SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

17 July 2013

Another postingan soal bunting-bunting. Yang bosen (apalagi kalau anaknya sudah 10 orang sih ya) silahkan diskip-skip. Kali ini ngobrolin soal dokter kandungan. Tadinyaaaa.... saya berencana akan setia sama satu dokter. Satu aja.. biar kami saling mengenal lebih dalam sehingga kerjasama saat proses bersalin nanti lebih cihui. 

Tapi manusia boleh berencana, askes juga yang menentukan. 

Dokter pertama saya adalah Dokter Seno di Hermina. Dokternya baik, sabar menjawab berbagai pertanyaan, sabar menjelaskan, ganteng, dan masih muda. Ini rekomendasi dokter atau jodoh sih. Secara keseluruhan kami puas. Namun karena dokternya tidak mengijinkan saya terbang di trimester awal, kami mencari second opinion. Selingkuh sekejab. *cium tangan dokternya..ga dilepas-lepas*

Dokter kedua adalah Dokter Ani di Hermina juga. Demi mencari surat keterangan boleh terbang. Tapi ya ga boleh juga. Hahaha. Karena lebih senang dengan dokter Seno saya balik lagi periksa ke beliau.

Terus karena lahiran di Hermina tidak dicover Askes, saya mulai mencari dokter Hermina yang praktek juga di RS yang menerima askes (RS Hasan Sadikin). Sampailah saya ke dokter ketiga, Dokter Anita. Dokternya ramah. Kita sudah ga banyak nanya sih.. karena sudah puas nanya-nanya ke Dokter Seno pada kontrol-kontrol sebelumnya. Sepertinya kalau banyak nanya bakalan dijawab, tapi kalau ga nanya ya ga ada ngobrol-ngobrol panjang lebar. 

Lalu berhubung surat keterangan cuti hamil yang dikeluarkan Dokter Anita ditolak SDM (gegara ga ada cap-nya jadi dicurigai palsu.. SDM ini ya.. aku kan jujur gini orangnya) saya melipir ke Santosa mencari dokter yang masih praktek malam hari demi selembar surat keterangan.

Ketemulah dengan Dokter Robert. Dan.. dokter ini lebih asyik ngobrolnya daripada dokter Seno. Kalau Dokter Seno tipe-tipe yang kalem ganteng serius gitu, Dokter Robert tipe yang banyak becanda ganteng dan matang. Lagi-lagi ini rekomendasi dokter atau jodoh sih? Suami Programmer langsung jatuh cinta karena dokternya enak diajak ngobrol (padahal itu udah malam dan beliau abis operasi.. moodnya ga bubar sama sekali ya) dan tambah jatuh cinta melihat kecanggihan alat USGnya. Dua dimensi tapi gambarnya jelas banget (bye tebak-tebak buah manggis lihat hasil USG yang abstrak itu). Sangking jelasnya bisa lihat tali pusar dari thermalnya, bisa lihat cairan di otak, dan mendengar denyut jantung.

Okeh lah, sejak saat itu kita pindah periksa ke Santosa karena.. RS Santosa ini lebih enak. Suami Programmer dan Jendral Kancil kan high class gitu standarnya. Di Santosa sofanya lebih cihui jadi kalau nunggu lebih enak, bisa tiduran karena jumlah kursinya banyak. Dokternya tepat waktu, makanan kantinnya enak, dan playgroundnya komplit. Kalau diajak ke Hermina, Jendral Kancil ga pernah mau, kalaupun mau selalu nanya kapan pulang. Pas di Santosa dia malah minta ke dokter anak. Bapaknya juga.. yang biasanya cemberut-cemberut setiap nunggu di Hermina, gitu di santosa berseri-seri. Ih.... malu aku.

Di Santosa kita juga ga setia sama satu dokter sih.. (mana janjinya yang mau setia itu.. mana) saya gonta-ganti antara Dokter Robert atau Dokter Indri. Yang mana aja yang ada. Tadinya saya kira peralatan Dokter Robert sudah standar Santosa, ternyata gak.. di Dokter Indri peralatannya ya biasa aja. Dokter Indri ini komunikatif, meski tau ini kehamilan kedua saya, beliau tetap banyak ngasih info tanpa diminta. Catet ya.. tanpa diminta. Dari beliau saya jadi tahu kalau dalam 10 jam janin cuma bergerak 10 kali bahkan kurang, saya harus buru-buru ke rumah sakit. dan ternyata 1 gerakan janin itu bisa 1 sundulan saja atau 1 rangkaian sundulan. Jadi kalau disundul berkali-kali karena anaknya ngulet ya tetap dihitung satu gerakan.

Jadi beliau ini tipe yang lebih yakin tentang kesejahteraan janin dengan cara membandingkan denyut jantung bayi dengan gerakannya. Jadi setiap pemeriksaan akan diakhiri dengan cardiotocography selama 20 menit. Saya akan dipasangi alat yang merekam denyut jantung janin dan dibekali alat lain yang harus ditekan kalau ada gerakan janin. Jika 10 menit awal ga ada gerakan, saya harus makan dulu dan mengulang prosesnya setelah selesai makan. 

