SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

18 March 2010

Tagged Under:

Belajar Dagang ala si Capcai

Share

Alkisah saat saya SD, tante saya yang baru lulus kuliah dan masih menunggu panggilan kerja mengisi waktu dengan berjualan kue di koperasi sekolah saya. Karena itu sekolah saya, otomatis saya kebagian tugas mengantar kue. Sukses? Kagak. Saya keponakan durhaka. Atas nama gengsi tidak mau membantu tante yang baik hati sampai-sampai si tante sendiri yang setiap hari pulang pergi mengantar kue-kue itu. Sampai sekarang kalau ingat kejadian ini saya menyesal banget. Ga oke banget sih.. ga keren banget sih..

Mari kita loncat ke masa-masa saya saat menjadi murid SMA yang cantik nan lugu, di SMU yang terkenal dengan sebutan sekolah artis ini -karena muridnya cantik-cantik, pintar-pintar, kebanyakan kaya-raya dan alumninya kebanyakan merintis karier sebagai artis inilah saya berbisnis untuk pertama kalinya.

Saya jualan roti.

Jadi setiap hari saya mengambil dua buah kotak roti. Supplier saya yang mengantarkan langsung ke depan sekolah. Lalu saya bawa melenggang kangkung ke dalam kelas, sekaligus memberitahukan tidak langsung ke teman-teman kalau "Gue jualan roti ni. mau?"

Saya duduk dan pesanan pun datang. Biasanya saat lagi belajar. Konsumen-konsumen saya aka teman sekelas -mungkin karena belum sarapan dan belum bisa ijin ke kantin SMU sebelah dengan dalih ke toilet (masih pagi boo)- akan memberikan kode-kode cantik ala tarzan. Maka si roti akan berpindah tangan melewati berbagai distributor yang untunglah tidak pernah meminta komisi apalagi menaikkan harga.

Pembayaran dilakukan saat istriahat. Saya tinggal mendatangi pembeli dan mengeluarkan catatan pembelian. Tidak ada tawar-menawar dan hutang piutang.

Untuk satu kotak roti saya mendapat komisi sebesar dua buah roti. Lumayan saya ga perlu jajan lagi. Hemat.

Sampailah kita di saat ini. Dimana si capcai belajar jualan di capcaibakarjualan.blogspot.com. Awalnya karena saat itu musim hujan dan saya perlu payung. Pengennya payung transparan seperti di film-film jepang itu. Googling sana sini saya malah ketemu tempat jualan offline-nya. Ya sudah sekalian saja saya jualan online. Pasang harga di bawah pesaing, pakai metode beli banyak harga turun lagi, dan macam-macam.

Yang beli lumayan banyak padahal tanpa promosi. Cuma saya belajar
  1. harga = modal + margin yang diinginkan. Jadi bukan sekedar lebih murah dari pesaing. Biar jelas untungnya.
  2. kalau sudah ada diskon kuantitas jangan gratis ongkos kirim lagi. Ga ada untungnya. hehe
  3. Ambil untung besar ga masalah.
  4. Pikirin juga ngegedein usahanya gimana, jangan cuma jualan aja.
Segitu dulu de. Dari situ saya sadar.. saya jualan cuma jualan aja. Bukan bisnis. Ayoo belajar lagi
Post a Comment