SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

25 October 2013

Tagged Under: ,

Dinas ke Palembang

Share

Saya baru pulang dari Palembang lohhhh. 

Terus kenapa? Bukannya tiap lebaran ke Palembang ya? *dialog imajiner bersama pembaca*

Iya sih.. tiap lebaran saya ke Palembang. Tapi yang sekarang beda.. ini perjalanan dinas pertama saya yang tujuannya Palembang. Huwooo... yang serba pertama-pertama kan harus cerita gitu. Ya kan? Kan. Jadi saya mau cerita bedanya ke Palembang saat bulan puasa dengan saat hari biasa. Kalau pas puasa dan lebaran kan banyak tempat makanan yang tutup. Nah,di hari biasa enggak. Pada buka semua. Jadi saya bisa menjajal banyak makanan palembang. Iye..wisata dinas kuliner.

Saya berangkat dari Jakarta pukul 7 malam lewat banyak. Lalu mendarat dengan selamat di bandara Sultan Mahmud Baharuddin II setelah sejam-an nonton Monte Carlo. Iya.. ada tivinya dong.. tumben kan penerbangan singkat pakai tivi-tivian segala. Jadi bilang apa pembacaaaa? Alham-du-lillah.

Terus, begitu sampai di bandara, saya agak bengong-bengong. Ini bandaranya kog lebih bagus ya? Kog cakepan sih? Pakai krim apa? *dikira iklan tje fuk* Rupanya cuma pakai shampo sedang ada perluasan bandara, jadi bangunannya baru-baru dan kinyis-kinyis gitu. Di luar bandara malahan ada replika jembatan ampera. Ini saya yang ga ngeh apa emang baru dibangun sih?

sumber gambar: noppy blog

Setelah agak bengong-bengong lihat kekinclongan bandaranya, saya juga bingung gimana pergi ke hotelnya. Setiap ke Palembang (yang tentunya bersama suami), kita selalu nunggu dijemput atau naik taksi tembak. Jadi persepsi saya di Bandara Palembang itu ga ada taksi argo. Bingung karena saya ga tau lokasi hotelnya dan ga tau rentang ongkos taksinya. Gimana bisa menang pas tawar-menawar? Untunglah ternyata di Palembang ada taksi berargo. ADA TAKSI ARGO SODARA-SODARA! HUWOOOO! *dikeplak wong palembang pakai kapal selam*

Jadi dekat pintu keluar, kita akan melihat booth taksi bandara. Tinggal daftar deh.. terus nanti digiring bapak supir ke taksinya. Ya ke taksinya dong ya, masa ke rumahnya. Biayanya daftarnya cuma Rp6.000. Terus kemarin dari bandara  ke hotel cuma habis Rp65.000,00.


Gambar diambil dari webnya
Selama di Palembang saya menginap di Swissbelinn hotel. Dekat kantor dan masuk budget. Dilihat dari webnya sih bagus ya.. tapi... itu karena dia fotogenic. Cih. Fasilitasnya sih persis seperti gambar (minus pemanas air dan teh-teh), tapi kualitasnya enggak. Bangunannya tua. Dindingnya banyak yang terkelupas. Lantainya juga. They really need a renovation. Kalau kualitas handuk, sprei, bantal, air, dll sih ga masalah.

Terus.. karena hotelnya terletak di pinggir jalan, suara kendaraan terdengar jelas ke dalam kamar. Beruntung buat saya yang hanya terbangun kalau dengar suara anak nangis, suara lalu lintas ini ga begitu ganggu. Malah nemenin. Iya.. sini penakut kalau harus tidur-tidur sendiri. Apalagi kalau dapat kamar nyempil di ujung lorong. Terus malam-malam ada yang gedor-gedor  kamar sebelah dengan gedoran debt collector. Yuk... 

Ketidakpuasan terhadap pilihan hotel ini secara tersirat terlontar juga dari Bapak Bos. Beliau bolak-balik nanya rate hotel-hotel lain. Maaf ya Pak.. ga maksud. Cuma rate kita ga nyampe pak kalau ke Novotel atau Aryaduta. Maap pak..

