SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

09 October 2015

Tagged Under:

Pilihan itu Di Kita

Share


Suatu malam di sebuah Perwakilan. “Pak, bisa minta tolong dibukakan ruangan kantor?” ujar seorang pegawai yang kedua tangannya penuh memegang berbagai barang kepada petugas keamanan yang sedang berjaga di posnya. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ia dan seorang temannya baru saja kembali dari acara kantor yang diselenggarakan di luar. “Saya ingin mengembalikan printer dan atk yang saya pinjam.” sambungnya lagi. 

Petugas keamanan tersebut menjawab dengan ramah kalau ia tidak memegang kunci ruangan sehingga tidak bisa membantu. “Kunci semua ruangan dipegang oleh masing-masing petugas cleaning service Pak.” jelasnya lagi.

“Oh, kalau begitu, printernya boleh saya titipkan di pos saja?” tanya pegawai tersebut lagi. “Tidak bisa Pak, takutnya hilang atau kenapa-kenapa. Nanti saya yang disalahkan.” 

Mendengar jawaban petugas keamanan tersebut, pegawai yang kelelahan itu lalu menanggapi dengan ketus, “Terus gimana Pak? Printernya saya bawa pulang ke Jakarta saja?” Iya ini pertanyaan retoris. Pegawai ini ditugaskan dari kantor pusat di Jakarta dan esok dini hari ia sudah harus mengejar pesawat pulang. Sehingga ia tidak dapat menyimpan peralatan kantor tersebut di kamarnya dan mengembalikannya saat ruangan sudah dibuka. 

“Ya ga gitu pak, nanti kalau disimpan di pos, kalau printernya hilang kan jadi tanggung jawab saya.” Sanggah petugas keamanan yang merasakan kekesalan lawan bicaranya ini. Untunglah sebelum keadaan tambah memanas salah seorang pegawai dari perwakilan yang menemani mereka mendekati lalu meminta kunci ruangan apapun yang dipegang petugas keamanan dan bisa digunakan untuk menyimpan printer, ATK serta peralatan lain. Petugas keamanan tersebut lalu memberikan kunci auditorium. 

Sambil berjalan ke auditorium, pegawai dari kantor pusat tersebut mengomel. “Petugas Keamanannya gimana sih Mas? Masa kunci kantor cuma dipegang cleaning service. Ga kekontrol dong siapa saja yang masuk. Nitip barang juga ga bisa, malah takut hilang. Kalau di bawah penjagaan bapaknya saja hilang, berarti ia tidak melaksanakan tugasnya dong.”  
“Sebenarnya kunci kantor dipegang masing-masing atasan Pak. Bukan sama cleaning service,” jelasnya “Itu karena disini sering kehilangan. Dan yang dicurigai sebagai pelaku ya salah satu oknum petugas keamanan. Makanya kunci kantor tidak dipegang mereka. Itu juga yang menyebabkan bapak tadi ga mau menerima titipan, kalau pergantian shift terus oknum satpam itu mengambil kesempatan kan bahaya. Nanti bisa saling tuduh dan ia yang ujung-ujungnya disalahkan” 

Mendengar penjelasan pegawai perwakilan tersebut, pegawai dari pusat ini menanggapi pelan, “Oh.. begitu.. saya jadi nyesal tadi marah-marah ke Bapaknya. Sampaikan salam dan permintaan maaf saya ya Mas.”

Saat mendengar kisah ini, saya jadi mendapati berbagai hikmah. Iya.. jadi orang ketiga itu memang enak. Bisa memandang persoalan dengan netral, tanpa terkontaminasi emosi sebagai pelaku.

Hikmah pertama, do your best. Ga semua orang tahu apa yang sedang kita hadapi. Apakah tadi di rumah anak kita rewel saat ditinggalkan, apakah listrik sudah berbunyi minta diisi padahal uang sedang dicari, apakah tadi saat berangkat ke kantor ban bocor, apakah tadi malam kita bertengkar hebat dengan pasangan, apakah tadi di kereta kita kecopetan dan ini sudah kedua kalinya dalam sebulan, atau apakah tadi kita butuh waktu sejam untuk memakai kerudung dan hasilnya masih ga bagus juga, apakah pekerjaan yang sedang kita kerjakan adalah pekerjaan orang lain yang dilimpahkan, dan masih banyak hal-hal lain yang memungkinkan mood kita buruk dan mensahkan kita bersikap judes atau seadanya ke sekitar.

