SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

27 June 2013

Udah pernah cerita kan kalau saya bingung soal peralatan yang harus disediakan untuk perah-memerah ASI. Untunglah kenalan di dunia blog sama Neng Ita, maminya Khayangan yang sedang berjibaku jadi pejuang ASIP dengan kondisi LDR sama anak bayi. Ih.. kog kisahnya akan serupa ya? *Lalu berdoa semoga boleh pindah ke kantor Bandung*

Jadi hasil tanya-tanya ke Neng Ita, berikut resume perlu tidak perlunya peralatan perah memerah.

Breast Pump

Yang pertama dibutuhkan tentunya. Kalau enggak ya mau merah pakai apa? Pakai Bapaknya? *ditoyor* Hasil baca-baca dan tanya-tanya Mbak-mbak kantor kebanyakan merekomendasikan Medela Harmony (manual), Medela mini elektronik (elektrik untuk satu payudara), atau avent (yang manual pun enak karena ga bikin pegal. Yang elektriknya bisa diubah jadi manual juga).

Ntah karena ada apa di bea cukai atau ada baby bomb di Indonesia nyari pompa medela kog ya susah banget. Kosong dimana-mana. Seriously.. dimana-mana. Di online, di offline, di Jakarta, maupun di Bandung.

Maka dari itu saat ibu bos menawarkan pompa avent elektriknya yang belum pernah dipakai, eike langsung setuju. Mau Bu... mau. 

Pelajaran no 1 "Beli peralatan bayi jangan mepet-mepet. Barang kosong ga ada yang tahu"

Botol/ Kantung Penyimpan ASI 

Setelah diperah, ASInya kudu disimpan yes? Saya tadinya memutuskan mau menggunakan Botol Lubby karena wide neck jadi ngebersihinnya gampang trus daya tampungnya 100ml katanya sih pas sama kebutuhan bayi. 

Lalu Neng Ita bilang kalau pakai kantung plastik lebih hemat tempat saat diungsikan dari Jakarta ke Bandung setiap minggunya. Kalau pakai botol cuma bisa bawa 20 botol di cooler box, gitu pakai kantong bisa 40 kantong. Hoho.. betul juga. Apalagi kalau kantongnya digepengkan makin hemat tempat deh. Lalu kantong asi apakah yang direkomendasikan Ita?

Kantong Natur. Kuat, ga gampang sobek dan terjangkau lah ya.

Selanjutnya saya bingung... hasil perahan 1 dan 2 bisa digabung kah dalam satu plastik? Saat dicairkan, kalau bayinya minum sedikit dicairkannya bagaimana ya? Satu kantong semuanya? Apa dipindahkan ke botol dulu? Aaa aku bingung... Ada rekomendasi buku ASIP yang bisa dibaca?

Botol Susu/ Cup Feeder/ Soft Cup

Pengalaman sama Jendral Kancil, dia bingung puting saat saya kelamaan menyusui langsung. Bingung putingnya itu malah ga mau lagi sama botol dot, maunya langsung dari emaknya. Pas ditinggal kuliah, mau ga mau disulangin pakai sendok kan. Jadi pas emaknya pulang, lihat anak gembil lemas-lemas ganteng yang susunya beleber dimana-mana karena ga mau ditelan. Sedih... masih keingat aja ekspresinya. Positifnya, Jendral Kancil ga perlu fase lepas dari botol dot. Jadi, adeknya mau dibiaskan pakai sendok juga. Kali ini semoga mau nelan. 

Tadinya mau coba Medela Soft Cup terus ketemu Botol sendok ASI Nursi Smart yang kapasitasnya 150ml. Meddela kan cuma 80ml. Nursi ini harganya juga lebih murah dari medela, tapi botolnya ga bisa ganti botol lain sedangkan medela bisa. 

Namun lagi-lagi ya.. Medela ini out of stock dimana-mana. Nursi juga sempat ga ada stock saat saya tanya pertama kali. Pas yang kedua.. ya kog ada. yay.. untuk bolak-balik melontarkan pertanyaan yang sama ke toko online. *sungkem ke tokonya*

Terus saya juga dapat cup feeder dari Ibu bos. Hehe... 