Saat kontrol terakhir, saya sedang puasa dan belum ada gerakan bayi setelah 10 menit. Oleh susternya saya diminta berbuka, minum teh manis hangat dan makan baru kembali. Tadinya denyut jantung bayinya ga begitu bagus (saya kira cukuplah kalau berdenyut saja) karena grafiknya kecil, tapi begitu makan dan miring ke kiri denyutnya lebih bagus dan gerakannya juga muncul. Minimal ada 4 gerakan selama 20 menit dengan grafik jantung yang bagus. Jadi sama Dokter Indri saya ga boleh puasa dulu, soalnya butuh kalori untuk persalinan. Ya.. secara berat badan saya turun 3 kg dan tekanan darah juga turun.. ditambah denyut janin ga cihui. 

Iya sih.. berasa, biasanya gitu diminumin teh hangat, adik bayinya nyundul-nyundul. Puasa ini udah diminumin teh manis panas dua gelas besar, masih ga nyundul-nyundul. Dibawa rebahan juga perlu waktu lamaaaa baru ada gerakan. itupun sundulan lemas-lemas gitu. Emaknya juga nyapu dapur langsung berasa ruangan muter. Yo wes ga usah dipaksa. 

*Saran Dokter Indri untuk memancing janin bergerak adalah minum teh manis hangat, miring ke kiri, dengarin musik, dan ajak ngobrol.

Lalu apakah petualang mencari dokter kandungan kami sudah berakhir sodara-sodara? Tentu Tidak.. dokter kandungannya sih berhenti. Kaminya melipir ke Bidan dekat rumah. Sekalian lihat kamar. Saya sempat periksa ke bidan di Rumah Bersalin Fatimah. Metode pemeriksaannya tanpa USG, jadi perut saya diraba-raba untuk cari posisi bayinya dan diukur pakai meteran. Denyut jantungnya juga didengar.

Terus kalau soal harga gimana? Bidan paling murah (ya iyalah) dan Hermina paling mahal. Iyes... Santosa lebih murah daripada Hermina.

Jadi 4 Dokter dan 1 Bidan. Apakah jumlah ini akan bertambah? Gak tauuuu. Kita lihat nanti ya.

Rekap Dokter Kandungan

17 July 2013 capcai bakar

Another postingan soal bunting-bunting. Yang bosen (apalagi kalau anaknya sudah 10 orang sih ya) silahkan diskip-skip. Kali ini ngobrolin soal dokter kandungan. Tadinyaaaa.... saya berencana akan setia sama satu dokter. Satu aja.. biar kami saling mengenal lebih dalam sehingga kerjasama saat proses bersalin nanti lebih cihui. 

Tapi manusia boleh berencana, askes juga yang menentukan. 

Dokter pertama saya adalah Dokter Seno di Hermina. Dokternya baik, sabar menjawab berbagai pertanyaan, sabar menjelaskan, ganteng, dan masih muda. Ini rekomendasi dokter atau jodoh sih. Secara keseluruhan kami puas. Namun karena dokternya tidak mengijinkan saya terbang di trimester awal, kami mencari second opinion. Selingkuh sekejab. *cium tangan dokternya..ga dilepas-lepas*

Dokter kedua adalah Dokter Ani di Hermina juga. Demi mencari surat keterangan boleh terbang. Tapi ya ga boleh juga. Hahaha. Karena lebih senang dengan dokter Seno saya balik lagi periksa ke beliau.

Terus karena lahiran di Hermina tidak dicover Askes, saya mulai mencari dokter Hermina yang praktek juga di RS yang menerima askes (RS Hasan Sadikin). Sampailah saya ke dokter ketiga, Dokter Anita. Dokternya ramah. Kita sudah ga banyak nanya sih.. karena sudah puas nanya-nanya ke Dokter Seno pada kontrol-kontrol sebelumnya. Sepertinya kalau banyak nanya bakalan dijawab, tapi kalau ga nanya ya ga ada ngobrol-ngobrol panjang lebar. 

Lalu berhubung surat keterangan cuti hamil yang dikeluarkan Dokter Anita ditolak SDM (gegara ga ada cap-nya jadi dicurigai palsu.. SDM ini ya.. aku kan jujur gini orangnya) saya melipir ke Santosa mencari dokter yang masih praktek malam hari demi selembar surat keterangan.

Ketemulah dengan Dokter Robert. Dan.. dokter ini lebih asyik ngobrolnya daripada dokter Seno. Kalau Dokter Seno tipe-tipe yang kalem ganteng serius gitu, Dokter Robert tipe yang banyak becanda ganteng dan matang. Lagi-lagi ini rekomendasi dokter atau jodoh sih? Suami Programmer langsung jatuh cinta karena dokternya enak diajak ngobrol (padahal itu udah malam dan beliau abis operasi.. moodnya ga bubar sama sekali ya) dan tambah jatuh cinta melihat kecanggihan alat USGnya. Dua dimensi tapi gambarnya jelas banget (bye tebak-tebak buah manggis lihat hasil USG yang abstrak itu). Sangking jelasnya bisa lihat tali pusar dari thermalnya, bisa lihat cairan di otak, dan mendengar denyut jantung.

