itu, Aku melamarnya. Waktu itu aku merasa aku adalah pria paling bahagia di dunia. Aku kira, kebahagiaan ini tidak akan berakhir. Tapi...

-------

Dulu saya pernah bikin janji sendiri kalau mau baca buku-buku ringan seperti ini saya ga akan membeli terjemahannya. Pertama karena kadang-kadang terjemahannya kurang klik di hati dan kedua biar ga terlalu merasa bersalah setelah menghabiskan waktu untuk baca novel cinta-cintaan, saya bisa beralasan ini untuk latihan bahasa inggris. :p

Cuma, ada masanya saya bosen baca novel sambil buka kamus. Capekan buka kamusnya. Jadi saya memutuskan beralih ke novel korea.. soalnya ga mungkin beli yang bahasa korea kan? Saya belum bisa bahasa korea.

Iya.. saya pikir ini novel korea. Saya baru sadar ini novel jepang setelah membacanya agak jauh. Kog datar ya? Efisien banget novelnya. Ga seperti novel korea yang lucu, romatis berlebih, dan bikin banjir air mata. Ternyata memang novel jepang. Hahaha.

Novelnya efesien. Mungkin karena penulisnya lelaki dan orang jepang. Ga ada penggambaran rasa cinta berlebihan atau rasa sedih yang menyayat hati lalu bikin pembaca ikut berurai air mata.

Datar tapi bagus. Saya suka karena berhasil bikin penasaran. "Judulnya Crying 100 Times, kapan nih tragedinya muncul" begitu terus pikiran saya saat membacanya. Saya juga penasaran sama kisah anjingnya, yang mana cuma jadi mukadimah aja. I want more Book!

Cuma saya jadi punya gambaran bagaimana lelaki menghadapi kejadian yang menyedihkan. Harus tetap kerja, tetap tegar, meski hati gundah gulana.

So, do i recomended it? Ya baca aja. Lumayan kalau lagi nunggu-nunggu pesawat atau lagi di pesawat dan pesawatnya ga nyediain in flight entertainment. Kenapa pesawat? Karena baca ini ga bakalan nangis dan diliatin penumpang lain. :D


View all my reviews

Review: Crying 100 Times


Crying 100 Times Crying 100 Times by Kō Nakamura
My rating: 0 of 5 stars

“To love, to honor. To cherish, to help. Until death do us apart.”

Waktu itu, kami sedang memperbaiki sepeda motor tuaku. Waktu itu, ia memintaku untuk menjenguk Book, anjing tua kesayanganku yang sekarat. Dari dulu, Book sangat menyukai suara mesin motorku.

Waktu itu, Aku melamarnya. Waktu itu aku merasa aku adalah pria paling bahagia di dunia. Aku kira, kebahagiaan ini tidak akan berakhir. Tapi...

-------

Dulu saya pernah bikin janji sendiri kalau mau baca buku-buku ringan seperti ini saya ga akan membeli terjemahannya. Pertama karena kadang-kadang terjemahannya kurang klik di hati dan kedua biar ga terlalu merasa bersalah setelah menghabiskan waktu untuk baca novel cinta-cintaan, saya bisa beralasan ini untuk latihan bahasa inggris. :p

Cuma, ada masanya saya bosen baca novel sambil buka kamus. Capekan buka kamusnya. Jadi saya memutuskan beralih ke novel korea.. soalnya ga mungkin beli yang bahasa korea kan? Saya belum bisa bahasa korea.

Iya.. saya pikir ini novel korea. Saya baru sadar ini novel jepang setelah membacanya agak jauh. Kog datar ya? Efisien banget novelnya. Ga seperti novel korea yang lucu, romatis berlebih, dan bikin banjir air mata. Ternyata memang novel jepang. Hahaha.

Novelnya efesien. Mungkin karena penulisnya lelaki dan orang jepang. Ga ada penggambaran rasa cinta berlebihan atau rasa sedih yang menyayat hati lalu bikin pembaca ikut berurai air mata.

Datar tapi bagus. Saya suka karena berhasil bikin penasaran. "Judulnya Crying 100 Times, kapan nih tragedinya muncul" begitu terus pikiran saya saat membacanya. Saya juga penasaran sama kisah anjingnya, yang mana cuma jadi mukadimah aja. I want more Book!

Cuma saya jadi punya gambaran bagaimana lelaki menghadapi kejadian yang menyedihkan. Harus tetap kerja, tetap tegar, meski hati gundah gulana.

