SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

30 November 2015

Salah satu poin dalam Relationship Tips. Inspired by The Death of The Cupang kemarin adalah hubungan itu harus menyenangkan. Dan cara paling gampang adalah dengan melawak. 

Suami saya itu aliran keras Action Speaks Louder than Word alias ga bisa ngegombal. Suami Prohemer itu jarang banget bilang sayang, cinta, you are love of my life, i wanna spend my life with you, dan kalimat-kalimat gombal murahan lainnya. Padahal saya hopeless romantic abis. Abis. 

Ia lebih memilih menunjukkan dengan rela antar jemput saya ke mana saja dan jam berapa saja. Rela beliin coklat buat saya kapan saja dan di mana saja. Rela pulang-pergi Jakarta-Bandung cuma buat ngasih obat ke saya. Rela langsung balik dari luar kota padahal besok subuhnya harus ke luar kota lagi, karena saya di Bandung. Rela baksonya dimakan saya, padahal sengaja disiapin buat cemilan saat nonton. Dan banyak lagi.

Bagus dong ya.. kan pasti capek dengar gombalan laki-laki tapi ga ada buktinya. Capek tau. Capek hati. Liat aja twitter, banyak banget korban digombalin.
Yang nanya "Udah makan?" pasti kalah sama yang bawain makanan.
Yang bilang "Cepat sembuh ya", pasti kalah sama yang datang bawain obat dan melukin semalaman.
Yang ngasih emoticon nangis pasti kalah sama yang langsung nyediain pundak sambil pukpuk kepala. 
Cuma karena dia tahu saya suka digombalin, tapi gengsi ngegombalin langsung, Suami Prohemer suka menutupi gombalannya dengan lawakan. Contohnya nih ya, suatu hari ga ada badai ga ada petir, spion motor suami patah.

Sambil jalan, suami bilang 

"Mungkin spionnya ga kuat. Cuma bisa mandangin kamu tiap hari tapi ga bisa memiliki. Jadi dia memutuskan untuk pergi saja."

Dan sayapun tersipu-sipu malu. Makasih ya Suami. Kecup sampai basah. 

Gombalan Suami

30 November 2015 capcai bakar

Salah satu poin dalam Relationship Tips. Inspired by The Death of The Cupang kemarin adalah hubungan itu harus menyenangkan. Dan cara paling gampang adalah dengan melawak. 

Suami saya itu aliran keras Action Speaks Louder than Word alias ga bisa ngegombal. Suami Prohemer itu jarang banget bilang sayang, cinta, you are love of my life, i wanna spend my life with you, dan kalimat-kalimat gombal murahan lainnya. Padahal saya hopeless romantic abis. Abis. 

Ia lebih memilih menunjukkan dengan rela antar jemput saya ke mana saja dan jam berapa saja. Rela beliin coklat buat saya kapan saja dan di mana saja. Rela pulang-pergi Jakarta-Bandung cuma buat ngasih obat ke saya. Rela langsung balik dari luar kota padahal besok subuhnya harus ke luar kota lagi, karena saya di Bandung. Rela baksonya dimakan saya, padahal sengaja disiapin buat cemilan saat nonton. Dan banyak lagi.

Bagus dong ya.. kan pasti capek dengar gombalan laki-laki tapi ga ada buktinya. Capek tau. Capek hati. Liat aja twitter, banyak banget korban digombalin.
Yang nanya "Udah makan?" pasti kalah sama yang bawain makanan.
Yang bilang "Cepat sembuh ya", pasti kalah sama yang datang bawain obat dan melukin semalaman.
Yang ngasih emoticon nangis pasti kalah sama yang langsung nyediain pundak sambil pukpuk kepala. 
Cuma karena dia tahu saya suka digombalin, tapi gengsi ngegombalin langsung, Suami Prohemer suka menutupi gombalannya dengan lawakan. Contohnya nih ya, suatu hari ga ada badai ga ada petir, spion motor suami patah.

Sambil jalan, suami bilang 

"Mungkin spionnya ga kuat. Cuma bisa mandangin kamu tiap hari tapi ga bisa memiliki. Jadi dia memutuskan untuk pergi saja."

Dan sayapun tersipu-sipu malu. Makasih ya Suami. Kecup sampai basah. 

28 November 2015

Belanja Buku Bulan Ini (2)

28 November 2015 capcai bakar

Waktu pulang dari Yogya, pesawat saya delay (Lama. Banget. Banget) karena sebelumnya ada pesawat yang tergelincir. Sambil menunggu waktu sayapun melipir ke Periplus yang ada di setiap bandara. eh.. kog ada diskon? Ini menggoda banget deh. Saya kan lemah. Jadilah saya membeli beberapa buku untuk saya dan Jendral Kancil. 

Saya sedang melatih Jendral Kancil agar mau membaca buku selain komik dan buku bahasa inggris untuk menambah kosa-kata serta meningkatkan spellingnya. Lagipula saya selalu suka buku cerita anak-anak. Jadi emak senang, anak (mungkin) senang. 

Buku buat Jendral Kancil cuma Eliza Boom dan Scary Tales sih. Sisanya buat saya. Iya, yang Happily ever After itu buat saya. *tersipu malu* 

Eliza Boom, The Explosive DiaryRp25ribu,  ini habis dibaca Jendral Kancil dalam sekali duduk. Padahal kita sedang siap-siap ke Spelling Bee Contest-nya dia hari itu. Mau mandi, dibaca sebentar. Mau pakai baju, dibaca sebentar. Terus-terusan begitu, sampai emaknya ngomel.  Ia bahkan minta dibelikan buku lanjutannya, My Fizz-tastic Investigation.