Keuntungan milih hotel di pinggir jalan itu adalah banyak tempat makan di sekeliling hotel dan ada Alfamartnya juga.... Penting loh buat emak-emak irit ples menyusui yang selalu kehausan tapi ogah beli air mineral mahalnya hotel. Ngomong-ngomong soal menyusui dan asi perah, minibar di hotel ini ga dingin mamak... ice pack eike ga ada yang beku. Kamar sama kulkas, lebih dingin kamar dong. Saya udah minta tolong room service agar diijinkan menggunakan freezer dapur mereka. Tapi ga ada tanggapan. Aku.. pasrah aja. 

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

sumber dari yukmakan.com
Besoknya sebelum ke kantor, kita wisata kuliner makan siang dulu. Makanan "berat" khas Palembang adalah pindang patin. Pindang patin ini semacam sup ikan yang dibumbui pedas. Mirip-mirip asam padeh padang.

Di Palembang ada dua tempat makan pindang patin yang  terkenal. Pertama restoran Musi Rawas, ini sangking larisnya mau makan saja kita harus ngantri satu jam. Masyaallah.. makannya aja cuma lima belas menit. Terus tempatnya biasa aja. Jadi ga terlalu enak buat duduk-duduk lahap apalagi buat menjamu bapak bos.

Beda dengan restoran Sri Melayu ini. Tempat makannya nyaman banget. Besar, jadi daya tampungnya banyak. Rindang juga karena dikelilingin pohon. Parkirannya juga luas. Terus kalau mau suasana lain kita bisa milih makan di pendopo-pendopo. Pendopo-pendopo ini dibangun di atas kolam ikan. Hoho... siap-siap deh terkaget-kaget saat ada ikan yang meloncat. Kalau bawa Jendral Kancil sepertinya bakal senang deh ngeliatin ikan-ikannya.

Disini saya memesan pindang tulang (iga sapi), bukannya pindang patin. Soalnya saya ga begitu suka ikan air tawar. Doyannya ikan laut yang dagingnya kenyal-kenyal karena melawan arus samudera. Untuk minumnya saya memesan es kelapa utuh/ es dogan. Sambil menunggu pesanan datang, pelayannya akan membawakan berbagai macam lauk dan lalapan pelengkap. Lalapan disini bukan sayuran mentah tapi potongan sayur macam pare, terong, labu yang sudah direbus. Lauk-lauk penggembiranya ada ikan seluang goreng. Ikan seluang ini mirip teri medan yang besar-besar itu. Tapi ga kering dan ga asin. Terus ada bedug, yang bentuknya mirip sate lilit bali. Bedug ini olahan dari ikan gabus dan pepaya muda. Terus ada tempoyak juga, duren yang difermentasikan. Terus, apalah artinya makan di sumatera tanpa beraneka macam sambal. Ada sambal mangga yang pedas dan sambal minyak yang asin-asin segar. Aku suka.

Selain Pindang tulang dan patin, RM Sri Melayu ini juga menyediakan pindang salai (ikan asap, rasanya alot-alot gimana gitu dengan aroma yang khas) dan pindang udang. Kalau bawa Jendral Kancil sepertinya bisa dicoba pindang udang ini. Iya ya.. namanya emak-emak, lihat tempoyak ingat suami. Makan es kelapa yang enak itu langsung ingat Jendral Kancil. Kayaknya kalau diajak minum es kelapa ini bakalan doyan deh. Karena meski dihidangakan bersama tempurung dan sabutnya, air kelapa ini sudah ditambahi gula. Manis. Jendral Kancil pasti doyan. Terus es kelapanya juga dicemplungi potongan daging kelapa yang tebal-tebal. Aku suka... Ayuk suamiii!

Ternyata setelah ngobrol sama suamii, katanya rumah makan Sri Melayu ini restoran mahal buat dia. Jadi Suami juga belum pernah makan di situ. Hihi.. Itu kan dulu, waktu masih jadi remaja kinyis-kinyis tapi kere.. sekarang kan sudah bapak-bapak, sudah terjadi penebalan dompet dan tubuh.

Setelah makan, saya langsung melipir ke kantor. Literally, saya benaran melipir, soalnya kantor dan Sri Melayu ini sebelah-sebelahan. Ramah-tamah dulu sebelum FGD Trainning Need Analysis (TNA) 2014. Senang deh kalau FGD gini. Banyak ketemu orang pintar dengan pemikiran hebat. Selama FGD itu kita ngebahas banyak masukan untuk diklat-diklat, mata pelajaran, instruktur, sampai ide membangun balai diklat baru. Seru. Ga ngantuk sama sekali padahal FGDnya di siang bolong.

