SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

07 February 2011

Tagged Under:

Capcai dan Purpura

Share


Setiap kejadian itu ada sebab musababnya, begitu pula kejadian kenapa kehidupan saya akhir-akhir ini hanya berkisar makanan dan buku saja. Alkisah suatu hari di akhir tahun 2010 pergelangan kaki kanan saya nyeri, saya kira keseleo gara-gara sepatu baru yang kesempitan. Karena masih bisa dibawa jalan saya cuek saja. Nanti kan sembuh sendiri.

Ternyata setelah berminggu-minggu nyerinya tidak juga hilang. Saya mulai berpikir membawanya ke tukang pijat. Belum sempat dibawa ke tukang pijat, mendadak kedua belah kaki saya dipenuhi bintik-bintik merah. Bintik-bintik saja, tidak gatal. Bintik-bintiknya tidak mau hilang saat ditekan. Duh.. kena demam berdarah nih pikir saya, soalnya kalau alergi kan gatal. Harus ke dokter deh.

Sebelum berangkat ke dokter saya menghadiri suatu acara field trip. Disini bintik-bintiknya tambah banyak, tambah jelas, dan tambah besar. Nyerinya juga mulai menjalar ke kaki satu lagi. Ditambah rasa seperti ada ratusan semut yang menggigit di bawah kulit. Saya juga sudah mulai jalan terpincang-pincang. Tapi masih bisa ditahan kog. Sehingga saya memutuskan menghadiri acara lain pada malam harinya.

Di acara inilah nyerinya menghebat. Kaki saya bengkak. Kalau diluruskan sakitnya bukan main. Saya sudah tidak bisa berjalan. Guncangan sedikit saja bikin saya mau nangis. Acara selesai saya buru-buru ke Borromeus, mendaftar di Unit Gawat Darurat pakai kursi roda. Gayanya seperti pesakitan banget. Setelah diperiksa, dokter jaga setuju kalau saya tidak menderita demam berdarah karena kehadiran si bintik-bintik merah tidak disertai demam.

Menurut dokter terdapat pendarahan dalam pada pembuluh-pembuluh darah saya karena darah kesulitan melawan gravitasi saat mengalir naik. Diagnosisnya diperkuat dengan simetrisnya bintik-bintik merah tersebut. Terdapat di kedua belah kaki dan hanya sebatas betis. Ini biasa terjadi pada orang yang pekerjaannya berdiri atau duduk lama sepanjang hari. Dimana saya tidak termasuk dalam kategori tersebut. I'm professional job seeker who still looking for my dream job, remember? :p

Sayapun diberi suntikan pengurang rasa sakit dan disarankan untuk memeriksakan diri ke internis. Untuk mengurangi rasa sakitnya, di rumah saya disarankan bed rest dengan posisi kaki lebih tinggi dari badan. Si kaki harus disangga bantal gitu.

Esoknya saya ke internis di RS Santosa. Bincang-bincang dan periksa-periksa dokter mendiagnosis saya terkena penyakit Henoch–Schönlein Purpura. Purpura jenis ini merupakan penyakit auto imun, ditandai dengan jumlah sel darah putih (leukosit) yang tinggi. Alih-alih melindungi tubuh dari ancaman kuman, virus, atau bakteri, si leukosit menyerang tubuh sendiri. Penyebabnya tidak diketahui, tapi bisa dicetuskan oleh bakteri atau kecapekan.

Dokterpun bertanya apa saya kecapekan. Yang jelas-jelas tidak. Saya kan proffesional job seeker yang.. ah sudahlah. Jadi kenapa dan bagaimana saya bisa terkena penyakit ini masih misteri. Saya lalu diminta tes darah lengkap dan urin untuk mencari tahu apakah ginjal saya terinfeksi. Alhamdullilah hasilnya normal. Kata dokter nanti sembuh sendiri, paling lama 6 minggu. Sayapun disuruh pulang berbekal vitamin, obat nyeri, dan obat pengurang jumlah leukosit.

Maka kehidupan saya yang seperti putri pun dimulai. Kerjaan saya cuma tidur-tiduran nonton tivi, baca buku, atau ngetak-ngetik di komputer. Kalau mau makan dan minum diambilkan. Pergi-pergi diantar jemput. Kaki saya sih masih nyeri tapi ga bikin nangis. Kadang saat saya bandel lalu memilih pelesiran, nyeri dan bintik-bintiknya merambah ke paha dan pantat. Kalau sudah begitu disentuh celana saja sakitnya minta ampun.

Kadang-kadang saat saya kelamaan mengetik, nyeri, bengkak, dan bintik-bintiknya pindah ke tangan. Sangking sakitnya ada masa-masa saya harus makan pakai tangan kiri, karena jari-jari tangan kanan tidak bisa diluruskan.

Itulah kenapa kerjaannya cuma mereview buku dan makanan. Saya cuma bisa membongkar file foto buku-buku dan makanan-makanan jaman dulu yang belum sempat diulas disini.

Sekarang sih mendingan. Kalau diawal-awal jalan-jalan setengah hari saya bisa nyeri hebat sampai dua hari sekarang jalan-jalan setengah hari nyerinya cuma semalaman. Besoknya saya sudah bisa jalan dengan ceria. Semoga bisa segera kembali normal agar saya bisa ikut tes-tes kerja lagi, nonton film di bioskop lagi, makan sushi lagi, bisa lari lagi, nyalon cantik lagi dan bisa kopdar-kopdar lagi.

Oh ya saat saya bilang saya terkena purpura, salah satu om langsung menebak kalau saya sering olahraga lari. Ia lalu menanyakan pemanasan saya bagaimana. Saya bilang pemanasannya cuma jalan kaki keliling lapangan dua kali tanpa peregangan. Dan menurut si om itulah penyebab saya sakit. Pemanasannya salah. Kalau ini saya setuju. Karena saya memang lari 10 keliling setiap hari, saya tidak kelelahan ataupun berdiri terlalu lama seperti dugaan para dokter.

Trus ada yang tau harusnya saya pemanasan seperti apa?

Post a Comment