SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

23 July 2010

Tagged Under: ,

Cinta, Sebuah Rumah untuk Hatimu (buku)

Share

Pengarang : Ollie
Penerbit : Gagas Media
Harga : Rp 28.900 (kutukutubuku.com)



Iya.. another domestic novel by Ollie. Produktif banget *memandang dengan iri* Hihi. Novel kali Temanya sih masih mengenai adaptasi dua individu ke sebuah "pernikahan", seperti novel Alphawife dan After The Honeymoon.

Jika di After The Honeymoon Ollie bercerita bagaiman dua individu beradaptasi dengan pernikahan yang tidak sesimpel saat pacaran dan di Alphawife bercerita mengenai adaptasi suami-istri yang istrinya berpenghasilan lebih besar, maka di novel kali ini Ollie mengangkat isu
"Jika pasanganmu bekerja di kota lain, apa yang kamu pilih? Tinggal atau ikut? Apakah kamu akan melepaskan pekerjaan mapan, kenyamanan dan kemandirian financial untuk sebuah kebersamaan?"
Itulah yang terjadi pada Garry dan Friya. Garry yang seorang PNS tiba-tiba mendapatkan perintah mutasi ke Kupang, meninggalkan Jakarta, kota yang membesarkan Friya dan tempat Friya meniti karier di sebuah bank swasta ternama.

Demi cinta Friya menukar mall, starbucks, teman, keluarga, dan kesempatan promosi jabatan yang sebentar lagi dengan kehidupan ibu rumah tangga, yang "hanya" berkutat dengan memasak, mencuci, beberes, rapat Dharma Wanita, dan main voli. Ia bahkan harus melepaskan identitasnya. Sekarang ia bukan Friya, ia adalah Ibu Garry Maulana, istri pejabat.

Haus akan keinginan untuk bekerja, pengakuan, dan penghasilan sendiri, Friya memutuskan untuk menjadi penyiar radio. Sayangnya pekerjaan baru ini membuat ia jadi bahan perbincangan tetangga dan memicu pertengkaran dengan Garry.

Kesal diperlakukan seperti itu, Friya memutuskan kembali ke Jakarta dan menjalani hubungan jarak jauh saja.

Apakah pilihannya untuk tidak meninggalkan Jakarta kali ini berjalan lebih baik daripada mengikuti Garry ke Kupang?

Katagua

Membaca novel ini mengajak kita melihat keunikan kota Kupang, alamnya, penduduknya, bahasanya, bahkan angkutan umumnya. Isunya juga "sekarang" banget. Di masa kini banyak pasangan yang dua-duanya bekerja , kejadian harus pisah kota, pulau, bahkan negara pasti terjadi. Pilihannya cuma dua, ikut atau tinggal. Dua-duanya pasti tidak enak.

Tetap tinggal di tempat asal bikin cinta kita berat di pulsa dan ongkos. Belum lagi kemungkinan suami/istri kepicut orang lain karena mendadak "single" lagi.

Ikut pergi lalu merelakan kebebasan financial dan kemandirian yang selama ini diperoleh juga berat. Bayangan harus menggantungkan kehidupan dan kebahagian pada orang lain tentunya mengerikan. Tidak ada lagi "uangku". Yang ada "uang belanja dari suami". Kemungkinan suatu saat disia-siakan suami setelah melakukan pengorbanan seperti itu membuat keputusan ini makin tidak menjanjikan.

Novel ini tidak mengajarkan pilihan apa yang harus diambil, tapi menetapkan tujuan yang jelas. Jika tujuan kita jelas maka jalan akan terbuka dengan sendirinya. Mungkin maksud Ollie kalau tujuan kita karier ya ga usah ikut. Tapi kalau tujuannya membangun keluarga, ya ikut.

Nah gimana kalau tujuannya dua-duanya? Bikin skala prioritas dong. Apa yang mau dicapai duluan.

Kalau menurut saya Cinta dan Pernikahan itu komitmen.

Apapun pilihan kita kekhawatiran akan ada orang ketiga atau suatu saat disia-siakan suami tidak akan terjadi kalau masing-masing berkomitmen terhadap pasangannya. Pernikahan yang akan menjadi semakin sulit setelah itu pasti bisa dilalui dengan baik jika kita berkomitmen mempertahankan pernikahan ini.

Bagian yang paling saya suka di novel ini adalah bagian dimana Friya dan Garry melakukan "kencan" jarak jauh, dengan sama-sama memandang laut. Friya memandang laut Jakarta dan Garry memandang laut Kupang. Percakapan mereka yang dilakukan via telepon benar-benar bikin saya "meleleh". Mauuuu.. hihi.. Ini jauh lebih romantis daripada novel Twilight yang ga berhasil saya tuntaskan sangking bosennya.

Happy Reading ya!
Post a Comment