SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

04 March 2013

Tagged Under: ,

Mencari dokter kandungan

Share

Ngobrol-ngobrol soal layanan memuaskan, saya mau cerita sedikit (yakin?????) soal layanan dokter kandungan. Dulu waktu hamil Jendral Kancil, bulan-bulan pertama kita ke dokter Sophie di Kimia Farma. Biasaaaa anak muda bandung gaulnya kan di BIP kan. Nah.. fasilitas kesehatan yang terlihat dekat dari BIP (saat itu) adalah Kimia Farma. Berhubung pendatang dan ga punya tetua di Bandung, kita sama sekali ga punya referensi dokter-dokter ok. Tebak-tebak buah manggis.
www.thealmightyguru.com
Untungnya dokter Sophie ini bagus. Hasil googling juga banyak yang bilang beliau bagus, meski galak. Iyaaaa galak. Tepatnya tegas, dan saya yang pemalu ini jadi takut kalau mau nanya-nanya. Berhubung antrian dokter Sophie ini mengular, kami pindah ke dokter lain. Masih dekat-dekat BIP. Di klinik kecantikan Shanti. Ya, ga ada yang terlalu berkesan sih.. Biasa aja. Tadi rencananya ga pindah-pindah dokter lagi.. Tapi apa hendak dikata, di Trimester akhir dokternya naik haji. Digantikan oleh seorang dokter pria.

Waktu itu, saya maunya dokter kandungan perempuan saja. Hahaha....anak pertama, malu kalau sama dokter laki. Tapi berhubung sudah trimester akhir, ya sudah terima nasib saja. Dodolnya dokter pengganti ini adalah saat saya datang dengan keluhan sakit yang hilang timbul.

Itu anak pertama kan dan selama hamil saya tidak pernah merasakan sakit apapun. Jadi saat ada sakit saya kira itu sakit biasa.. Sakit yang wajar muncul di trimester akhir karena bayi turun ke jalan lahir. Manalah saya tau itu kontraksi. Mana juga saya tau kalau keputihan berwana pink ( ini kalimat oxymoron) adalah tanda akan melahirkan. Sumpah saya sudah baca banyak buku hamil... Tapi ya kalau tidak mengalami sendiri memang ga tau.

Jadi saat periksa ke dokter dan dokternya masih bilang saya akan melahirkan PALING CEPAT bulan depan, kita balik dong yaaaa. Jalan-jalan ke BIP. Yang ada suami jalan-jalan, saya duduk meringis di Texas. Tambah sakit. Kita buru-buru cari second opinion, hasilnya saya sudah bukaan 4. Ealah... Dokternya apa-apaan sih. Coret!

Jadi, dari kehamilan pertama saya tidak punya rekomendasi dokter kandungan. Dokter Sophie ok, cuma dari rumah sekarang Kimia Farma itu jauhnya subhanallah. Antriaannya juga astafirullah. Skip ah. Mau cari yang dekat rumah dan antriannya biasa saja.

Di kehamilan yang kedua Mampirlah ke Hermina. Dokter yang available weekend sore adalah dokter Seno. Lelaki. Ga masalah.. yang penting available sabtu-minggu sore. Karena kalau weekend kita tidurnya suka bablas balas dendam.

Pertemuan pertama, dokternya sabar sekali dalam melayani pertanyaan.... suami. Iya.. setiap periksa, mau Jendral Kancil atau yang ini suami saya yang heboh nanya-nanya. Ga sekedar nanya tentang bayi/hamil-hamilan things ya.. tapi nanya kode-kode yang ada di USG. Jadi setiap dokternya klik-klik apapun harus dijelaskan tujuannya apa. Hoho.

Periksa yang kedua, saya melipir coba dokter lain. Karena.... selama kehamilan ini saya pusing-pusing terus. Tekanan darah 130. Kata dokter kantor, harus diwaspadai takut pre-eklamsia (semoga tidak. Amin). Diminta jaga makanan. Nah, sama dokter Seno, tekanan darah itu ga masalah. Pusingnya juga wajar.. namanya lagi hamil.

Jadi saya memutuskan mencoba dokter lain (Pasangannya Budi di buku-buku bahasa Indonesia jaman dahulu). Dan.. katanya memang ga masalah. Wajar. haha.. jadi yang bikin parno yang mana. Sayangnya sama dokter Pasangan Budi ini kita ga sreg. Antriannya lama. Beliau juga buru-buru ngobrolnya. USGnya juga sakit karena perut ditekan banget. gambar usg ga jelas dengan alasan bayinya sudah gede jadi ga bisa ke capture semua. Ih... waktu Jendral Kancil sampai trimester terakhir masih kelihatan jelas kog. Dan goongnya adalah.. dese ngasih vitamin dan obat mual yang muahal banget. Total biaya 4x dari konsultasi ke dokter Seno. (btw semua keluhan saya ternyata sama dengan salah seorang teman yang periksa ke dokter ini juga)

Buku bahasa indonesia jaman dulu dari sini


Suami ngamuk dong.. hahaha. Gak usah ke dokter Pasangan Budi lagi.

Besoknya (benar-benar sehari setelah, sampai dinasehatin suster hermina kalau periksa memang sebulan sekali saja) kita periksa balik ke dokter Seno. USG nya enak dan dapat gambar bayi yang jelas. Kita juga ngobrol-ngobrol panjang. Walau tetap saya ga dapat izin terbang. haha.. iya balik periksa ke dokter itu demi mencari second opinion.. tentang keamanan terbang di trimester pertama.

Nyari dokter itu emang jodoh-jodohan ya. Ya semoga dijodohkan dengan yang terbaik. Saat ini, kami akan secara rutin berkunjung di dokter Seno.
Post a Comment