Sedangkan yang Scary Tales, I Scream You Scream, Rp18.900, dibaca kemudian dan ga habis sekali duduk. 

Mungkin karena ini cerita horor, beda dengan Eliza Boom yang bercerita tentang penemu cilik. Penemu cilik yang pantang menyerah, banyak ide, berusaha disukai oleh orang yang membulynya, sampai ia berhasil menemukan temannya sendiri.  

Mungkin, seperti pengakuan Jendral Kancil, Eliza Boom'S Diary ini kata-katanya tidak sebanyak Scary Tales. Jadi anaknya semangat menamatkan. Saya sih belum baca yang Scary Tales jadi belum tahu isinya bagaimana. Gambarnya sih lumayan seram. Kalau Eliza Boom ini sudah dibaca dan bukunya menarik, ceritanya lucu, gambarnya juga bagus.


Kalau After Happily Ever After, Rp16.800,  ini juga habis saya baca dalam sekali duduk. Secara bukunya tipis dan saya orangnya kepo. Usil ingin tahu, setelah The end nya dongeng-dongeng itu tokoh-tokohnya ngapain? Ternyata Pangerannya ga se-wow yang dibayangkan. Kind of lame malah. Hahaha. 

Yang sudah selesai dibaca juga baru The Secret Life of Amanda K. Woods, Rp27.700, ini. Kisah kehidupan remaja perempuan yang introvert kemudian ditinggal sahabat karibnya sehingga ia harus berusaha mencari sahabat baru. Bagus, tapi ya ga ada kejutan atau twist macam-macam sih. Kisah hidup remaja normal, bukan kisah yang ketemu kakak kelas ganteng-pemainbasket-jugapemenangoliempadematematika. Bukan kisah itik buruk rupa yang menjalin cinta sama kakak kelas ganteng-pemainbasket-jugapemenangoliempadematematika lalu jatuh cinta dan dimusuhi kakak kelas cantik bak bidadari namun kejam.

Yang The Snow Queen, Rp90ribu, baru mulai saya baca namun dipending dulu karena.... kosa-katanya banyak yang belum saya tahu. Hahaha. Harus bolak-balik ngunjungin kamus online. Karena kalau dipaksakan untuk dibaca terus, saya ga paham ceritanya. Perlu dua sampai tiga kali baca sampai saya ngerti maksudnya apa. Hahaha.

Yah, ga masalah. Namanya belajar. 






Jadi semenjak menyadari kalau saya bisa menyelesaikan buku berbahasa inggris, saya memutuskan untuk tidak membeli edisi terjemahan jika ingin membaca novel-novel ringan. Iya sih lebih mahal, tapi mamfaatnya kan lebih besar. Menuju toefl 600 di tahun 2016? Hahaha. Selain itu rasanya beda deh membaca buku dengan bahasa aslinya ketimbang dalam bahasa terjemahan. Feelingnya lebih dapat saat dibaca dengan bahasa aslinya.

Terus belanja bukunya udah selesai? Sudah. Tadinya.

Sampai Periplus bikin diskon 50%. Argh! Saya terjebak lagi. Ini dijebak apa doyan sih. Kog berkali-kali Padahal biasanya kalau beli buku sekaligus banyak macam saat ini, potensi semua buku terbaca itu kecil. 

Namun seperti artikel How (and Why) You Should Read More bilang, 

Drop It If You Don’t Love It… If you want to read more books, retain more, and double your knowledge, you need to have a passion for what you’re reading. …Don’t be afraid to quit if you don’t love it.It’s what will lead to what you love.

Jadi anggap saja buku-buku yang tidak terselesaikan dibaca itu memang bukan jodoh saya. Kami tidak cinta. Chemistry kami ga nyambung. Jadi mari.. jangan takut belanja buku lagi. *Sembunyiin tagihan dari suami*

Mari mengakhiri postingan ini dengan pertanyaan penting. Kenapa buku dalam bahasa asli lebih mahal daripada buku terjemahan sih? Kan mereka ga harus bayar penerjemah. Kenapa? Kenapa?

Btw, Capcaibakar juga ada di Goodreads loh. Kalau selera kita cocok, boleh lah difollow kakak. 

27 November 2015

Critical Eleven

My rating: 3 of 5 stars

Dibeli karena direkomendasikan Jeng erma, katanya bagus. Meski suka pesimis dengan buku lokal, mari dicoba. Saya percaya sama selera Jeng Erma.

---

Awalnya saya terganggu dengan penggunaan bahasa inggris dan bahasa indonesia yang dicampur-campur. Mungkin ini perasaan orang-orang saat saya bikin postingan campur sari. Paham sih paham. Tapi sense nya beda. Jadi perasaan saya kebolak-balik. Ikut cerit, lalu netral lagi karena harus reframing ulang. Begitu terus. Tapi lama-lama sih biasa. 

Mungkin ingin menggambarkan kedua tokoh yang terbiasa berbahasa inggris. Iya pasangan di cerita ini kisahnya sedang LDR. Ih.. kog mirip saya. Meski kalau mereka kelasnya antar benua saya cuma antar kota sih. Jadi banyak cerita soal kota-kota di luar negeri yang mereka kunjungi. Penjabaran kota-kota di luar negeri dan adegan-adegan film yang dijadikan referensi juga terlalu detail buat saya. Apalagi, masih menurut saya, detailnya ga menambah efek ke cerita sih.