Okeh lah, sejak saat itu kita pindah periksa ke Santosa karena.. RS Santosa ini lebih enak. Suami Programmer dan Jendral Kancil kan high class gitu standarnya. Di Santosa sofanya lebih cihui jadi kalau nunggu lebih enak, bisa tiduran karena jumlah kursinya banyak. Dokternya tepat waktu, makanan kantinnya enak, dan playgroundnya komplit. Kalau diajak ke Hermina, Jendral Kancil ga pernah mau, kalaupun mau selalu nanya kapan pulang. Pas di Santosa dia malah minta ke dokter anak. Bapaknya juga.. yang biasanya cemberut-cemberut setiap nunggu di Hermina, gitu di santosa berseri-seri. Ih.... malu aku.

Di Santosa kita juga ga setia sama satu dokter sih.. (mana janjinya yang mau setia itu.. mana) saya gonta-ganti antara Dokter Robert atau Dokter Indri. Yang mana aja yang ada. Tadinya saya kira peralatan Dokter Robert sudah standar Santosa, ternyata gak.. di Dokter Indri peralatannya ya biasa aja. Dokter Indri ini komunikatif, meski tau ini kehamilan kedua saya, beliau tetap banyak ngasih info tanpa diminta. Catet ya.. tanpa diminta. Dari beliau saya jadi tahu kalau dalam 10 jam janin cuma bergerak 10 kali bahkan kurang, saya harus buru-buru ke rumah sakit. dan ternyata 1 gerakan janin itu bisa 1 sundulan saja atau 1 rangkaian sundulan. Jadi kalau disundul berkali-kali karena anaknya ngulet ya tetap dihitung satu gerakan.

Jadi beliau ini tipe yang lebih yakin tentang kesejahteraan janin dengan cara membandingkan denyut jantung bayi dengan gerakannya. Jadi setiap pemeriksaan akan diakhiri dengan cardiotocography selama 20 menit. Saya akan dipasangi alat yang merekam denyut jantung janin dan dibekali alat lain yang harus ditekan kalau ada gerakan janin. Jika 10 menit awal ga ada gerakan, saya harus makan dulu dan mengulang prosesnya setelah selesai makan. 

Saat kontrol terakhir, saya sedang puasa dan belum ada gerakan bayi setelah 10 menit. Oleh susternya saya diminta berbuka, minum teh manis hangat dan makan baru kembali. Tadinya denyut jantung bayinya ga begitu bagus (saya kira cukuplah kalau berdenyut saja) karena grafiknya kecil, tapi begitu makan dan miring ke kiri denyutnya lebih bagus dan gerakannya juga muncul. Minimal ada 4 gerakan selama 20 menit dengan grafik jantung yang bagus. Jadi sama Dokter Indri saya ga boleh puasa dulu, soalnya butuh kalori untuk persalinan. Ya.. secara berat badan saya turun 3 kg dan tekanan darah juga turun.. ditambah denyut janin ga cihui. 

Iya sih.. berasa, biasanya gitu diminumin teh hangat, adik bayinya nyundul-nyundul. Puasa ini udah diminumin teh manis panas dua gelas besar, masih ga nyundul-nyundul. Dibawa rebahan juga perlu waktu lamaaaa baru ada gerakan. itupun sundulan lemas-lemas gitu. Emaknya juga nyapu dapur langsung berasa ruangan muter. Yo wes ga usah dipaksa. 

*Saran Dokter Indri untuk memancing janin bergerak adalah minum teh manis hangat, miring ke kiri, dengarin musik, dan ajak ngobrol.

Lalu apakah petualang mencari dokter kandungan kami sudah berakhir sodara-sodara? Tentu Tidak.. dokter kandungannya sih berhenti. Kaminya melipir ke Bidan dekat rumah. Sekalian lihat kamar. Saya sempat periksa ke bidan di Rumah Bersalin Fatimah. Metode pemeriksaannya tanpa USG, jadi perut saya diraba-raba untuk cari posisi bayinya dan diukur pakai meteran. Denyut jantungnya juga didengar.

Terus kalau soal harga gimana? Bidan paling murah (ya iyalah) dan Hermina paling mahal. Iyes... Santosa lebih murah daripada Hermina.

Jadi 4 Dokter dan 1 Bidan. Apakah jumlah ini akan bertambah? Gak tauuuu. Kita lihat nanti ya.

16 July 2013

Aqua
Pernah liat air minum dalam kemasan gelas kan? 240 ml dijual dengan harga 500 rupiah segelasnya. Kalau yang dalam kemasan botol sedang, 600 ml, sering lihat kan? Harga jualnya bervariasi sih biasanya mulai dari 2000 rupiah sampai 3000 di tukang jualan pinggir jalan. Kalau di hadapan kita ada dua buah produk ini, biasanya pada milih yang mana sih?

Saya sih akan memilih kemasan botol. Lebih puas. Minumnya glek-glek-glek. Langsung banyak. Padahal ya kalau saya membeli 4 gelas saya mendapatkan 360ml lebih banyak daripada  kemasan botol seharga 2000 tadi. Iya kan? Iya. 

Untuk mendapatkan 600ml (lebih) saya cukup membeli 3 gelas saja seharga 1500 rupiah gitu loh.. tapi saya ga mau. Minum kemasan gelas itu ga meredakan haus saya, minum yang kemasan botol akan meredakan haus saya. Nyisa bahkan. 

Terus dibawa mikir, ini artinya apa ya? Iya dong.. harus dibawa mikir.. biar segala sesuatu ada hikmahnya.

