SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

22 December 2009

Tagged Under:

Lunmay menurut saya

Share

saya setuju sama mbak dee kalau Luna Maya bukan Kopaja bukan juga telepon umum, apalagi AC. Luna bukan barang milik umum yang bisa dikontrol penggemarnya. Luna itu manusia, yang bisa menangis, tertawa, marah, dan khilaf. Sehingga kemarahannya (yang berkali-kali) kepada infotaiment wajar adanya. Dan manusiawi pula jika ia mengumpat-ngumpat di Twitter. Yang seperti Luna bukan satu.. tapi ratusan.

Tapi saya jauh lebih setuju sama ndoro kakung bahwa twittermu harimaumu. Bahwa kita harus menyadari kalau twitter, blog, facebook dan situs-situs jejaring sosial lainnya adalah ruang publik. Disitu kita berinteraksi dengan manusia lain, bukan dengan layar komputer (atau BB). Sehingga sopan santun juga harus dijaga.

Terlepas dari apa pun pemicunya, seseorang yang menuliskan sumpah serapah sebagai status di Twitter terkesan sebagai orang yang tak mampu menahan diri ketika tampil di ruang publik. Mereka dengan enteng menjadikan media sosial sebagai tempat penampung kekesalan, kemarahan, kebencian, pemiliknya.

Para pengumpat itu seperti tak memiliki beban moral dan asal melontarkan pelbagai bentuk sumpah serapah. Tak jarang ada yang menjadikannya sebagai ruang untuk menjelek-jelekkan orang lain. Orang-orang yang termasuk golongan ini sepertinya tak sadar bahwa Twitter itu ruang publik. Statusnya bisa dibaca oleh khalayak dan kemungkinan menyinggung perasaan orang.

Saya setuju pendapat Pitra, marah atau kesal itu memang manusiawai dan merupakan hak setiap orang. Ia juga memerlukan pelampiasan. Tapi pelampiasan kekesalan bisa memicu masalah seandainya dilempar ke ranah publik. Reputasi yang bersangkutan bisa hancur, begitu juga nama baik keluarga, sahabat, rekan kerja, dan orang-orang terdekat lainnya. Jeratan hukum pun bukan tak mungkin telah menunggu di depan mata. (ndorokakung)

Saya rasa setiap orang pernah menjadikan blog sebagai tempat membuang kekesalan. Saya juga. Pada blog pertama saya, setiap saya kesal dengan si kekasih hati belahan jiwa, saya pasti ngomel-ngomel di situ. Tidak menyadari bahwa semua orang bisa membacanya.

Anggaplah yang baca pro saya, maka dia akan membenci kekasih hati belahan jiwa saya berdasarkan laporan yang dibuat dengan (sangat-sangat) emosi itu. Bahkan mungkin dia akan lebih membenci si kekasih hati belahan jiwa daripada saya. Karena toh saat kesal saya menghilang, saya jadi cinta lagi sama dia. Semua kesal itu terlupakan.

Sebaliknya, kalau yang baca ga setuju sama saya.. dia kan jadi memandang saya sebagai orang yang pemarah. Masalah kecil saja ditanggapi dengan emosi jiwa berlebih. Padahal.. saya tidak seperti itu loh. Saya itu baik dan cantik. Cuma saya lagi kesal jadi marah-marah dan mengeluarkan tanduk setan.

Kesan kalau si kekasih hati buruk perilakunya atau saya pemarah itu yang susah dihilangkan dari pikiran pembaca.

Percaya deh kalau saya bilang kesan itu susah dihilangkan.

Dulu saya pernah melihat teman saya dibentak-bentak pacarnya di depan umum. Mereka sih sampai sekarang masih awet-awet saja. Tapi setiap kali mengingat mereka, yang terlintas pertama kali adalah adegan bentak-bentak di depan umum itu. Si teman kesannya menerima saja diperlakukan seperti itu dan pacarnya kog ga tau diri banget, marah-marah padahal jelas-jelas persoalannya bukan salah si teman.

