SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

24 July 2015

Tagged Under: ,

Mudik 2015, The Cooking Class

Share

Sudah tahu kan kalau saya suka "dituduh" ga bisa masak? Bahkan sangking tidak dapurable look alike diri ini, waktu ikut Jambore Nasional dan kebagian tugas masak nasi, Pembina saya bolak balik memastikan berasnya sudah saya cuci tiga kali. Ya ampun.. masak masak nasi aja eike diragukan sih mak? 

Sejak kecil meski punya ART dua orang, setiap emak pulang belanja mingguan eike kebagian tugas ngebersihin ikan (ples ayam, ples ati ampela, ples cumi, ples udang, ples kepiting dan teman-temannya) dan nyiangin sayur. So i definitely know how to cook. And i can say i am (bit) gifted cooker. Secara nenek dari Mama dan papa satunya buka warung nasi padang satunya tukang kue. Udahlah ya.. i can cook, i just prefer to do it when i want to. Thats mean ya kadang-kadang aja lah.. nyonya lebih milih pelukan daripada bau bawang. Meski suami doyan makan enak dan katanya masuk ke hati lelaki itu ya lewat perutnya, kita makan enak di luar aja ya Suami? *lalu ditoyor emak mertua karena boros*

Nah.. karena saya ngunjungin dapur cuma sekali-sekali padahal saat mudik ke rumah mertua harus perform abis (dan meski hanya seminggu dua minggu awak tak sanggup pura-pura senang ke dapur), beberapa tahun ini kita mudik ke Palembang pas malam takbiran. Saat semua kue sudah di toples, saat semua sudut rumah sudah kinclong, saat semua makanan sudah tinggal dipanasin, dan gorden baru sudah terpasang. Bwahahahha. Cerdas yes? 

Namun tahun ini secara ongkos pesawat pas malam takbiran ga lebih murah daripada seminggu sebelum lebaran dan otak saya mulai hitung-hitung, ya sudah pulang lebih cepat saja. Mahalnya sama maka mari dimaksimalkan durasinya. Jadilah kami pulang saat kue belum dipanggang, gorden belum dipasang, dan makanan baru dibeli mentahnya. Aku. Harus. Ke. Dapur. Dan inilah daftar makanan lebaran yang saya buat tahun ini. 

Kue Lapis

Lebaran di palembang itu identik dengan kue basah dan pempek. Kue kering ga begitu laku. Kue kering emak mertua paling yang ngabisin saya dan Jendral Kancil. Setiap ada tamu yang datang yang pasti disentuh ya kue basah ini. Jenisnya beragam, ada kue delapan jam, kue lapis, kue masuba, dan dodol. Dodol kue basah bukan sih? Dan satu rumah bikin semua kue itu dong. Bukan satu jenis saja. 

Entah lebaran kapan saya pernah bikin masuba, cuma lupa. Lebaran tahun ini emak mertua ga sempat bikin masuba jadi kita bikin kue lapis saja. Kalau lebaran-lebaran tahun lalu saya cuma kebagian tugas megang mixer dan manggang, tahun ini saya bikin sendiri dari mulai baca resep, nimbang bahan, megang mixer, sampai manggang. Yay!!! I made it by myself meski dibawah pengawasan supervisor sih.

Bahan:

  • 25 kuning telur (biar lebih gampang memisahkan kuning dengan putih maka langsung dipisahkan begitu telur keluar dari kulkas)
  • tepung gula satu bungkus
  • mentega dua setengah bungkus (bisa digabung dengan margarine dengan perbandingan 1:1)
  • 1 kaleng susu kental manis
  • bumbu kue lapis
  • tepung terigu seperempat kilo
  • 5 putih telur, didiamkan di suhu ruangan sebelum diolah dan dikocok terakhir biar airnya tidak muncul air, kalau masih muncul air, airnya jangan dimasukin ke adonan ya. Oh saya masih nyari tahu putih telur sisanya bisa dibikin apa ya? Ada ide?

