SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

03 August 2011

Tagged Under: , ,

Yang Terakhir dan Yang pertama

Share

Weekend kemarin akhirnya saya pulang ke Bandung. Memang sudah jatah pulangnya sih.. sekalian mau kencan nonton Hary Potter terakhir. Yay!!! Iya, nonton Harry Potter terakhir!! *diulang biar efek dramatisnya keluar* Sebenarnya ga semua film Harpot saya tonton di bioskop. Harry Potter and  The  Sorcerer's Stone pastinya. Itu tahun 2001. Terkagum-kagum melihat permainan Quiditch diwujudkan di film. Jauh..jauh lebih keren daripada hayalan saya. Film-film selanjutnya saya lupa.. beberapa nonton di bioskop, beberapa nonton di tv. Iya sih, saya ga gitu maniak sama filmnya. Beda cerita dengan novel-novelnya. Harus punya dan pre order kalau perlu. 

Balik ke soal nonton harpot yang terakhir. Awalnya bapak sumami sudah memesan tiket untuk hari Sabtu jam 3 siang di Blitz. Iya kita doyannya nonton di Blitz. Nonton di XXI hanya dan hanya jika dapat tiket Premiere (Iyaaaa udah pernah nonton di premiere dong. Sekali. Hahaha Sayangnya ga sempat foto-foto jadi ga bisa diceritain disini. Hiks.) Melihat permintaan saya tentu saja bapak sumami lebih memilih Blitz. Its cheaper than Premiere.

Namun, manusia cuma bisa berencana. Akhirnya Tuhan juga yang memutuskan. Jumat pagi kita mendapat kabar kalau Ibu ga bisa ngejaga #jendKancil di hari Sabtu. Ada urusan keluarga. Dheng! Batal deh kencannya. Dengan hati hancur, sayapun terpaksa menjualdua helai  tiket Harpot itu.

Loh kenapa ga tetap nonton sembari ngajak #jendKancil? 

Pertama, film ini bakal banyak adegan perang yang bisa bikin seram anak kecil. Waktu nonton Harry Potter and The Goblets of Fire di tivi aja #jendKancil pakai acara kabur-kabur takut. Di bioskop kan rugi kalau kabur-kabur gitu. Bisa heboh teriak minta dimatiin layarnya.
Kedua, karakter-karakternya sudah berpacaran jadi pasti ada adegan cium-cium yang belum mau saya liatin ke #jendKancil. Dulu pas ngelihat adegan Harry dan Cho Chang yang saling lihat-lihatan terus tersenyum malu-malu aja #jendKancil ikutan tersipu-sipu. Waktu saya tanya kenapa dia jawab "Ada love kan?" Gubrak ah.. cepat banget gedenya! Ga rela emak.
Ketiga orang dewasa yang ga baca bukunya aja suka bingung sama film ini *melirik bapak sumami* apalagi anak kecil yang belum pernah dibacain satu buku sampai habis.

Maka bergerilyalah saya di twitter dan facebook. Pasang status jualan dan dalam sekejab dibeli jeng Astri. Teman satu kamar selama diklat yang ternyata adik sahabatnya bapak sumami. Siiip ga rugi uang.

Setelah kedua tiket terjual, tiba-tiba bapak sumami mengabarkan kalau anaknya ibu bisa ngejaga #jendKancil. Yah.. yah.. gimana ceritanya ini.. memang sih tiketnya belum dibayar tapi saya kan sudah janji. Masa' dibatalin. Ngedengar suara saya yang ngambek bapak sumamipun memutuskan mengantri tiket lagi, dapat yang 3D di hari Sabtu jam 11 pagi. Yay!! Makasih banyak ya... udah repot-repot ngantri dua kali sambil gendong #jendKancil yang beratnya udah lebih dari satu tabung gas gede. Makasih akhirnya jadi nonton 3D yang lebih mahal. Laki saya hebat ya.. bisa dapat tiket melulu.


Maka pergilah saya menonton dengan hati riang di hari Sabtu pagi. Harus buru-buru karena telat bangun. Jadi ngerti kenapa masih banyak seat yang available di jam segitu. Pergi pagi-pagi ke mall itu ternyata bikin malas ya. Jam makan siang juga. Pasti laper di dalamnya. Tapi demi Akang Potter mari kita terabas. Berkat keahlian bapak sumami menyetir kami bisa tiba dengan selamat dan tepat waktu. Masih bisa lihat cuplikan Transformer juga. Pemegang SIM jalur jujur itu memang beda keahliannya. Hahaha.