So, do i recomended it? Ya baca aja. Lumayan kalau lagi nunggu-nunggu pesawat atau lagi di pesawat dan pesawatnya ga nyediain in flight entertainment. Kenapa pesawat? Karena baca ini ga bakalan nangis dan diliatin penumpang lain. :D


View all my reviews

19 February 2016

Baca-baca twitter yang lagi ramai (ga ramai sih.. yang bahas paling seakun dua akun) soal pencabulan remaja oleh artis. Terus ada yang komentar "Lakik gimana bisa dicabuli sih... kan tinggal gebuk aja."

Saya... prihatin. *i love you pak es be ye*

Prinsip saya, kalau kita ga pernah di posisi orang itu kita ga akan tahu gimana rasanya. Ga akan tahu. Kita cuma bisa berasumsi.

Jadi, kalian pernah dicabuli? Pernah dilecehkan sampai tahu "Lu harusnya bisa ngelawan. Lu harusnya ga dicabuli. Lu bisa teriak. Bisa kabur." Sampai bisa komen begitu?

Let me tell you how it is feel.

When it happen, otak lu berhenti bekerja. Lu kaget. Lu ga tahu harus ngapain. Everything move in slow motion. Saat lu sadar lu harus ngelakuin sesuatu, lu harus teriak biar ada yang bantu. Suara lu hilang. Lu berusaha keras ngeluarin suara tapi ga ada yang keluar dari mulut lu. Mungkin sama kayak pas ngeliat hantu atau ngeliat perampok lagi beraksi.

Iya lu kaget. Karena lu ga mengharapkan itu terjadi. Lu ga nyangka orang itu akan berani, akan tega, atau kepikiran buat melecehkan lu.

Lu juga takut. Secara suara ga ada. Otak ga bisa mikir. Dan biasanya pelakunya orang yang lebih powerfull daripada korban. Entah lebih gede, lebih tua, lebih punya jabatan, atau lebih kuat aja. Terus gimana?

Metode orang melawan stres itu cuma dua. Fight or flight.  Lu bisa ngelawan. Atau lari. Mana yang terjadi biasanya karena kebiasaan aja. Insting. Insting itu dilatih. Karena itu anak-anak harus diajarin bela diri. Jadi kalau ada yang macam-macam, instingnya otomatis langsung masuk mode "fight." Badannya langsung gerak untuk melawan, meski otaknya ga bisa mikir. Orang dewasa juga harus berulang kali belajar metode self defense. Dan melatihnya biar badan ga lupa.

Kalau ga? Ya lu cuma bisa kabur serta berharap ga disusul pelaku.

Jadi... kalau ada pencabulan atau pemerkosaan atau pelecehan, ga usahlah nyalahin korban. Entah dia lelaki. Entah dia perempuan. (S)He already in pain Nyai... Yang salah itu pelaku.

Kog Bisa?

19 February 2016 capcai bakar

Baca-baca twitter yang lagi ramai (ga ramai sih.. yang bahas paling seakun dua akun) soal pencabulan remaja oleh artis. Terus ada yang komentar "Lakik gimana bisa dicabuli sih... kan tinggal gebuk aja."

Saya... prihatin. *i love you pak es be ye*

Prinsip saya, kalau kita ga pernah di posisi orang itu kita ga akan tahu gimana rasanya. Ga akan tahu. Kita cuma bisa berasumsi.

Jadi, kalian pernah dicabuli? Pernah dilecehkan sampai tahu "Lu harusnya bisa ngelawan. Lu harusnya ga dicabuli. Lu bisa teriak. Bisa kabur." Sampai bisa komen begitu?

Let me tell you how it is feel.

When it happen, otak lu berhenti bekerja. Lu kaget. Lu ga tahu harus ngapain. Everything move in slow motion. Saat lu sadar lu harus ngelakuin sesuatu, lu harus teriak biar ada yang bantu. Suara lu hilang. Lu berusaha keras ngeluarin suara tapi ga ada yang keluar dari mulut lu. Mungkin sama kayak pas ngeliat hantu atau ngeliat perampok lagi beraksi.

Iya lu kaget. Karena lu ga mengharapkan itu terjadi. Lu ga nyangka orang itu akan berani, akan tega, atau kepikiran buat melecehkan lu.

Lu juga takut. Secara suara ga ada. Otak ga bisa mikir. Dan biasanya pelakunya orang yang lebih powerfull daripada korban. Entah lebih gede, lebih tua, lebih punya jabatan, atau lebih kuat aja. Terus gimana?