Peralatan:
  • mixer lah ya.
  • baking pan listrik yang ada colokan buat api bawah dan api atas. Di Palembang yang terkenal itu merk Bima.
  • perata lapisan. 
  • centong sayur yang besar untuk menuangkan adonan
Cara membuat:

  1. alasi loyang ukuran 20x20 dengan kertas roti dan olesi dengan mentega. Asingkan ia.
  2. aduk mentega dengan tepung gula dengan kecepatan sedang hingga adonannya berwarna putih, mengembang ringan dan lembut. 
  3. masukkan kuning telur satu per satu kloter (2-3 telur). Aduk satu kloter telur sampai rata baru dimasukkan kloter berikutnya. 
  4. Jika sudah tercampur dengan rata masukkan setengah kaleng susu kental manis, aduk sampai rata. Masukkan setengahnya lagi. Aduk lagi sampai rata.
  5. Masukkan bumbu kue lapis. aduk sampai rata. Matikan mixer.
  6. masukkan tepung terigu, campur dengan spatula hingga rata. 
  7. aduk putih telur sampai kaku. Kaku itu gimana? Kalau mixernya diangkat, putih telurnya bikin puncak yang meruncing dan ga jatuh lagi ke baskom. Bikin kaku gimana? Aduk dengan kecepatan sedang sampai berbuih besar, lalu aduk dengan kecepatan tinggi sampai punya puncak layu. Teruskan hingga ia memiliki puncak runcing. Lebih jelasnya bisa dibaca di blog Just Try and Taste ini. Ini beneran blog penyelamat untuk yang baru belajar masak-masak (kayak saya)
  8. campurkan putih telur dengan spatula ke adonan sebelumnya. Aduk.
  9. Panaskan loyang dengan api bawah. Setelah panas, tuangkan satu setengah centong adonan ke dasar loyang dengan rata. 
  10. setelah coklat keemasan dan cantik, ratakan dengan alat perata yang telah diolesin mentega. Ga perlu keras-keras.. biar gelembungnya hilang aja.
  11. tuangkan lapisan berikutnya. Pindahkan ke api atas. Kalau mau pakai isian, bisa ditaburkan di antara lapisan. 
  12. Ulangi. 
  13. Tuang, tunggu hingga coklat cantik, tekan, tuang lapisan berikutnya, taburin isi, tutup lagi. Sampai adonan abis. Biar warna setiap lapisan sama, boleh pakai timer ya mak.. di saya sih 8 menit udah coklat cantik.


Eh kalau mau lihat resepnya di Just Try and Taste bisa liat di sini ya.

Bolu Kampung

Waktu puasa saya kepengen banget makan bolu kampung, bolu yang bolu aja. Agak keras, ga pakai olesan dan isian macam-macam. Tapi karena ga dicari jadinya ya ga ketemu. Makanya saat mampir ke Pasar Lemabang di Palembang dan melihat bolu kampung, saya kepengen beli. Sama Suami Prohemer dilarang, katanya bikin aja, minta diajarin ibu. Itu bikinnya gampang dan cepat. Baiklah.. istri sholehah kan manut aja. 

Bahan:
  • 9 telur. Pisahkan kuning telur dengan putihnya
  • 250 gram tepung terigu
  • 250 gram tepung gula
  • 250 gram mentega 
  • bubuk coklat
Alat:
  • mixer
  • cetakan bolu yang langsung dibakar di atas kompor

Cara membuat
  1. aduk mentega dan tepung gula dengan kecepatan sedang hingga adonan berwarna putih
  2. tambahkan kuning telur satu per satu. Aduk rata sebelum memasukkan telur berikutnya. matikan mixer. bisa ditambahin vanili dan soda kue sih.. tapi kemarin ga pakai.
  3. Masukkan tepung terigu, aduk sampai rata dengan spatula.
  4. Tambahkan putih telur yang sudah dikocok hingga kaku. Aduk sampai rata dengan spatula. 
  5. Ambil dua centong adonan, tuangkan bubuk coklat secukupnya, aduk dan asingkan.
  6. Ambil cetakan bolu, olesin dengan mentega. 
  7. Tuang sebagian adonan warna putih, lalu tuang adonan berwarna coklat, tuang lagi adonan warna putih. Diantara penuangan ini boleh ditaburin isian kalau mau. Kemarin saya ga pakai isian sih.. secara bikinnya dadakan. Next time mau coba bikin.
  8. Panggang cetakan bolu di atas kompor gas. Jadi emak mertua punya baking pan bentuk bolu yang bisa dipakai di atas kompor tanpa oven. Cuma tinggal dialasin abu gosok biar ga terlalu panas. 
  9. Tunggu hingga berwarna kuning cantik
  10. Jadi deh. Kalau bosan makannya dan bolunya masih sisa banyak, bisa dipanggang di oven biar jadi bagelan. Hihi. 
Martabak Har Tanpa Banting-Banting.

Jadi suatu hari adik ipar saya mempromosikan martabak telur emak mertua yang enak banget, dan saya penasaran pengen nyicip juga. Jadilah beberapa hari setelah lebaran, emak mertua ngajakin bikin martabak telur. Dicontohin sekali lalu saya ditinggal ke pasar dengan pesan "Dihidangin kalau sudah selesai semua, biar ga langsung habis." Uwoooo.. laris manis rupanya. Dan iyes dong begitu dihidangin langsung hilang, Jendral Kancil sampai makan tiga itupun setelah ditahan biar ga nambah lagi.