Ngomong-ngomong harga botol sendok asi ini lebih mihil ya ketimbang botol dot biasa... *gosok-gosok lembaran undian biar dapat uang undian*

Botol susu dan sikat botol ples sabun cuci datang beriringan. Kabarnya sih Nursi Smart ini ga perlu sikat botol khusus untuk membersihkannya. Kalau sabun cuci, kabarnya sih Sleek oke.


Milk Saver

Di salah satu postingan Neng Ita, dia menceritakan kalau milk saver ini membantu sekali dalam menambah jumlah stok ASIP. Jadi dia dipakai sebagai breast pad agar asi tidak bocor kemana-mana saat beraktivitas maupun saat memompa salah satu dada.

Tanpa tedeng aling-aling saya langsung nanya dia pakai milk saver apa. Katanya Medela Milk Collection Shells

Dan tentu saja barangnya out of stock ya. Pyuh.. Ada sih alternatifnya Avent Breast Shells  lebih murah 10ribu tapi cuma bisa dipakai selama 40 menit saja. Alternatif lain Milkies Milk Saver cuma harganya jauh lebih mahal dan cuma dapat satu biji ga sepasang seperti Avent maupun Medela. 

Maka mari kita bolak-balik nanya ke OLS sampai dibilang barangnya ada. *senyum cantik ke OLS*

Cooler Bag dan Blue Ice

Neng Ita dan mbak-mbak kantor menyarankan pakai cooler box yang beli di Ace Hardware saja. Yang daya tahannya 4 jam cukup, karena sesama susu saling mendinginkan kata Neng Ita. Hihi. Blue Icenya juga beli yang kecil-kecil aja biar bisa disempil-sempil. Tapi belum beli karena belum jalan-jalan ke Ace dan ga tau harus milih merk apa. 

Sterilizer dan Bottle Warmer

Ini emak-emak kantor berbeda pendapat dengan Neng Ita. Kalau menurut emak kantor ini must have item. Kata Neng Ita ga perlu karena biar anaknya kuat tahan bakteri. Dan aku setuju... kalau terlalu higienis nanti ga bisa diajak makan cilok atau cuankie mang-mang. Hahahaa. Jadi cukuplah setelah dicuci, dibanjur air hangat, dan disimpan di kulkas.

Bottle warmer ini emak kantor dan Neng Ita berpendapat ga perlu. Cukup direndam air hangat saja. Tapi entah kenapa eike khawatir suhu susunya ga pas. Jadi masih bimbang. Tapi untuk sementara mari kita ganti kedua benda ini dengan termos air panas yang besar.

Apron

Sebenarnya ga perlu-perlu banget.. masih bisa ketutup kerudung. Namun demi menghindari tatapan sinis orang-orang yang kalau lihat emak menyusui itu agak-agak giman, mari kita beli ya. Sekaligus persiapan kalau ruang rapat kepakai eike bisa merah di kubikel.

Yo wes itu aja alat tempur pemerahannya.. semoga membantu dan kalau ada sharing-sharing butuh yang lain/ merk lain mangga ya...Salam perahhhh.... *lalu melipir nyari-nyari buku manajemen ASIP*

Alat Pemerasan

27 June 2013 capcai bakar

Udah pernah cerita kan kalau saya bingung soal peralatan yang harus disediakan untuk perah-memerah ASI. Untunglah kenalan di dunia blog sama Neng Ita, maminya Khayangan yang sedang berjibaku jadi pejuang ASIP dengan kondisi LDR sama anak bayi. Ih.. kog kisahnya akan serupa ya? *Lalu berdoa semoga boleh pindah ke kantor Bandung*

Jadi hasil tanya-tanya ke Neng Ita, berikut resume perlu tidak perlunya peralatan perah memerah.

Breast Pump

Yang pertama dibutuhkan tentunya. Kalau enggak ya mau merah pakai apa? Pakai Bapaknya? *ditoyor* Hasil baca-baca dan tanya-tanya Mbak-mbak kantor kebanyakan merekomendasikan Medela Harmony (manual), Medela mini elektronik (elektrik untuk satu payudara), atau avent (yang manual pun enak karena ga bikin pegal. Yang elektriknya bisa diubah jadi manual juga).

