SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

11 September 2015

Tagged Under: , , ,

Bell's Palsy dan Tuan Suami

Share

Somewhen in August, Suami Prohemer mengeluh lidahnya ga bisa ngerasain makanan dan migren terus-menerus. Bagian belakang telinganya juga terus-terusan sakit. Saya pikir Suami kena gejala flu. Jadi cukup banyak istriahat dan banyak makan. Iyes.. istri sok tau mode on.

Tak lama kemudian, Suami mulai suka ngucek-ngucek wajah bagian kirinya. Katanya mata kiri kog lama responnya. Kalau mau dikedipin ga sesigap mata sebelah kanan. Saya pikir ini cuma perasaan Suami saja. Iyes.. istri durjana mode on.

Besoknya, saya perhatiin suami setiap minum air kog tumpah melulu. Saya pikir ia ceroboh. Sampai suami menyatakan kebingungannya "Ini minum air kog tumpah terus ya dari kemarin?". Saya langsung terdetak. Ini bell's palsy. Istri khawatir mode on.

Dan benar saja, saat besoknya kita konsultasi ke dokter kantor, suami positif bell's palsy.

Bell's palsy ini merupakan penyakit kelumpuhan sebagian wajah, sehingga penderita tidak bisa mengontrol otot-otot di wajahnya. Bibir tidak bisa tersenyum sebelah, mata tidak bisa membuka/menutup sebelah, bahkan sebagian lidah juga tidak bisa mengecap. Mirip stroke, tapi beda *ya ga mirip dong artinya. hihi*. Stroke mempengaruhi kemampuan penderitanya untuk mengenggam, makanya saat kemarin diperiksa, dokter meminta suami saya menggengamkan tangan. Kalau kuat berarti bukan stroke. Bedanya lagi penderita stroke mampu mengontrol bagian kening, sedangkan penderita bells palsy tidak.

Penyebab penyakit ini tidak diketahui secara pasti. Terkena udara dingin terus-menerus, stress, keletihan, tekanan darah tinggi, terpapar virus cacar air/herpes merupakan salah satu dari sekian banyak tertuduh selain punya istri seperti saya, mungkin.

Penyakit ini biasanya sembuh sendiri meski tidak diobati, cuma jangka waktu penyembuhannya berbeda-beda. Ada yang dua minggu sudah kembali normal, ada yang butuh waktu bertahun-tahun. Taraf sembuhnya juga berbeda-beda, ada yang sembuh kembali seperti sedia kala, ada yang tidak.

Pengobatannya juga bermacam-macam, ada yang menggunakan steroid sampai melakukan operasi. Yang umum di Indonesia sih dengan akupuntur dan fisioterapi. Oleh Dokter, suami disarankan untuk segera akupuntur selain diberi beberapa obat dan diminta untuk tes darah. Mbak-mbak kantor yang pernah menderita penyakit ini juga menyarankan hal yang serupa, katanya akupuntur dan pijat jauh lebih cepat daripada fisiotherapi.

Perasaan saya berkecamuk (pilihan katanya angkatan pujangga lama sekali) cemas dan percaya ga percaya selama dokter memeriksa suami.

Tiba-tiba dari orang yang paling kuat dan paling kami andalkan, sekarang suami lah yang sakit.  Sakit yang ga biasa lagi... yang ga bisa sembuh hanya dengan kerokan, pijatan, dan ciuman istri *penyakit apa pulak yang bisa sembuh dengan tiga treatment itu*. Dari orang yang  bisanya ngerepotin dan minta diantar jemput ke sana ke mari, sekarang saya lah yang harus nganterin suami, harus ngurusin suami.

Saya takut. Takut sakitnya tambah parah hingga saya dan anak-anak kehilangan tempat bergantung. Pengen nangis tapi khawatir nambahin beban terus sakitnya malah tambah parah. Apalagi pasiennya masih bercanda dan ketawa-ketawa. Harusnya kan yang stres dia ya.. Jadi ya mari dibawa ketawa-ketawa dan ngomel-ngomel saja biar air mata ga keluar yes?

Karena suami harus kembali ke Bandung dan saya masih harus di Jakarta (thanks to potongan gaji) saya melepas suami dengan was-was. Takut sakitnya tambah parah di jalan. Takut beliau ga pergi berobat karena ga ada yg nganter. Takut something really bad happen to him while i am away. Tapi Suami menenangkan saya, ia bisa pulang sendiri dan akan segera berobat.

Hari pertama berpisah, saya menelpon suami dan seperti yang bisa ditebak  ia belum pergi akupuntur, belum tes darah, apalagi ke dokter *garuk-garuk aspal.* Padahal suami sudah tidak bisa mengendarai kendaraan karena mata kirinya ga bisa ditutup dengan sempurna. Saya lalu menghubungi adik suami biar menyeret kakaknya ke akupuntur atau ke manapun ia mau. Saya sih lebih menekankan ke akupuntur karena katanya kalau sudah kena obat dokter, sensei-sensei itu ga mau ngobatin. 

Hari itu saya menerima laporan dari adik suami kalau mereka memilih pergi ke tempat bekam bukannya akupuntur. Usut punya usut suami ga mau akupuntur karena takut jarum. Ya ampun... darah suami boleh darah palembang yang ga takut berantem sama preman batak, tapi gitu harus berurusan sama jarum kecil langsung ciut. Mungkin kalau jarumnya diganti badik, lakik eike lebih berani kali ya. Selesai bekam dengan motif polkadot di wajah, suami diajakin adiknya terapi lintah. Saya pikir suami ikutan.. ternyata ga juga. Yang diterapi malah adiknya. Istri mulai bertanduk. 

