SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

12 October 2011

Tagged Under: ,

Cerita Diklat

Share

Diklat saya sudah berakhir dan akhir Juni kemarin sudah mulai kerja kantoran. Istilahnya sih magang karena saya masih dalam masa percobaan setahun ini.  Maka mari cerita-cerita saya ngapain aja pas diklat kemarin..

Tanggal 1-25 Mei 2011 kemarin, ya hampir sebulanan gitu, saya ikut diklat Pra Jabatan. atau sering disingkat PraJab. Kehidupan sehari-hari selama di diklat kan udah diceritain disini tuh.. nah saya mau cerita versi seriusnya.. hihi.

Diklat Prajab itu diklat wajib setiap CPNS. Kalau ga lulus ga bisa diangkat jadi PNS. Salah satu syarat kelulusan adalah kehadiran. Sehari ga ikut diklat karena sakit pun langsung ga lulus. Kalau ga lulus gimana? Dapat jatah ngulang satu kali saja di tahun depan. Kalau masih ga lulus? Ya sudah bye-bye status PNS.

Diklat Prajab ini sepertinya sih ya.. bertujuan mengubah pola pikir CPNS supaya menjadi abdi negara dan pelayan masyarakat yang baik. Lihat... bahasa sayapun sudah oke banget gitu abis diklat. Hahahaha.

Acara pembuakaan rangkaian diklat

Kelas diklat
Acaranya kebanyakan permainan-permainan team building dan diskusi gitu. Saya sih bersyukur soalnya jadi ga ngantuk sama sekali. Ngantuk? Iya... mohon maaf buat semua pembayar pajak (ceileh) sumpah dari TK sampai kuliah saya tidak pernah mengantuk di kelas, tapi entah kenapa selama diklat ini saya ga bisa nahan ngantuk saat merhatiin slide demi slide..  Mungkin karena pelajarannya sebelas dua belas  macam PPKN dan dipelajari dari jam 7.30-21.00. saya bahkan harus merelakan diri dicubitin teman agar tidak tertidur. Sakit sih, tapi lumayanlah ngilangin ngantuk sebentar. Iya, segarnya cuma sebentar. Memarnya yang ngebekas lama.

Main-main biar ga ngantuk. Ini perintah pengajarnya kog

Urat malu harus tebel. Bukan begitu Uni Rahma dan Kang Puji?

Tapi ternyata beberapa teman malah bosan banget diajak diskusi melulu. Ga tau kenapa. Teori saya sih karena sebagian besar latar belakangnya tehnik jadi disuruh diskusi teori yang banyak abu-abunya gini bosan kali ya.

Pengajar-pengajar di diklat ini dikirimkan langsung dari LAN, oke-oke deh. Lucu-lucu. Mereka bisa bikin kelas yang panjaaaaang banget itu dan yang ngantukin itu jadi seru. Bahkan ada satu pengajar yang berhasil bikin acara permisi ke toilet doang jadi lawakan, usut punya usut kaskuker ternyata.Tapi ya gitu, saat pengajarnya balik bahas teori, mata kitapun pelan-pelan menutup.

Kelompok yang lagi presentasi

Kelompok yang lagi dengarin dan mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan maut

Setelah sebulan menjalani diklat prajab, diklat selanjutnya adalah Diklat Orientasi Ke-BPK-an. Sesuai judulnya sudah pasti ini belajar tentang BPK. Mulai dari satuan kerja-satuan kerja di BPK, visi misi, rencana dan strategi BPK, cuti, absen, dan topik yang paling menarik adalah GAJI. Hooh.. kalau bahas rencana  dan strategi kelas sunyi senyap *sesekali terdengar suara iler netes sih.. ;p* tapi gitu bahas gaji, cuti, tunjangan, bahkan pensiun.. kelas langsung rame! Yang nanya ngantri.  Masyaallah, kerja aja belum udah pada nanya pensiun coba. Sungguh visioner teman-teman saya ini *memandang penuh kekaguman*

Ruangan kelas yang model U. Semua yang ngantuk langsung keliatan.

Terus karena pengajar-pengajar diklat ke-BPK-an ini adalah orang-orang internal BPK (yang nantinya saya baru tau kalau itu para petinggi ya) tehnik ngajarnya sebagaian besar text book. Jadi.. benar-benar bikin ngantuk. *ngucek-ngucek mata* Kebayang ga sih nguap berkali-kali, bolak-balik ke toilet buat cuci mata, dan ketiduran (benar-benar tidur gitu loh) di depan pejabat? Untung ga diusir keluar.