Ntah karena ada apa di bea cukai atau ada baby bomb di Indonesia nyari pompa medela kog ya susah banget. Kosong dimana-mana. Seriously.. dimana-mana. Di online, di offline, di Jakarta, maupun di Bandung.

Maka dari itu saat ibu bos menawarkan pompa avent elektriknya yang belum pernah dipakai, eike langsung setuju. Mau Bu... mau. 

Pelajaran no 1 "Beli peralatan bayi jangan mepet-mepet. Barang kosong ga ada yang tahu"

Botol/ Kantung Penyimpan ASI 

Setelah diperah, ASInya kudu disimpan yes? Saya tadinya memutuskan mau menggunakan Botol Lubby karena wide neck jadi ngebersihinnya gampang trus daya tampungnya 100ml katanya sih pas sama kebutuhan bayi. 

Lalu Neng Ita bilang kalau pakai kantung plastik lebih hemat tempat saat diungsikan dari Jakarta ke Bandung setiap minggunya. Kalau pakai botol cuma bisa bawa 20 botol di cooler box, gitu pakai kantong bisa 40 kantong. Hoho.. betul juga. Apalagi kalau kantongnya digepengkan makin hemat tempat deh. Lalu kantong asi apakah yang direkomendasikan Ita?

Kantong Natur. Kuat, ga gampang sobek dan terjangkau lah ya.

Selanjutnya saya bingung... hasil perahan 1 dan 2 bisa digabung kah dalam satu plastik? Saat dicairkan, kalau bayinya minum sedikit dicairkannya bagaimana ya? Satu kantong semuanya? Apa dipindahkan ke botol dulu? Aaa aku bingung... Ada rekomendasi buku ASIP yang bisa dibaca?

Botol Susu/ Cup Feeder/ Soft Cup

Pengalaman sama Jendral Kancil, dia bingung puting saat saya kelamaan menyusui langsung. Bingung putingnya itu malah ga mau lagi sama botol dot, maunya langsung dari emaknya. Pas ditinggal kuliah, mau ga mau disulangin pakai sendok kan. Jadi pas emaknya pulang, lihat anak gembil lemas-lemas ganteng yang susunya beleber dimana-mana karena ga mau ditelan. Sedih... masih keingat aja ekspresinya. Positifnya, Jendral Kancil ga perlu fase lepas dari botol dot. Jadi, adeknya mau dibiaskan pakai sendok juga. Kali ini semoga mau nelan. 

Tadinya mau coba Medela Soft Cup terus ketemu Botol sendok ASI Nursi Smart yang kapasitasnya 150ml. Meddela kan cuma 80ml. Nursi ini harganya juga lebih murah dari medela, tapi botolnya ga bisa ganti botol lain sedangkan medela bisa. 

Namun lagi-lagi ya.. Medela ini out of stock dimana-mana. Nursi juga sempat ga ada stock saat saya tanya pertama kali. Pas yang kedua.. ya kog ada. yay.. untuk bolak-balik melontarkan pertanyaan yang sama ke toko online. *sungkem ke tokonya*

Terus saya juga dapat cup feeder dari Ibu bos. Hehe... 

Ngomong-ngomong harga botol sendok asi ini lebih mihil ya ketimbang botol dot biasa... *gosok-gosok lembaran undian biar dapat uang undian*

Botol susu dan sikat botol ples sabun cuci datang beriringan. Kabarnya sih Nursi Smart ini ga perlu sikat botol khusus untuk membersihkannya. Kalau sabun cuci, kabarnya sih Sleek oke.


Milk Saver

Di salah satu postingan Neng Ita, dia menceritakan kalau milk saver ini membantu sekali dalam menambah jumlah stok ASIP. Jadi dia dipakai sebagai breast pad agar asi tidak bocor kemana-mana saat beraktivitas maupun saat memompa salah satu dada.

Tanpa tedeng aling-aling saya langsung nanya dia pakai milk saver apa. Katanya Medela Milk Collection Shells

Dan tentu saja barangnya out of stock ya. Pyuh.. Ada sih alternatifnya Avent Breast Shells  lebih murah 10ribu tapi cuma bisa dipakai selama 40 menit saja. Alternatif lain Milkies Milk Saver cuma harganya jauh lebih mahal dan cuma dapat satu biji ga sepasang seperti Avent maupun Medela. 