Maka saya lalu memutuskan untuk memulai lembaran baru di blog ini. Mengurangi marah dan mengomel. Blog lama tidak saya hapus. Sebagai pengingat dan bukti kalau saya berproses. Kalau saya belajar. Kalau saya juga pernah berlaku dungu.

Masalahnya timbul saat koneksi internet tiba-tiba bisa digunakan setiap orang dimanapun dan kapanpun. Mereka seperti saya dulu, saat pertama kali berkenalan dengan ruang publik maya ini. Mereka merasa bebas menyumpah dan berperilaku tanpa etika yang membuat ruang ini berisik.

Jadi menurut saya, menjadi tugas "senior-senior" per dunia maya-an untuk terus menggaungkan bahwa disini juga ada etika loh. Ini komunitas. Bukan sekedar layar.

Masalah lain akan muncul saat pengguna-pengguna baru ini tidak merasa perlu untuk mencari tahu etika pergaulannya. Mereka masih merasa twitter dan facebook adalah komunikasi yang terbatas. Yang cuma teman-teman terdekat (dan memahami mereka luar dalam) atau bahkan diri mereka sendiri yang membaca sumpah serapah itu.

Makanya momentum Lunmay ini menurut saya muncul di saat yang tepat. Kita gerah dengan perilaku orang-orang yang tidak beretika di internet.

Lunmay-lunmay itu juga gerah, karena mereka tidak boleh berkata "sejujurnya" akan perasaan mereka. Maka mari kita temukan dua sisi ini. Menjelaskan etika bersosialisasi di dunia maya dan memberitahu kanal khusus untuk menyalurkan amarah. Memberitahu kalau Blog itu bisa diprivat, dijadikan sebagai diary. Jadi cuma penulisnya (dan orang yang diundangnya) yang dapat membaca isi blog. Begitu juga Twitter. Mengenalkan kalau RT dan Re pada twitter itu berbeda implikasinya (haha).


Saya menyadari manusia itu narsis dan ingin eksis, inginnya kalau menderita seluruh dunia tau dan bersimpati, karena itu setiap anda ingin memposting sesuatu dengan emosi, cobalah untuk berhenti, meninggalkan internet, dan berpikir (kalau sempat). Nanti saat anda kembali duduk di depan komputer maka anda akan menyadari, betapa apa yang hendak anda posting tadi itdak penting dan bodoh.

Seperti kata Nabi. Apabila salah seorang diantara kalian marah dalam keadaan berdiri duduklah, jika belum hilang maka berbaringlah. Apabila diantara kalian marah maka diamlah. (pembahasan lebih lanjut tentang pentingnya menahan amarah bisa dilihat disini, kalau mauuuu)

Setiap saya mau ngomel-ngomel saya lalu teringat Ollie, Ollie ini seleb blog loh. Dia penulis produktif, pemilik Kutukutubuku dan banyak bisnis lainnya, sering dapat barang gratis dan jalan-jalan kemana saja dengan menulis.

Saya perhatikan setiap orang yang meng-add Ollie di facebook selalu diapprove, kalau ada orang yang comment ga nyambung di blognya, Ollie ga pernah ngomel. Di twitter dan plurk oOlie juga ga pernah misuh-misuh. Padahal Ollie itu manusia (red: beneran manusia, saya pernah megang dia) pasti pernah kesal dan khilaf.

Padahal banyak seleb blog lain yang sudah di-add sopan-sopan di facebook dan menolak. banyak seleb blog lain kalau posting suka ga disaring, di twitter dan plurk misuh-misuh, ada yang komen ga nyambung marah-marah.

Dari situ saya belajar..mungkin karena itulah rejeki mereka sebagai blogger tidak sebaik Ollie. Mereka belum siap dengan resiko kebekenan mereka. Karena saya ingin jalan-jalan disponsori, dan dapat produk elektronik gratis, saya memutuskan untuk meneladani Ollie.

Kalau Kamu gimana?
Post a Comment