Metode orang melawan stres itu cuma dua. Fight or flight.  Lu bisa ngelawan. Atau lari. Mana yang terjadi biasanya karena kebiasaan aja. Insting. Insting itu dilatih. Karena itu anak-anak harus diajarin bela diri. Jadi kalau ada yang macam-macam, instingnya otomatis langsung masuk mode "fight." Badannya langsung gerak untuk melawan, meski otaknya ga bisa mikir. Orang dewasa juga harus berulang kali belajar metode self defense. Dan melatihnya biar badan ga lupa.

Kalau ga? Ya lu cuma bisa kabur serta berharap ga disusul pelaku.

Jadi... kalau ada pencabulan atau pemerkosaan atau pelecehan, ga usahlah nyalahin korban. Entah dia lelaki. Entah dia perempuan. (S)He already in pain Nyai... Yang salah itu pelaku.

18 February 2016

Penemuan Baru

18 February 2016 capcai bakar

Saya suka roti. Suka banget. Jadi rasanya kalau harus diet no karbo dan ga boleh makan roti atau mie saya bakal judes setengah mati. Roti kesukaan saya itu yang dipanggang terus pakai isian coklat dan keju. Jadi coklat dan kejunya melting-melting belepotan gitu. Keju doang juga suka... asal makannya sama yang manis. Kayak Suami Prohemer, ganteng manis nan gagah gitu. Iya ini lagi kangen berat.

Karena belum punya panggangan roti (iya ini kode Suami), saya suka beli roti sandwichnya Sari Roti. Rotinya lembut ga pakai pinggiran, coklatnya cair, keju susunya juga cair dan banyak. Enak. Banget. Sayangnya dia ga punya varian coklat -keju. Adanya coklat aja. Keju aja. Kacang aja. Blueberry aja. Srikaya aja.

Karena ga ada varian coklat-keju, saya harus memilih mau makan roti coklat atau roti keju. Ini dilema *dikeplak menkominfo yang lagi galau mau nutup tumblr atau ga* Setelah melakukan percobaan beberapa kali *dilempar mikroskop sama ilmuwan* saya berkesimpulan bahwa roti sandwich rasa keju lah yang memberikan tingkat kepuasan paling tinggi buat saya. Cheese to the win.

Setelah sekian lama berpuas diri dengan makan yang rasa keju aja, suatu hari saya menemukan sesuatu yang baru. Yang mengejutkan.

Waktu itu saya lagi duduk-duduk sholehah di mesjid Salman ITB dan melihat seorang lelaki muda *ukhti... jaga pandangan ukhti* sedang memakan roti sandwich sari roti, wait for it, dua biji yang ditumpuk jadi satu. Rotinya ditumpuk jadi satu! Jadi satu sodara-sodara!!

Saya langsung tercerahkan. Ini revolusioner. Ini solusi atas problem saya. Saya bisa makan roti coklat dan keju dengan cara ini. Anak ITB.. kalian luar biasa!!

iya makannya di tempat tidur. :p

Maka saya mulai melakukan pengujian atas solusi ini. Pengujian pertama kog rasanya ga enak ya. Saya kecewa. Tapi seseorang tidak dikatakan peneliti kalau berhenti di percobaan pertama. Maka saya mencoba lagi. Kali ini posisi rotinya saya ubah. Coklat di atas. Ga enak. Coklat di bawah, ga enak juga. Menurut saya metode gabung ini menghilangkan rasa kejunya. Coklatnya terlalu dominan. Kejunya ilang. Me not like lah.

Mungkin baru enak kalau ditambah roti keju lagi di atasnya. Cuma.. ya ampunnnn lapar pisan Neng sampai makan roti 3 sekaligus?

Jadi saya kembali saya ke makan roti keju sama yang ganteng manis dan gagah itu.

Conan diambil semena-mena dari Bukabuku. Miiko dari ignya Ono Eriko. Semena-mena juga.

Penemuan baru lainnya adalah.. komik mikko 28 dan conan 87 udah keluar dong. Akhirnyaaaa setelah sekian lama yaaa. Cuma Miikonya premium edition yang harganya 55ribu aja (pssst.. kalau di bukabuku cuma 44ribu loh. di rumah buku sepertinya lebih murah) . Ini seharga novel loh. Ih. Meski berbonus pounch. Tapi tetap ih ah. Cuma ya tetap dibeli. Bwhahaha. *pilinpilin ujung baju*  Terus saya baru tau pounchnya ada beraneka ragam. Kemarin di gramedia kalibata cuma ada yang ijo gambar miiko kecil-kecil. Saya pengen yang gambar miiko gede juga. *dipelototin suami* hahaha.

Saya baru punya yang no 3 dari kiri. Pengen yang ujung kanan juga. Hihi.

