SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

20 October 2010

Tagged Under:

Pengasuh dan orang tua

Share



Beberapa waktu lalu timeline facebook dan twitter saya penuh dengan pembahasan pengasuh versus Ibu. Berawal dari pembahasan wajah anak makin lama akan mirip pengasuh, anak yang memanggil pengasuhnya dengan sebutan mama, sampai kesimpulan ibu-ibu yang menggunakan pengasuh membagi pahalanya.

Saya mendadak ngilu. Lalu sedih. Kenapa sih manusia gampang sekali menghakimi manusia lain, mudah sekali melabeli orang lain.

Cerita setiap orang tidak sama, karena itu tidak adil rasanya menghakimi seseorang berdasarkan ukuran kita.

Tidak percaya? Hamil anak pertama dengan anak kedua saja bisa beda. Mungkin kehamilan yang pertama tanpa mual, capek, dan ngidam. Namun begitu hamil anak kedua jadi muntah tiada henti, pingsan beberapa kali, dan mengidam banyak hal (Melirik kakak dan Rika). Ini kejadian pada satu individu yang standarnya terhadap rasa sakit, capek, dan kuat sama.

Kalau sudah tahu begini mana berani saya dengan sombong bilang si anu hamilnya manja, Si itu ga becus ngurus anak karena anaknya rewel melulu, ibu yang tidak memberi asi eksklusif bukan ibu yang baik, ibu yang caesar pahalanya setengah, yang pakai catering buat anak bayinya malas, ngurus anak lebih susah ketimbang melihara hewan, dan ibu-ibu yang pakai pengasuh bukan ibu sejati?

Mari saya ceritakan tentang Mama saya, ibu empat orang anak dengan dua pembantu.

Mama bekerja sebagai karyawan. Pergi jam 8 pulang jam 5, harus menghadiri rapat di malam hari, dan dinas ke luar kota berhari-hari. Kami juga pernah ditinggal mama sekolah ke luar negeri. Adik saya masih bayi saat itu.

Lalu apa saya jadi lebih dekat ke pengasuh-pengasuh saya? Hanya ada beberapa yang saya ingat namanya. Muka saya mirip mereka? berani sumpah saya versi lebih cantiknya dari si Mama *narsis*

Kenangan bersama pengasuh-pengasuh saya pun lebih banyak yang buruk. Bagaimana mereka mengusir teman-teman yang datang ke rumah, bagaimana mereka mencuci pantat adik saya dengan kaki, menyeretnya di aspal panas agar ia pulang ke rumah, mencubitnya kalau tidak mau makan, dan banyak lagi.

Lalu apa saya punya kenangan lebih sedikit tentang Mama?

Tidak. Kalau saya tidak punya banyak kenangan dengan Mama tidak mungkin saya menulis cerita ini.

Mama selalu menelpon ke rumah setiap pukul dua siang, menanyakan saya. Apakah saya sudah pulang? Sudah makan? Makanannya enak?

Setiap saya pulang sekolah, makanan akan tersaji rapi di meja makan. Mama selalu memindahkan makanan ke wadah baru setiap kita selesai makan. Biar kesannya makanan tersebut belum dimakan orang lain. Biar saya, anaknya, merasa saya orang pertama yang makan.

Walau sudah punya pembantu dua, mama tetap memasak makanan kami setiap hari. Pembantu cuma bertugas menyiapkan bahan-bahannya. Di akhir minggu mama juga yang membuat berbagai macam cemilan. Mulai roti, donat, kue-kue, keripik, dan banyak lagi.

Pulang kerja mama akan menyempatkan waktu mengajar saya dan kakak. Mama pintar matematika, kimia, dan kesenian.

Saat mama harus ke luar negeri mama selalu mengirim surat. Setiap anak dapat satu. Buat adik saya yang masih bayi, suratnya akan dibacakan papa. Pulang dari sana saya dapat boneka barbie (satu-satunya boneka barbie yang pernah saya miliki) beserta kudanya juga boneka dengan pakaian tradisional Swiss.

Saat mama dan papa dinas ke luar kota, saya selalu menanti dibangunkan malam-malam saat mereka kembali. Dibagikan oleh-oleh saat mengantuk. Mama lebih senang membawakan makanan. Papa lebih suka membawakan baju dan buku. Dari papa saya kenal Pramoedya Ananta Toer.

Setiap minggu saya dipaksa (iya dipaksa.. dulu saya anak rumahan... ga suka pergi-pergi) ikut senam aerobik di komplek, bersepeda melewati sawah, belajar golf, tenis, roller blade, bulutangkis, dan banyak lagi.

Saya juga pernah menemani mama yang menyetrika baju-baju si bungsu yang baru lahir. Tengah malam, tiap hari. Padahal beliau bisa saja menyuruh pembantu kami.

Ada sih beberapa kejadian dimana saya merasa kehilangan Papa dan Mama.

Saat mereka lupa ulang tahun saya. Saya ngambek. Tidak mau keluar kamar sampai mereka menyelipkan ucapan selamat ulang tahun lewat bawah pintu. Saya juga pernah ngambek karena mama dan papa berangkat kerja tanpa mendoakan saya, padahal saya akan mengikuti perlombaan penting. Pulang dari lomba saya letakkan piala itu di kamar Mama. Saat mama kembali dari kantor, beliau kaget dan bertanya ini piala apa, maka saya akan menjawab sambil bersungut-sungut. Nanti kapan-kapan mama dan papa akan bercerita ke orang lain bagaimana anaknya memenangkan piala ini. Dengan bangga.

Bukan sekali dua kali saya ingin mama berhenti memasak di dapur, membiarkan pembantu yang mengambil alih, agar ia bisa menonton film bersama kami di ruang tivi. Ingin bilang "Mamaaa kesini.. santai sama kami." Tapi mama bertekad memberikan anaknya apa yang didapat anak-anak lain yang ibunya di rumah.

Apa saya lebih senang kalau punya mama yang tinggal di rumah? Mama saya sempat dirumahkan karena BUMN tempat ia bekerja berhenti beroperasi dan saya bisa bilang saya lebih suka melihat mama yang bekerja ketimbang yang duduk manis di teras berbincang masalah emak-emak.

Apa saya lebih sukses dan pintar kalau mama saya di rumah? Ehm! Saya pintar loh.. sukses juga. Cuma belum dapat kerja aja. ;p

Setelah dengar cerita saya, apa anda masih bisa bilang Mama saya, Papa saya membuang-buang pahala dan uangnya percuma?

Ibu mana sih yang ga sedih lihat anaknya memilih berlari ke pelukan pengasuh saat menangis ketimbang lari ke pelukan dia? Ibu mana yang tidak ngilu hatinya saat anaknya memanggil sang pengasuh "Mama"?

Lihat sisi baiknya dong, Ibu itu dapat pengasuh yang baik dan menyayangi anaknya dengan tulus, sampai-sampai si anak merasa nyaman. Tidak bisa ya berbahagia untuk ibu itu? Susah loh dapat pengasuh yang baik ditengah gencarnya berita pengasuh yang memperlakukan anak majikan sekehendak hatinya.

Jadi kalau nanti anda melihat seorang anak yang lengket dengan pengasuhnya sementara orang tuanya makan enak diujung sana.. berhenti menghakimi! Anda tidak tahu cerita mereka. We never been in their shoes.
Post a Comment