Mungkin seperti rejeki, kalau datangnya kecil-kecil orang (saya) cenderung tidak puas walaupun sering dan setelah diakumulasikan ternyata jauh lebih banyak daripada rejeki yang sekali datang langsung besar itu.

Mungkin karena saat rejekinya kecil, saya merasa dibatasi. Pemenuhan kebutuhan saya terbatasi. Bisa sih memenuhi sekian dulu.. sekiannya lagi harus nunggu rejeki berikut. Sedangkan saat yang datangnya sekaligus, saya langsung bisa memenuhi seluruh kebutuhan saya. Nyisa malah. Lebih lega karena semua kebutuhan sudah dipenuhi dan punya simpanan kalau tiba-tiba butuh lagi.

Padahal ya.. yang sedikit-sedikit tapi sering itu jauh lebih banyak.. mungkin kalau saya lebih pintar mengaturnya saya akan lebih bersyukur. Mungkin dengan membuka 3 gelas dan menuangkan ke dalam botol kosong saya akan lebih mensyukuri. 

Kalau kamu, tipe rejekinya yang mana?

*ga usah dipikirin terlalu serius, ini hasil kepedasan makan mie ayam saus padang.


Gelas versus Botol

16 July 2013 capcai bakar

Aqua
Pernah liat air minum dalam kemasan gelas kan? 240 ml dijual dengan harga 500 rupiah segelasnya. Kalau yang dalam kemasan botol sedang, 600 ml, sering lihat kan? Harga jualnya bervariasi sih biasanya mulai dari 2000 rupiah sampai 3000 di tukang jualan pinggir jalan. Kalau di hadapan kita ada dua buah produk ini, biasanya pada milih yang mana sih?

Saya sih akan memilih kemasan botol. Lebih puas. Minumnya glek-glek-glek. Langsung banyak. Padahal ya kalau saya membeli 4 gelas saya mendapatkan 360ml lebih banyak daripada  kemasan botol seharga 2000 tadi. Iya kan? Iya. 

Untuk mendapatkan 600ml (lebih) saya cukup membeli 3 gelas saja seharga 1500 rupiah gitu loh.. tapi saya ga mau. Minum kemasan gelas itu ga meredakan haus saya, minum yang kemasan botol akan meredakan haus saya. Nyisa bahkan. 

Terus dibawa mikir, ini artinya apa ya? Iya dong.. harus dibawa mikir.. biar segala sesuatu ada hikmahnya.

Mungkin seperti rejeki, kalau datangnya kecil-kecil orang (saya) cenderung tidak puas walaupun sering dan setelah diakumulasikan ternyata jauh lebih banyak daripada rejeki yang sekali datang langsung besar itu.

Mungkin karena saat rejekinya kecil, saya merasa dibatasi. Pemenuhan kebutuhan saya terbatasi. Bisa sih memenuhi sekian dulu.. sekiannya lagi harus nunggu rejeki berikut. Sedangkan saat yang datangnya sekaligus, saya langsung bisa memenuhi seluruh kebutuhan saya. Nyisa malah. Lebih lega karena semua kebutuhan sudah dipenuhi dan punya simpanan kalau tiba-tiba butuh lagi.

Padahal ya.. yang sedikit-sedikit tapi sering itu jauh lebih banyak.. mungkin kalau saya lebih pintar mengaturnya saya akan lebih bersyukur. Mungkin dengan membuka 3 gelas dan menuangkan ke dalam botol kosong saya akan lebih mensyukuri. 

Kalau kamu, tipe rejekinya yang mana?

*ga usah dipikirin terlalu serius, ini hasil kepedasan makan mie ayam saus padang.


15 July 2013

Sebenarnya kalau rak kulkas pertama kami yang dibeli pakai uang THR suami programmer tidak diambil Mangmang Tukang Pulung, saya masih mikir-mikir mau beli kulkas lagi khusus untuk ASIP. Tapi karena kulkas pertama itu sudah ga ada raknya sama sekali, bahkan rak telurpun hilang, jadi beli kulkas baru ini mulai jadi pertimbangan kita.Selain buat ASIP, kami juga perlu buat menyimpan barang-barang lain dengan layak. :p

Dan seperti biasa kalau saya sudah menekadkan diri untuk belanja maka belanjalah kami. Searching review-review barang yang diinginkan, searching harga, searching tempat yang murah lalu bawa pulang. Ga kayak Suami Programmer yang mau beli tivi ga jadi-jadi, sampai saya ogah diajak jalan ke toko-toko elektronik. Masuk.. liat tivi.. ga milih. Masuk lagi.. lihat lagi.. ga milih lagi. Begitu terus. Istrinya gemes.

Kembali ke kulkas, tadinya saya  mengincar kulkas yang dibahas di Mommiesdaily karena dilengkapi dengan coolpack. Sehingga saat mati lampu (amit-amit) ASIP masih membeku hingga 9 jam. Namun saat berkunjung ke toko elektronik, kog ga jadi naksir ya..