Oke.. sekian updatean penting ga penting ini. Daripada kangen saya kan? Kan? *balik sibuk lagi*

03 February 2016

Pukul 8 pagi ini saya dihubungi Jendral Kancil. Ia baru bangun padahal sekolah sudah dimulai setengah jam yang lalu. Saya langsung marah.

Saya mengomeli Jendral Kancil. Dia sudah kelas empat dan setiap pertemuan orang tua murid dan guru, gurunya mengingatkan manajemen waktu Jendral Kancil. Ia sering terlambat sehingga tidak sempat mengikuti hapalan quran yang berujung hapalannya tertinggal dibandingkan teman-temannya. Padahal sudah dibangunkan saya (lewat telepon) dan ayahnya pukul setengah tujuh.

Saya paham, ayahnya tidur lagi setelah membangunkan Jendral Kancil karena malamnya lembur dan menjaga Captain Kid. Apalagi tadi malam dapat laporan Captain Kid ngamuk-ngamuk. Suami saya baru bisa tidur (meski sudah mengantuk) setelah lewat pukul 2 dini hari. Setiap hari. Jadi wajar ia tidur lagi setelah membangunkan Jendral Kancil. Ia harus cukup segar untuk bisa menyetir dan mengantar anak kami.

Kenapa lembur? Karena siangnya harus menjaga Captain Kid. Sudah seminggu ini pengasuh kami sakit. Dan kalaupun pengasuh kami tidak sakit, pekerjaan suami sebagai pemilik perusahaan menyita banyak waktu. Ibarat punya bayi seorang lagi.

Karena itu saya menuntut Jendral Kancil lah yang harus bisa mengurus dirinya dan bisa mengatur waktunya sendiri. Tidur lebih cepat. Segera mandi begitu dibangunkan, sehingga tidak sempat ngantuk lagi. Saya marah karena ia tidak bisa mengatur dirinya.

Padahal, seringkali Jendral Kancil tidak bisa segera tidur karena masih di kantor Ayah, nungguin ayah selesai kerja dan pulang. Sampai di rumah dia juga masih memaksakan diri biar bisa main dulu dengan ayah dan adek.

Padahal kalau emaknya ada di sana, anaknya bisa segera pulang begitu selesai sekolah dan bisa main dulu. Kalau emaknya ada di sana, pasti bisa tanpa henti ngomelin biar tidur lebih cepat dan segera bangun. Jadi tadi saya marah ke siapa? Ke Jendral Kancil atau ke diri sendiri yang menuntut terlalu tinggi kepada anak? 

Menuntut anak saya lebih cepat dewasa, menuntut ia mampu mengurus keperluan sekolah sendiri, meminta ia mampu mengerjakan tugas sendiri, menuntut ia bisa memutuskan tugas apa yang dikumpulkan ke sekolah, dll. Padahal itu seharusnya tugas saya. Tugas saya, ibunya.

Saya pernah kaget waktu tahu Jendral Kancil memutuskan menunda mengumpulkan tugas karena ia perlu koneksi internet dan printer. Ia menunggu sampai bisa ke kantor Ayahnya. Padahal kalau cerita ke kami, kami pasti memberikan tethering internet dan pergi ke tukang fotokopian untuk mencetak tugasnya. Tapi anaknya tidak bercerita dan memutuskan sendiri. Saya jadi sedih. Iya anak saya mandiri tapi bukankah anak-anak harusnya tidak dipusingkan hal-hal begini ya.. tugas saya sebagai orang tua yang pusing-pusing.

Kalau sudah begini, saya cuma bisa meminta sama Allah, tolong kumpulkan kami bersama jika itu yang terbaik buat kami. Saya tidak tahu caranya, sepertinya mustahil. Tapi engkau Maha Tahu, engkaulah sebaik-baiknya perencana. Jika engkau mengijinkan maka apapun bisa terjadi. Tolong ya Rahman ya Rahim.

Marah ke Siapa?

03 February 2016 capcai bakar

Pukul 8 pagi ini saya dihubungi Jendral Kancil. Ia baru bangun padahal sekolah sudah dimulai setengah jam yang lalu. Saya langsung marah.

Saya mengomeli Jendral Kancil. Dia sudah kelas empat dan setiap pertemuan orang tua murid dan guru, gurunya mengingatkan manajemen waktu Jendral Kancil. Ia sering terlambat sehingga tidak sempat mengikuti hapalan quran yang berujung hapalannya tertinggal dibandingkan teman-temannya. Padahal sudah dibangunkan saya (lewat telepon) dan ayahnya pukul setengah tujuh.

