SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

22 October 2014

Tagged Under:

Rizki itu soal rasa

Share

Rizki itu soal rasa, adalah judul artikel yang pernah saya baca. Dan saya mengamininnya. Rizki itu bisa terasa besar atau kecil. Bisa terasa cukup atau kurang. Padahal jumlahnya ya segitu-gitu aja.

Dalam Islam, rizki sesorang itu sudah ditentukan. Soal takdir ini, yang saya pahami adalah Allah sudah menentukan rizki seseorang. Kalau berusaha pakai level 1 maka rizkinya sekian, kalau berusaha level 5, rizkinya sekian tambah sekian. Yah.. bisa jadi dua orang yang level usahanya sama-sama 5 tapi rizkinya beda karena takdirnya sudah begitu.*

Terus ga usah usaha dong.. kan udah ditentukan. Ya kalau ga mau usaha juga ga masalah. Sama Allah ga akan  ada mahluk yang dibiarkan tanpa rezeki. Akan selalu ada nyamuk untuk cicak, akan ada selalu remahan makanan untuk semut, dan begitu juga akan ada selalu makanan buat hambanya. Ada... Cuma dapatnya segitu aja. Yakin ga mau usaha lebih buat dapat lebih banyak?

Terus kapan rizki terasa banyak? Saat disyukuri. Rizki kalau tidak disyukuri tidak akan pernah terasa banyak. Ada orang yang selalu merasa miskin, kurang uang.. padahal kalau hitung-hitungan hartanya dibawa ke financial planner maka hey kamuuuuu harta kamu lebih banyak dari si A loh.. pendapatan kamu juga.

Orang yang tidak pernah mengeluh kekurangan uang bukan berarti hartanya melimpah ruah.. menurut saya sih.. dia merasa hartanya cukup. Kalau sudah cukup.. apalagi sih yang mau dikeluhkan.

Memangnya orang begini ga pernah kepepet?

Pernah lah... eh kog saya yang jawab.

Pastinya pernah. Kalau terlihat tenang dan ga ada masalah.. karena masalahnya diceritain ke Allah, minta solusinya ke Allah, nunggu solusi yang pasti ada dari Allah, dan nunggu pertolongan Allah yang pasti datangnya. Ish.... gimana ga tenang dan kalem coba.

Nah... pemikiran ini yang coba saya tanamkan ke hati saya. Rizki itu soal rasa. Jadi coba dirasa cukup. Kalau merasa tidak cukup terus.. saya takutnya sama Allah beneran ditidakcukupkan. Baik nominalnya.. baik rasanya.

Merasa cukup.. merasa sudah dilebihkan.. lalu beneran dilebihkan.

Toh katanya watch your thoughts, they become words. Watch your words, they become actions, watch your actions, they become habits. Watch your habits, they become character. Watch your character, it becomes your destiny.

Jadi kalau kepikiran kurang terus.. ngomong susah melulu, lama-lama beneran jadi orang susah.. ada rizki apapun dianggap ga ada. Ga enak.

Lagian kog doyannya berlomba-lomba menjadi orang paling susah sih? Gagal paham saya.

Terakhir, dalam islam itu orang yang paling perlu dibantu itu malah orang yang tidak meminta padahal ia membutuhkan. Ga percaya? Baca surah Al Baqarah deh.

Terus.. (ini beneran terakhir) hadis tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah itu ada awalannya.

"Sesungguhnya harta itu indah dan manis. Barang siapa yang mengambilnya dengan lapang hati maka akan diberikan berkah kepadanya. Barangsiapa yang mengambil dengan kerakusan (mengharap-harap harta), maka Allah tidak memberikan berkah kepadanya, dan perumpamaannya (orang yang meminta dengan mengharap-harap) bagaikan orang yang makan, tetapi tidak kenyang (karena tidak ada berkah padanya). Tangan yang di atas lebih baik daripada yang di bawah."

Yuk ah.. berhenti mengemis mulai merasa cukup biar berkah.

-----

*Soal rizki itu takdir.. saya masih bingung antara takdir seperti di atas atau mau usaha level 5 atau 1 ya dapatnya sekian juga. Cuma kalau usahanya level 5 maka rizkinya diberikan di atas nampan. Kalau level 1, rizkinya dilempar ke tanah.

Macam PNS... yang rajin atau yang malas dapatnya sama aja. Cuma kalau rajin dapat segitu ya berkah... yang malas ya sambil dicaci orang.

Post a Comment