SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

08 March 2009

Tagged Under:

kembali...

Share

akhirnya setelah 9 tahun keliaran di jawa, tanggal 6 maret kemarin saya balik ke Lhokseumawe. Kangen?? Saya kangen liat pantainya di malam hari, berenang -actually saya berendam doang- di pantai, dan makan kerang rebus di pinggir jalan. Kalau ditanya kenapa baru balik sekarang? Karena saya pendatang..meski dari kecil di Aceh saya tidak pernah menjadi "orang aceh". bahkan saat ini menulis kata "pulang" dan "balik" saja berat. hiks....

kenapa? Lhokseumawe adalah tempat saya dibesarkan. Papa dan Mama bahkan berencana tua disana. mereka sudah membeli rumah dan kebun. saking cintanya sama kota ini rumah dan tanah di Medan tidak diurus. Sampai pada tahun 1998-1999 saat Pak Soeharto lengser dan kami yang tidak memiliki darah aceh harus pergi dari kota ini.

maka dimulailah perjalanan saya mencari "rumah"

anyway dalam rangka mengumpulkan data saya ke Lhokseumawe. perjalanan dimulai dengan naik Xtrans pukul setengah duabelas malam ke Jakarta. Mama dan Papa marah-marah. Ni anak kampung mikir apa sih? datang ke kota yang lebih kejam dari emak tiri di tengah malam buta. soalnya saya pikir pesawatnya jam 10 pagi jadi ga keburu kalau berangkat jam 5 pagi.

Ternyata yang jam 10 pagi itu berangkat dari rumahnya, pesawatnya sih jam 2 siang baru take off dari Jakarta. Naik pesawat sih biasa aja..cuma karena biasanya short time (ke palembang cuma 30 menit), pas long time begini (2 jam) bosan tiada tara ya..mana tidak melengkapi diri dengan novel tebal ditambah Papa saya yang memang dari dulu hemat kosa kata menemani perjalanan. Saya bahkan membaca koran yang sama 3 kali. huahhhhhhh....untunglah ada seorang balita yang sangat amat ketakutan menghibur saya. Sepanjang perjalanan dia berteriak "Papi....!", "turun...........", "Berhenti...!!!!", dan "Hentikan........."

Sampai di Bandara Polonia, saya menyadari semua trolley dipegang porter. Di Palembang sih memang taktiknya juga gitu, tapi masih banyak trolley yang tersisa...jadi si bapak porter bisa dengan biasa dicuekkin. Di Polonia mau ga mau walau bakat kuli, kita kudu nyewa porter biar dapat trolley. keluar bandara kita langsung memesan taksi. Taksi nya tidak berargo. Dari bandara ke Loket Kurnia (bus yang melayani perjalanan Medan-Banda Aceh) ongkosnya Rp 35.000 saja.

Sesampai di Loket Kurnia, Papa memesan tiket yang ke Krueng Geukeuh seharga RP 75.000 per orangnya. Sambil nunggu kita makan dulu di rumah makan Kurnia. Mencoba mie Aceh yang ga ada rasa. untunglah saya memesan nasi juga. Pakai ikan bakar dan sayur pliek ue. Pedes dan Asin... wahahaha...udah lama banget ternyata. Rupanya kalau kita cuma memesan lauk saja mereka akan menawarkan kuah. Kuahnya enak...slruppp..slurp... selesai makan mobil angkutan kita sudah tersedia. Ternyata mobilnya seperti angkot booo... saya bingung.kog ga naik bus ya? tapi tampaknya penumpang lain santai-santai saja. dalam hati saya berpikir, 3 jam naik angkot dengan kaca dibuka lebar? masuk angin sudah pasti.

trus "angkot" ini masuk ke lahan kosong. saya jadi bingung. ditambah penumpang di depan saya (yang orang aceh tulen) bertanya-tanya mau dibawa kemana dan menginformasikan biasanya tidak seperti ini. ah...makin bingung dong..persis seperti pengungsi gelap yang menyerahkan nyawa kepada supir..serba tidak tau. ternyata si "angkot" cuma membawa kita ke terminal bis.. Di terminal bis inilah bus asli kita menunggu...gubrak!!

busnya ber-ac. Tempat duduknya juga lumayan lebar. yang ga enaknya sepanjang perjalanan banyak penumpang merokok..arghhhhhhhhhhhhhhhh....ingin menegur tapi harus mawas diri "saya kan bukan orang aceh" ya sudah menelan ludah saja sambil bernapas sulit. mana perjalanan yang biasanya 3 jam jadi molor banget karena si supir santai sekali...kata papa sih mungkin karena dia mau ke Takengon dan lebih aman kalau pagi-pagi lewat takengon-nya.

jadilah berangkat jam 6 sore sampai di krueng geukeh jam 4 pagi. pantat sudah sakit banget. bayangkan sodara-sodara..saya si pantat besar nan empuk yang kalo menduduki kunci saja tidak terasa..ini mengalami pegal linu..hehehe...sampai di krueng geukeuh kita dijemput mobil kantor untuk masuk ke Jamuan...kompleks tempat saya dibesarkan berada. Iya rumah papa mama itu adanya di tempat jin buang anak. Sesampai di dalam rumah, semua perasaan "saya bukan pulang" luluh...

I AM HOME..... at least di rumah ini saya melihat lagi wajah-wajah bayi dan remaja tengil saya. boneka saya, celana pendek saya, piagam dan plakat-plakat itu, bahkan buku cara menulis pidato....
Post a Comment