SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

16 March 2011

Tagged Under: , , ,

Numpang

Share

Iya numpang. Numpang jalan-jalan di Malioboro. Lihat ikan asin yang dijemur di trotoar begitu saja. Di Jogja, kucing-kucingnya juga santun. Tak mencuri.


Numpang melihat nasi kucing segede mobil di perayaan. Numpang ngerasain macet di Jogja juga jadinya.


Numpang sholat di mesjid Sulthoni yang bekas air wudhunya dialirkan langsung ke kolam ikan. Sepertinya pernah ada yang numpang nyuci di tempat wudhu dan membuat ikan-ikan mati keracunan. Mesjid di wilayah kantor gubernur ini juga menyediakan sisir, ikat rambut, dan air minum. Belum pernah ketemu mesjid seperti ini. Takjub.


Numpang foto di depan pasar Beringharjo karena kita kemalaman. Pasarnya sudah tutup.


Numpang cuci mata di Mirota. Iya cuci mata saja karena ternyata saya yang cihui ini bingung milih kalau barangnya banyak gini. Bingung apa yang mau diubek-ubek. Kagum sama Erma yang sanggup memilihkan saya sebuah sprei batik dari Mirota.  Saya sendiri liat tumpukannya aja pusing. Maunya dipeperin gitu di lantai sama pelayannya.. terus tinggal nunjuk mau yang mana. *dikemplang.. memangnya saya ibu Ani*


Sayapun lalu memutuskan keliling-keliling toko saja. Melihat seorang ibu membatik. Rupanya ini pertunjukan yang ada setiap hari. Si ibu keren.. ga kesemutan apa duduk begitu terus. Katanya setiap hari sabtu ada pertunjukan kecapi dan rabu malam ada pertunjukan  piano tunggal.


Saat keliling-keliling toko ini lah saya melihat banyak kesamaan Mirota dengan Raminten. Kedua toko ini dipenuhi bunga-bunga sesajen, wangi dupa, dan patung-patung pelayan serta pengawal keraton. Lirik punya lirik saya melihat foto pemilik Raminten di  dekat kasir. Ternyata ia juga pemilik Mirota. Wuih keren, pengusaha sukses rupanya. Namanya bapak Hamzah Sulaiman, seniman lokal yang sering berperan sebagai waria.  Pantas saja pelayan lelaki di Mirota maupun Raminten pada kemayu.


Mirota merupakan kependekan dari Minuman-Roti Tawar, nama toko bakery yang didirikan orang tua Hamzah. Dari toko roti inilah Mirota Group berkembang. Sekarang Hamzah dan keempat saudaranya memiliki berbagai macam pusat perbelanjaan, money changer, pabrik susu, pabrik es krim, toko batik, hotel dan banyak lagi di kota-kota besar (Denpasar, Surabaya, Bandung, Batam, dll). Hanya toko-toko yang dimiliki oleh keturunan langsung yang dapat menyandang nama Mirota, makanya Raminten yang dimiliki oleh anak angkat Hamzah tidak memakai embel-embel Mirota.

Transformasi Hamzah Sulaiman kalau mau manggung
Pak Hamzah bercita-cita ingin membuat toko belanja yang jogja dan jawa banget. Karena itu di setiap toko yang ia miliki kita dengan gampang menemukan sesajen, wangi dupa, dan arca-arca borobudur. Itu bukan sesembahan pada mahluk gaib agar bisnisnya laris manis, seperti perkiraan saya, tapi agar suasana jawanya berasa.

Saat saya sudah menyerah kalah ga mau membeli apapun, mata saya melihat gaun batik yang ditinggalkan seseorang. Dia ada ditumpukan paling atas, ga perlu diubek-ubek. Ga perlu dicari-cari. Gaun lucu itu muncul. Layaknya jodoh. Saya suka warnanya yang pastel. Tidak berat gelap atau gonjreng seperti batik kebanyakan. Kata Rika yang kalem-kalem gitu batik solo. Akhirnya.. darah solo saya yang sekian persen itu muncul. *dikemplang putri solo*

Satu-satunya batik yang saya beli di Jogja
Bertekad akan belanja esok hari saja, sayapun naik ke lantai dua. Lantai dua ini dipenuhi berbagai macam pernak-pernik tradisional. Ada banyak mainan anak dan pernak-pernik rumah seperti tempat tisu bercorak batik, kap lampu unik, tas-tas batik, sandal batik, dan aksesoris perempuan. Surga buat anak kecil dan bapak-bapak.


Kalau capek nungguin mamih-mamih belanja pengunjung Mirota bisa menunggu di lantai 3 dan 4 sambil makan, minum, dan internetan. Ada studio foto juga kalau mau foto-foto sembari nunggui nyonyah besar belanja. Iya Mirota ini toko serba ada, cocok untuk turis yang ga sempat belanja keliling jogja. Pulang dari Mirota kami makan malam di Seafood Pasar Baru Jakarta. Yak.. silahkan tertawa. Jauh-jauh ke Jogja bersandar ke Pasar baru jua. Btw.. kaki saya kumat juga akhirnya. Bwahahahha.
Post a Comment