Tapi keseluruhan bukunya bagus. Saya ga sabar ingin menyelesaikannya (saya bahkan membacanya di kereta, di mobil, di stasiun, di jalan, dan di mana saja yang mungkin). Ingin tahu akhirnya seperti apa. Bikin banyak mikir. Bikin berbunga-bunga. Bikin sedih. Banget. Meski sepertinya saya saja yang lagi gampang mewek. Looks like I am followed by cutting onion ninja.

Penggambaran rasa sakit dan sedih setiap tokohnya juga dapat banget. Pokoknya jangan baca buku ini di tempat umum kalau ga mau nahan nangis. Meski saya belum dapat feel-nya kenapa Tanya harus marah.

Oh satu lagi, saya ga suka tokohnya pada naik mobil sendirian kemana-mana. Bikin macet. Eh. 

Katasaya: Beli deh.



Review: Critical Eleven

27 November 2015 capcai bakar

Critical Eleven

My rating: 3 of 5 stars

Dibeli karena direkomendasikan Jeng erma, katanya bagus. Meski suka pesimis dengan buku lokal, mari dicoba. Saya percaya sama selera Jeng Erma.

---

Awalnya saya terganggu dengan penggunaan bahasa inggris dan bahasa indonesia yang dicampur-campur. Mungkin ini perasaan orang-orang saat saya bikin postingan campur sari. Paham sih paham. Tapi sense nya beda. Jadi perasaan saya kebolak-balik. Ikut cerit, lalu netral lagi karena harus reframing ulang. Begitu terus. Tapi lama-lama sih biasa. 

Mungkin ingin menggambarkan kedua tokoh yang terbiasa berbahasa inggris. Iya pasangan di cerita ini kisahnya sedang LDR. Ih.. kog mirip saya. Meski kalau mereka kelasnya antar benua saya cuma antar kota sih. Jadi banyak cerita soal kota-kota di luar negeri yang mereka kunjungi. Penjabaran kota-kota di luar negeri dan adegan-adegan film yang dijadikan referensi juga terlalu detail buat saya. Apalagi, masih menurut saya, detailnya ga menambah efek ke cerita sih.

Tapi keseluruhan bukunya bagus. Saya ga sabar ingin menyelesaikannya (saya bahkan membacanya di kereta, di mobil, di stasiun, di jalan, dan di mana saja yang mungkin). Ingin tahu akhirnya seperti apa. Bikin banyak mikir. Bikin berbunga-bunga. Bikin sedih. Banget. Meski sepertinya saya saja yang lagi gampang mewek. Looks like I am followed by cutting onion ninja.

Penggambaran rasa sakit dan sedih setiap tokohnya juga dapat banget. Pokoknya jangan baca buku ini di tempat umum kalau ga mau nahan nangis. Meski saya belum dapat feel-nya kenapa Tanya harus marah.

Oh satu lagi, saya ga suka tokohnya pada naik mobil sendirian kemana-mana. Bikin macet. Eh. 

Katasaya: Beli deh.



26 November 2015

Belanja Buku Bulan Ini (1)

26 November 2015 capcai bakar

Saya ga selalu belanja baju kog. Kadang-kadang bosan karena model baju yang baru kog ada terus. Kapan tamatnya ini? Kalau lagi bosan belanja baju entah kenapa jadi belanja make up. Tapi saya ga selalu belanja make up, apalagi kalau melihat tumpukan alat make up yang cuma kepakai sekali dua kali. Itupun dipakai di kamar buat dandan-dandan sendiri. Iya ini penyakit gila no #34 pasangan LDR, di kamar aja dandan. 

Kalau lagi ga doyan belanja baju dan make up, seharusnya bisa nabung kan ya? Ternyata tidak. Entah kenapa nantinya saya jadi doyan belanja buku. Seperti bulan ini. Belanja bajunya malas. Belanja make upnya juga malas. Eh tapi tiap lihat diskonan buku selalu mau beli. 

Semua ini bermula saat Krisdayanti meyatakan kalau gaya 69 itu tidak level buat dia dan Ramos. Mereka mainnya gaya 360. APAH?! Gaya apa pulak ini? Sebagai pengantin muda yang sudah menikah belasan tahun dan mengklaim diri kalau sudah mengkhatamkan buku Kamasutra bolak-balik, saya kan merasa terpukul saat tidak tahu gaya ini. 

Tambah terpukul lagi saat teman saya yang baru nikah mengklaim "Oh.. gaya itu. Gampang itu." 

APAH?!! Saya, si pengantin muda yang sudah menikah belasan tahun dan mengklaim diri kalau sudah mengkhatamkan buku Kamasutra bolak-balik ini, dikalahkan oleh pengantin baru, yang baru nikah terus LDR jadi pengalaman prakteknya pasti di bawah saya? Ga terima. 

Lalu teman saya yang baru nikah terus LDR ini menyarankan buku The Happy Hooker,  Rp203ribu saja di Periplus, katanya buku ini lebih mumpuni ilmunya daripada Kamasutra. Bahkan sudah ada filmnya. Ya ampun saya kemana saja. Baiklah. Bungkus. Demi kelanggengan rumah tangga yes? 

