SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

26 March 2009

suatu hari di dapur

26 March 2009 capcai bakar



Suatu hari Mama saya harus buru-buru pergi melayat di kompleks. Saat itu baru pukul 6 sore. Jadinya makan malam belum tersedia. Dilatarbelakangi pemikiran Mama akan pulang malam dan adik saya yang doyan makan mungkin tidak selera kalau cuma ada ada Gurame goreng dan sambalado (saya yakin dia bakal selera kalau tidak harus mencampur ikan dan sambal itu sendirian. Udah kebiasaan diladeni si mama sih) maka saya memutuskan untuk memasak telor dadar.

4 butir telur saya kocok lepas, dicampur dengan irisan bawang merah, bawang putih, seledri, daun sop, dan cabe merah ples tomat. Lalu saya mulai memanaskan wajan..mengambil 2 sendok mentega dan voila jadilah minyak.. karena takut kurang minyaknya maka saya mengambil minyak goreng yg disimpan di botol aqua. Botol ini terletak dekat bumbu-bumbu masak. setelah minyak panas, saya cemplungkan lah adonan telur itu.

sambil menunggu telur matang saya lalu mencuci piring. setelah si telur berbau harum saya membaliknya. tunggu punya tunggu matang juga tu telur. Puas dengan bulatannya yang sempurna setelah dihidangkan di piring. saya mulai mengambil nasi. mengambil sedikit telur dadar..

mulai makan...
loh?!!
kog?!!
bau sabun????
rasa sabun???

cium tangan...ga kog ga bau sabun..jangan-jangan saaat membalik telur, tangan saya yang sedang mencuci piring menjatuhkan beberapa tetes air sabun ya? Pergilah saya mencium sabun cuci piring...hasilnya..baunya beda kog sama bau sabun di telur. apa menteganya ya? enggak kog..ga berasa sabun... apa garamnya? gak juga.

sudahlah..saya lalu meneruskan makan. misteri rasa sabun ini mungkin terpecahkan setelah mama pulang. saya masih yakin biang masalahnya si mentega.

beberapa jam berlalu..Mama tercinta pulang. Berceritalah saya "Bla...bla..bla..." Mama tercinta juga kebingungan. setelah beliau mencicipi telur itu, dia berkata
"kog rasa superpel???"

ternyata sodara-sodara botol aqua yang saya kira minyak itu adalah cairan superpel kuning. Liat deh..penempilannya persis minyak goreng kan? apalagi berada di tengah-tengah bumbu dapur.


HUH!!! saya lantas buru-buru meminum susu.. semalaman saya sendawa rasa superpel...hiks

parade foto Bella dari masa ke masa


Gara-gara adik saya protes foto gila dia saya posting di episode "Saya versi jadul" yang ingin menunjukkan saya dulu item sekali, saya akan berbaik hati menunjukkan dia gak selalu gila begitu kog... (dia yang ditengah dengan kacamata item itu) berikut parade foto adek saya si Bella











Bella pemain pianika yang menggunakan baju kotak-kotak orange itu, saat perpisahan SD

ngomong-ngomong soal foto perpisahan SD itu, berikut saya lampirkan foto jelas bagaimana anak-anak harapan masa depan negara kita dipermalukan oleh pendidiknya dengan bibir semerah itu...sedihnya..apa sih yang dipikirkan perias-perias itu saat menodai anak-anak ini? *lebai mode on*



btw si Bella anak Tarnus loh..jadi berpikir apa Tarnus tak menyesal merekrut anak seperti ini... semoga postingan ini tidak menghasilkan tuntutan pencemaran nama baik dari Taruna Nusantara ya?

cukup sudah!!! hehe.. berikut foto normal dia kala waras









Tamat!!! Peace....

25 March 2009

Catatan Hati di Setiap Sujudku (buku)

25 March 2009 capcai bakar


Penulis : Asma Nadia dkk
Harga : Rp 33.830 (kutukutubuku.com)

Membaca buku ini seperti membaca chicken soup for soul, yang lebih endonesah dan islami. Banyak cerita yang membuat saya termehek-mehek dan terbakar. namun ada beberapa cerita lain yang "kog??" saking datarnya.