Bahan:
  • tepung terigu secukupnya.. beneran ini emak mertua ga pakai nimbang-nimbang cuma tuang-tuang aja
  • garam secukupnya
  • air secukupnya
  • telur semaunya (dalam hal ini sehabis adonan tepung aja)
Alat:
  • teflon 
Cara Membuat:
  1. campur tepung, garam, dengan air sampai kental seperti adonan crepes. Aduk
  2. Panaskan teflon, oleskan minyak sedikit.
  3. Tuangkan satu centong sayur adonan tepung. Putar teflon sampai muncul dadar tepung bulat yang tipis. tunggu sampai agak coklat.
  4. Pecahkan satu butir telur di atas kulit martabak. 
  5. lipat sisi kiri kanan dan atas bawah kulit martabak.
  6. tuangkan minyak goreng agak banyak. Goreng martabak sampai coklat. Balikkan.
  7. Angkat. Tuang minyak di teflon kembali ke tempat minyak. 
  8. Ulangi sampai adonan habis. 
  9. Tuang adonan tepung, pecahkan telur, lipat, tambahkan minyak, goreng hingga coklat, balik, angkat, tuang minyak kembali ke tempat minyak. 
  10. Bisa dimakan dengan kuah kari (seperti martabak har pada umumnya) atau dimakan dengan cuka pempek saja. Di rumah palembang sih dimakan dengan cuka. Dan mohon maaf ga ada resep kuah karinya atau bikin cukanya, karena ga bikin kuahnya. *ditoyor pemirsah. Resep macam apa ini*
Kue Tusuk Gigi

Kue ini kesukaannya bapak mertua, karena selain enak, bikinnya gampang dan bahannya juga murah. Saya sendiri sih belum pernah makan kue ini saat lebaran. Pertama karena rasanya asin, i have a sweet tooth. Kue lebaran favorit saya ya kue coklat dan putri saju, kastengel juga.. kalau dua kue pertama tadi sudah habis. 

Nah jadi saat emak mertua mengeluh "Bikin tusuk gigi ini bikin ngantuk." menantu sholehah harus tahu itu kode minta dibantu ya.. maka here we go. Yuk-yuk dibikin. Dan setelah kuenya jadi saya baru tahu kalau ini sih kue telur gabus namanya. Ga sempat foto-foto karena.. ga megang hape. 

Bahan:
  • satu bungkus tepung kanji (500 gram)
  • 4 butir telur, kocok dengan garpu
  • garam secukupnya
  • minyak unuk menggoreng
Alat
  • dua buah wajan berisi minyak dingin. Kue tusuk gigi ini harus dicemplungkan ke minyak dingin baru digoreng, jadi biar pekerjaan cepat selesai, kita pakai dua wajan. Emak mertua saya karena sudah ahli malah, kloter pertama saja yang pakai minyak dingin. Kloter selanjutnya dituang ke minyak panas yang sudah diangkat dari kompor. Katanya sih ini bikin penampilan kuenya ga mulus.. tapi saat lebaran kemarin saya ga begitu merhatiin, yang penting rasanya yes?
Cara membuat:
  1. campur tepung kanji dengan telur lalu diuleni sampai kalis
  2. ambil sejumput adonan lalu dipelintir dengan kedua tangan hingga berbentuk tusuk gigi. Kecil-kecil aja, soalnya kuenya ngembang, 
  3. cemplungkan adonan yang sudah berbentuk ke minyak dingin. 
  4. setelah dirasa cukup banyak, panaskan minyak. Kue jangan diaduk sampai ia mengeras, kalau diaduk sebelum keras jadinya patah. Belum kuat dia.
  5. Goreng sampai kecoklatan. Angkat, tiriskan. Ulangi sampai adonan habis.

Karena penasaran apakah kue ini bisa diupgrade *lalu dileceh suami karena lidah saya gak akrab sama makanan tradisional* saya googling-googling di internet dan lagi-lagi dong terdampar di blognya Just Try and Taste. Bisa ditambah keju ternyataaaaa. Senang!! 

Tinggal nambah blenderan 200 gram keju chedar, 100 gram mentega, dan telur. Lalu digabung ke tepung deh.  Tahun depan insyaallah bisa bikin sendiri dan dikirim ke Mertua yes? Pasti kaget dengan rasanya yang sudah kekotaan, atau malah ga doyan karena berasa keju?
Post a Comment