Maka mari kita bolak-balik nanya ke OLS sampai dibilang barangnya ada. *senyum cantik ke OLS*

Cooler Bag dan Blue Ice

Neng Ita dan mbak-mbak kantor menyarankan pakai cooler box yang beli di Ace Hardware saja. Yang daya tahannya 4 jam cukup, karena sesama susu saling mendinginkan kata Neng Ita. Hihi. Blue Icenya juga beli yang kecil-kecil aja biar bisa disempil-sempil. Tapi belum beli karena belum jalan-jalan ke Ace dan ga tau harus milih merk apa. 

Sterilizer dan Bottle Warmer

Ini emak-emak kantor berbeda pendapat dengan Neng Ita. Kalau menurut emak kantor ini must have item. Kata Neng Ita ga perlu karena biar anaknya kuat tahan bakteri. Dan aku setuju... kalau terlalu higienis nanti ga bisa diajak makan cilok atau cuankie mang-mang. Hahahaa. Jadi cukuplah setelah dicuci, dibanjur air hangat, dan disimpan di kulkas.

Bottle warmer ini emak kantor dan Neng Ita berpendapat ga perlu. Cukup direndam air hangat saja. Tapi entah kenapa eike khawatir suhu susunya ga pas. Jadi masih bimbang. Tapi untuk sementara mari kita ganti kedua benda ini dengan termos air panas yang besar.

Apron

Sebenarnya ga perlu-perlu banget.. masih bisa ketutup kerudung. Namun demi menghindari tatapan sinis orang-orang yang kalau lihat emak menyusui itu agak-agak giman, mari kita beli ya. Sekaligus persiapan kalau ruang rapat kepakai eike bisa merah di kubikel.

Yo wes itu aja alat tempur pemerahannya.. semoga membantu dan kalau ada sharing-sharing butuh yang lain/ merk lain mangga ya...Salam perahhhh.... *lalu melipir nyari-nyari buku manajemen ASIP*
Hari kerja di Bulan Juni tinggal beberapa hari lagi dan surat cuti saya waktu itu belum ada kabarnya. Yuk.. jadi ingin mental-mental ke bulan ga sih?

Jadi ngurus surat cuti ini ga boleh jauh-jauh bulan sebelumnya, maka saya ngurus administrasinya di awal bulan ini, asumsinya sih ga kejauhan ga kedekatan. Tapi ternyata surat keterangan dari dokternya salah. Bukannya mencontreng pilihan cuti hamil dari tanggal sekian sampai sekian  malah mencontreng pilihan izin sakit selama 3 bulan. Terus cuma diparaf aja.. ga ada stempel-stempel. Yuk.. ga keterima lah sama SDMnya.. dan saya baru tahu hari ini (akhir bulan) saat menyerahkan surat kedua yang sudah benar... Si saya santai-santai menyerahkan surat bercap karena katanya gak apa-apa disusulkan. Ternyata apapun yang "Katanya" itu coba jangan diimanin Cai... *toyor kepala sendiri*

Sebenarnya kantor ini baru saja meluncurkan aplikasi pengurusan cuti mandiri. Namun masih versi Beta kayaknya. Error melulu. Bahkan untuk mengirim tiket (laporan kalau ada yang error) juga error. Yasallam.

Namun ya.. namanya rejeki.. si surat cuti beres aja gitu dalam sehari. Hoho.... Makasih ya bapak-bapak dan Ibu-ibu yang sudah membantu.
__________


Selanjutnya mari cerita soal perjalanan saya memperoleh surat keterangan cuti bersalin kemarin..Dengan asas mau memanfaatkan askes PNS semaksimal mungkin, saya tadinya memutuskan mau melahirkan di Hasan Sadikin saja. Biar gratis. Karena itu sejak bulan lalu saya pindah dokter ke dokter Anita. Beliau praktek di Hermina dan Hasan Sadikin.