Katagua
kalau lagi butuh siraman rohani..monggo dicoba..ga nyesel.

*lah gambarnya kog kecil...ntar dicari yang lain..kalau sudah kembali ke bandung*

21 March 2009

An Affair To Forget (buku)

21 March 2009 capcai bakar


Penulis: Armaya Junior
Harga : 23.800 (kutukutubuku)

Hal pertama yang kubayangkan ketika seorang perempuan dikhianati adalah marah besar, bahkan bukan tak mungkin menggugat cerai suaminya. Tapi ketika pengkhianatan itu menimpa Anna, sahabatku, semua itu tak kutemukan darinya. Sebagai perempuan mandiri dan tegar, dia memilih jalan yang bagi orang lain terasa mustahil, yaitu berusaha mencari informasi tentang perempuan selingkuhan suaminya dan berteman dengannya.
Saat melihat buku ini di Gunung Agung, saya sudah tertarik untuk memilikinya karena alasan-alasan pribadi (hihihihi) namun karena teman seperbelanjaan yang diajak tidak memberikan reaksi apapun pada buku ini saya jadi sungkan. Sampai di suatu hari nan panas di Aceh...bosan..dan munculah buku ini di lemari si Mama...Uhuy....hap..hap...dilahap dalam satu malam...

Buku ini bercerita tentang Anna pengusaha mebel, Wedding Organizer, dan sales rumah yang sukses. Ia bersuamikan Toni, kepala cabang sebuah Bank. Pernikahannya sangat sempurna, suami yang romantis, anak yang ganteng, dan seks yang hebat. Sampai suatu saat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke 9 suaminya tidak memberikan kejutan sama sekali.

Anna mencurigai suaminya selingkuh, dengan bantuan sahabat laki-lakinya ia mengetahui identitas wanita selingkuhan suaminya. Tidak seperti wanita-wanita lain yang mendamprat si suami dan mencincang si selingkuhan, Anna malahan melakukan pendekatan kepada Dini, si WIL tadi, dan bersahabat dengannya. Dari persahabat itu ia mengetahui apa kekurangannya yang membuat si suami berpaling ke lain hati. Dan berdasarkan info tersebut ia merebut kembali suaminya. THE END. Happy Ending.

Katagua
Tema seks terasa kental di buku ini..mungkin karena lagi musimnya yah? Ada lebih dari dua adegan percintaan minimal nyerempet-nyerempet yang dijelaskan dengan detail, yaitu di halaman.......(eitssss!!! hahaha). Awalnya saya gak terlalu suka dengan buku ini karena berulang kali si tokoh "aku" menegaskan, hubungannya dengan Anna hanya sekedar sahabat belaka..walau si Anna suke ngeliut-ngeliut di kasur si Aku dengan pakaian minim dan doyan memberikan laporan lengkap percintaannya dengan sang suami sehingga si Aku dapat memvisualisasikan adegan tersebut dan bisa membayangkan ia-lah yang bercinta dengan si Anna.

Apalagi di awal-awal saya sempat keliru mengira Toni-suaminya anna-dikategorikan sebagai pria yang tidak romantis. Padahal tu suami doyan mijat, doyan masakin, selalu memberikan kejutan saat ulang tahun pernikahan, dan banyak lagi...Ga romantis gimana???!!!!!

namun karena terlanjur membaca dan ga ada kegiatan jadilah saya tetap menjajal buku ini. Eh kog lama-lama makin rame ya..saya makin penasaran apa sih rencana Anna setelah mengetahui perselingkuhan suaminya? Untuk apa sih bersahabat dengan Dini -WILnya Toni yang cantiknya SEMPURNA LUAR DALAM- itu?