Pertama, karena freezernya kecil. Langsung kepikiran muat apa enggak.. Iya saya optimis ASInya banyak. :p

Kedua. coolpacknya ya cuma segitu aja. Ga di semua tempat. *ditoyor samsung.. siapa yang mau bikin di semua tempat jengggg* Lah kalau cuma segitu aja coolpacknya, ASI yang kena cuma berapa biji sih? Sedikit kan... Asa gak mamfaat. Sepertinya lebih oke kalau pakai beberapa icegel kecil. Lalu bukankan sesama susu akan saling membekukan? :p

Jadi saya melipir-lipir lagi mencari kulkas lain. Kulkas dengan frezer terbesar yang bisa dicapai oleh si budget. Setelah minjam meteran mbak-mbak penjaga tokonya pilihan kita jatuh kepada merek Hitachi dan LG. Ini frezernya gede-gede. Saya sih langsung jatuh hati ke LG, simply karena masuk budget. Hitachi lebih mahal.. dan overbudget. 

Sempat gundah saat petugas tokonya tidak bisa menjawab pertanyaan Suami Programmer tentang suhu minimal yang mampu dicapai si frezer. Jadi harusnya suhu untuk ASIP sekian derajat dibawah 0 kan hasil baca-bacanya si Suami. Nah, di manual book si LG ga ada keterangan suhu frezernya bisa sampai berapa derajat di bawah 0. Petugasnya juga ga tau. Katanya kalau mau tahu suhunya berapa beli yang digital aja.. Ih, Mas.. budgetnya cuma bisa buat analog ini. *dipikirnya jam tangan*

Jadi melipir lagi ke Hitachi yang di depan kulkasnya ada stiker besar bertuliskan "Sampai 0 derajat". Gundah lagi karena over budget. Aku ga mau kalau over budget... meski Mas-mas petugasnya bergantungan di rak kulkas untuk membuktikan Hitachi lebih kuat dari LG. Ga mauuuu... kalau duitnya ga ditambahin. :p

Untunglah kemudian datang teman mas-mas petugas sales itu. Dia lalu menjelaskan kalau susu dijamin bisa beku di LG dan berbagai penjelasan lain yang mententramkan hati eike dan memantapkan dompet untuk membeli si LG saja. Usut punya usut karena banyak yang nanya jadinya dia paham. Ih.. mas kog ga dari tadi aja munculnya biar cepat kelar belanja disininya.

Saya lupa beli LGnya model yang mana. Sebenarnya ada keterangannya di manual book, resi pembelian, maupun di kartu garansinya.. cuma semua printilan itu sudah disimpan di lemari, nanti kalau dibongkar lagi eike jadi beberes rumah yang ga kelar-kelar. Hahaha.. Nanti diupdate lagi infonya pada jadwal beberes lemari selanjutnya ya pemirsah.

Terus kerennya kulkas ini adalah ada alarmnya kalau pintu kulkas ga ditutup (di saya sih kelamaan dibuka karena Jendral Kancil sibuk memandangin cemilan) Bwahaaa..hahahhaha. PUAS. Untuk sementara sebelum ada ASIP nya.. maka biarkanlah Jendral Kancil main-main dengan alarmnya. Hihi.

Update: setelah beres-beres lemari dan dokumen, terkuaklah kalau kulkas yang dibeli itu seri GN-B492GLC.  Ini penampakannya.. gede kan? Murce juga dibandingkan merk lain.


Kulkas Buat ASI P(erah)

15 July 2013 capcai bakar

Sebenarnya kalau rak kulkas pertama kami yang dibeli pakai uang THR suami programmer tidak diambil Mangmang Tukang Pulung, saya masih mikir-mikir mau beli kulkas lagi khusus untuk ASIP. Tapi karena kulkas pertama itu sudah ga ada raknya sama sekali, bahkan rak telurpun hilang, jadi beli kulkas baru ini mulai jadi pertimbangan kita.Selain buat ASIP, kami juga perlu buat menyimpan barang-barang lain dengan layak. :p

Dan seperti biasa kalau saya sudah menekadkan diri untuk belanja maka belanjalah kami. Searching review-review barang yang diinginkan, searching harga, searching tempat yang murah lalu bawa pulang. Ga kayak Suami Programmer yang mau beli tivi ga jadi-jadi, sampai saya ogah diajak jalan ke toko-toko elektronik. Masuk.. liat tivi.. ga milih. Masuk lagi.. lihat lagi.. ga milih lagi. Begitu terus. Istrinya gemes.

Kembali ke kulkas, tadinya saya  mengincar kulkas yang dibahas di Mommiesdaily karena dilengkapi dengan coolpack. Sehingga saat mati lampu (amit-amit) ASIP masih membeku hingga 9 jam. Namun saat berkunjung ke toko elektronik, kog ga jadi naksir ya..

Pertama, karena freezernya kecil. Langsung kepikiran muat apa enggak.. Iya saya optimis ASInya banyak. :p

Kedua. coolpacknya ya cuma segitu aja. Ga di semua tempat. *ditoyor samsung.. siapa yang mau bikin di semua tempat jengggg* Lah kalau cuma segitu aja coolpacknya, ASI yang kena cuma berapa biji sih? Sedikit kan... Asa gak mamfaat. Sepertinya lebih oke kalau pakai beberapa icegel kecil. Lalu bukankan sesama susu akan saling membekukan? :p

Jadi saya melipir-lipir lagi mencari kulkas lain. Kulkas dengan frezer terbesar yang bisa dicapai oleh si budget. Setelah minjam meteran mbak-mbak penjaga tokonya pilihan kita jatuh kepada merek Hitachi dan LG. Ini frezernya gede-gede. Saya sih langsung jatuh hati ke LG, simply karena masuk budget. Hitachi lebih mahal.. dan overbudget. 