Nah, karena surat dari Dr. Anita ini ditolak SDM saya bermaksud berkunjung kembali ke beliau. Sayangnya hari senin beliau ga praktek di Hermina. Ya sudah, ke Hasan Sadikin saja sekalian cek lokasi. Sampai di RSHS jam 3 siang lewat banyak.. dimana poliklinik kandungan cuma melayani sampai jam 3. Yasallam.

Sayang bensin kalau langsung pulang, kami memutuskan main ke tempat bersalinnya. Lihat-lihat. Kesasar. Keliling-keliling. Mampir di kantor Askes, nanya-nanya, dan dilayani ramah sama Pak Bowo. Jadi RSHS ini pintu masuknya banyak, bisa dari mana saja. Penunjuk jalannya membingungkan. Gedungnya tersebar dimana-mana. Dannnn jauh-jauh jalannya. Jadilah kita keliling kesana kemari buat menemukan ruang bersalin.

Setelah dapat..... kita main masuk aja dong dengan tampang pede. Ga ditanya satpam ga ditanya perawat. Tapi nyalinya masih cemen buat pura-pura mengunjungi pasien biar bisa lihat kamar dengan jelas. Jadi balik lagi ke meja depan dan nanya perawat.

Jatah saya itu kelas I, dimana sekamarnya bertiga dan dapat kipas angin. Ehm. Ya sudahlah.. kamar ga masalah. kan paling lama sehari dua hari ini.. tahan lah. Soal rooming in (bayi dan ibu dalam satu kamar), RSHS memperbolehkan asal persalinan normal. Tapi  baca-baca di mana gitu, ada biaya tambahan untuk rooming in. Kalau IMD, perawatnya mengakui itu bukan IMD.. cuma ditempelkan saja.

Puas nanya-nanya, kita pulang. Terus sepanjang jalan bercanda-canda gitu... Nanti pas melahirkan jangan-jangan saya diantar oleh perawat hantu ke kamar jenazah dan ga ngeh karena ga hapal jalan. Maafkan candaan orang-orang yang kebanyakan baca memetwit atau majalah misteri ini ya.

 Karena misi belum tercapai, saya dan suami melipir ke Santosa, dengan alasan RS ini menerima askes juga.

Nungguin Dr. Robert yang sedang operasi sampai kelaparan. Jajan-jajan di kantin sampai diusir mbaknya karena udah mau tutup. Gitu dapat panggilan, suami saya senang bahagia karena dokternya seru. Enak diajak ngobrol, becanda, dan banyak ngasih masukan. Padahal beliau abis operasi ya.. masak ga capek. Kalau Dr. Seno kalem gimana gitu.. ini dokternya rame. Jadi bikin hepi.

Cuma ya.. Bapak dokter sepertinya senang saja operasi.. asumsi eike ya.. abis pas tau usia kehamilan eike, responnya "Ohh.. berarti tanggal sekian udah boleh melahirkan" Boleh?? ya melahirkan sih nunggu anaknya mau keluar aja kali dok. Kapan aja. Terus pas lihat hasil USG yang menampakkan adek bayi kelilit tali pusar di leher, beliau bilang "Kalau ga ada apa-apa ya ga masalah, tapi kalau ketat ya harus diambil tindakan". Iya.. hasil USG di Santosa ini lebih bagus dari Hermina. 2D tapi itu pipi dan bibir bayinya keliatan jelas. Lilitan tali pusarnya juga keliatan jelas. Dan biaya konsultasinya lebih murah dari hermina. 100ribu ples 15 ribu untuk cetak USG.

Ya mungkin hanya perasaan eike saja ya.. atau ini dokternya yang tanpa tedeng aling-aling. Waktu menyampaikan di otak adek bayi ada cairan dia juga langsung aja, kagak basa-basi. Nadanya sama seperti menyampaikan jenis kelamin anak. Padahal hati emaknya udah mejet-mejet. *elus-elus dada*

Namun overall senang sih sama layanan Santosa. Kalau pakai askes saya dapatnya kelas II. Selisih harganya yang ga tau berapa karena bagian tarif sudah pulang.

Cuma kalau melahirkan di RSHS atau Santosa sepertinya kejauhan dari rumah. Kasihan nanti kalau harus ada yang bolak-balik.