Pose di depan hasil diskusi dan menara tahan banting yang dikasih cendol jempol sama pengajarnya

Yang menyenangkan di diklat ini adalah, ga ada tugas ngerangkum lagi seperti diklat ke-BPK-an. Horeeee! Jadi malamnya bisa istriahat lebih banyak aka internetan lebih lama. terus disini kita udah boleh pakai celana. Ga harus rok lagi. Ga ada pengaruh yang berarti sih buat para lelaki  (ya iyalah ... *ditoyor ke jurang oleh pembaca*) tapi buat perempuan-perempuan yang disuruh baris-berbaris pakai rok panjang, ini penting!  Selain ga harus pakai rok lagi, setelah selesai belajar kita boleh pakai baju warna bebas. Asal batik dan kemeja. Buat orang malas nyuci seperti saya sih ga ngaruh. Pakai hitam putih terus sampai mau tidur. (^_^)v

Ngomong-ngomong soal rangkuman di diklat prajab, rangkuman ini nanti dikembalikan lagi ke peserta sebelum ujian diklat (setiap diklat akan/wajib/harus diakhiri dengan ujian.. selamat ya kakakkk..)  Jadi kalau kita ngerangkumnya serius, pas mau ujian ga perlu buka banyak buku deh. Tapi secara eike perfeksionis ya.. walau rangkuman sudah ditulis dengan serius tetap aja harus baca text book nya. Hasilnya? Ga rangking satu juga sih... *penonton kecewa*

Belajar dimana saja, bahkan di mesjid sambil nunggui waktu sholat
Sholat 5 waktu harus di mesjid. Subuh harus dengerin Kultum yang diberikan oleh peserta diklat laki-laki. *perempuan-perempuan ngikik sambil baca twitter*
Di postingan sebelumnya udah pada tahu kan kalau diklat kali ini memecahkan rekor "Jumlah Peserta yang Jatuh Sakit"? Sangking ga normalnya distribusi peserta yang sakit, divisi SDM kantor pusat merasa perlu turun tangan. Diutuslah beberapa  psikolog kantor untuk menghibur kita. Biar ga stres ceritanya. Maka dimulailah permainan berburu harta lewat teka-teki dan permainan-permainan.

Petunjuknya

Tim Bajak Laut Tike-Aldi-Ridho-Eko-Fajar- Handoko-Uni Rahma-Ades. Mas Ahsan kemana?


Tantangan agar mendapatkan petunjuk selanjutnya

Tarian Kemenangan.Iya.. kami senorak itu
Terus pemenangnya didominasi  oleh tim-tim dari kelas saya, kelas Pinky. Iya dari 4 tim yang diutus.. 3 tim membawa pulang harta kembali ke pangkuan Pinky Crews. *gelar karpet merah*

Hartanya. Iyak.. jangankan pembaca, pelaku saja kecewa. :D

Sepanjang diklat kita juga ga terus-terusan belajar kog, ada acara bagi-bagi oleh-oleh juga tiap minggu. Yang paling saya tunggu tentu saja pempek. Kelas saya itu kebanyakan anak Palembang, Bangka, Lampung, dan sekitarnya (ga tau deh kenapa kebanyakan dari tiga daerah ini). Nah teman-teman ini rajin dikirimin pempek-pempek. Saya senang banget. Banget.

Pembagian oleh-oleh di ruangan belajar. Iya di ruangan yang dibangun untuk belajar bareng

Selain pempek, idola anak-anak adalah mak icih. Ga tanggung-tanggung, pada minta level 10. Keripik shirley dari padang juga jadi rebutan. Macaroni schotel dan pie apel dari bogor juga. Keripik pisang? Juga dong. Jco? Pastinya. Pizza? off course. Iyaaaa ini sih kitanya aja yang pada doyan makan.

Ultah Tike, Rezza, dan Thomas. Dirapel semuanya

Apalagi kalau ada yang ulang tahun.. Yipiee makan-makan gratis *senyum semanis madu kepada anak-anak yang ulang tahun saat diklat.* Bukannya kita ga dikasih makan selama diklat sih. Makan 5 kali sehari sudah pasti. Snack dan daging bejibun -awalnya, lama-lama variasi ikan asin telur tahu tempe toge lagi dan lagi- cuma namanya tiap hari disuguhin makanan catering, mahluk cantik mannapun pasti bosan kan ya? Maka sudah pasti ada acara diam-diam makan indomie pakai irisan cabe rawit di pinggir lapangan parkir.

Nungguin indomie matang

Kenapa diam-diam? Karena itu makannya di pinggir jalan, di samping selokan, dan mesannya lewat pagar. Sudah pasti bapak rindam -yang ngejagain kita- ngomel berat. Kaya' ga dikasih makan aja kata beliau. Dan menurut beliau mana pantas calon-calon abdi negara ini (dan calon menteri keuangan . Aminnn...) makan indomie di pinggir jalan. Kamipun disamakan dengan PGT, Pasukan Gali Tanah. Bwahahaha,.. maaf ya Pak Saih, lagi diceramahin malah ketawa-ketawa. Sumpah baru kali ini dengar istilah PGT. Semenjak itu PGT dipakai sebagai kode ngajak makan indomie.

Pak Saih

Beuhhh udah panjang banget. Berlanjut ke postingan kedua ya Teman.. biar ga capek bacanya. Silahkan tarik napas dulu. *dadah-dadah ala ganti bohlam lampu*

Post a Comment