SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

17 July 2013

Tagged Under: , , ,

Rekap Dokter Kandungan

Share

Another postingan soal bunting-bunting. Yang bosen (apalagi kalau anaknya sudah 10 orang sih ya) silahkan diskip-skip. Kali ini ngobrolin soal dokter kandungan. Tadinyaaaa.... saya berencana akan setia sama satu dokter. Satu aja.. biar kami saling mengenal lebih dalam sehingga kerjasama saat proses bersalin nanti lebih cihui. 

Tapi manusia boleh berencana, askes juga yang menentukan. 

Dokter pertama saya adalah Dokter Seno di Hermina. Dokternya baik, sabar menjawab berbagai pertanyaan, sabar menjelaskan, ganteng, dan masih muda. Ini rekomendasi dokter atau jodoh sih. Secara keseluruhan kami puas. Namun karena dokternya tidak mengijinkan saya terbang di trimester awal, kami mencari second opinion. Selingkuh sekejab. *cium tangan dokternya..ga dilepas-lepas*

Dokter kedua adalah Dokter Ani di Hermina juga. Demi mencari surat keterangan boleh terbang. Tapi ya ga boleh juga. Hahaha. Karena lebih senang dengan dokter Seno saya balik lagi periksa ke beliau.

Terus karena lahiran di Hermina tidak dicover Askes, saya mulai mencari dokter Hermina yang praktek juga di RS yang menerima askes (RS Hasan Sadikin). Sampailah saya ke dokter ketiga, Dokter Anita. Dokternya ramah. Kita sudah ga banyak nanya sih.. karena sudah puas nanya-nanya ke Dokter Seno pada kontrol-kontrol sebelumnya. Sepertinya kalau banyak nanya bakalan dijawab, tapi kalau ga nanya ya ga ada ngobrol-ngobrol panjang lebar. 

Lalu berhubung surat keterangan cuti hamil yang dikeluarkan Dokter Anita ditolak SDM (gegara ga ada cap-nya jadi dicurigai palsu.. SDM ini ya.. aku kan jujur gini orangnya) saya melipir ke Santosa mencari dokter yang masih praktek malam hari demi selembar surat keterangan.

Ketemulah dengan Dokter Robert. Dan.. dokter ini lebih asyik ngobrolnya daripada dokter Seno. Kalau Dokter Seno tipe-tipe yang kalem ganteng serius gitu, Dokter Robert tipe yang banyak becanda ganteng dan matang. Lagi-lagi ini rekomendasi dokter atau jodoh sih? Suami Programmer langsung jatuh cinta karena dokternya enak diajak ngobrol (padahal itu udah malam dan beliau abis operasi.. moodnya ga bubar sama sekali ya) dan tambah jatuh cinta melihat kecanggihan alat USGnya. Dua dimensi tapi gambarnya jelas banget (bye tebak-tebak buah manggis lihat hasil USG yang abstrak itu). Sangking jelasnya bisa lihat tali pusar dari thermalnya, bisa lihat cairan di otak, dan mendengar denyut jantung.

Okeh lah, sejak saat itu kita pindah periksa ke Santosa karena.. RS Santosa ini lebih enak. Suami Programmer dan Jendral Kancil kan high class gitu standarnya. Di Santosa sofanya lebih cihui jadi kalau nunggu lebih enak, bisa tiduran karena jumlah kursinya banyak. Dokternya tepat waktu, makanan kantinnya enak, dan playgroundnya komplit. Kalau diajak ke Hermina, Jendral Kancil ga pernah mau, kalaupun mau selalu nanya kapan pulang. Pas di Santosa dia malah minta ke dokter anak. Bapaknya juga.. yang biasanya cemberut-cemberut setiap nunggu di Hermina, gitu di santosa berseri-seri. Ih.... malu aku.

Di Santosa kita juga ga setia sama satu dokter sih.. (mana janjinya yang mau setia itu.. mana) saya gonta-ganti antara Dokter Robert atau Dokter Indri. Yang mana aja yang ada. Tadinya saya kira peralatan Dokter Robert sudah standar Santosa, ternyata gak.. di Dokter Indri peralatannya ya biasa aja. Dokter Indri ini komunikatif, meski tau ini kehamilan kedua saya, beliau tetap banyak ngasih info tanpa diminta. Catet ya.. tanpa diminta. Dari beliau saya jadi tahu kalau dalam 10 jam janin cuma bergerak 10 kali bahkan kurang, saya harus buru-buru ke rumah sakit. dan ternyata 1 gerakan janin itu bisa 1 sundulan saja atau 1 rangkaian sundulan. Jadi kalau disundul berkali-kali karena anaknya ngulet ya tetap dihitung satu gerakan.

Jadi beliau ini tipe yang lebih yakin tentang kesejahteraan janin dengan cara membandingkan denyut jantung bayi dengan gerakannya. Jadi setiap pemeriksaan akan diakhiri dengan cardiotocography selama 20 menit. Saya akan dipasangi alat yang merekam denyut jantung janin dan dibekali alat lain yang harus ditekan kalau ada gerakan janin. Jika 10 menit awal ga ada gerakan, saya harus makan dulu dan mengulang prosesnya setelah selesai makan. 

Saat kontrol terakhir, saya sedang puasa dan belum ada gerakan bayi setelah 10 menit. Oleh susternya saya diminta berbuka, minum teh manis hangat dan makan baru kembali. Tadinya denyut jantung bayinya ga begitu bagus (saya kira cukuplah kalau berdenyut saja) karena grafiknya kecil, tapi begitu makan dan miring ke kiri denyutnya lebih bagus dan gerakannya juga muncul. Minimal ada 4 gerakan selama 20 menit dengan grafik jantung yang bagus. Jadi sama Dokter Indri saya ga boleh puasa dulu, soalnya butuh kalori untuk persalinan. Ya.. secara berat badan saya turun 3 kg dan tekanan darah juga turun.. ditambah denyut janin ga cihui. 

Iya sih.. berasa, biasanya gitu diminumin teh hangat, adik bayinya nyundul-nyundul. Puasa ini udah diminumin teh manis panas dua gelas besar, masih ga nyundul-nyundul. Dibawa rebahan juga perlu waktu lamaaaa baru ada gerakan. itupun sundulan lemas-lemas gitu. Emaknya juga nyapu dapur langsung berasa ruangan muter. Yo wes ga usah dipaksa. 

*Saran Dokter Indri untuk memancing janin bergerak adalah minum teh manis hangat, miring ke kiri, dengarin musik, dan ajak ngobrol.

Lalu apakah petualang mencari dokter kandungan kami sudah berakhir sodara-sodara? Tentu Tidak.. dokter kandungannya sih berhenti. Kaminya melipir ke Bidan dekat rumah. Sekalian lihat kamar. Saya sempat periksa ke bidan di Rumah Bersalin Fatimah. Metode pemeriksaannya tanpa USG, jadi perut saya diraba-raba untuk cari posisi bayinya dan diukur pakai meteran. Denyut jantungnya juga didengar.

Terus kalau soal harga gimana? Bidan paling murah (ya iyalah) dan Hermina paling mahal. Iyes... Santosa lebih murah daripada Hermina.

Jadi 4 Dokter dan 1 Bidan. Apakah jumlah ini akan bertambah? Gak tauuuu. Kita lihat nanti ya.
Post a Comment