Jadi mau melahirkan dimana kita suami???? Kalau di yang non-askes, biayanya cuma diganti 400ribu dong. Bidan aja ga dapat 400ribu sekarang. Hiks.. niatan mengalihkan budget bersalin ke biaya pijat-pijat mulai terlihat tanda-tanda kegagalannya.....

*lalu ditoyor Mamah Dedeh karena niatannya sudah jelek* Tapi aku butuh pijat Mah.. butuhhhh.

Bersalin dimana?


Hari kerja di Bulan Juni tinggal beberapa hari lagi dan surat cuti saya waktu itu belum ada kabarnya. Yuk.. jadi ingin mental-mental ke bulan ga sih?

Jadi ngurus surat cuti ini ga boleh jauh-jauh bulan sebelumnya, maka saya ngurus administrasinya di awal bulan ini, asumsinya sih ga kejauhan ga kedekatan. Tapi ternyata surat keterangan dari dokternya salah. Bukannya mencontreng pilihan cuti hamil dari tanggal sekian sampai sekian  malah mencontreng pilihan izin sakit selama 3 bulan. Terus cuma diparaf aja.. ga ada stempel-stempel. Yuk.. ga keterima lah sama SDMnya.. dan saya baru tahu hari ini (akhir bulan) saat menyerahkan surat kedua yang sudah benar... Si saya santai-santai menyerahkan surat bercap karena katanya gak apa-apa disusulkan. Ternyata apapun yang "Katanya" itu coba jangan diimanin Cai... *toyor kepala sendiri*

Sebenarnya kantor ini baru saja meluncurkan aplikasi pengurusan cuti mandiri. Namun masih versi Beta kayaknya. Error melulu. Bahkan untuk mengirim tiket (laporan kalau ada yang error) juga error. Yasallam.

Namun ya.. namanya rejeki.. si surat cuti beres aja gitu dalam sehari. Hoho.... Makasih ya bapak-bapak dan Ibu-ibu yang sudah membantu.
__________


Selanjutnya mari cerita soal perjalanan saya memperoleh surat keterangan cuti bersalin kemarin..Dengan asas mau memanfaatkan askes PNS semaksimal mungkin, saya tadinya memutuskan mau melahirkan di Hasan Sadikin saja. Biar gratis. Karena itu sejak bulan lalu saya pindah dokter ke dokter Anita. Beliau praktek di Hermina dan Hasan Sadikin.

Nah, karena surat dari Dr. Anita ini ditolak SDM saya bermaksud berkunjung kembali ke beliau. Sayangnya hari senin beliau ga praktek di Hermina. Ya sudah, ke Hasan Sadikin saja sekalian cek lokasi. Sampai di RSHS jam 3 siang lewat banyak.. dimana poliklinik kandungan cuma melayani sampai jam 3. Yasallam.

Sayang bensin kalau langsung pulang, kami memutuskan main ke tempat bersalinnya. Lihat-lihat. Kesasar. Keliling-keliling. Mampir di kantor Askes, nanya-nanya, dan dilayani ramah sama Pak Bowo. Jadi RSHS ini pintu masuknya banyak, bisa dari mana saja. Penunjuk jalannya membingungkan. Gedungnya tersebar dimana-mana. Dannnn jauh-jauh jalannya. Jadilah kita keliling kesana kemari buat menemukan ruang bersalin.

Setelah dapat..... kita main masuk aja dong dengan tampang pede. Ga ditanya satpam ga ditanya perawat. Tapi nyalinya masih cemen buat pura-pura mengunjungi pasien biar bisa lihat kamar dengan jelas. Jadi balik lagi ke meja depan dan nanya perawat.

Jatah saya itu kelas I, dimana sekamarnya bertiga dan dapat kipas angin. Ehm. Ya sudahlah.. kamar ga masalah. kan paling lama sehari dua hari ini.. tahan lah. Soal rooming in (bayi dan ibu dalam satu kamar), RSHS memperbolehkan asal persalinan normal. Tapi  baca-baca di mana gitu, ada biaya tambahan untuk rooming in. Kalau IMD, perawatnya mengakui itu bukan IMD.. cuma ditempelkan saja.

