SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

11 November 2011

Tagged Under: , , , , , , , , , ,

My #1 Friday Five

Share


"The friday five is just a few random thoughts from the week...a way to keep our family and friends in the loop and for us to record the goings on in our crazy-busy but oh-so-blessed lives to look back on some day."

Intinya, kita musti nge-blog seminggu sekali di akhir pekan (Jumat) dan me-recap kejadian seminggu ke belakang. Biar nge-blognya nggak sebulan sekali amat, gitu! *melirik banyak orang*

Dan saya langsung setuju!! *nyapuin debu dari halaman blog* Secara sekarang nge-update blognya lebih lama dari sebulan. (-___-") maluk saya.

Trus sesepi apa sih hidup saya sampai ga bisa mengumpulkan lima kejadian dalam satu minggu?  *sombong* Maka here's Capcai's Friday Five for this week, belum tentu penting sih kejadiannya. Yang penting lima kan. Hahaha.


Saya bukan anti bayi ya.. Ga! Ini judul novel yang selesai saya baca minggu ini. Novel ketiga Emilly Giffin ini bercerita tentang pasangan yang sama-sama tidak menginginkan satu orang anakpun. Pernikahan mereka bahagia sampai si suami berubah pikiran. Ia menginginkan seorang anak.  Maka dimulailah pertarungan batin si istri, Claudia, untuk tetap teguh pada keinginannya atau mengikuti keinginan suaminya demi cinta.

Meski genrenya chicklit, novel ini punya banyak tokoh dengan berbagai ragam cerita. Iya.. saya akhir-akhir ini malas baca novel berat. Makanya ngumpulin chicklit yang dahulu ga pernah saya lirik. Saya itu doyannya baca novel yang ada sejarah-sejarahnya macam Kastel Awan Burung Gereja itu, tapi akhir-akhir ini jarang ketemu novel fiksi berlatar sejarah yang oke. Udah beli Big Breasts and Wide Hips dari kapan tahun bulan, sampai sekarang ga selesai-selesai bacanya. Udah dipinjemin The Bear and The Dragon juga belum selesai dibaca.

Novel-novel yang sudah selesai dibaca akhir-akhir ini. Diurutkan berdasarkan urutan ngebacanya.

Jadi intinya, memang mood saya lagi doyan baca yang ringan-ringan. Lihat aja foto diatas. Bacaan saya saat ini ya sebelas dua belas dengan yang di foto itu. Sejauh ini sih ga kecewa ngebelinya. Jadi marii yang butuh bacaan ringan silahkan dibeli buku-buku diatas. Atau jangan-jangan udah pada punya? *ketinggalan kereta*

2. Delivery D'cost

Meski udah sering makan di D'cost yang katanya mutu bintang lima tapi harganya kaki lima itu, baru minggu ini saya (dan teman-teman) mesan menu deliverynya. Ini gara-gara harga menunya beda tipis sama harga makanan di kantin. Iyak.. menu delivery D'cost ini murah. Mulai dari Rp13.000 (satu lauk ples satu sayur) dan yang paling mahal (dapat dua potong buah, tiga lauk, ples dua sayuran) Rp28.000. Tuh beda tipis kan? Apalagi D'cost ini free ongkir untuk pemesanan diatas lima.

Dan seharusnya sih biar biaya makan siang via D'cost sama dengan biaya makan di kantin kantor, saya haruus memesan menu yang paling murah. Tapi ya mana puas perut saya makan satu lauk doang. Mana puas?!!! Jadilah saya mesan menu Silver yang dapat dua lauk, satu sayur, dan satu potong buah.

Tapi sayang, meski judulnya mesen online, saya ga berhasil-berhasil submit pesanan. Bolak-balik masuk halaman register atau login. Pyuhhh akhirnya nelpon juga ke 292 77 777. *ngelap keringat di kening*


Dan pepatah "Ada harga ada rupa" itu benar adanya. Rasa makanannya sih enak. Kuantitasnya yang minimal. Dikit. Banget. Nasinya yang melimpah ruah. *sedih* Bakal mesan lagi ga? Iya sih.. tapi harus menu yang paling mahal, yang lauknya paling banyak. Haha. Tapi sepertinya lebih enakan mesen HokBen ya?