Setelah mencapai halaman akhir kog saya ga puas ya dengan penyelesaian yang disodorkan Armaya? Rasanya ga plong, lagi-lagi kalau lelaki selingkuh selalu saja perempuan yang bersalah. Terlalu mandiri lah, terlalu sibuk, terlalu agresif di kasur, terlalu pasif di kasur, dll. Yang ujung-ujungnya menuntut si wanita berubah. Saya gemes banget. Walaupun Armaya menyajikan pemikiran menyeluruh dari si istri, si suami, dan si selingkuhan, saking menyeluruhnya pada bagian-bagian tertentu ditampilkan diskusi-diskusi "cerdas" antar beberapa tokoh (bahkan tokoh-tokoh yang ga perlu) yang bertujuan menyampaikan pemikiran si Aku. Masalahnya adalah kenapa sih ga mengambil tema emang laki-lakinya aja yang brengsek! hahaha.

Tapi saat selesai membaca buku ini saya lumayan berpikir "mungkin memang ada cara lain selain buru-buru bercerai saat suami anda selingkuh". Sayangnya buku ini tidak memberikan batasan yang jelas laki-laki mana yang memang kecanduan selingkuh dan laki-laki mana yang selingkuh karena silap.

*saya jadi bingung memikirkan nasib perempuan*

19 March 2009

saya versi jadul..

19 March 2009 capcai bakar

klo saya bilang dulu saya itam banget pada percaya ga....wakakkakkk..ini buktinya

saya, papa, bella (perhatikan gayanya), mama dengan andar di perutnya, kak cici

kurang?.. ni masih ada lagi


saya yang pakai dress bunga-bunga itu..



wakakak syahdu banget ya.. dulu ga pede banget klo difoto...makanya gayanya kemayu gitu..gubrak.

08 March 2009

akhirnya setelah 9 tahun keliaran di jawa, tanggal 6 maret kemarin saya balik ke Lhokseumawe. Kangen?? Saya kangen liat pantainya di malam hari, berenang -actually saya berendam doang- di pantai, dan makan kerang rebus di pinggir jalan. Kalau ditanya kenapa baru balik sekarang? Karena saya pendatang..meski dari kecil di Aceh saya tidak pernah menjadi "orang aceh". bahkan saat ini menulis kata "pulang" dan "balik" saja berat. hiks....

kenapa? Lhokseumawe adalah tempat saya dibesarkan. Papa dan Mama bahkan berencana tua disana. mereka sudah membeli rumah dan kebun. saking cintanya sama kota ini rumah dan tanah di Medan tidak diurus. Sampai pada tahun 1998-1999 saat Pak Soeharto lengser dan kami yang tidak memiliki darah aceh harus pergi dari kota ini.

maka dimulailah perjalanan saya mencari "rumah"

anyway dalam rangka mengumpulkan data saya ke Lhokseumawe. perjalanan dimulai dengan naik Xtrans pukul setengah duabelas malam ke Jakarta. Mama dan Papa marah-marah. Ni anak kampung mikir apa sih? datang ke kota yang lebih kejam dari emak tiri di tengah malam buta. soalnya saya pikir pesawatnya jam 10 pagi jadi ga keburu kalau berangkat jam 5 pagi.

Ternyata yang jam 10 pagi itu berangkat dari rumahnya, pesawatnya sih jam 2 siang baru take off dari Jakarta. Naik pesawat sih biasa aja..cuma karena biasanya short time (ke palembang cuma 30 menit), pas long time begini (2 jam) bosan tiada tara ya..mana tidak melengkapi diri dengan novel tebal ditambah Papa saya yang memang dari dulu hemat kosa kata menemani perjalanan. Saya bahkan membaca koran yang sama 3 kali. huahhhhhhh....untunglah ada seorang balita yang sangat amat ketakutan menghibur saya. Sepanjang perjalanan dia berteriak "Papi....!", "turun...........", "Berhenti...!!!!", dan "Hentikan........."