Kemudian saya membaca postingan Jeng Erma soal Critical Eleven karangan Ika Natasha dan katanya bagus. Marilah dicoba. Soalnya jarang-jarang buku lokal dinilai bagus sama Erma. Saya yang tadinya suka patah hati setelah membaca buku lokal, memutuskan memesan buku ini di bukabuku.com, Rp63ribu sekian sekian. Yang datangnya lamaaaa banget karena pesanan saya yang lain ga ada melulu. Tau gitu kan beli di Rumah Buku aja, diskonnya lebih gede. 






Buku The Happy Hooker dan Critical Eleven belum menampakan diri padahal bacaan saya sudah habis. Melipirlah saya ke Gramedia saat diklat ke Yogya. Old style. Diskonnya ga ada tapi bukunya bisa langsung dipegang.

Di Gramedia saya membeli buku Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (disingkat SDRHDT, panjang beut soalnya), Rp58ribu, karangan Eka Kurniawan. Saya tertarik membaca buku ini karena ini satu-satunya buku lokal yang direkomendasikan oleh Om Ari. Pasti bukunya bagus banget.

SDRHDT sudah selesai dibaca. Kesan saya bukunya bagus banget. Banget. BANGET. Kalau lagi ga diklat sepertinya bisa habis dalam sekali duduk. Saya baru tahu kata-kata kotor dan kasar bisa jadi sangat indah di pikiran ya setelah membaca buku ini. Salut sama Eka. Buku ini banyak menggunakan kata-kata kasar dan menggambarkan adegan seks, jadi kalau ga suka jenis-jenis begini ga usah dibaca ya. 



Selain SDRHDT saya juga membeli Cara Cepat Membaca Bahasa Tubuh, Rp65ribu, terjemahan dari buku Joe Navarro. Karena.. pengen tahu aja. Tapi baru dibaca sedikit. Buku terjemahan dan terjemahannya kurang enak menurut saya.









Karena jatuh cinta dengan SDRHDT, sayapun mencari buku-buku Eka Kurniawan lainnya. Pas lagi nyari, lah kog pas Bukabuku diskon 30% untuk semua buku. Ini pasti petunjuk alam untuk lebih banyak membeli buku dan membantu para penulis. Pasti petunjuk alam. Pasti. *alasan*

Buku yang saya  beli karena kalap itu antara lain:




Belum pada datang sih bukunya, karena (lagi-lagi) ada buku yang habis sehingga harus ditunggu. Buat saya ga masalah. Karena masih banyak buku lain yang belum dibaca.

Hah? Masih ada?

Iya masih ada dong. Berlanjut ke Postingan berikutnya ya. 

24 November 2015

Pendahuluan. Dulu, saya, Keblug, dan Jeng Erma pernah berencana bikin novel kumpulan cerpen. Karena rencananya diterbitin jadi cerita yang ini rada "sopan". Ga kayak fiksi-fiksi lain yang pernah saya posting di blog ini. Terus entah kenapa rencana nerbitin bukunya buyar di tengah jalan. Jadi diposting di sini saja, biar ga sia-sia. Dan saya mendadak semangat ngelanjutin cerita Adit dan Alin ini. Meski sudah lupa waktu itu alur ceritanya mau bagaimana. 

Kapan lagi bisa ngatur hidup tokoh-tokoh semau kita yes? Dan mana tau beneran jadi novelis yes? Hahaha. 


“...as long as nothing happens between them, the memory is cursed with what hasn't happened.” Marguerite Duras, (Blue Eyes, Black Air)


Handphone hitam Alin tiba-tiba berbunyi. Ada telepon masuk. Tertera nama Adit-SMP di layar handphone tipis dengan layar sentuh itu.. Ia kaget. Biasanya Handphone itu hanya berbunyi saat ada tawaran kartu kredit atau asuransi. Bahkan sms yang masuk sebagian besar datang dari operator telponnya. Sisanya dari bank tempat ia menyimpan uang.  Jantungnya berdebar sedikit lebih kencang saat melihat nama yang dikenalnya. Sedikit saja. Mungkin karena sudah lebih enam bulan semenjak lelaki berambut ikal itu mengirim sms ucapan selamat lebaran. Dan sudah hampir setahun sejak komunikasi via telepon pertama mereka. Setahun lalu Adit menelponnya untuk memastikan kondisi Alin setelah gempa Jogja.

__________

Alin dan Adit teman satu sekolah, satu angkatan. Sempat sekelas, di kelas berapa Alin sudah lupa. Pokoknya mereka pernah sekelas. Mereka dekat tapi ga akrab. Di sekolah Alin bermain dengan para juara kelas dan pengurus osis. Sedangkan Adit bergaul dengan anak-anak band. Di sekolah mereka hanya saling tersenyum saat berpapasan atau tertawa saat teman-teman mereka saling melempar lelucon.

Tapi Adit selalu menemani Alin berjalan kaki ke halte bus. Menemaninya menunggu bus datang. Ia tak ingat apa saja yang mereka obrolkan. Tidak banyak sepertinya, karena Adit pendiam. Mereka lebih banyak berjalan dalam diam. Kadang-kadang pundak dan tangan mereka secara tak sengaja bersentuhan. Sentuhan kecil yang diam-diam dinikmati Alin

Alin yakin Adit menyukainya dan hanya soal waktu untuk Adit menyatakan suka lalu mereka jadian. Hanya soal waktu..

Sampai penerimaan siswa baru dimulai. Sampai Adit mulai menanyakan Siska, adik kelasnya yang juga tetangga Alin. Sampai Adit mulai minta dikenalkan dengan Siska.