Puas nanya-nanya, kita pulang. Terus sepanjang jalan bercanda-canda gitu... Nanti pas melahirkan jangan-jangan saya diantar oleh perawat hantu ke kamar jenazah dan ga ngeh karena ga hapal jalan. Maafkan candaan orang-orang yang kebanyakan baca memetwit atau majalah misteri ini ya.

 Karena misi belum tercapai, saya dan suami melipir ke Santosa, dengan alasan RS ini menerima askes juga.

Nungguin Dr. Robert yang sedang operasi sampai kelaparan. Jajan-jajan di kantin sampai diusir mbaknya karena udah mau tutup. Gitu dapat panggilan, suami saya senang bahagia karena dokternya seru. Enak diajak ngobrol, becanda, dan banyak ngasih masukan. Padahal beliau abis operasi ya.. masak ga capek. Kalau Dr. Seno kalem gimana gitu.. ini dokternya rame. Jadi bikin hepi.

Cuma ya.. Bapak dokter sepertinya senang saja operasi.. asumsi eike ya.. abis pas tau usia kehamilan eike, responnya "Ohh.. berarti tanggal sekian udah boleh melahirkan" Boleh?? ya melahirkan sih nunggu anaknya mau keluar aja kali dok. Kapan aja. Terus pas lihat hasil USG yang menampakkan adek bayi kelilit tali pusar di leher, beliau bilang "Kalau ga ada apa-apa ya ga masalah, tapi kalau ketat ya harus diambil tindakan". Iya.. hasil USG di Santosa ini lebih bagus dari Hermina. 2D tapi itu pipi dan bibir bayinya keliatan jelas. Lilitan tali pusarnya juga keliatan jelas. Dan biaya konsultasinya lebih murah dari hermina. 100ribu ples 15 ribu untuk cetak USG.

Ya mungkin hanya perasaan eike saja ya.. atau ini dokternya yang tanpa tedeng aling-aling. Waktu menyampaikan di otak adek bayi ada cairan dia juga langsung aja, kagak basa-basi. Nadanya sama seperti menyampaikan jenis kelamin anak. Padahal hati emaknya udah mejet-mejet. *elus-elus dada*

Namun overall senang sih sama layanan Santosa. Kalau pakai askes saya dapatnya kelas II. Selisih harganya yang ga tau berapa karena bagian tarif sudah pulang.

Cuma kalau melahirkan di RSHS atau Santosa sepertinya kejauhan dari rumah. Kasihan nanti kalau harus ada yang bolak-balik.

Jadi mau melahirkan dimana kita suami???? Kalau di yang non-askes, biayanya cuma diganti 400ribu dong. Bidan aja ga dapat 400ribu sekarang. Hiks.. niatan mengalihkan budget bersalin ke biaya pijat-pijat mulai terlihat tanda-tanda kegagalannya.....

*lalu ditoyor Mamah Dedeh karena niatannya sudah jelek* Tapi aku butuh pijat Mah.. butuhhhh.

15 June 2013

Pertengahan Juni. Akhir Juni ini sudah cuti melahirkan.. artinya paling lama akhir Juli adek bayi insyaallah datang. Lalu... apa yang sudah disiapin Mak? Rrrrr... list barang-barang yang dibutuhkan sih sudah hampir siap. Iyeee otak kiri sejati, sebelum belanja aja harus bikin daftar yang rapi dan sempurna. Sempurna dalam arti sudah tercantum harga hasil survei, jumlah yang diperlukan, dan tempat berbelanjanya. Yang belum kelar sih tinggal daftar barang-barang yang dibutuhkan untuk keperluan menyusui. Bingung... dulu waktu Jendral Kancil kan ga pakai perah-perah.

Eh tapi ada sih yang sudah dimiliki.... yaitu BRA MENYUSUI.. hahaha... ini gegara mbak-mbak kantor ada yang jualan bra menyusui merek Lady Secret yang lebih unyu daripada merk wacoal dan dengan harga yang jauuuuuuh lebih murce. Kalau di wacoal sebiji bra menyusui dibandrol 140rb-170rb di mbak ini, bra menyusuinya hanya 75ribu saja. Bungkus semuanya mbak.. bungkussss. Hahaha.



