SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

18 September 2013

Tagged Under:

Karena Lima Puluh Ribu Selembar

Share

Meski sempat beberapa kali hujan-hujan lucu, musim panas sudah resmi mendatangi Bandung.

Musim hujan yang kelamaan bikin saya kaget-kaget cantik sama panasnya kemarau kali ini. Sangking panasnya saya merasa mandi sore itu wajib. Mandi malam jadi sunah muakad. Buat perempuan yang menjungjung tinggi penghematan air dengan mandi sekali sehari ini, gejala mewajibkan mandi sore itu bisa memberikan gambaran yang jelas kepada hadirin dan hadirat bagaimana gerahnya bandung akhir-akhir ini.

Nah kalau saya kepanasan, saya berasumsi Anak Bayi juga kepanasan. Maka setiap anak bayi rewel padahal sudah disusui-disendawa-ganti popok., saya menyalahkan udara panas ini. Cerdas ya? *ditoyor*

Bayi yang riwil, bikin emak yang sudah gerah tambah gerah. Udahlah ga bisa nongkrong depan kipas angin karena takut meresikokan anak bayi kembung, ditambah cemas-panik sedap lihat anak riwil. Merembes lah semua itu keringat. Gerah. Siramin aku.. Siramin aku agar sejuk Pak Ustad.

Jadilah selama beberapa malam saat anak bayi rewel, saya buka kaca jendela sedikit.. Masukin angin malam. Begitu anak bayi tidur lagi, kacanya ditutup. Biar ga masuk angin. Kalau masuk angin kan nanti rewel juga. Ga solutif.

Jendral kancil dan suami gimana? Tidur nyenyak depan kipas angin. Kalau kedinginan tinggal minta selimut. *melirik iri*


Melihat anak bayi dan emaknya riwil tiap malam, suami programmer memutuskan membeli AC. Iyaaa AC. Butuh AC di (desa) bandung yang agak ke gunung ini, kog agak gimana gitu ya? Kog berasa manja. Kog tiba-tiba membenarkan global warming. Kog tiba-tiba berasa kiamat makin dekat. Lah?!

Tapi ini beneran panas. Sumpah. Suer.

Maka satu malam setelah menyusuin anak bayi dan meninggalkan perahan 50ml, saya dan suami berburu AC ke toko elektronik. Kami punya waktu dua jam sebelum Captain Kid (aka anak bayi) bangun dan minta susu lagi.

Ohh.. Di Bandung ada dong toko elektronik pinggir jalan yang buka sampai malam. Di jalan ABC. Toko-toko pinggir jalan ini bahkan menerima kartu kredit dengan cicilan 0%. Oke lah sekarang. Kalau mau yang produk segala merk ada tinggal ke Elektronik Solution. Ini juga buka sampai malam.

Pilihan kami ya Electronic Solution ini.. Cucu matanya lebih panjang. Cuci mata yang kena restrain budget. Ketahuan deh kalau lagi bokek. *gosok-gosok dompet berharap keluar jin*

ACnya yang kecil aja. 1/2 PK cukuplah. 3/4 PK ideal.  Kamarnya kan belum seluas lapangan futsal. Setelah tawaf di barisan AC sampai sol sepatu nipis, kita naksir AC inverter. AC inverter ini suhunya bisa menyesuaikan sendiri. Jadi kalau dihidupin seharian (ya kan anak bayinya seharian di rumah) ga makan listrik banyak-banyak.

Tips buat yang mau beli AC, low watt ga selalu berarti hemat listrik. Lah kalau dia perlu waktu lebih lama untuk mendinginkan ruangan kan listriknya banyak juga. Karena itu menggunakan AC dengan PK yang sesuai luas ruangan itu penting. Terus AC low watt penggunaan listriknya stabil. Dari pertama dihidupkan sampai dimatikan. Ini cocok untuk pemakaian AC yang kurang dari 8 jam sehari. Kalau lebih (seperti saya)? Hematan pakai AC tipe inverter. Karena dia mendinginkan lebih cepat (dengan watt lebih besar) lalu pelan-pelan menurunkan suhu (dan watt juga) sesuai kondisi ruangan. Kalau sudah mencapai suhu yang diinginkan ya dia turun. Gitu.

"Okee bungkus!" Kata saya ke mbak-mbak salesnya.
Bukannya ngebungkus pakai karet tiga mbaknya malah ngomong "Ini belum masuk biaya peralatan dan masang ya Bu."
"Hmmm.. Berapa mbak biaya tambahannya?"

Sumpah saya baru tahu harga yang tertera itu hanya untuk ACnya. Harga selang dan kawan-kawannya beda lagi.

"400ribu sekian bu."
"Oke"
"Terus tambah biaya transport Bu karena ibu tinggalnya di kabupaten"
"Okelah.." Karena sudah beberapa kali beli barang di sini, saya tahu kalau ada ongkos transport

"Terus Bu.." Tambah mbaknya
"Iya mbak?" Mulai mengeluarkan tatapan sadis. Mau apa lagi? Apa? Apa? Kuras saja aku.
"Karena kabupaten, biaya pasangnya tambah 50ribu lagi"
"Hmmm"
"Dibayar di tempat saja Bu"
"Hmmm... Ga jadi mbak" saya langsung balik badan.

Kalau ada tambahan biaya transport sih saya ngerti. Lebih jauh maka butuh bensin lebih banyak kan? Nah kalau biaya pasang jadi nambah itu yang saya ga ngerti. Pasang di kota maupun di desa kan sama. Orangnya segitu.. Tenaganya segitu.

Kalau yang ngantar sama yang pasang beda mobil, masih masuk akal. Yang ga masuk akal itu kenapa bayar di tempat? Kog ga di kasir aja seperti tambahan biaya transport?

Bukan.. Ini bukan karena 50ribu selembar saja. Ini karena komponen biayanya ga jelas. Saya jadi ogah.

Tapi sekarang masih kepanasan.. Tapi itu ga jelas biayanya... *garuk-garuk dinding*

Lalu galau sambil mandi tengah malam terus lirik katalog AC.
Post a Comment