Tau-tau sekarang Siska-lah yang ditemani Adit  berjalan ke halte bus. Siska lah yang ditemani menunggu bus datang. Dan Alin hanya bisa mengikuti dari belakang. Cukup jauh sampai tidak bisa mendengar obrolan mereka. Tapi tidak cukup jauh sehingga ia bisa melihat ekspresi Adit, menyadari kalau Adit tidak sependiam dugaannya. Adit bisa berbicara banyak hal, dengan Siska. Bukan dengannya.

Dengan perasaan senang meluap-luap dari pinggir hatinya, Alin menerima panggilan telpon itu.

"Hai Lin... Lagi sibuk?"
"Hola Dit! Ga kog." Mengabaikan fakta ia hanya menggunakan sebelah tangan untuk mengedit laporan bulanan yang deadlinenya minggu ini
"Masih Kerja?" Tanya Adit lagi. Tipikal basa-basi orang timur
"Udah jam pulang kog.." Alin jujur. Sekarang memang sudah jam pulang, tapi dirinya masih akan pulang berjam-jam lagi. Deadline dan jalanan Jakarta masih padat.
"Ga lagi kerja kan? Aku ga ganggu kan?"
"Ga kog. Ada apaan?"  Dia harus mengetahui dengan cepat apa keperluan Adit agar bisa menggunakan tangan kirinya kembali. Alin perlu kedua tangannya untuk membereskan laporan itu.
"Haahahaha... Masih ga doyan basa-basi ya kau Lin.."
"Hehehe. Ga gitu... Sayang pulsa lu kalau nelpon lama-lama."
"Satu operator ini. Murah" jawabnya santai " udah berubah kau sekarang Lin"
"Hah? Berubah apa?"
"Udah ga ngapak lagi bicaramu. Udah ga medok macam orang jawa. Sekarang gaul macam anak jakarta"
"Hahaha.. Kan sekarang udah kerja di Jakarta.. Emang dulu medok ya?"
"Iya.. Medok.. Orang batak tapi ngapak"
"Ah kau pun kental kali logat bataknya" balas Alin sambil meniru logat Adit
"Jadi kenapa nelpon Pak?? Jakarta belum banjir jadi gw pasti masih baik-baik aja"
"Hahaha.. " Adit terdiam. Sebentar. Alin hampir tak menyadarinya karena 3/4 otaknya masih memproses data-data di depannya
"Udah ada nomor Siska belum Lin?" Lanjut Adit.

Alin terdiam. Ia kaget. Memang setiap Adit menelpon  - yang hanya dua tiga kali itu- ia menyinggung soal Siska. Menanyakan kabarnya. Menanyakan nomor yang bisa dihubungi. Alin berpikir itu hanya percakapan basa-basi tentang seseorang yang mereka berdua kenal. Tapi tidak. Sudah 10 tahun sejak mereka berpisah, Adit masih memikirkan Siska. Alin-lah seseorang yang dikenal oleh mereka berdua.

_________

Suara motor mendekat terdengar dari dalam rumah. Alin tidak bergegas melangkah ke ruang tamu. Film "Titanic" yang hanya bisa ditontonnya saat Ayah Bunda bekerja sudah setengah jalan. Sebentar lagi adegan yang ramai dibicarakan teman-teman sekolahnya (dan dilarang Bunda untuk ditonton) akan muncul. Lagipula tamu yang datang di Sabtu siang begini pasti Dito, pacar kakaknya.

"Assalamualaikum" salam seorang lelaki
"Walaikumsalam" jawab Alin sambil berlari. Resiko menonton lewat tivi kabel ya ini, tidak ada iklan sepanjang pemutaran film. Jadi kalau ada tamu bisa dipastikan ia ketinggalan beberapa adegan. Semoga bukan adegan "mobil" itu. Dibukanya pintu depan. Dan disana, di dekat motor bebek merah warnanya, berdiri Adit, lelaki kurus tinggi berkulit gelap itu.
"Hai Lin..."
"Hai.. Ngapain kesini?" Errr bukan pertanyaan yang basa-basi yang dianjurkan semua majalah remaja. Tapi ia benar-benar kaget. Adit sudah pacaran dengan Siska. Satu sekolah sudah tahu. Jadi seharusnya sabtu siang begini Adit berada di teras rumah Siska. Bukan di teras rumahnya.
"Emang ga boleh?"
"Boleh.. Tapi ngapain kesini? Bukan ke rumah Siska, maksudnya"

Adit tertawa sembari melipir masuk ke ruang tamu.

"Toto ga kesini?" Tanyanya balik setelah menghempaskan diri di sofa krem Bunda Alin.
"Ga." Jawab Alin singkat sembari duduk di depan Adit
"Dia pernah kesini ga sih?"
"Enggak."

Alin diam. Adit diam.

"Mungkin kejauhan. Rumah lu ini sangking jauhnya  jin mau buang anak aja males"
"Tapi lu datang"
"Ga ada kendaraan kali dia"
"Iya kali.. Tiap minggu ga ada kendaraan"Jawab Alin ketus.

Toto itu teman Adit. Toto itu kapten sepak bola. Toto itu pacar Alin. Pacar yang tidak pernah menelponnya apalagi mendatangi rumahnya.

"Dia sayang elu  Lin."
"Iya kali" jawab Alin acuh.

Adit diam.

_______

Meski Toto kapten sepak bola yang disukai banyak perempuan. Alin tak pernah mengobrol dengan Toto,  sampai Toto duduk di sebelahnya, di kantin sekolah. Alin sedang mengaduk-aduk mie ayam, mencari bakso yang menyempil.

