SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

11 November 2012

Tagged Under: , ,

The Art of Giving

Share


Senang dan susah itu beriringan. Bersama kesulitan akan ada kemudahan. Bersama kesenangan akan ada kesulitan. Vice versa kata suami saya.

Bersama datangnya tumpukan projek akan ada hantaman deadline tanpa henti. Bersama kenyamanan naik kendaraan pribadi akan ada biaya parkir yang menanti.

Karena setiap hal selalu (sepertinya sih selalu) ada sisi enak dan ga enaknya, kita lah yang memutuskan akan fokus dimana? Di bagian enaknya atau tidak enaknya.

Apakah saya mau menukar kenyamanan naik kendaraan pribadi dengan kenyamanan tidak perlu ngelus dada setiap "dirampok" tukang parkir? Nei... saya sih lebih suka ngedumel ke tukang parkir daripada nungguin angkot ngetem. "So let it be!" batin saya setiap ada tukang parkir di ATM/ pertokoan/ tempat makan yang ga ngapain-ngapain tapi tetap menarik biaya parkir.

Source foto tukang parkir

Tapi ada saatnya masa-masa "sopan santun" dengan tukang parkir pecah. Weekend kemarin contohnya. Saat itu saya mampir ke Toko Kue Victoria. Mang parkir Victoria ini tipe yang diam-diam saja saat kita narik-narik motor namun gerak cepat saat konsumen mau pergi. Saya sudah hafal dengan watak si Mang karena sering ke Victoria.

Hari itu karena malas rogoh-rogoh kantong nyari duit 5ribu, saya menyerahkan duit 2ribu yang saya punya. Biasanya kalau tidak punya duit seribu, saya anti mengeluarkan duit 2ribu. Biasanya tukang parkir suka merasa tidak perlu mengembalikan seribu rupiah itu. Beda kalau yang saya serahkan uang 5ribuan/ 10ribuan, mau ga mau harus dikembalikan kan. Dan benar saja, Mang-nya diam. Bantu ngeluarin motor enggak. Ngeluarin kembalian juga enggak.

Saya gondok. 

Aneh ya? Cuma over budget 1000 perak saja saya ngedumel. Ga ikhlas. Ngerasa dirampok. Padahal ngasih uang ke orang lain yang jumlahnya berkali-kali lipat dari itu saya baik-baik saja. Ikhlas aja.

Sepanjang perjalanan pulang Tuan Suami ketawa-ketawa ngikik sambil nanya "Udah ikhlas?". Saat itu sambil  manyun saya menjawab belum.

Mungkin karena saya memang ga meniatkan untuk memberi. Mungkin karena menurut saya dia ga pantas dapat bayaran, apalagi dapat bayaran lebih. Sekarang... saya mikir. Kalau bayar parkir yang setara parkir mobil saja ngedumel, gimana nanti bayar parkir mobil. Kalau nanti punya mobil, parkirnya kan 2ribu juga. Yo wes, diniatkan latihan saja dan dianggap doa. Doa karena dianggap semampu orang yang bawa mobil.

Foto nyulik dari webnya Anggi Kaarimuddin

Amin.

Ngomong-ngomong soal memberi, Si Tukang Nyampah, one of my favorite blogger, mengadakan giveaway dalam rangka menyambut wedding anniversary dan ulang tahun dese. Hadiahnya keureeeeen-keureeeen. Ada ipod shuffle, SONY W Series MP3 Walkman, dan jam tangan timex.

Image from apple.com


Image from amazon.com



Image from timex.com

Keren ya Maaaaak. Ngeces. 

Saya pribadi sih doyan jam tangannya, tapiiiii karena sudah punya cukup jam tangan (cukup dalam arti kalau saya bertangan delapan delapan-delapannya bisa pakai jam tangan satu), eike milih walkman aja walau ga doyan dengerin musik (melirik manis ke ipod touch yang cuma dipakai buat main). Kalau dapat (amin) mau dikasih ke Tuan Suami aja secara dese suka musik dan entah berapa kali memberikan saya berbagai macam hadiah yang belum bisa dibalas.

 Kalau mau ikutan giveaway Si Tukang Nyampah, bisa mampir ke blog nya disini ya.

Sampai ketemu di acara giveaway berikutnyaaaa...... *dadah-dadah manis*
Post a Comment