3. Tanah Abang dan Kerak Telur


Minggu ini saya pertama kali pergi ke Tanah Abang *tebar-tebar confetti* . Bwahahhaa... norak. Meski dari dulu udah mondar-mandir ke Jakarta, saya itu malas jalan-jalan. Mendingan di rumah, tidur. Nah kemarin karena ada orang kantor yang nikahan dan kita (sebagai calon pegawai yang berbakti) berbondong-bondong ke Tanah Abang beli kado sejuta umat. Ternyata semua barang online shop ada di tanah Abang ya? Dengan harga yang lebih murah tentunya. Terus kemarin ga penuh-penuh banget Tanah Abangnya. Sepi. Suka!! *kekep dompet rapat-rapat*

Terus di Tanah Abang saya juga pertama kali makan kerak telor *nari hula-hula* Enak.  Sebenarnya sudah sering liat tukang jualan kerak telur di depan Gedung Sate Bandung, tapi ga tertarik. Di pikiran saya kerak telur itu semacam telur dadar yang digoreng sangat-sangat tipis. Seperti pinggiran telor dadar yang hangus itu. Otak ekonom saya kan mikir... buat apa beli makanan macam itu.

foto diambil dari blog ini

Ternyata bukan. Kerak telor itu mirip-mirip martabak mie. Bedanya cuma kalau martabak mie isinya indomie, kerak telur isinya nasi ketan (bener ga?) Rasanya enak!!

Salahkan orang betawi yang tidak memberi nama yang yummycatching kepada makanan enak ini. *ditakol Bang Pitung*

4. Hari Pahlawan

Konsekuensi jadi PNS itu ya harus upacara bendera di hari-hari peringatan nasional. Salah satunya ya Hari Pahlawan tanggal 10 November kemarin (setelah sebelumnya upacara Sumpah Pemuda, upacara Kesaktian Pancasila, dan upacara-upacara lainnya. Hihihi)  Sepertinya saya lebih banyak upacara bendera selama jadi calon PNS ketimbang waktu masih jadi pelajar SMU yang kinyis-kinyis.

Jadi SMU Capcai itu kan berdampingan sama salah satu SMU terpintar di Bandung (tapi SMU paling keren ya tetap SMU Capcai *syombong*) Nah kita itu berbagi lapangan upacara dan lapangan olahraga. Karena lapangan upacaranya kecil pemakaiannya digilir. Minggu ini SMU Capcai. Minggu depan SMU Tetangga.

Berhubung di sekolah Capcai satu angkatan terdiri atas 10 kelas, upacaranya pun digilir. Minggu ini SMU Capcai kelas 1, minggu depan SMU tetangga, minggu depannya lagi SMU capcai kelas 2, dstnya. Jadi kebayanglah dalam setahun cuma berapa kali upacara.

5. Idul Adha

Kemarin Idul Adhanya jatuh di hari libur tanpa cuti bersama. Dan ga seperti tahun-tahun sebelumnya kali ini kita memilih jalur repot untuk berkurban. Biasanya Tuan sumami berkurban lewat rumah zakat gitu. Bayar, mereka yang milih kambingnya, mereka yang potong, mereka yang ngebagiin, kita dapat foto sebagai buktinya. Alasannya sih biar daerah-daerah yang sepi kurban bisa tersentuh.

Bukan.. kudanya bukan mau dikurban juga.

Kenapa ga kurban dekat rumah? Karena kurban dekat rumah berlimpah ruah. Cuma insyaAllah ini idul adha terakhir di rumah yang sekarang, Tuan Sumami memutuskan untuk kurban di dekat rumah saja. Jadi kita baru ngerasain repotnya sekarang. Nyari kambing hujan-hujan (sampai tuan sumami dan #jendKancil flu), tawar menawar (sebenarnya kambing kurban itu boleh ditawar apa enggak sih?), ngelihatin tukang ojek ngantar kambing ke rumah, ngedaftarin kambingnya ke mesjid (ternyata seperti ngedafttarin anak ke sekolah, ada uang pangkalnya. :D), dan nyaksiin kambingnya dipotong. Darahnya merah banget ya..

Ternyata kalau kurban gitu kita boleh milih bagian apa yang dikasih. Bagian favorit ya bagian paha. Saya pikir selama ini dagingnya dibagi sama rata. Semua dapat paha secuil, jeroan secuil, kulit secuil, dstnya. Ternyata enggak. Buat saya dapat bagian apapun ga masalah sih. Ga bisa ngolah dagingnya ini. Bingung malah gitu disodorin sebongkah daging berbentuk paha.

Trus ternyata kita bisa minta bagian beberapa bungkus buat dibagi-bagiin sendiri. Bukan dibagiin oleh panitia. Baru tau.  Semoga tahun depan masih bisa berkurban. BTW bedanya kambing sama domba itu apa sih?

See you next friday or sooner!

Post a Comment