Selesai FGD, kita kembali ke hotel. Awalnya kita berencana jalan-jalan keliling kota ya.. tapi apa daya ada laporan yang harus diselesaikan. Namanya juga perjalanan dinas, tugasnya dulu dong Mak yang diutamakan. Baiklah... mari kita begadang bikin laporan. Sebelumnya.. makan Martabak Har dekat hotel boleh ya Pak Bos?

 sumber: budaya-indonesia.org
Martabak Har (Haji Abdul Rozak) ini menurut saya sama seperti martabak telur, minus daging. Isinya ya cuma telur saja. Dihidangkan bersama kuah gulai dengan rebusan kentang dan sambal kecap. Cara makannya seperti gambar disamping ya.. Bukan dijadiin lauk.. *lirik teman dinas bareng ini.. :p* Rasanya gimana? 

Saya kan fansnya martabak telur mesir yang berlimpah daging itu ya.. jadi pas ketemu marttabak ini ya biasa aja. Bikin kangen iya. Bikin gila menahan rindu, enggak.

Waktu makan di Martabak Har, kita juga mesan nasi minyak berserta lauk pauk. Lauk-pauknya dihidangkan ala restoran padang gitu, digebrokin ramai-ramai di meja biar pembeli ngiler terus ngambil lebih dari satu lauk. Untungnya saya kuat iman.. walau sangat tergoda buat nambah lauk lain. Saya cuma makan kari kambing sedangkan teman saya makan ayam. Pilihan menahan diri dengan satu lauk ini ternya tepat sekali. Karena.... harga lauk-pauknya ditembak banget deh. *Lirik gemas kasir martabak Har.*

Bayangin ya.. makanan khasnya aka martabak Har itu cuma Rp15.000 rupiah. Tapi ayamnya Rp22ribu, Kari kambing Rp40ribu, sayur kacang doang Rp15ribu, dan teh susu Rp10ribu. Gilak. Kari kambing sepotong 40ribu aja.. pengen dikremes deh. Terus sayur gulai kacang sepiring kecil harganya sama dengan martabak. Hih! Aku blog-in nih.. blog-in. Biar semua orang tau.

Kecewa ditembak sama Martabak Har, kita memutuskan jalan-jalan dulu. Biar fresh ngerjain laporan. Alasan... padahal mah emang pengen jalan-jalan dulu. Lagian Bapak Bos pergi jalan-jalan ini. Kita diam-diam ikut jalan-jalan juga dong. Jangan bilang-bilang yes?

Tujuan pertama, kemana lagi kalau bukan ngeliat Jembatan Ampera. Ikonnya Kota Palembang. Ngeliatnya dari Benteng Kuto Besak aja. Biar ringkes. Sayangnya hari itu lampunya mati. Jadi ga gonta-ganti warna kayak biasanya. Yah....



Ternyata kalau di hari biasa  Benteng Kuto Besak ramai banget. Banyak pedagang kerak telor. Saya sempat bingung... ini di Palembang apa PRJ? Terus ramainya sama anak kecil yang main-main. Dek ga sekolah apa? Ini malam sekolah loh..

Tempat makannya di dingklik gitu. Kelar makan sekalian nyuci piring mungkin.

Selain anak kecil ada juga muda-mudi yang pacaran. Makan di restoran terapung. Kalau buat pasangan emak-bapak yang berduit makan di River Side Restoran bisa jadi pilihan. Buat muda-mudi yang masih minta duit jajan? Cukup restoran ini aja. Sama-sama terapung kan? Hihi.
 
Resteron terapung ekonomis dengan latar River Side Restoran.
Berhubung kita baru makan di  Martabak Har, acara makan-makan di sini terpaksa dilewatkan. Walau sempat masuk dan belagak mau makan di River Side padahal cuma numpang-numpang lihat aja. Mari main foto-fotoan saja di Benteng Kuto Besak. Meng-abuse kamera pocket.

Benteng Kuto Besak dari kejauhan

Sok-sok artistik padahal kameranya ga bisa nangkap.