Sampai di Bandara Polonia, saya menyadari semua trolley dipegang porter. Di Palembang sih memang taktiknya juga gitu, tapi masih banyak trolley yang tersisa...jadi si bapak porter bisa dengan biasa dicuekkin. Di Polonia mau ga mau walau bakat kuli, kita kudu nyewa porter biar dapat trolley. keluar bandara kita langsung memesan taksi. Taksi nya tidak berargo. Dari bandara ke Loket Kurnia (bus yang melayani perjalanan Medan-Banda Aceh) ongkosnya Rp 35.000 saja.

Sesampai di Loket Kurnia, Papa memesan tiket yang ke Krueng Geukeuh seharga RP 75.000 per orangnya. Sambil nunggu kita makan dulu di rumah makan Kurnia. Mencoba mie Aceh yang ga ada rasa. untunglah saya memesan nasi juga. Pakai ikan bakar dan sayur pliek ue. Pedes dan Asin... wahahaha...udah lama banget ternyata. Rupanya kalau kita cuma memesan lauk saja mereka akan menawarkan kuah. Kuahnya enak...slruppp..slurp... selesai makan mobil angkutan kita sudah tersedia. Ternyata mobilnya seperti angkot booo... saya bingung.kog ga naik bus ya? tapi tampaknya penumpang lain santai-santai saja. dalam hati saya berpikir, 3 jam naik angkot dengan kaca dibuka lebar? masuk angin sudah pasti.

trus "angkot" ini masuk ke lahan kosong. saya jadi bingung. ditambah penumpang di depan saya (yang orang aceh tulen) bertanya-tanya mau dibawa kemana dan menginformasikan biasanya tidak seperti ini. ah...makin bingung dong..persis seperti pengungsi gelap yang menyerahkan nyawa kepada supir..serba tidak tau. ternyata si "angkot" cuma membawa kita ke terminal bis.. Di terminal bis inilah bus asli kita menunggu...gubrak!!

busnya ber-ac. Tempat duduknya juga lumayan lebar. yang ga enaknya sepanjang perjalanan banyak penumpang merokok..arghhhhhhhhhhhhhhhh....ingin menegur tapi harus mawas diri "saya kan bukan orang aceh" ya sudah menelan ludah saja sambil bernapas sulit. mana perjalanan yang biasanya 3 jam jadi molor banget karena si supir santai sekali...kata papa sih mungkin karena dia mau ke Takengon dan lebih aman kalau pagi-pagi lewat takengon-nya.

jadilah berangkat jam 6 sore sampai di krueng geukeh jam 4 pagi. pantat sudah sakit banget. bayangkan sodara-sodara..saya si pantat besar nan empuk yang kalo menduduki kunci saja tidak terasa..ini mengalami pegal linu..hehehe...sampai di krueng geukeuh kita dijemput mobil kantor untuk masuk ke Jamuan...kompleks tempat saya dibesarkan berada. Iya rumah papa mama itu adanya di tempat jin buang anak. Sesampai di dalam rumah, semua perasaan "saya bukan pulang" luluh...

I AM HOME..... at least di rumah ini saya melihat lagi wajah-wajah bayi dan remaja tengil saya. boneka saya, celana pendek saya, piagam dan plakat-plakat itu, bahkan buku cara menulis pidato....

kembali...

08 March 2009 capcai bakar

akhirnya setelah 9 tahun keliaran di jawa, tanggal 6 maret kemarin saya balik ke Lhokseumawe. Kangen?? Saya kangen liat pantainya di malam hari, berenang -actually saya berendam doang- di pantai, dan makan kerang rebus di pinggir jalan. Kalau ditanya kenapa baru balik sekarang? Karena saya pendatang..meski dari kecil di Aceh saya tidak pernah menjadi "orang aceh". bahkan saat ini menulis kata "pulang" dan "balik" saja berat. hiks....

kenapa? Lhokseumawe adalah tempat saya dibesarkan. Papa dan Mama bahkan berencana tua disana. mereka sudah membeli rumah dan kebun. saking cintanya sama kota ini rumah dan tanah di Medan tidak diurus. Sampai pada tahun 1998-1999 saat Pak Soeharto lengser dan kami yang tidak memiliki darah aceh harus pergi dari kota ini.

maka dimulailah perjalanan saya mencari "rumah"

anyway dalam rangka mengumpulkan data saya ke Lhokseumawe. perjalanan dimulai dengan naik Xtrans pukul setengah duabelas malam ke Jakarta. Mama dan Papa marah-marah. Ni anak kampung mikir apa sih? datang ke kota yang lebih kejam dari emak tiri di tengah malam buta. soalnya saya pikir pesawatnya jam 10 pagi jadi ga keburu kalau berangkat jam 5 pagi.

