SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

07 September 2015

Tagged Under:

Broadcast Tak Selalu Hoax

Share

Di era henpon canggih bisa dimiliki oleh siapa saja seperti masa kini, rasanya semua orang udah gabung di whatsapp. Dan semenjak whatsapp bisa bikin grup dengan jumlah anggota lebih dari 30, migrasi pengguna bbm ke whatsapp makin gencar. Implikasinya, grup whatsapp melimpah ruah. Ada grup smp, grup sma, grup kuliah, grup kerja, grup kompleks, grup sekolah anak, dsb. Ditambah grup geng dekat sd/smp/sma/kuliah/kerja dan grup jualan sana sini, oh.. dont forget grup arisan untuk emak-emak dan grup siskamling untuk bapak-bapak. 

Di antara sekian banyak grup yang "terpaksa" saya ikuti, terpaksa karena di whatsapp ini ga ada pilihan menerima atau menolak undangan masuk ke suatu grup. Ujug-ujug masuk aja, ga ada permisinya. Terpaksa karena gabung malesin, baca isi grupnya pun eneg (maapkaaan), mau keluar segan. Beberapa grup tersebut ada faedahnya. Beberapa bikin cekikikan.

Udah tau kan kalau di setiap grup selalu ada beberapa orang yang rajin banget share broadcast message, yang kebanyakan hoax, atau foto-foto lucu. Dan may the force with you saat gabung sama penyebar broadcast ini di beberapa grup. Udahlah grup nya banyak yang bareng, broadcastnya sama pulak di semua grup. Dapat salam dari notifikasi berjibun, yang kebanyakan cuma emoji jempol/tepuk tangan/ atau muka lol yang curiga saya cuma upaya basa-basi menghargai broadcast massage itu.

Nah, kemarin di salah satu grup wa saya membaca cerita ini dan bagusnya tiba-tiba saya dapat ide postingan. Ceritanya ini...


Pengen ngakak banget karena baru aja saya ngalamin hal yang serupa. Bukan.. bukan ditanyai tarif di tempat umum. Sini cuma sering jadi korban diajakin naik ke mobil pribadi subuh-subuh. Saya positif thinking itu mobil omprengan nyari penumpang bukan om-om atau adik-adik lucu yang nyari tunggangan. 

Jadi ceritanya suatu hari saya dan kakak serta adik mau menjemput mama di Bandara. Adik saya mau wisuda, jadi mama datang dari medan. Berhubung emak masih kerja, pesawat dari medan dipilih yang paling malam dong ya sepulang emak ngantor. Berhubung lalu lintas Jakarta ga bisa ditebak dan dosa hukumnya kalau membiarkan emak menunggu, kami berangkat berbarengan dengan emak take off. Kita sampai di bandara, namun emak belum landing jua. Setelah nunggu lumayan lama di parkiran, emak saya sms kalau beliau sudah sampai dan sedang mengambil bagasi. 

Saya dan saudari-saudari langsung bergegas ke pintu kedatangan, karena sekali lagi dosa hukumnya membuat emak menunggu. Beliau kesal, dikutuk jadi batu baru tau rasa. Tunggu punya tunggu emak saya kog ga muncul-muncul. Penumpang pun cuma muncul sebiji dua biji. Ngintip-ngintip ke arah pengambilan bagasi.. kog tidak ada keriuhan layaknya ada pesawat yang baru mendarat.

Yes.. kena zonk. Emak musti baru saja landing saat mengirim sms "Mama ambil bagasi dulu ya." Pintu pesawat pasti belum dibuka. Apalagi bagasi pesawat,niscaya belum diturunkan. Emak saya emang minta dilaporin ke pilot *gelendotan di pilotnya*

Anak hilang nyariin emak

Ngantuk dan harus menunggu bukanlah kombinasi yang bagus buat saya. Biasanya kalau ga ngamuk ya jahil. Jadilah sambil menunggu emak saya melakukan uji coba reaksi sosial. Setiap ada penumpang yang keluar sendirian saya sapa seolah-olah kenal. 

Kalau orangnya berjenggot saya teriak manggil "Abi!" Kalau klimis saya panggil papa, kalau perempuan muda saya panggil kakak, agak berumur saya panggil mama. 

Hasilnya? Yang noleh kebanyakan perempuan. Bapak-bapak tidak mudah dijahili. Saya juga kepikiran mau ngegangguin pasangan yang temu kangen di bandara, mau pura-pura jadi pacar gelapnya. Untunglah males gerak menghampiri pasangan yang berpelukan itu dan emak saya sudah muncul di area pengambilan bagasi menyelamatkan hubungan mereka. 

Hipotesa hasil uji coba reaksi sosial ini apa? Hipotesanya... orang kurang kerjaan bisa melakukan apa saja, salah satunya melakukan percobaan tak penting yang bisa saja menjadi teori hebat. 

Blah! Hihi. 

Post a Comment