Saya paham, ayahnya tidur lagi setelah membangunkan Jendral Kancil karena malamnya lembur dan menjaga Captain Kid. Apalagi tadi malam dapat laporan Captain Kid ngamuk-ngamuk. Suami saya baru bisa tidur (meski sudah mengantuk) setelah lewat pukul 2 dini hari. Setiap hari. Jadi wajar ia tidur lagi setelah membangunkan Jendral Kancil. Ia harus cukup segar untuk bisa menyetir dan mengantar anak kami.

Kenapa lembur? Karena siangnya harus menjaga Captain Kid. Sudah seminggu ini pengasuh kami sakit. Dan kalaupun pengasuh kami tidak sakit, pekerjaan suami sebagai pemilik perusahaan menyita banyak waktu. Ibarat punya bayi seorang lagi.

Karena itu saya menuntut Jendral Kancil lah yang harus bisa mengurus dirinya dan bisa mengatur waktunya sendiri. Tidur lebih cepat. Segera mandi begitu dibangunkan, sehingga tidak sempat ngantuk lagi. Saya marah karena ia tidak bisa mengatur dirinya.

Padahal, seringkali Jendral Kancil tidak bisa segera tidur karena masih di kantor Ayah, nungguin ayah selesai kerja dan pulang. Sampai di rumah dia juga masih memaksakan diri biar bisa main dulu dengan ayah dan adek.

Padahal kalau emaknya ada di sana, anaknya bisa segera pulang begitu selesai sekolah dan bisa main dulu. Kalau emaknya ada di sana, pasti bisa tanpa henti ngomelin biar tidur lebih cepat dan segera bangun. Jadi tadi saya marah ke siapa? Ke Jendral Kancil atau ke diri sendiri yang menuntut terlalu tinggi kepada anak? 

Menuntut anak saya lebih cepat dewasa, menuntut ia mampu mengurus keperluan sekolah sendiri, meminta ia mampu mengerjakan tugas sendiri, menuntut ia bisa memutuskan tugas apa yang dikumpulkan ke sekolah, dll. Padahal itu seharusnya tugas saya. Tugas saya, ibunya.

Saya pernah kaget waktu tahu Jendral Kancil memutuskan menunda mengumpulkan tugas karena ia perlu koneksi internet dan printer. Ia menunggu sampai bisa ke kantor Ayahnya. Padahal kalau cerita ke kami, kami pasti memberikan tethering internet dan pergi ke tukang fotokopian untuk mencetak tugasnya. Tapi anaknya tidak bercerita dan memutuskan sendiri. Saya jadi sedih. Iya anak saya mandiri tapi bukankah anak-anak harusnya tidak dipusingkan hal-hal begini ya.. tugas saya sebagai orang tua yang pusing-pusing.

Kalau sudah begini, saya cuma bisa meminta sama Allah, tolong kumpulkan kami bersama jika itu yang terbaik buat kami. Saya tidak tahu caranya, sepertinya mustahil. Tapi engkau Maha Tahu, engkaulah sebaik-baiknya perencana. Jika engkau mengijinkan maka apapun bisa terjadi. Tolong ya Rahman ya Rahim.

01 February 2016

Donor Darah dan Mie Instan

01 February 2016 capcai bakar

Hari ini saya kejebak hujan di mall. *lalu ditoyor pembaca. kejebak kog di mall.* Sambil menunggu hujan reda jadi bisa balik ke kantor saya melipir ke acara donor darah yang diadakan di mall.

Pertama kali donor darah itu waktu jaman kuliah tingkat akhir. Saya dan teman-teman memutuskan main ke PMI Bandung. Tadinya mau ngambil PMI Bandung sebagai bahan skripsi. Entah kenapa malah memutuskan donor darah dan memilih pabrik air mineral sebagai objek penelitiannya. 

Lulus kuliah dan kerja di Jakarta, saya ikut donor darah lagi di acara kantor. Kalau donor darah di kantor enak deh, makanannya prasmanan catering gitu. Ada apetizer, main course, dan dessert. Goodie bagnya juga lumayan. Mewah lah. Secara disponsori kantor ya. Cuma setelah ga di kantor pusat lagi, saya jarang-jarang bisa ikut donor darah. Malas jalannya. Bentrok Jadwalnya.  Ga tau ada acaranya. 

Makanya gitu tadi kejebak hujan di mall dan ada acara donor darah langsung semangat, ini musti konspirasi semesta. Dan seperti biasa ya... kartu donornya ga dibawa. Jadi setiap donor saya pasti bawa pulang kartu baru. Hahaha. 