"Hai Lin!"
"Hai.."
"Ada orang?" Tanyannya sambil menunjuk tempat duduk di samping Alin.
"Enggak. duduk aja"

Toto duduk diam sambil meminum teh botol yang baru saja diambil dari warung Emak.

Alin kebingungan harus membicarakan apa dengan Toto.

"Mesen apa?" Tanya Alin basa basi.
"Baru teh botol"
"Ga makan?"
"Masih bingung."
"Ooooo" Alin kehabisan bahan pembicaraan

Ia memutuskan melanjutkan makannya sambil diam.

"Lin" panggil Toto tiba-tiba
"Ya?!"
"Jadi pacarku yuk."
"Hah?!" Alin kaget. Dihentikannya makannya. Ia lalu menatap wajah Toto. Tapi percuma. Ia tidak pernah ngobrol denggan Toto sebelumnya. Ia tidak tahu apakah Toto bercanda atau serius. Ia clueless. Cuma ada senyum jahil khas Toto disana.
"Iya.. Kita pacaran yuk."

Alin berpikir sebentar. Ia kesepian. Teman-temannya sudah punya pacar. Adit juga. Ia butuh seseorang. Dan Toto jauh lebih baik dari kata lumayan. Pasti banyak cewek-cewek lain yang memimpikan diberi pertanyaan itu oleh Toto. Kalaupun ini hanya gurauan Toto, Alin tak kan sakit hati.


"Boleh." Jawab Alin lugas.
"Siip." Jawab Toto sambil tersenyum lebar "Mie ayamnya sudah kubayar ya" ujar Toto sambil berlalu meninggalkan kantin.

Dan resmilah sudah  ia jadi pacar Toto. Sekarang  ia tidak berjalan sendiri di belakang Adit dan Siska. Ada Toto yang menemaninya. Kadang-kadang pundak dan tangan mereka secara tak sengaja bersentuhan. Tapi tak ada sengatan listrik yang menyebar ke seluruh tubuh Alin saat itu terjadi. Tidak seperti saat bersama Adit.

_______

"Ya ampunnnnn.. Masih nyari aja Pak?" Jawab Alin. Suaranya diceria-ceRiakan.
"Lah iya ini kan nanya"
"Emangnya gw pernah janji ya nyariin no telp dia?"
"Ya masa' ga mau nolong temen sih.."
"Hahaha.. Ga tau gw. Ga pernah ketemu anaknya di facebook. Nama lengkapnya siapa sih?"
"Siska Novita. Masa' lupa?"
"Yee yang punya kenangan kan situ. Wajar lah gw ga inget namanya" jawab Alin sambil mengetik Siska Novita di google.

"Bukannya lu punya pacar ya Dit sekarang?"
"Punya.."
"Lah kog masih penasaran sama Siska?"
"Pengen tau aja.. Masih idup apa gak tu anak"
"Emang mantan lu Siska doang?"
"Ya enggak.."
"Tapi penasarannya sama Siska doang nih?"
"Hahahaha.... Yang ilang dia doang"

"Ga tau gw.." Jawab Alin saat hasil pencariaan google tidak membuahkan apapun. Tidak ada satu akun facebook atas nama Siska Novita, bahkan akun friendster, yahoo, atau apalah yang biasa dimiliki orang.
"Anak-anak kompleks di grup BBM juga ga tau..ga ada kabar soal keluarganya" sambung Alin

Adit diam.

"Ntar gw tanyain teman-teman SD nya. Kalau ada info gw kabari"
"Ok." Jawab Adit
Alin diam. "Udah dulu ya Dit. Assalammualaikum" Alin mengakhiri percakapan.

Alin segera membuka halaman facebook di komputernya. Dengan banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan oleh Alin, hal-hal tidak penting seperti membalas sms, membalas mentionan twitter atau menanyakan no telepon mantan pacar orang seperti ini akan terlupakan kalau tidak dilakukan saat ini juga. Alin lalu mengirim pesan massal ke beberapa sahabat Siska saat SD dan SMP. Tanpa basa-basi Alin menanyakan no telepon Siska. Sekarang tinggal menunggu balasan dari mereka dan nanti kalau Adit bertanya ia bisa menjawab kalau ia sudah berusaha. Pikir Alin lalu kembali menekuni pekerjaannya. Kantor sudah semakin sepi.



_____

Alin dan Adit bertukar nomor telepon di Facebook. Jejaring sosial tempat reuni masal digelar.  Jaman mereka masih berseragam putih-biru handphone masih hak khusus para pejabat. Karena itu mereka hanya bertukar alamat sesudah lulus SMP. Alin meneruskan SMA di Jogja, menyusul Ayah yang dipindahkan ke Bank cabang Jogja.

"Sering-sering kirim surat ya Lin" pesan Adit setelah menuliskan alamat rumahnya di buku angkatan.

"Siiip" senyum Alin "Asal sering dibalas pasti aku rajin ngirimnya"

Mereka terdiam. Adit membolak-balik buka angkatan Alin, melihat pesan-pesan yang dituliskan teman-teman mereka. Sedangkan Alin melihat teman-temannya yang masih bermain siram-siraman air di halaman sekolah. Mereka baru saja menerima hasil kelulusan ujian akhir SMP. Semua lulus. Entah siapa yangpertama kali  memulai perang air di halaman sekolah. Alin yang sedang berdiri di pinggir lapangan tau-tau sudah terjebak di tengah-tengah siraman air. Bajunya kuyup.

