SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

04 March 2011

Tagged Under: , ,

Borobudur, Pertama Kali (.><)

Share

Ini pertama kalinya saya ke Borobudur. Iyeee kemana aje. Harap maklum, saya kan anak sumatra yang tiap liburan cuma ke Medan. Waktu saya ikut bimbel SMPB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) di Jogja-pun saya tidak sempat main ke Borobudur. Soalnya pada ngomong, di borobudur cuma begitu-begitu saja, ga ada yang bisa dilihat. Panas lagi. Ya sudah.. saya kemping di Parangtritis saja daripada kesesat di candi

Kalau kata teman-teman yang dulu pernah kesini, Borobudur lebih bersih. Iya bersih banget. jauh lebih bersih daripada tempat-temapat wisata lain yang pernah saya lihat. Mungkin karena sekarang dilarang membawa makanan ke dalam. Jadi tidak banyak sampah makanan berserakan. Makanya kami maklum saja saat bapak petugas meminta makanan dititipkan di loket penitipan yang gratis. Daripada tempat yang bagus begini jadi kotor. Yang ga enak liatnya kan kita juga. 

Tapi ga usah khawatir kehausan. Pengunjung Borobudur masih diperbolehkan membawa minuman. Sayangnya tetap saja ada yang membuang botol bekas minuman sembarangan. Meski jumlahnya sedikit. Ya begitu deh budaya membuang sampah pada tempatnya masih belum mendarah daging di masyarakat kita. Hiks.

Ada beberapa cerita lucu soal peraturan tidak boleh membawa makanan ini. Beberapa pengunjung berusaha menyembunyikan kantong makanan di samping badan. Mereka pikir tidak akan kelihatan oleh petugas. Lah petugasnya banyak, pasti langsung kelihatan. Beberapa ibu-ibu masih nekat menyeludupkan makanan di dalam tas mereka. Sedangkan kreseknya dititipkan di loket. Untunglah ada pemeriksaan tas di pintu masuk. Setiap tas satu-satu dibuka dan dilihat. Ibu-ibu itupun panik keluar dari antrian. Hahaha. Emang harus dikerasin sih. Tapi ga percaya aja ada orang yang berusaha begitu kerasnya melanggar peraturan.  Apa saya yang polos ya.

Terus ada bapak-bapak yang sepertinya malas menitipkan satu apel yang berusaha ia seludupkan. Ia pun menawarkan apel tersebut ke bapak petugas yang serta merta tersinggung. Dengan marah ia menjelaskan kalau ia menjalankan peraturan demi kebersihan Borobudur dan ia tidak kekurangan uang  hingga perlu diberi sumbangan. Sedangkan bapak pengunjung itu bersikeras kalau ia hanya memberikan bukan menyumbang. Duhhh macam-macam aja deh. 

Berhubung Jogja sedang musim hujan sepanjang tahun, perjalanan kali ini juga tidak terasa panas menyengat. Payung dan topi yang sudah kami bawa dengan senang hati disimpan kembali. Tapi tetap.. balik dari Borobudur kulit saya terbakar walau udaranya sejuk begitu. 

Pakai topi cuma buat gaya-gayaan
Setelah berjalan lumayan jauh dari pintu masuk kami tiba di tangga yang luar biasa tingginya. Berlebihan sih. Lumayan lah.  Tapi kalau dinaiki pelan-pelan ga terasa capek kog. Jadi pelan-pelan saja. beberapa tangga ada yang lumayan tinggi, cukup sulit untuk yang kakinya pendek. 

Foto dulu sebelum naik

Naik.. naik.. hosh..hosh
Belum sampai di puncak paling atas, saat saya melihat pemandangan sekitar. Ya ampunnnnn.. cantiknya. Bagusnya. Borobudur ini juga keren banget. Hebat. Hebat. Jadi pengen lihat piramida.

Cara mengelilingi borobudur adalah berjalan searah jarum jam di setiap lantai, dimulai dari pintu sebelah timur. Sayang banget saya tidak tahu sama sekali sejarah Borobudur dan panel-panel ukiran nya bercerita soal apa saja. Kalau tahu kan seru banget bacanya sambil keliling-keliling gitu.  Ngomong-ngomong candi-candi begini cantik ya kalau jadi scene foto pre-wedding.


Ukiran-ukiran di Borobudur ini pixel perfect loh kalau kata anak-anak web desainer. Semua ukiran detail banget. Kumis di wajah seseorang, kelopak bunga, dan banyak lagi. Gambar sedetail itu di batu yang keras. Keren deh.

Foto by Bumil
Foto by BuMil
Sayangnya lantai paling atas sedang ditutup untuk renovasi karena kemarin sempat tertutup debu gunung Merapi. Sayang banget. Ga bisa lihat stupanya, patung budhanya dan nyoba megang budha. Jadi cuma bisa lihat-lihat dari bawah saja.

Bisa ngelihat Budha yang nongol satu di sebelah kiri dan ternyata candi pun pakai penangkal petir
Foto by BuMil
Puas foto-foto kami langsung turun dan ditawari masuk ke Museum Unik dan Langka yang langsung kita tolak. Habis mereka menjual manusia terpendek, manusia tertinggi, dan sejenisnya. Memangnya manusia kaya' hewan di kebun binatang ya? Beda dikit jadi tontonan. #nggaksante


Keluar dari areal candi, kami memasuki pasar souvenir yang bersih, terang, rapi, dan luas. Selain makanan, penjual juga sekarang dilarang memasuki area Borobudur. Mereka hanya boleh berjualan di luar pintu masuk dan di pasar ini, biar bersih dan tertib. Senang lihatnya. Dan sepertinya penjual-penjual disini selain menjual barang juga menjual belas kasihan. Mereka akan terus menempel di samping kita sambil dengan halus menawarkan barang. Mereka juga dengan rela hati membanting harga atau membantu kita sehingga kita membeli barang dengan alasan "Ga enak ah, sudah dibantu" atau "Ga tega ah" 


Kalau saya sih berhasil keluar tanpa membeli apapun. Pasang muka tega sepanjang jalan.Toh mau belanja di Beringharjo.  Saat di jalan keluar kita akan menemukan halaman luas beriskani potongan-potongan candi yang belum selesai dirangkai. banyak banget. Seperti melihat potongan puzzle dimana-mana. Arkeolog itu keren ya. Potongan yang serupa begini bisa dirangkai.


Iseng foto

Dan kami mengakhiri perjalanan ini dengan naik kereta keliling areal candi yang luas banget. Lumayan buat ngeringin keringat dengan angin sepoi-sepoi. Ada penyewaan sepeda onthel dan sepeda tandem juga loh.. Berhubung mau hujan jadi ga sempat nyobain.

IDR 5.000 per orang dapat minuman juga
Foto-foto dengan caption "Foto by BuMil" merupakan hasil jepretan Rika, ibu hamil 8 bulan yang sudah lama tidak menyalurkan hobi fotografinya. Sangking kangennya Rika sibuk berdiri jongkok berdiri jongkok saat mengabadikan Borobudur. Lupa sama perut. Untung tidak kontraksi disana. Heboh nanti. 





Dan By the way.. sepatu The Little Things She Need ini awet juga. Dengan pemakaian barbar ala saya di tengah musim hujan, kesandung kesana-kemari sepatunya masih oke. Paling kekelupas dikit. Suka.


Keterangan :
Tiket masuk untuk wisatawan lokal IDR 23ribu per orang. Anak dibawah tiga tahun gratis.
Tiket masuk untuk wisatawan asing $ 15
Post a Comment