SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

22 November 2011

Tagged Under: , ,

Akademi Berbagi: Dasar perencanaan Keuangan

Share

Jadi biar ga dituduh Keblug saya tiap minggu makan mewah aja (padahal sumpah itu makannya tahun kapan, reviewnya tahun kapan. Pas ga ada bahan postingan kan paling gampang ngereview makanan, toh stok photonya udah banyak ini) Trus sekalinya ga ngereview makanan malah bahas daleman. *gelenggelengkepala* Jadi kali ini berniat bahas yang sedikit serius. Bahas kantong. Bahas duit. 





Ceritanya awal bulan April kemarin (iyaaa sekarang udah akhir tahun aja) saya ikutan kelas Akademi Berbagi lagi. Kali ini kelas financial (lagi). Ga ada alasan khusus sih.. kebetulan aja sempatnya yang financial (boong banget.. padahal memang harotnya belajar financial sampai kedaftar berkali-kali). Jadi setelah pertemuan pertama yang bahas keuangan bersama Aidil Akbar dan pertemuan kedua yang bahas Social media bersama Tika Banget, saya baru bisa ikutan akber yang ke 4 ini. 


Kalau pertemuan pertama bahas investasi, pertemuan kali ini bahas hal dasar sebelum investasi. Jadi ya booo menurut bapak guru Budi Triadi dan ibu guru Lisa Soemarto beli asuransi dan investasi itu ga main langsung beli aja. Lihat dulu kondisi keuangan kita.  Jadi ada step-step-annya gitu. Step by step, artinya harus dikerjakan berurutan. Bukan pilihan, mau ngurus yang mana dulu. Tahapan-tahapannya adalah sebagai berikut
  1. Cek hutang
  2. Nilai kekayaan bersih
  3. Alur kas
  4. Dana darurat
  5. Asuransi
  6. Investasi
Jadi kalau masih punya hutang yang semakin ditimbun semakin subur bunganya, alur kas masih sering defisit, dan dana darurat belum ada ya ga usah punya asuransi dan investasi. Kalau udah punya gimana? Stop dulu investasinya. Asuransi sih ga bisa distop kan ya? Jadi (mungkin) dilanjutkan saja.


Cek Hutang


Kurangi hutang konsumtif, yaitu hutang untuk membeli barang yang nilainya turun terus dan tidak meningkatkan produksi. Beli henpon, laptop, atau mobil hutang konsumtif gak? Kan nilainya turun terus. Dilihat.. itu meningkatkan produktivitas apa ga. Henpon  kalau dipakai buat kerja ya ga hutang konsumtif. Laptop buat programmer, graphic desainer, dan penulis bukan barang konsumtif. Mobil kalau dipakai pergi kerja jadi hutang produktif.


Hutang konsumtif yang paling gampang itu kartu kredit. Yang ga punya kartu kredit jangan buru-buru senang. Punya kartu kredit itu dianjurkan. Kalau track record kita bagus alias ga punya tunggakan, kita kan lebih gampang mendapat KPR dan kredit-kredit lain. belum lagi bonus-bonus KK yang amat menghemat pengeluaran. Sebaliknya sekali kita ngemplang hutang, ya sudah lah. Susah deh ngajuin kredit lagi di bank manapun.

http://mycreditcardsolution.com/good-debt-or-bad-debt/

Jadi yang masih punya hutang kartu kredit, ayo dilunasi. Kartu kreditnya simpan dulu aja di Mama sampai beneran lunas. Setelah itu boleh dipakai lagi dengan syarat pemakaian KK sebulan langsung dilunasi. Jadi KK hanya alternatif  "dompet" bukan tambahan penghasilan.

Manage hutang yang baik itu total seluruh hutang ga boleh lebih dari 50% total asset dan total cicilan seluruh hutang hanya 30% dari penghasilan.




Nilai Kekayaan Bersih


Nilai kekayaan bersih itu harus positif. Angkanya didapat dari jumlah asset dikurangi jumlah hutang. Apa aja sih asset ini? Rumah, tanah, dan kendaraan. Kalau  aset-aset ini belum lunas ga bisa dihitung sebagai asset ya, masih hutang. Kecuali cicilannya sudah setengah jalan. 


Alur Kas


Alur kas itu, pendapatan dikurangi pengeluaran, harus positif. Jadi pengeluaran harus lebih kecil daripada pemasukan. Ngaku deh.. paling gampang jawab berapa penghasilan kita sebulan, tapi gitu ditanya berapa pengeluaran sebulan pasti bingung. Padahal mengetahui cashflow atau alur kas ini penting loh.



Langkah pertama adalah, susun pengeluaran menjadi empat kelompok yang diurutkan berdasarkan prioritas, yaitu:
  1. pengeluaran utama, yang meliputi kebutuhan hidup, kebutuhan produktivitas, sandang, pangan, papan, dan kebutuhan profesi. Biaya transportasi dan komunikasi masuk kelompok ini.
  2. kewajiban, yaitu pengeluaran yang berhubungan dengan orang lain. Seperti gaji ART, pajak, zakat, hutang, SPP, dan biaya kursus
  3. tabungan dan investasi
  4. pengeluaran pendukung. Ini pengeluaran untuk kebutuhan hura-hura macam belanja, makan di restoran, majalah, dll. Dikeluarkan hanya saat ada kelebihan.
Jadi gitu dapat penghasilan langsung deh dimasukin ke amplop-amplop, amplop tabungan dan investasi juga. Dari situ ketahuan deh berapa besar pengeluaran kita dan berapa sisa penghasilan yang bisa dibelanjakan. Gitu ngelihat sisa uang yang di luar amplop, keinginan belanja macam-macam pasti surut. Cuma dikit soalnya. Hihi.

Terus jangan gampang kegoda diskon, diskon itu bakal ada sepanjang tahun. Percaya deh. Jadi belanjalah hanya dan hanya jika ada uang lebih. Iya.. kita cuma belanja saat ada uang lebih, bukannya nabung dan investasi saat ada uang sisa.

Kalau doyan jajan gimana? *nunjuk diri sendiri* Bikin amplop jajan. Budgetin sebulan kita "rela" ngehabisin berapa rupiah untuk makanan? Soalnya kalau ga dibudget-in suka ga ngeh kalau habisnya gede juga. Jadi cuma jajan selama masih ada budgetnya. Kalau habis ya tahan jajannya sampai bulan depan. Kalau nyisa? Puas-puasin deh makan bebek peking.

Bocor halus selain jajan-menjajani, ada tagihan telepon dan listrik yang ga perlu, pakaian, jumlah ART dan supir yang berlebihan, serta premi asuransi yang kegedean. Coba itung lagi!

Oh ya, metode pengaturan uang macam ini ga hanya untuk keluarga atau orang pribadi aja sih.. bisa juga diterapkan di perusahaan. Jadi kalau punya usaha, kita tetap digaji seperti layaknya karyawan. Dari situ keliatan deh apakah usahanya mampu menghidupi kita. Bukan sekedar dapat untung aja.

Cashflow udah beres? Sekarang mari kita pikirin Dana Darurat. Yang akan dibahas di postingan lain. Hihihi. *lari secepat kilat*
Post a Comment