Tiba-tiba  dari arah belakang seseorang menarik tangannya. Membawanya pergi dari lapangan sekolah. Seluruh tubuhnya merasakan sengatan listrik yang menyenangkam. Diamatinya tangan kekar yang menariknya. Itu tangan Adit. Adit membawa Alin menyingkir dari perang air itu. Dibawanya Alin ke ruangan kelas yang kosong melompong ditinggal penghuninya berkejar-kejaran di lapangan.

Adit melepaskan pegangan tangannya sambil duduk di meja, ia lalu menyodorkan baju kaos olahraga ke Alin.

"Nih buat ganti"

Alin memandang ragu ke kaos olahraga itu

"Ealahhhh bersih ini... Tadinya mau buat dicoret-coret" ujar Adit saat melihat keraguan di mata Alin
"Kenapa ga jadi?" Tanya Alin sambil mengambil kaos itu dari tangan Adit.
"Daripada kamu masuk angin." Jawab Adit santai.

Alin melangkah pergi ke toilet

"Ga usah.. Nanti disiram lagi. Aku cuma bawa baju satu. Ganti di sini aja. Aku keluar" ujarnya sambil menutup pintu kelas.

Alin ragu-ragu berdiri di balik pintu. Memilih sudut paling tersembunyi. Dengan cepat ia mengganti baju basahnya. Jantung Alin berdebar keras. Begitu juga Adit.

"Udah Dit." seru Alin dari balik pintu. Dibukanya pintu kelas. Pipinya memerah saat melihat Adit. Buru-buru ia memalingkan mukanya, sehingga Alin tak melihat semburat kemerahan di wajah Adit.

Untunglah beberapa menit kemudian kecangungan di antara mereka mencair dengan obrolan mengenai teman-teman mereka. Alin dan Adit sudah bertukar buku angkatan untuk diisi.

"Toto ngisi juga??" Tanya Adit heran melihat kata-kata mesra di buku angkatan milik Alin.
"Itu sebelum putus" jawab Alin.

Ia dan Toto putus saat liburan kemarin. Berpacaran dengan Toto sama seperti masih jomblo. Tidak ada kunjungan seminggu sekali, tidak ada kencan, dan tidak ada telepon. Bukan hubungan seperti itu yang diinginkan Alin.

Adit tidak bertanya lebih lanjut.

Ragu-ragu Alin bertanya "Lu sama Siska gimana?"

Keluarga Siska pindah ke Solo pertengahan tahun ini. Adit tidak pernah bercerita bagaimana kelanjutan hubungan mereka.

Adit hanya menjawab dengan senyuman.

Mereka menunggu hingga sore di dalam kelas. Menunggu hingga lapangan sekolah sudah sepi. Adit lalu mengantar Alin ke halte bus. Seperti dulu.

Sesampainya di halte Adit mengeluarkan boneka tedy bear kecil berbaju pink.

"Nih.. Kenang-kenangan" ujarnya.
"Makasih" jawab Alin. Senang.

Bus Alin sudah datang. Itu pertemuan terakhir mereka. Sejak perpisahan itu, Alin dan Adit sempat beberapa lama rajin berkirim surat. Membahas sekolah saat ini, teman-teman, dan kegiatan masing-masing. Perlahan intesitas surat yang dikirimkan menurun. Sampai pelan-pelan tidak ada sama sekali.

Rasa rindu itu juga perlahan menghilang. Hingga saat ini, Alin tiba-tiba merindukan momen-momen bersama Adit

____________________________________________


Alin sedang memainkan tablet miliknya saat suara notifikasi handphone berbunyi. Ada pesan masuk di facebooknya, dari Dian, sahabat Siska.

“Kabar baik Kak Alin… ini nomor Siska 081xxxx7584. Waktu lebaran kemarin Siska sms Dian lewat nomor ini.”

Alin lalu mengsms nomor tersebut ke Adit. Sent. Hutangnya lunas.

“Ngelamun aja” sebuah suara menyapanya dari belakang. Lelaki pemilik suara itu lalu menarik dagu Alin ke arahnya dan mendaratkan sebuah kecupan manis di bibir Alin.
“Ya abis kamunya lama.” Balas Alin “Sudah selesai belanjanya Tuan?”
“Sudah Nyonyahhh..” Ledek lelaki itu “ Lagian kenapa ga mau ikut sih? Daripada bengong disini coba.”
“Males ah.. keliling-keliling cuma ngeliatin kabel. Kamu kalau di toko elektronik macam ini pasti lamaaaa banget.”
“Ampun deh.. punya pacar perhitungan macam ini. Aku itu nemenin kamu keliling-keliling puluhan kali buat nyari sepasang sepatu doang rela loh.. rela..”
“Wajar dong… sepatu kan cantik.. kamu pasti suka lihatnya. Warna-warni juga. Kabel mana ada bagusnya..”

If only I could find my way to the ocean I’m already there with you If somewhere down the line We will never get to meet I’ll always wait for you after the rain

Lagu After The Rain-nya Adhitia Sofyan berdering dari Handphone Alin. Adit –SMP. Ia memberikan kode akan menerima telepon kepada lelaki yang sudah duduk di depannya.