Filmnya gimana? Bagus. Adegan perangnya banyak, jadi ga bikin bapak sumami bosen dan bolak-balik nanya itu kenapa, ini kenapa. Tapi konsekuensinya, banyak adegan drama yang dipercepat, bahkan tuan sumami pun menyadari keabsenannya. 3Dnya juga lumayan keluar walau ga seheboh Avatar. Sepanjang film saya terus-terusan terharu, walau adegannya ga sedih-sedih betul, gara-gara mikirin ini film terakhir. Habis ini udah deh.. ga ada lagi penantian film Harry Potter. Tamat. 

Di film ini saya jatuh cinta banget sama aktingnya Alan Rickman sebagai Snape. Boo.. berasa banget gimana hancur hatinya saat tau Lily Potter akan dibunuh Voldemort. Hiks.. ngena banget deh. Trus Neville  Longbottom jadi keren gitu ya.



Lihat deh.. diantara pemeran lainnya dia paling cakep kan? Suka!



Kelar nonton kita baru sadar kalau ternyata dari tadi kita satu studio dengan teman-teman kantor lama bapak sumami. Jadi deh nerusin kencannya dengan jalan-jalan dan makan-makan sembari ngobrolin bisnis. Ada Keblug juga sebagai ibu dharma wanitanya. Makannya ke Richeese Factory, tempat makan baru di PVJ. Sejenis junkfood gitu. Ini pertama kalinya saya makan di Richeese Factory.

Tempat makannya enak, warnanya ceria, banyak colokan, udara dan pemandangannya oke. Ada tempat mainan anak juga. Kalau makanannya biasa aja sih ya. Tapi lebih murah daripada junkfood junkfood sejenis dengan menu yang lebih beragam. Ada tropical Wrap (sejenis kebab), ball cheese, stick cheese, calmary, nachos, dan banyak lagi. Menunya variatif, rasa dan tampilannya aja yang ga menggugah selera saya. Walau celupan keju sebagai pendamping makanan lain dari yang lain.

Kanan: chicken noodle. Saya kira sejenis mie ayam. Taunya spaghetti. Harusnya diberi judul Chicken Pasta. (-__-") 


Menu andalan mereka adalah Fire Wing, sayap ayam dicrispy terus dicelup ke saus cabe. Ada enam level kepedasan. Mulai dari level 0 sampai 5. Sekarang memang jamannya level-levelann ya. Kamipun mencoba dua level. Keblug level 1 dan bapak sumami yang doyan pedas mencoba level 5.

Level 1 nya Keblug. Celupan kejunya menggoda banget ya.


Pedesnya? Jangan ditanya. Buat saya yuang ga suka pedes, level 1 masih bisa kemakan. Tapi ga bisa banyak-banyak. Pedas betul. Level 5 nya? Baru satu potong bapak sumami si pemakan cabe menyerah. Katanya sih pedasnya ga enak. Pait. Saya sempat nanya sama anak ABG yang bercucuran keringat sangking kepedesannya.

Fire Wing yang bikin heboh


 "Pedesan mana Fire Wing level 5 sama Mak icih level 10?"

"Pedesan ini kak! Semoga berhasil ngabisinnya ya Kak!"

Bwahahaha.... gila pedesnya. Akhirnya fire wingsnya saya bawa pulang dan dimasak dengan indomie. Walau sudah dicemplung ke lautan kuah, pedasnya masih nampol dong buat saya. Buat tuan sumami sih lebih eatable. Buat saya? Yuk dadah babay.

Selain Fire Wing yang heboh tadi saya juga doyan minuman tehnya. Ada tiga rasa teh, strawberry, manggo, dan peach. Enak banget. Segar. Saya sukanya yang peach.

Kata Saya
Film Harry Potter and The Deathly Hallows (2) ditonton aja kalau memang ngefans.  Kalau nunggu disiarin di tivi juga ga rugi-rugi banget sepertinyaJangan lupa bawa tisu segambreng dan pakai maskara yang waterproof ya.
Richeese Factory nya silahkan dicoba.. Sepertinya lagi happening. Pesan fire wing level 1 aja dengan minuman peach sambil ngemil nachos. Udah sah jadi anak gaul bandung. Hihi. Harganya juga murah-murah.

Dan saya sudah kangen saja sama dua laki-laki sombong ini.

ngeliatin minuman. 
Post a Comment