Sempat gundah saat petugas tokonya tidak bisa menjawab pertanyaan Suami Programmer tentang suhu minimal yang mampu dicapai si frezer. Jadi harusnya suhu untuk ASIP sekian derajat dibawah 0 kan hasil baca-bacanya si Suami. Nah, di manual book si LG ga ada keterangan suhu frezernya bisa sampai berapa derajat di bawah 0. Petugasnya juga ga tau. Katanya kalau mau tahu suhunya berapa beli yang digital aja.. Ih, Mas.. budgetnya cuma bisa buat analog ini. *dipikirnya jam tangan*

Jadi melipir lagi ke Hitachi yang di depan kulkasnya ada stiker besar bertuliskan "Sampai 0 derajat". Gundah lagi karena over budget. Aku ga mau kalau over budget... meski Mas-mas petugasnya bergantungan di rak kulkas untuk membuktikan Hitachi lebih kuat dari LG. Ga mauuuu... kalau duitnya ga ditambahin. :p

Untunglah kemudian datang teman mas-mas petugas sales itu. Dia lalu menjelaskan kalau susu dijamin bisa beku di LG dan berbagai penjelasan lain yang mententramkan hati eike dan memantapkan dompet untuk membeli si LG saja. Usut punya usut karena banyak yang nanya jadinya dia paham. Ih.. mas kog ga dari tadi aja munculnya biar cepat kelar belanja disininya.

Saya lupa beli LGnya model yang mana. Sebenarnya ada keterangannya di manual book, resi pembelian, maupun di kartu garansinya.. cuma semua printilan itu sudah disimpan di lemari, nanti kalau dibongkar lagi eike jadi beberes rumah yang ga kelar-kelar. Hahaha.. Nanti diupdate lagi infonya pada jadwal beberes lemari selanjutnya ya pemirsah.

Terus kerennya kulkas ini adalah ada alarmnya kalau pintu kulkas ga ditutup (di saya sih kelamaan dibuka karena Jendral Kancil sibuk memandangin cemilan) Bwahaaa..hahahhaha. PUAS. Untuk sementara sebelum ada ASIP nya.. maka biarkanlah Jendral Kancil main-main dengan alarmnya. Hihi.

Update: setelah beres-beres lemari dan dokumen, terkuaklah kalau kulkas yang dibeli itu seri GN-B492GLC.  Ini penampakannya.. gede kan? Murce juga dibandingkan merk lain.


05 July 2013

28 Juni kemarin adalah hari terakhir saya kerja sebelum cuti melahirkan selama tiga bulan. Kerjaan kayaknya sudah beres. Packing yang belum beres. Jangankan beres, dimulai saja belum. Ternyata barang-barang di kostan seumprit gitu banyak jugaaaa. Aku pusing memilahnya. Lalu malas. Lalu menjadikan badan lemas setelah kerja seharian sebagai alasan menunda packing. Hahaha.

Ini tukang pindahan profesionalnya
Untunglah di hari Jumat itu adik-adik saya datang dan mereka menjadi tukang packing. Saya tinggal nunjuk mana yang mau dibawa ke Bandung, mana yang mau dititipkan di tempat kakak, dan mana yang mau dititipkan ke Mas-mas Kostan. Selesai nunjuk-nunjuk, saya balik ke kantor dan meninggalkan urusan packing ke mereka saja.

Dalam sehari semua barang beres dipacking. Adik yang cowok bertugas beli-beli kardus, rafia, dan angkut barang. Yang cewek jadi ahli lipat-lipat. Keprofesionalannya (bahasa apa pula ini) ga perlu diragukan. Sudah teruji, secara tukang pindah-pindah kota menghindari rusuh di Aceh. *puk-puk mereka berdua.. setiap cobaan ada hikmahnya ya Dek* 

Tanpa dikasih makan malam, kedua anak ini pulang sambil membawa sebagian barang ke tempat kakak saya. Sebagian lagi akan diambil kakak keesokan harinya. 

History di komputer sudah dihapus. Barang sudah dipacking. Kerjaan beres. Pamit-pamitan kelar. Cicilan Logam Mulia sudah diserahterimakan *hahaha*. Kerjaan belum diserahterimakan secara kantor kosong. Bye Jakarta.. see you on Oktober. *iyeee permintaan penempatan sementara di kantor Bandung-nya ditolak. Pasang senyum sok ikhlas*

Maternity Leave

05 July 2013 capcai bakar

28 Juni kemarin adalah hari terakhir saya kerja sebelum cuti melahirkan selama tiga bulan. Kerjaan kayaknya sudah beres. Packing yang belum beres. Jangankan beres, dimulai saja belum. Ternyata barang-barang di kostan seumprit gitu banyak jugaaaa. Aku pusing memilahnya. Lalu malas. Lalu menjadikan badan lemas setelah kerja seharian sebagai alasan menunda packing. Hahaha.

Ini tukang pindahan profesionalnya
Untunglah di hari Jumat itu adik-adik saya datang dan mereka menjadi tukang packing. Saya tinggal nunjuk mana yang mau dibawa ke Bandung, mana yang mau dititipkan di tempat kakak, dan mana yang mau dititipkan ke Mas-mas Kostan. Selesai nunjuk-nunjuk, saya balik ke kantor dan meninggalkan urusan packing ke mereka saja.