Ga semua orang tahu penyebab kita berperilaku “seadanya”, berperilaku “secukupnya”. Padahal merekalah yang bersinggungan langsung dengan perilaku seadanya dan secukupnya kita itu. Lalu merekapun menilai kita berdasarkan interaksi sesaat tadi (yang apesnya terjadi saat mood senggol bacok sedang keluar).

Orangpun menilai lalu melabeli kita sebagai pribadi yang judes, tidak mau menolong, tidak mau bekerja, tidak bisa diajak komunikasi, dan sebagainya. Padahal sehari-hari kita pribadi yang ramah,  tempat curhat, rajin bekerja, senang menolong,  dan berbagai sisi positif lain yang disukai. 

Dan layaknya berita buruk, label buruk menyebar jauh lebih cepat daripada label baik. Maka terkenallah kita sebagai Fulan si Judes atau Fulanah si tukang ngeluh. Padahal itu terjadi sekali saja saat mood kita sedang tidak bagus. Sayang kan kalau sisi positif kita ga kelihatan hanya karena khilaf sesaat. Jadi do your best anytime anywhere to anyone. Meski baru saja terkena hujan badai petir menyambar, tetap pasang senyum semanis madu dan bersikap sebaik mungkin.

Petugas keamanan sudah berlaku ramah namun karena ia tidak dapat memberikan alternatif solusi yang menyenangkan untuknya dan untuk pegawai dari pusat tadi, lawan bicaranya kesal dan menganggap dia tidak mau bekerja. Kalau dari awal ia menyarankan untuk disimpan di tempat lain yang kuncinya dia pegang dan bisa ia jamin keamananya, tentu anggapan tersebut tidak muncul. Karena mana bisa pegawai pusat ini tahu kalau di situ sering kecurian sehingga ia enggan menyimpan barang di posnya.  

Hikmah kedua, be kind. Be kind, for everyone you meet is fighting a battle you know nothing about. Karena kita ga tahu apa yang sedang dihadapi orang lain, maka berbaik hati, berbaik sangka, dan bersikap baik lah kepada orang lain meski tingkahnya menyakiti mata dan hati. Manusia itu condong kepada kebaikan. Kalau ia berperilaku sebaliknya, itu pasti ada alasannya. Jadi berbaik sangka lah. Bersabarlah. Kalau kita sempat cari tahulah alasan mengapa ia berperilaku seperti itu sebelum menilai perilakunya. 

Al Quran saja menyatakan “Sesungguhnya prasangka tak memberimu sedikitpun kebenaran” (QS An Najm 28). Jadi saat suatu prasangka (prejudice) muncul di hati kita, jangan buru-buru meyakininya sebagai kebenaran sebelum melakukan konfirmasi.  Saat seseorang terlihat tidak mau membantu, terlihat judes, dan terlihat-terlihat lainnya, jangan buru-buru melabelinya seperti itu. Cari tahu!


Jeleknya prasangka buruk ini, saat kita mencap seseorang tidak helpfull, otomatis perilaku dan ucapan kita saat berinteraksi dengan orang tersebut sudah terkontaminasi prasangka tadi. Kitapun meyakini saat kita meminta bantuan, ia tidak akan mau melakukannya. Dan jadilah ia benar-benar tidak mau membantu. Padahal bukan karena ia tidak mau, tapi mungkin karena cara kita meminta bantuan atau kalimat kita saat meminta bantuan tidak menyenangkan.

Seandainya pegawai dari pusat ini mau berpikir baik bahwa ada alasan kuat yang menyebabkan petugas keamanan tersebut tidak bisa membantunya, tentu ia akan berusaha mencari jalan keluar lain.

Hikmah ketiga adalah, perilaku kita adalah hak  kita, reaksi orang adalah hak mereka. Artinya kita tidak dapat mengatur reaksi orang atas perilaku kita. Yang bisa kita atur adalah perilaku kita. Jadi boleh-boleh saja kita bertingkah seenaknya tapi jangan harap orang tidak membalas perbuatan kurang ajar kita, apalagi mengharapkan mereka mengerti dan memaklumi kenapa kita begitu.

Sebaliknya, perilaku orang adalah hak orang itu, reaksi kita adalah hak kita. Jadi mau semenyebalkan apapun seseorang, kita lah yang mengontrol reaksi kita. Apakah kita mau jadi orang yang sama menyebalkannya saat menghadapi dia atau menjadi orang yang kita harapkan?

Seandainya pegawai dari pusat ini tidak tersulut emosi namun memilih untuk bertanya alternatif solusi yang dimiliki petugas keamanan, tentunya ia tidak akan berkomentar yang menyakiti hati. Sudahlah nyakitin hati, komentarnya juga tidak memberikan solusi.


Jadi apa pilihan anda?
Post a Comment