Tapi ga usah khawatir database PMI udah online dong. Begitu menyerahkan formulir pendaftaran, petugasnya ngetak-ngetik di laptop lalu muncullah nomor donor dan frekuensi saya mendonorkan darah. Ternyata lima tahun di Jakarta saya baru menyumbangkan darah tiga kali saja di kota ini. Yang di luar Jakarta belum dihitung karena datanya belum terintegrasi. Nanti maunya PMI bisa terintegrasi seluruh Indonesia. Semoga ya. Semoga juga kartunya bisa kaya kartu atm gitu. Jadi mudah dibawa-bawa di dompet. 

Begitu selesai mendonorkan darah, karena hujan sudah berhenti, sayapun buru-buru bangkit dan kembali ke kantor. Hasilnya? Di tengah jalan kepala saya muter. Pusing banget. Dibawa tidur di kantor pun masih ga selesai pusingnya. Akhirnya memutuskan minum susu dan makan pop mie yang dikasih PMI. Selesai makan saya lumayan bisa pura-pura kerja. 

Jadi, kalau menurut YLKI mie instan itu tidak ada nilai gizinya, kenapa PMI memberikan mie instan kepada pendonornya? *sodorin mike ke YLKI dan PMI* Hahaha. 


29 January 2016

Profile Pic dan Artinya (?)

29 January 2016 capcai bakar

A picture worth a thousand words, ceunah. 

Suka kepikiran ga kenapa seseorang memilih satu gambar tertentu sebagai profile picturenya di facebook, twitter, instagram, path, bbm, whatsapp, dan berbagai platform media sosial lainnya? 

Saya sih enggak, *ditimpukin pembaca*. 

Soalnya dasar saya memilih sebuah foto adalah " I look good at that picture and professional enough." Ya secara udah kerja, nomornya bisa dimiliki siapa saja. Kalau saya pasang foto monyong-monyong atau foto gelantungan di pohon (iyes.. saya punya kedua jenis foto ini), lalu foto ini dilihat orang lain maka rusak sudah nilai jual saya. Jadi saya pikir alasan orang memilih sebuah foto ya semata-mata hanya karena ia terlihat bagus di foto tersebut. 

Sampai teman saya memunculkan sebuah teori, bahwa orang yang tidak memasang foto bersama keluarganya rentan selingkuh. APAH?!!! *zoom in zoom out muka saya dan teman*. Sebagai orang yang jaraaaaaangggg banget pasang foto bareng keluarga atau pasangan, saya kan merasa harus memjelaskan diri. Yang mengharuskan untuk menjelasakan siapa sih? *dikeplak teman*

-------

Familiar dengan "kesan pertama" kan? Pada pertemuan langsung, orang akan menilai kita dari penampilan dan bahasa tubuh kita.  Penilaian ini dilakukan hanya selama empat (beberapa bilang tiga) menit pertama saja. Gila gak? Hanya butuh waktu tiga menit untuk manusia, menilai dan merasa cukup mengetahui seseorang. Dan butuh waktu jauh lebih lama juga lebih intens untuk mengubah kesan pertama tersebut. 

Makanya di era digital, profile picture adalah kesan pertama yang kita pilih untuk ditampilkan. Foto yang menjadi rangkuman siapa kita dan apa yang bisa kita jual.

Ini yang lihat mungkin mikir kalau saya bisa jaga lilin. :))
Karena manusia ada banyak dan dalamnya hati siapa yang tahu, sepertinya mustahil memformulakan satu teori yang berlaku buat semua individu. Namun secara garis besar, lelaki dan perempuan memiliki kecenderungan yang berbeda dalam memilih profile picturenya. 

Lelaki akan memilih foto yang menunjukkan mereka friendly, gampang diajak ngobrol, dan pintar. Sedangkan perempuan akan memilih foto yang menunjukkan kemampuan relationshipnya. Mungkin karena sebagai manusia purba, lelaki dituntut bisa merengkuh dan menjadi solusi bagi orang lain serta mampu meyediakan sandang, pangan, papan (yang mana di masa modern dikaitkan dengan kecerdasan). Sedangkan perempuan dinilai dari kemampuannya merawat "rumah", yaitu anak, pasangan, atau peliharaan. Peliharaan hewan atau tanaman ya, bukan dedek-dedek brondong. 

Jadi sering kan melihat lelaki yang memajang fotonya dengan kendaraan mahal, jam mewah, landmark terkenal, atau foto lagi memimpin rapat. Sedangkan wanita memajang foto bersama teman, anak, pasangan, ataupun hewan peliharaan. 