Ternyata yang jam 10 pagi itu berangkat dari rumahnya, pesawatnya sih jam 2 siang baru take off dari Jakarta. Naik pesawat sih biasa aja..cuma karena biasanya short time (ke palembang cuma 30 menit), pas long time begini (2 jam) bosan tiada tara ya..mana tidak melengkapi diri dengan novel tebal ditambah Papa saya yang memang dari dulu hemat kosa kata menemani perjalanan. Saya bahkan membaca koran yang sama 3 kali. huahhhhhhh....untunglah ada seorang balita yang sangat amat ketakutan menghibur saya. Sepanjang perjalanan dia berteriak "Papi....!", "turun...........", "Berhenti...!!!!", dan "Hentikan........."

Sampai di Bandara Polonia, saya menyadari semua trolley dipegang porter. Di Palembang sih memang taktiknya juga gitu, tapi masih banyak trolley yang tersisa...jadi si bapak porter bisa dengan biasa dicuekkin. Di Polonia mau ga mau walau bakat kuli, kita kudu nyewa porter biar dapat trolley. keluar bandara kita langsung memesan taksi. Taksi nya tidak berargo. Dari bandara ke Loket Kurnia (bus yang melayani perjalanan Medan-Banda Aceh) ongkosnya Rp 35.000 saja.

Sesampai di Loket Kurnia, Papa memesan tiket yang ke Krueng Geukeuh seharga RP 75.000 per orangnya. Sambil nunggu kita makan dulu di rumah makan Kurnia. Mencoba mie Aceh yang ga ada rasa. untunglah saya memesan nasi juga. Pakai ikan bakar dan sayur pliek ue. Pedes dan Asin... wahahaha...udah lama banget ternyata. Rupanya kalau kita cuma memesan lauk saja mereka akan menawarkan kuah. Kuahnya enak...slruppp..slurp... selesai makan mobil angkutan kita sudah tersedia. Ternyata mobilnya seperti angkot booo... saya bingung.kog ga naik bus ya? tapi tampaknya penumpang lain santai-santai saja. dalam hati saya berpikir, 3 jam naik angkot dengan kaca dibuka lebar? masuk angin sudah pasti.

trus "angkot" ini masuk ke lahan kosong. saya jadi bingung. ditambah penumpang di depan saya (yang orang aceh tulen) bertanya-tanya mau dibawa kemana dan menginformasikan biasanya tidak seperti ini. ah...makin bingung dong..persis seperti pengungsi gelap yang menyerahkan nyawa kepada supir..serba tidak tau. ternyata si "angkot" cuma membawa kita ke terminal bis.. Di terminal bis inilah bus asli kita menunggu...gubrak!!

busnya ber-ac. Tempat duduknya juga lumayan lebar. yang ga enaknya sepanjang perjalanan banyak penumpang merokok..arghhhhhhhhhhhhhhhh....ingin menegur tapi harus mawas diri "saya kan bukan orang aceh" ya sudah menelan ludah saja sambil bernapas sulit. mana perjalanan yang biasanya 3 jam jadi molor banget karena si supir santai sekali...kata papa sih mungkin karena dia mau ke Takengon dan lebih aman kalau pagi-pagi lewat takengon-nya.

jadilah berangkat jam 6 sore sampai di krueng geukeh jam 4 pagi. pantat sudah sakit banget. bayangkan sodara-sodara..saya si pantat besar nan empuk yang kalo menduduki kunci saja tidak terasa..ini mengalami pegal linu..hehehe...sampai di krueng geukeuh kita dijemput mobil kantor untuk masuk ke Jamuan...kompleks tempat saya dibesarkan berada. Iya rumah papa mama itu adanya di tempat jin buang anak. Sesampai di dalam rumah, semua perasaan "saya bukan pulang" luluh...