Bangkitnya Ayuk Sungai Musi. Film horor garapan Capcai

Udah keliling-keliling benteng. . Tapi malam masih panjang... harus ngapain lagi iniii? Kalau datangnya siang-siang, naik perahu dan berlayar di suangai musi bisa jadi pilihan. Kalau malam, ga ada perahu yang berangkat. Gelap banget.. ga keliatan apa-apa di sungainya. Setelah bingung-bingung.. kita akhirnya melipir ke Mesjid Agung. Mau lihat air mancur yang warna-warni. Sayangnya... air mancurnya lagi direnovasi. Eaaaaa... yo wes lah.. foto-foto saja di depan mesjidnya. 


Model buat kalender tahun depan.

Lalu its a wrap! Mari balik ke hotel dan ngerjain laporan.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Besoknya setelah menyerahkan laporan ke kantor kita makan pempek di Vico. Ini pengalaman pertama saya makan pempek disini. Biasanya kan di Candy. Foto-fotonya nyulik dari banyumurti.net. Sila di-klik ya.. buat ulasan pempek vico yang lebih lengkap.

banyumurti.net
Di setiap tempat makan pempek, kita akan disuguhi sepiring pempek beraneka ragam. Jadi bisa puas nyicipin aneka model pempek. Mulai pempek telor kecil, adaan, kulit, tahu, pastel, keriting, dan lenjer.  Kalau kurang tinggal nambah aja. Terus harganya ga dihitung per piring kog. Yang dihitung berapa buah yang dimakan. Jadi bisa ga diabisin.

Katanya andalan di sini adalah pempek kulit dan cukanya. Buat saya, pempek kulitnya terlalu tebal. Jadi kurang crispy. Saya malah lebih suka pempek pastelnya (pempek yang diisi cacahan pepaya muda). Kalau pempek tahu masih enakan Candy. Cukanya memang lebih enak dan lebih pedas daripada Candy.

Buat variasi pempek? Sepertinya lebih lengkapan makan di Cek Bakar. Disini ga ada lenggang atau pempek bakar.

banyumurti.net

Kalau makan pempek kurang nendang, silahkan dicoba makan tekwan atau model. Mirip sup-sup gitu. Bedanya tekwan sama model apa sih?? Kalau tekwan itu bola-bola kecil, sedangkan model itu potongan pempek telur besar.


banyumurti.net

Minuman khas palembang itu es kacang merah. Kayak es campur yang diisi kacang merah. Saya kemarin malah mesan es tape. Hahaha. 






Kalau mau bawa pempek ini untuk oleh-oleh bisa loh.. dia menyediakan berbagai paket oleh-oleh mulai dari 100ribu sampai 250ribu. Kalau mau yang kecil-kecil aja bisa. Kalau mau dicampur dengan pempek kapal selam atau lenjer yang besar juga bisa. Nanti kotaknya sudah dipacking dan  diikat. Tinggal dibawa pergi. Kalau mau dikirim ke saudara juga sudah bisa. Tinggal sebutin alamatnya. 

Kata saya, kalau soal dibawa pulang pempek vico masih kalah dengan candy. Di candy pelayanannya lebih cepat dan ga pakai repot. Pilih-pilih, bayar, langsung dilumurin tepung. Di vico saya masih harus bolak-balik nanya udah selesai dipacking apa belum. Gitu mau nambah lagi juga harus nunggu sejam. Huh. Kemarin saya beli paket yang berisi 40 pempek kecil seharga 100ribu. Saya kira isinya ada pastel, keriting, tahu, etc. Ternyata cuma telur, lenjer, dan adaan. Huh lagi. Tapi... pempek manapun di Palembang jauh-jauh-jauh lebih enak dari pempek di Jawa. Jadi ya tetap hepi tumi. :D

Jadi.. kapan kita balik ke Palembang suami? Gak usah nunggu lebaran ya...

-----------------
Swissbelinn Hotel
Jl. Jend. Sudirman No. 1111A
Palembang 30128  
Tel    : 0711 371 000

Rumah Makan Sri Melayu
Jl. Demang Lebar Daun No.1 , Palembang - Sumatera Selatan. Punya cabang juga di Kebayoran Baru dan Bintaro


Rumah Makan Har
Jalan Jendral Sudirman No 1078
Simpang Sekip, Palembang

Pempek Vico
Jalan Letkol Iskandar no 541-542 (Seberang PIM)
Post a Comment