SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

02 December 2009

Tagged Under:

Blackberry

Share

seumur hidup saya baru punya henpon 3.

Yang pertama saat SMA, lungsuran dari Mama. Sangking jadulnya.. ni henpon saya modif... biar mirip nokia yang series 8*** biar kecil.. tapi ternyata tetap ga gaya.. rada malu makenya.. hahaha.. aduh.. remaja-remaja.



Di penghujung akhir hidupnya saya titip dia ke salah seorang teman kost untuk dijual. Si teman kost, kemudian ga ketauan rimbanya.

Henpon kedua dibelikan kekasih hati belahan jiwa sebagai hadiah ulang tahun. Henpon baru saya pertama kali.. gress, kotaknya disegel..haha. Saat itu lagi booming-boomingnya CDMA.. dapatlah henpon ini dengan nomor esia di dalamnya dan bahasa korea di dalamnya..



Hidupnya berakhir karena chargernya rusak melulu..

Henpon ketiga saya adalah yang saat ini.. dibeli dari gaji magang di Telkom, dipilih secermat mungkin, karena inginnya buat foto-foto dan dengerin musik tapi harga di bawah 1 jt. jadilah ia.. voila... *btw mereknya ga familiar ya?kog tante saya bingung*



Saya sih belum niat ganti henpon.. Gini-gini saya agak-agak lebih mementingkan fungsi daripada gengsi. Walaupun belum seekstrim salah seorang teman *melirik ibnu* yang tetep ga mau punya sepeda mahal atau henpon dengan kamera padahal mampu.

Jadi saat heboh blackberry, saya ga tergiur dong.



Cuma sepulang tes kerja kemarin, saya mulai berpikir buat beli blackberry (kalau mampu).

Kenapa?

Karena sekarang semua pada tukar-tukaran pin.. bukan nomor henpon... huhu...

Haha... Apa bikin kartu nama saja ya.. tapi nyantumin apa? kalau gini keren ga?

Suci Humaira Sophia
Sarjana Ekonomi * Blogger

Post a Comment