Dalam sehari semua barang beres dipacking. Adik yang cowok bertugas beli-beli kardus, rafia, dan angkut barang. Yang cewek jadi ahli lipat-lipat. Keprofesionalannya (bahasa apa pula ini) ga perlu diragukan. Sudah teruji, secara tukang pindah-pindah kota menghindari rusuh di Aceh. *puk-puk mereka berdua.. setiap cobaan ada hikmahnya ya Dek* 

Tanpa dikasih makan malam, kedua anak ini pulang sambil membawa sebagian barang ke tempat kakak saya. Sebagian lagi akan diambil kakak keesokan harinya. 

History di komputer sudah dihapus. Barang sudah dipacking. Kerjaan beres. Pamit-pamitan kelar. Cicilan Logam Mulia sudah diserahterimakan *hahaha*. Kerjaan belum diserahterimakan secara kantor kosong. Bye Jakarta.. see you on Oktober. *iyeee permintaan penempatan sementara di kantor Bandung-nya ditolak. Pasang senyum sok ikhlas*

04 July 2013

diambil semena-mena dari tourificescapes.com
Tadi sore Suami Programmer yang doyan ngobrol dan doyan anak kecil tapi ga doyan ngobrolin anak kecil ngobrol dengan teman Jendral Kancil. 










"Liburan kemana?" tanya suami prohemer

"LA." jawabnya

"Los Angeles." Tekannya meyakinkan kalau mereka memperbincangkan LA yang sama.

Iya... kita tau kog LA itu bukan Lenteng Agung. Tau kelasnya anak ini. Tau kalau dia sanggup liburan ke LA Los Angeles. Dan kita ga meragukannya. *ngikik*

Btw, dilihat, didengar, lalu ditelaah.. beberapa teman Jendral Kancil yang terbiasa menggunakan bahasa inggris di sekolahnya sepertinya agak bingung kalau diajak ngobrol dengan bahasa indonesia. Mereka ga terbiasa dengan bahasa indonesia gaul. Jadi suka salah tangkap arah pembicaraan. *emangnya bola ditangkap*

Terus? Ya gak apa-apa sih.. kan cuma menelaah saja. 

LA Los Angeles

04 July 2013 capcai bakar

diambil semena-mena dari tourificescapes.com
Tadi sore Suami Programmer yang doyan ngobrol dan doyan anak kecil tapi ga doyan ngobrolin anak kecil ngobrol dengan teman Jendral Kancil. 










"Liburan kemana?" tanya suami prohemer

"LA." jawabnya

"Los Angeles." Tekannya meyakinkan kalau mereka memperbincangkan LA yang sama.

Iya... kita tau kog LA itu bukan Lenteng Agung. Tau kelasnya anak ini. Tau kalau dia sanggup liburan ke LA Los Angeles. Dan kita ga meragukannya. *ngikik*

Btw, dilihat, didengar, lalu ditelaah.. beberapa teman Jendral Kancil yang terbiasa menggunakan bahasa inggris di sekolahnya sepertinya agak bingung kalau diajak ngobrol dengan bahasa indonesia. Mereka ga terbiasa dengan bahasa indonesia gaul. Jadi suka salah tangkap arah pembicaraan. *emangnya bola ditangkap*

Terus? Ya gak apa-apa sih.. kan cuma menelaah saja. 
Saya jadi pengguna google reader sejak.... sejak kenal blog. Udah lama kan... Saya bahkan jadi salah satu pengguna merangkap marketing gratisan sangking puasnya. Cukup buka satu tab, semua update-an blog langganan bisa dibaca, jual saya. 

Rutinitas saya setiap hari, begitu menyentuh komputer, adalah membuka google reader, bukan facebook seperti kebanyakan pegawai kantoran lainnya. Bahkan sangking seringnya membuka google reader -secara jarang bahkan tidak ada kantor yang membaned google reader di jam kantor- eike sempat jadi omongan rekan kantor. Diomongin tukang baca blog.. bukannya kerja. Ishhh.... *sodorin kerjaan yang udah beres*. Iyeee ini curhat terselubung. Daripada publish draft satu postingan penuh tentang sakitnya hatiku saat diomongin begitu. Hihihi.

Jadi saat tim google jauh-jauh hari mengabarkan Google Reader akan ditutup, aku sedih. Bingung harus pakai apa untuk mengupdate blog-blog favoritkuh guna menghilangkan jenuh di kantor.

Selayaknya manusia gaul masa kini, semua kegundah-gulanaan harus dipublish di twitter. Maka berkicaulah saya, berkeluh-kesah tentang kebingungan ini berharap mendapatkan solusi. And.. its work! Salah seorang teman menyarankan Feedly. Baiklah..markicobka (mari kita coba kakakkkk).

Hasilnya? Ga enak. Formatnya yang berbeda dengan Google reader membuat saya susah beradaptasi. Tapi mau ga mau harus membiasakan diri kan? Jadi mari dibiasakan pelan-pelan, tekad saya. Meski setiap Google memperpanjang masa perpisahan saya tetap berharap google reader ditutup hanya wacana. Berharap semua ancar-ancar perpisahan ini hanyalah candaan belaka. Seperti pacar ngambek yang mengancam putus tapi ga jadi karena dibeliin silverqueen sebatang.