--------

Kembali ke teori teman saya tadi, kalau begitu orang yang sering memasang foto sendiri fokusnya ke diri sendiri doang dong? Bukan ke keluarga. Makanya rentan selingkuh. Ya meneketehe. *dikeplak. kalau ga tau ngapain bikin postingan panjang-panjang* Kan tadi udah dibilangin kalau dalamnya hati ga ada yang tahu.

Saya misalnya, dalamnya hati sendiri pasti tahu lah ya.  Memilih tidak memasang foto bersama keluarga semata-mata karena privasi dan.... saya mau dikenal sebagai saya. Bukan sebagai istri Suami Prohemer saja, atau emaknya Jendral Kancil dan Captain Kid saja. Saya mau orang mengenal saya sebagai "saya".  Makanya suka pasang foto hasil selfie belasan kali sendirian.


Lalu, kekhawatiran orang yang tidak saya kenal dapat dengan mudah mengenali anak-anak dan suami saya, kemudian berbuat jahat kepada mereka membuat saya membatasi diri menggunakan foto mereka sebagai profile picture. Bukan karena saya tidak bangga. Saya bangga dan pengen mamer juga. Medianya saja yang berbeda. Saya membanggakan mereka di blog dan instagram. 

Lah.. kog di blog dan instagram mau sedangkan di profile pic tidak? Padahal sama-sama online? Karena butuh usaha lebih dari sekedar punya nomor telepon untuk mengetahui mana suami dan anak-anak saya. Minimal harus ngetik alamat blognya dan mantengin postingannya satu-persatu. Harus niat. Di kasus saya, niatnya ga perlu cukup banyak karena saya suka bablas mamer keluarga di online. *menyesali diri*

Jadi menurut saya memasang foto bersama keluarga atau tidak, tidak menunjukkan tingkat loyalitas dan fokus kepada keluarga. Karena ada yang selalu masang foto sama keluarga dan stastusnya nama anak tapi centil juga. Sama seperti tidak bisa menilai kesetiaan seseorang dari memakai atau tidak memakai cincin kawin. Soalnya saya tahu banyak orang yang tetap kecentilan padahal ada cincin kawin di jari manisnya.

Lah ada cincin kawin atau foto keluarga aja masih centil gimana yang enggak ada? 

Nah ini membawa saya dan teman saya ke kesimpulan berikutnya, pemajangan foto keluarga dan cincin kawin ini lebih sebagai pengumuman kepada orang lain... "Udah ada yang punya, jangan digoda." 

Dan teman saya mengamini kalau "Ya.. karena gua juga ga yakin akan kekuatan diri untuk menangkal godaan, lebih baik dari awal menghalau orang-orang yang berniat menggoda dengan memasang foto keluarga bahagia bersama pasangan rupawan. You can beat my family."

Saya? Setuju. 

Kalau kamu gimana? Apa alasan kalian memilih profile pic?

27 January 2016

Belanja Buku Bulan Ini

27 January 2016 capcai bakar

Semenjak jatuh cinta dengan Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntasnya Eka Kurniawan sayapun mulai mengoleksi beberapa bukunya. Kemarin sudah selesai baca Corat-Coret Di Toilet dan Perempuan Patah Hati Yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi. Entah ada apa antara Eka Kurniawan dengan judul panjang bak temuan audit ini. Bagus sih, tapi kan capek ngucapnya kalau mau direkomendasiin ke teman. 

Dua buku tadi, corat-coret di toilet dan perempuan patah hati blablabla itu, kumpulan cerpen. Beberapa bagus. Beberapa bagus banget. beberapa ya okelah. Gini nih kalau udah jatuh cinta. Semuanya bagus. Hahaha. Meski belum sebagus Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. 

Jadi waktu ketemu buku Lelaki Harimau di Rumah Buku, sayapun langsung membelinya. 



Terus ketemu buku Dan Hujanpun Berhentinya Farida Susanty. Dulu waktu jaman masih jadi mahasiswi kinyis-kinyis saya sudah pernah membaca buku ini dan sangat-sangat terkesan. Bagus. Banget. 

Covernya itu cuma nulis

"Kamu mau bunuh diri?"
"Ya. Asal tidak hujan"
Dan Hujanpun Berhenti
Ih.. keren banget kan. Ga perlu blurb (back cover buku yang biasanya berisi sinopsis) macam-macam, cover depannya aja udah menjual banget. 

Lalu buku ini dipinjam teman dan ga balik-balik. Padahal saya masih pengen baca lagi. Makanya pas ketemu buku ini lagi, saya langsung beli.  