Trus apalagi ya? Cuma itu doang sih.. sisanya aku masih terombang-ambing antara godaan ngisi rumah atau berbelanja barang-barang adek bayi, padahal pos yang bisa dipenuhi cuma salah satunya.

Iya.. sekarang Tuan Suami lagi rajin-rajinnya berbenah rumah, setelah sebelumnya kerajingan berbenah taman. Yang tadinya cuma mau bikin dapur, jadi berlanjut ngeberesin carport, listrik-listrik, kamar mandi, dan kog bisa-bisanya jadi berujung ngecat seluruh rumah???! Cuma finishing sih.. tapi ya.. gede juga. *bakar lilin*

Kalau kerjaan kantor maunya sih menahan diri, karena sempat beberapa kali kepala pusing lagi, daripada tekanan darah eike naik karena stress mikirin kerjaan, sekarang ya dibawa santai. Tapi tetap setiap harus nyinden, hati deg-degan terus cemas. Jadi ya sampai akhir Juni masih full mau ina-itu di kantor.

Lagian kata bu dokter badan pegal-pegal ini karena kurang olahraga.. jadi suami yang sudah kadung malu karena menuduh eike kurang kalsium sekarang suka memecut suruh bergerak setiap aku pegal-pegal, daripada pijat-pijat mesra. Jadi mari kita sibuk kerja, sibuk bebenah rumah, dan nanti sibuk belanja.

Juni, lately.

15 June 2013 capcai bakar

Pertengahan Juni. Akhir Juni ini sudah cuti melahirkan.. artinya paling lama akhir Juli adek bayi insyaallah datang. Lalu... apa yang sudah disiapin Mak? Rrrrr... list barang-barang yang dibutuhkan sih sudah hampir siap. Iyeee otak kiri sejati, sebelum belanja aja harus bikin daftar yang rapi dan sempurna. Sempurna dalam arti sudah tercantum harga hasil survei, jumlah yang diperlukan, dan tempat berbelanjanya. Yang belum kelar sih tinggal daftar barang-barang yang dibutuhkan untuk keperluan menyusui. Bingung... dulu waktu Jendral Kancil kan ga pakai perah-perah.

Eh tapi ada sih yang sudah dimiliki.... yaitu BRA MENYUSUI.. hahaha... ini gegara mbak-mbak kantor ada yang jualan bra menyusui merek Lady Secret yang lebih unyu daripada merk wacoal dan dengan harga yang jauuuuuuh lebih murce. Kalau di wacoal sebiji bra menyusui dibandrol 140rb-170rb di mbak ini, bra menyusuinya hanya 75ribu saja. Bungkus semuanya mbak.. bungkussss. Hahaha.



Trus apalagi ya? Cuma itu doang sih.. sisanya aku masih terombang-ambing antara godaan ngisi rumah atau berbelanja barang-barang adek bayi, padahal pos yang bisa dipenuhi cuma salah satunya.

Iya.. sekarang Tuan Suami lagi rajin-rajinnya berbenah rumah, setelah sebelumnya kerajingan berbenah taman. Yang tadinya cuma mau bikin dapur, jadi berlanjut ngeberesin carport, listrik-listrik, kamar mandi, dan kog bisa-bisanya jadi berujung ngecat seluruh rumah???! Cuma finishing sih.. tapi ya.. gede juga. *bakar lilin*

Kalau kerjaan kantor maunya sih menahan diri, karena sempat beberapa kali kepala pusing lagi, daripada tekanan darah eike naik karena stress mikirin kerjaan, sekarang ya dibawa santai. Tapi tetap setiap harus nyinden, hati deg-degan terus cemas. Jadi ya sampai akhir Juni masih full mau ina-itu di kantor.

Lagian kata bu dokter badan pegal-pegal ini karena kurang olahraga.. jadi suami yang sudah kadung malu karena menuduh eike kurang kalsium sekarang suka memecut suruh bergerak setiap aku pegal-pegal, daripada pijat-pijat mesra. Jadi mari kita sibuk kerja, sibuk bebenah rumah, dan nanti sibuk belanja.