Hari kedua, suami masih ga ke dokter, ga akupuntur, dan ga periksa darah juga. Beliau meyakinkan saya kalau kondisinya membaik. Baiklah... saya pegang kata-katanya.

Hari ketiga, saya pulang ke Bandung. Saya kaget, bell's palsynya semakin parah. Kalau kemarin senyum suami masih normal.. ini setengah mulutnya sudah gak bisa ditarik. Pengen nangis. Saya langsung minta suami kompres air hangat dan pijat-pijat mukanya. Besok harus akupuntur, tekad saya, biar ga makin parah.

Berhubung akupuntur buka di siang hari, paginya saya ngajak suami pijat di tempat tante saya. Tante saya ini membuka tempat pijat refleksi gitu. Pijatnya sih cuma di jari-jari kaki, namun sakiiiit banget. Banget. Mirip-mirip kontraksi lah. Beliau dulu pernah bercerita kalau ada pasiennya yang menderita bells palsy dan berhasil sembuh. Jadi meski sakit banget mari kita jabanin.

Waktu diajakin ke tempat tante di rancaekek, lakik eike maju munndur karena.... karena ga kuat sakitnya. Lagi kelihatan sehat aja dia ogah, apalagi pas sakit gini. Cuma.. sini kan istri tega. Harus mau. Jadi meski ngendarain kendaraannya pelan-pelan banget, mampir ke mesjidnya lama banget, bahkan sempat mau balik arah di tengah jalan, sampailah kami di rancaekek. Mungkin karena sempat dibekam atau karena sudah disogok makanan dan kue bolu, pijat jari kaki kali ini tidak sesakit biasanya. Buktinya suami saya ga teriak-teriak seperti biasa.

Selesai pijat kamipun mengejar jadwal akupuntur. Ada beberapa tempat akupuntur yang jadi incaran saya, namun yang bisa kekejar cuma Klinik Niramaya di jalan Jakarta. Sampai di sana ternyata dokternya ga ada jadi ga bisa diakupuntur. Kalau akupuntur buat kecantikan boleh dipegang sama terapisnya tapi kalau bells palsy seperti ini harus sama dokternya langsung. Gagal deh.

Karena gagal akupuntur kitapun memutuskan jalan-jalan. See.. suami eike baik banget kan? Lagi sakit, harusnya banyak istriahat malah milih ngajakin saya jalan-jalan. Selama kena bells palsypun beliau ga mengurangi kegiatan. Tetap nganterin anak-anak, tetap nemenin anak-anak lomba 17 agustusan, tetap ngobrol sama siapa aja, tetap rame. Padahal ngomong aja udah susah. Padahal salah satu yang dicurigai sebagai  pencetus penyakit ini adalah kurang istriahat dan banyak pikiran.

Pengen nyubitin. Pengen bilang... udahlah sekali-sekali mikirin diri sendiri. Ga usah mikirin orang lain terus.

Seminggu berlalu dengan ditinggal istri dinas ke pulau seberang, keadaan suami membaik. Padahal ga akupuntur, ga mengulang pijit ataupun bekam lagi. Cuma kompres, pijat, dan banyak istifar ceunah *kepret pakai tasbih*. Curiga saya kalau lakik eike stress banget punya istri kayak gini makin menguat.. ditinggal dinas seminggu malah membaik. Suami.. ngaku deh!

Sebulan berlalu, kondisi suami Prohemer sudah lumayan membaik, walau belum paripurna dan mumpuni. Masih suka migren mendadak. Apalagi kalau istri curhat melulu. Matanya kadang bisa nutup kadang ga. Lidahnya terkadang masih ga ngerasain apapun. Jadi yah masih naik turun gitu kondisinya. Mau saya paksa akupuntur/bekam/pijat/apapun biar tuntas. Mohon doanya ya.

BTW, keliatan kan ya... kekhawatiran saya di atas hanya berfokus pada "nanti saya gimana.." bukan "nanti suami bagaimana". Sellfish but human right *ngeles*? Makanya Allah sebagai pencipta manusia yang paham betul sama sifat ciptaannya berfirman: 
Maka apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua).Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. (QS. Abasa: 33-36)
Saat hari kiamat nanti, Allah tahu kita akan hanya memikirkan dan menyelamatkan diri sendiri. Tidak memikirkan saudara, orang tua, pasangan, maupun anak. Tidak akan memikirkan orang-orang penting dalam kehidupan kita. Makanya tempat duduk paling aman di mobil itu adalah yang di belakang supir. Karena amit-amit kalau ada kecelakaan, secara naluri supir hanya berpikir dan bertindak untuk menyelamatkan dirinya. Yang duduk di belakangnya otomatis ikutan selamat. Yang duduk di tempat lain? Ya harap maklum.

Sampai ketemu di postingan lain yang akan ngebahas upaya kita nyembuhin bells palsy ini ya.. kalau ga malas. 

http://www.webmd.com/brain/tc/bells-palsy-topic-overview

https://en.wikipedia.org/wiki/Bell%27s_palsy

http://www.ninds.nih.gov/disorders/bells/detail_bells.htm

http://emedicine.medscape.com/article/1146903-overview


Post a Comment