Mari dinantikan reviewnya di Goodreads

25 January 2016

No Mall Weekend(s)

25 January 2016 capcai bakar

Semenjak tinggal di desa, ihik, keluarga kecik nan bahagia ini emang jarang banget banget ke mall. Jauh Nyai. Membayangkan perjalanannya saja Nyonya lelah. Jadi kalau ga buat nonton film atau memperkenalkan Captain Kid, si anak desa, ke mall  kita weekendannya di desa saja.

Nonton juga dipilih yang emang benar dipengen dan ga ngantri. Emak malas kalau ngantri.
Kayak nonton starwars, nontonnya midnight tanggal 25 Desember. Sepi. Cuma 15 orang. Yay!

Ngapain aja di desa? 

Nemanin Emak ke Pasar

Ini acara kesenangan Captain Kid, sebenarnya apapun yang melibatkan kegiatan ke luar rumah Captain Kid bahagia-bahagia aja. Kalau ke pasar anaknya bisa megang-megang daging, megang ikan, megang ayam mati, megang cumi-cumi, dll. Pulangnya bisa beli mainan dan main di Taman Ujung Berung sambil nunggu Suami Prohemer sarapan. 

Anak kota alias Jendral Kancil gimana? Ga mau ikut. Pasar becek, katanya. Ya gimana ya.. dulu kecilnya diajakin belanja ke supermarket. Salah emak juga sih. 

Hasilnya sih.. Captain Kid lebih berani megang ayam mati dan ikan. Megangnya dengan ekspresi senang malahan. Kakaknya? Pasti masang muka jijik. 

Bantu Emak

Senangnya punya anak gede adalah; udah bisa diminta bantu-bantu. Bantu bikin kue misalnya. Tinggal dikasih instruksi, anaknya nanti yang nakar, yang ngadon, dan yang nuang. Emak tinggal sabar dan masukin oven. Iya, kudu sabar karena.. semua dilakukan pelan-pelan. Sangking pelannya oven yang udah panas bisa dingin lagi. :))

Kue 4sdm.
Tepung, gula, mentega cair, susu cair, milo semuanya 4sdm.
Tambahin telur 1 butir. aduk. Panggang. Gampang. 

Kalau emak ga nafsu bikin kue, karena telur lagi mahal, anak gede bisa diberdayakan untuk bantuin nyuci baju. Awalnya masih harus dikasih tahu kalau baju harus dipisahin antara yang gelap sama yang terang. Dan selama proses penyortirannya itu Jendral Kancil bolak-balik nanya "Ini gelap atau terang Bunda?". Lama-lama ga nanya lagi dong anaknya. Yay! Proud mommy. Sekarang sih masih suka lupa mana deterjen mana softerner dan dimana nuangnya. Gak papa.. pelan-pelan aja. Ntar lagi udah bisa diminta tolong buat bersihin kamar mandi dong ya. Hahaha. 

Tracking

Tadinya saya dan Suami Prohemer yang mau lari pagi keliling komplek, secara tiap balik dari Bandung kiloan nambah terus. Eh tau-tau Captain Kid bangun. Dan sebagai anak ayah, mana mau anaknya ditinggal. Harus ikut. 

Ya sudah ganti rencana lari dengan ngajak anak bayik jalan-jalan. Lalu biar sehat sekeluarga mari kita seret Jendral Kancil buat ikut. Hahaha.

Ini baru dua kilo jalan udah ngomel. Emak bapak sih ketawa-ketawa aja
Jendral Kancil ini kan introvert. Senangnya di rumah lalu main sama sahabatnya, baca buku, atau main game. Jadi kalau diajak jalan-jalan, kecuali ke toko buku, pasti bolak-balik nanya kapan pulang atau habis ini kita ke mana lagi? Minta digigit emang. Jadi butuh dipaksa buat mau tracking ke luar rumah. 

Kalau udah berhasil dipaksa ke luar, emak bapaknya masih harus usaha biar anaknya ga pasang muka cemberut sepanjang jalan. Misalnya dengan nawarin beli games atau buku baru kalau berhasil ngalahin Bunda lari. Baru deh mukanya berseri-seri. Atau harus nyari jalan yang belum pernah dia lalui, biar ga ngomel. Tapi gitu lewat jalan yang kita semua ga tahu, anaknya khawatir kesesat. Arghhhh. Untung anak sendiri. Jadi masih lucu aja. 

Captain Kid gimana? Anak ekstrovert kan? Diajak jalan ya hepi aja. Kemarin jalan empat kilo ga minta gendong sama sekali. Paling agak cemas dan terus-terusan megangin tangan Ayah. Hahaha. 

Yang ini malah masih semangat ngamatin odong-odong