I AM HOME..... at least di rumah ini saya melihat lagi wajah-wajah bayi dan remaja tengil saya. boneka saya, celana pendek saya, piagam dan plakat-plakat itu, bahkan buku cara menulis pidato....

04 March 2009

kamu sadar saya punya alasan untuk selingkuh kan sayang? (buku)

04 March 2009 capcai bakar

Penulis: Tamara Geraldine
Harga: 44.000 (Gramedia) dan 37.400 (kutukutubuku)



Sebenarnya baca buku ini di tahun 2005.. udah lama banget jadi tidak berniat mempostingnya disini. Namun karena masih melihat banyak teman mahasiswa saya -yang katanya cerdas dan banyak baca itu- ga tau kalau buku bagus ini ada jadilah saya mensosialisasikannya kemana-mana..hai..hai..ada buku bagus nih......

Pertemuan pertama saya dengan si buku yang sangat earcatching ini terjadi saat sedang menonton infotaiment. Ya..dulu saya pencinta infotaiment...Jadilah saya ke gramedia mencari buku artis... entah kenapa tidak ada ketakutan sama sekali kalau nanti isinya tidak menarik. (note saat mengeluarkan buku sendiri: judul yang renyah akan meyakinkan pembaca anda tentang kualitas si buku) harap dicatat saya bukan penggemar Tamara.

Ada 12 cerita pendek di buku ini. Setiap cerita seperti permen segala rasa-nya Harry potter. beda gaya cerita.. beda akhir..akggghhhhh pokoknya penuh kejutan. Dull of surprise. saat saya berpikir akhirnya begini tau-tau akhirnya begono...ckckckc..hebat..hebat...!! Tamara memang ahli membuat jebakan pikiran.

Semua cerita berkisar tentang cinta. Hubungan dua insan, tiga barangkali, kadang-kadang empat. cinta sejenis, cinta lain jenis, dan masih banyak lagi. Dan hati-hati..banyak topik ranjang di novel ini. Dari 12 cerita hanya dua yang tidak menyenggol-nyengol selangkangan. dan dari dua cerita itu cuma satu yang bagus, Perempuan yang berteman dengan hantu. Satu lagi Sehari Suntuk bersama Ronaldo yang menurut saya cerpen terakhir ini harusnya dicut.

KATAGUA
buku ini wajib beli. Tamara geraldine bukan sekedar artis atau selebritis yang menulis. ia memang penulis. buku ini adalah buktinya. Walaupun di banyak bagian terasa sekali pengaruh Djenar Maesa Ayu dan Ayu Utami, Tamara tetap berhasil meramu cerita ini menjadi saat..sangat..sangat.... bagus... halah lebai Humornya tajam..daya hayalnya gila..dan dia juga bersastra..ga sekedar ikut-ikutan nulis novel. simak aja paragraf berikut
...sementara aku keluar tiap malam membawa pisau tajam untuk membunuh sepi. Namun setelah aku menemukan sepi aku tidak lagi jadi pemberani. Aku meringkuk di sudut, gemetaran melihat kesepian ternyata bertubuh jauh lebih besar dari yang kubayangkan....
atau paragraf ini
...Pernikahan hanya memberi sangsi. Status resmi yang dibeli dengan sebuah harga pas dan tak boleh dikembalikan meski barangnya sudah jauh rusak sebelum dibawa pulang ke dalam rumah tak berkunci”
Kelemahannya cuma novel ini penuh dengan seksualitas jadi tidak disarankan dibaca oleh anak dibawah umur atau wanita yang lagi horny....nanti tambah pusing. hihihi. Oh ya yang ingin membaca awalnya sebelum membeli bisa melihat disini.


*saya tidak sabar menanti buku Tamara Geraldine selanjutnya