SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

21 March 2009

Tagged Under: ,

An Affair To Forget (buku)

Share


Penulis: Armaya Junior
Harga : 23.800 (kutukutubuku)

Hal pertama yang kubayangkan ketika seorang perempuan dikhianati adalah marah besar, bahkan bukan tak mungkin menggugat cerai suaminya. Tapi ketika pengkhianatan itu menimpa Anna, sahabatku, semua itu tak kutemukan darinya. Sebagai perempuan mandiri dan tegar, dia memilih jalan yang bagi orang lain terasa mustahil, yaitu berusaha mencari informasi tentang perempuan selingkuhan suaminya dan berteman dengannya.
Saat melihat buku ini di Gunung Agung, saya sudah tertarik untuk memilikinya karena alasan-alasan pribadi (hihihihi) namun karena teman seperbelanjaan yang diajak tidak memberikan reaksi apapun pada buku ini saya jadi sungkan. Sampai di suatu hari nan panas di Aceh...bosan..dan munculah buku ini di lemari si Mama...Uhuy....hap..hap...dilahap dalam satu malam...

Buku ini bercerita tentang Anna pengusaha mebel, Wedding Organizer, dan sales rumah yang sukses. Ia bersuamikan Toni, kepala cabang sebuah Bank. Pernikahannya sangat sempurna, suami yang romantis, anak yang ganteng, dan seks yang hebat. Sampai suatu saat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke 9 suaminya tidak memberikan kejutan sama sekali.

Anna mencurigai suaminya selingkuh, dengan bantuan sahabat laki-lakinya ia mengetahui identitas wanita selingkuhan suaminya. Tidak seperti wanita-wanita lain yang mendamprat si suami dan mencincang si selingkuhan, Anna malahan melakukan pendekatan kepada Dini, si WIL tadi, dan bersahabat dengannya. Dari persahabat itu ia mengetahui apa kekurangannya yang membuat si suami berpaling ke lain hati. Dan berdasarkan info tersebut ia merebut kembali suaminya. THE END. Happy Ending.

Katagua
Tema seks terasa kental di buku ini..mungkin karena lagi musimnya yah? Ada lebih dari dua adegan percintaan minimal nyerempet-nyerempet yang dijelaskan dengan detail, yaitu di halaman.......(eitssss!!! hahaha). Awalnya saya gak terlalu suka dengan buku ini karena berulang kali si tokoh "aku" menegaskan, hubungannya dengan Anna hanya sekedar sahabat belaka..walau si Anna suke ngeliut-ngeliut di kasur si Aku dengan pakaian minim dan doyan memberikan laporan lengkap percintaannya dengan sang suami sehingga si Aku dapat memvisualisasikan adegan tersebut dan bisa membayangkan ia-lah yang bercinta dengan si Anna.

Apalagi di awal-awal saya sempat keliru mengira Toni-suaminya anna-dikategorikan sebagai pria yang tidak romantis. Padahal tu suami doyan mijat, doyan masakin, selalu memberikan kejutan saat ulang tahun pernikahan, dan banyak lagi...Ga romantis gimana???!!!!!

namun karena terlanjur membaca dan ga ada kegiatan jadilah saya tetap menjajal buku ini. Eh kog lama-lama makin rame ya..saya makin penasaran apa sih rencana Anna setelah mengetahui perselingkuhan suaminya? Untuk apa sih bersahabat dengan Dini -WILnya Toni yang cantiknya SEMPURNA LUAR DALAM- itu?

Setelah mencapai halaman akhir kog saya ga puas ya dengan penyelesaian yang disodorkan Armaya? Rasanya ga plong, lagi-lagi kalau lelaki selingkuh selalu saja perempuan yang bersalah. Terlalu mandiri lah, terlalu sibuk, terlalu agresif di kasur, terlalu pasif di kasur, dll. Yang ujung-ujungnya menuntut si wanita berubah. Saya gemes banget. Walaupun Armaya menyajikan pemikiran menyeluruh dari si istri, si suami, dan si selingkuhan, saking menyeluruhnya pada bagian-bagian tertentu ditampilkan diskusi-diskusi "cerdas" antar beberapa tokoh (bahkan tokoh-tokoh yang ga perlu) yang bertujuan menyampaikan pemikiran si Aku. Masalahnya adalah kenapa sih ga mengambil tema emang laki-lakinya aja yang brengsek! hahaha.

Tapi saat selesai membaca buku ini saya lumayan berpikir "mungkin memang ada cara lain selain buru-buru bercerai saat suami anda selingkuh". Sayangnya buku ini tidak memberikan batasan yang jelas laki-laki mana yang memang kecanduan selingkuh dan laki-laki mana yang selingkuh karena silap.

*saya jadi bingung memikirkan nasib perempuan*

Post a Comment