Tapi tidak sodara-sodara... si pacar beneran ngajak putus. Tanggal 2 Juli kemarin Google Reader sudah tidak bisa diakses lagi. 

Maka si saya yang sempat patah hati ini, balik main-main ke feedly... tiada rotan akarpun jadi. Ga dapat Antonio Banderas, laki-laki Palembang pun jadi *senyum manis ke suami*. Lalu kaget lihat perubahan feedly. Lah kog jadi begini? Kog mirip Google reader? Tampilannya beda jauh dengan feedly yang di komputer kantor saya. Padahal sama-sama pakai firefox. Berhubung sedang cuti, saya ga bisa ngecek apakah ini karena perbedaan komputer atau memang perubahan dari feedly-nya.


Tapi... untuk saat ini cukuplah, kan ketemu komputer kantor masih tiga bulan lagi. Saya hepi.. *gelar karpet merah menyambut kedatangan Feedly*

Btw, kalau ada yang ingin memindahkan daftar blog favoritnya ke feedly cukup mengklik "import OMPL"  setelah memilih "My Feedly"

*Where can I find my OPML file? You can find your Google Reader OPML file by going to the Google Takeout service and downloading your Google Reader archive. Once you have finished downloading your archive, you can unzip. There will be a file in it call subscription.xml. This is the file you want to upload in step 1.~ Feedly
 

Apah? Saya tahu darimana cara canggih seperti ini? Sudah tentu dari Suami Programmer. Percuma kalau tidak dimaksimalkan potensinya. Hahaha. 

Untuk postingan lebih serius, silahkan lihat disini

Bye Google Reader, Welcome Feedly


Saya jadi pengguna google reader sejak.... sejak kenal blog. Udah lama kan... Saya bahkan jadi salah satu pengguna merangkap marketing gratisan sangking puasnya. Cukup buka satu tab, semua update-an blog langganan bisa dibaca, jual saya. 

Rutinitas saya setiap hari, begitu menyentuh komputer, adalah membuka google reader, bukan facebook seperti kebanyakan pegawai kantoran lainnya. Bahkan sangking seringnya membuka google reader -secara jarang bahkan tidak ada kantor yang membaned google reader di jam kantor- eike sempat jadi omongan rekan kantor. Diomongin tukang baca blog.. bukannya kerja. Ishhh.... *sodorin kerjaan yang udah beres*. Iyeee ini curhat terselubung. Daripada publish draft satu postingan penuh tentang sakitnya hatiku saat diomongin begitu. Hihihi.

Jadi saat tim google jauh-jauh hari mengabarkan Google Reader akan ditutup, aku sedih. Bingung harus pakai apa untuk mengupdate blog-blog favoritkuh guna menghilangkan jenuh di kantor.

Selayaknya manusia gaul masa kini, semua kegundah-gulanaan harus dipublish di twitter. Maka berkicaulah saya, berkeluh-kesah tentang kebingungan ini berharap mendapatkan solusi. And.. its work! Salah seorang teman menyarankan Feedly. Baiklah..markicobka (mari kita coba kakakkkk).

Hasilnya? Ga enak. Formatnya yang berbeda dengan Google reader membuat saya susah beradaptasi. Tapi mau ga mau harus membiasakan diri kan? Jadi mari dibiasakan pelan-pelan, tekad saya. Meski setiap Google memperpanjang masa perpisahan saya tetap berharap google reader ditutup hanya wacana. Berharap semua ancar-ancar perpisahan ini hanyalah candaan belaka. Seperti pacar ngambek yang mengancam putus tapi ga jadi karena dibeliin silverqueen sebatang.

Tapi tidak sodara-sodara... si pacar beneran ngajak putus. Tanggal 2 Juli kemarin Google Reader sudah tidak bisa diakses lagi. 

Maka si saya yang sempat patah hati ini, balik main-main ke feedly... tiada rotan akarpun jadi. Ga dapat Antonio Banderas, laki-laki Palembang pun jadi *senyum manis ke suami*. Lalu kaget lihat perubahan feedly. Lah kog jadi begini? Kog mirip Google reader? Tampilannya beda jauh dengan feedly yang di komputer kantor saya. Padahal sama-sama pakai firefox. Berhubung sedang cuti, saya ga bisa ngecek apakah ini karena perbedaan komputer atau memang perubahan dari feedly-nya.


Tapi... untuk saat ini cukuplah, kan ketemu komputer kantor masih tiga bulan lagi. Saya hepi.. *gelar karpet merah menyambut kedatangan Feedly*

Btw, kalau ada yang ingin memindahkan daftar blog favoritnya ke feedly cukup mengklik "import OMPL"  setelah memilih "My Feedly"

*Where can I find my OPML file? You can find your Google Reader OPML file by going to the Google Takeout service and downloading your Google Reader archive. Once you have finished downloading your archive, you can unzip. There will be a file in it call subscription.xml. This is the file you want to upload in step 1.~ Feedly
 

Apah? Saya tahu darimana cara canggih seperti ini? Sudah tentu dari Suami Programmer. Percuma kalau tidak dimaksimalkan potensinya. Hahaha. 

Untuk postingan lebih serius, silahkan lihat disini