SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

24 March 2015

Tagged Under:

Akhirnya..

Share

Saya suka banget banget banget sama kerang rebus. Rebus biasa aja. Ga usah diasam manis atau saos padang. Sekali-kali dicocolin ke sambal campuran nenas, kacang, dan saos tomat botolan. Ummmm yummmy. Jadi teringat makan kerang rebus di pinggir jalan waktu masih tinggal di Lhokseumawe sama mama papa.

Waktu di bandung, meski beberapa restoran seafood menyediakan menu kerang rebus,  saya belum pernah ketemu yang enaknya bikin kangen. Entah ukurannya yang kekecilan (atau perut saya yang kegedean) jadi makan satu kerang enaknya nanggung. Atau kerangnya udah kering karena kelamaan ditiris sebelum dihidangkan. Padahal yang bikin enak itu ya air rebusan kerangnya.

Makanya waktu diklat di medan, saya paling semangat kalau ada acara makan kerang dara yang gedenya segede krim-krim kecantikan. Dagingnya tebal, kuahnya enak, sambelnya maknyus, dan yang jualan kakak-kakak seksi. Iya... pembelinya kebanyakan abang-abang, secara mbaknya cantik banget dan kalau ngehidangin kerang nunduk pisan... Beli kerang dapat bonus pemandangan. Thats why this place famous as "Warung kertok. Kerang tok*t"

Selesai diklat di medan, masuklah saya di masa-masa kangen makan kerang... sampai tadi sore waktu jalan-jalan ke pasar dekat kosan.. ada warung kerang. Kerangnya yang gede-gede itu... ampunnnn... godaan banget. Pengen tapi khawatir. Ini kan Jakarta. Kerangnya dari laut yang coklat buangan limbah itu kan... racun banget.

Tapi apa daya.. kalau sudah kepengen, pembenaran apapun dicari-cari. Merasionalisasikan pilihan. Dan pergilah saya membeli kerang rebus original. Dua puluh ribu sekilo. Kuahnya penuh rempah. Dagingnya tebal. Dan kerangnya habis dalam sekejab. *malu*

Jadi.. tolong ingatkan saya akan pantai Jakarta biar ga makan kerang rebus ini sampai bulan depan? Please?

Post a Comment