“Bentar ya” Bisik Alin
“Halo Dit..” Jawab Alin
“Halo.. Salah sambung.”
“Hah?!” Alin tidak mengerti.
“Nomor Siska yang kau kasih itu salah sambung. Yang angkat cowok.”
“Oooo… ya mana gw tau.. itu nomor dapat dari temannya. Katanya lebaran kemarin Siska mengirim sms dari nomor itu.”
“Beuh..” Keluh Adit. “Lagi ngapain?” Tanyanya basa-basi.
“Malam mingguan lah.” Sombong Alin
“Dasar mentel!” Adit tertawa. “Eh Lin, kau Jakartanya dimana sih?”
“Kenapa gitu? Gw ngomong dimana lu juga ga bakal ngerti Dit.” Ledek Alin
“ Minggu depan gw dinas di Jakarta nih.. Ketemuan yuk.”
“Siip.. kabari aja ya. Udah dulu ya Dit. Bye..”
“Dari siapa?” Tanya lelaki di depan Alin, mengalihkan pandangannya dari buku menu.
“Adit.. teman SMP. Nyariin nomor telpon mantannya.”
“Niat banget. Secantik apa sih mantannya?”
“Cantikan aku kog..”
“Iya… cantikan kamu.” Jawab lelaki tinggi berkulit putih itu
“Gombal!”
“Ga.” Akhirnya sambil memanggil pelayan untuk mencatat pesanan mereka.


Alin deg-degan. 10 menit lagi sebelum Adit datang. Iya.. Adit benar-benar datang ke Jakarta. Berulang kali Alin melirik bayangan dirinya di kaca restoran amerika itu. Dirapikan rambutnya yang sebahu itu, hari ini poninya sedang tidak mau diatur. Bolak-balik Alin merapikan poninya. Wajahnya cemas. Ini pertemuan pertama setelah sepuluh tahun mereka berpisah.  Ia takut mengecewakan Adit.

“Dandan bu?” Tanya Adit mengejutkannya.
“Adiiittt… kangen ih” Alin bangun lalu hendak memeluk Adit, sampai ia sadar Adit belum jadi orang Jakarta. Prosesi peluk lalu cium pipi kanan kiri yang biasa Alin lakukan dengan sahabat-sahabat prianya tentu terasa aneh di Adit.
“Udah minumnya?”
"Udah.. Lu ga minum dulu?"
"Ga. Buru-buru nih." Jawab Adit sambil meletakkan lembaran uang di meja yang tadi didudukin Alin.
"Mau kemana sih?"
"Liat aja nanti" ujar Adit sambil menghentikan taksi.

"Dit kita mau kemana sih?" Paksa Alin ingin tahu.
"Temenin aku cari kostan ya."
"Kostan? Lu dimutasi ke Jakarta?"
"Enggak.. Belum." Jawab Adit "Aku ngelanjutin sekolah lagi di UI, jadi sekarang mau lihat persyaratan daftar ulangnya dan cari kostan"
"Ya ampunnnn.. Pakai rahasia-rahasiaan." ujar Alin kesal sambil mencubit pundak Adit " Mulai kapan? Terus sekarang lu nginap dimana?"
"Satu-satu dong Non. Mulai bulan depan. Nginap di hotel lah. Mampu ini."
"Sombong banget!"


"Eh" ujar adit tiba-tiba "Toto udah nikah tuh.."
"Tau kog. Kan lihat foto kawinannya di facebook. Trus?"
"Kalah dong ya.."
"Cih.. Nikah kog jadi kompetisi sih.. Persoalan nyari pasangan seumur hidup ini.. salah milih, derita tauk" ujar Alin sewot. Soal nikah menikah ini persoalan sensitif. Apalagi soal pernikahan Toto.
"Iya Bu Guru" jawab Adit geli. Ia tidak mau memperpanjang masalah.
"Lagian ga enak gw kalau ngelangkahin elu.." Ledek Alin
"Hahaha.. Laki-laki kecepatan kalau umur 25 udah nikah. Masih nunggu jodohnya juga kog. Masih lama"
"Nunggu jodoh apa nunggu Siska?"
"Hahaha" Adit tertawa.


"Pacar lu gimana Dit? Ditinggal di Medan?" Tanya Alin
"Udah besar.. Bisa sendiri ini"
"Ga romantis"
"Ini sekolah lagi juga demi peningkatan karier. Biar bisa beliin kapal pesiar buat calon istriku" jawab Adit serius.
"Nyontek." Ledek Alin. Ingin kapal pesiar adalah jawaban Alin setiap  Adit bertanya ia ingin dibelikan apa.
"Hahaha" tawa Adit lagi. Kali ini tangannya membelai rambut Alin sekilas.


"Terus ngobrol dong sama Toto di facebook?"
"Kadang-kadang.. Ga sering."
"Cieee yang mantannya ada di facebook."
"Emang situ..yang mantannya menghilang." Ledek Alin balik
"Sindir aja terus.. Istrinya Toto ga cemburu tuh?"
"Calon waktu itu" jawab Alin "Lagian mana Alin tau pacarnya cemburu apa enggak. Lah ditanya pacarnya mana jawabnya udah putus. Lagi nyari. Tau-tau udah ada aja foto kawinan dia. Ga sopan si Toto"
"Marah nih ketipu?"
"Sebel tauk! Toto tu bukan satu-satunya lelaki yang ngegodain gw menjelang pernikahan mereka." Ujar Alin sewot. "Laki-laki itu ya mau nikah malah belanja. Emang ga bisa setia"

"Ga semua laki-laki." Sangkal Adit
"Lu nyariin mantan padahal udah punya pacar"
"Kan cuma nyari."
"Kalau udah ketemu mau diapain?"Jawab Alin datar.
Adit diam.

Taksi menurunkan mereka di depan Fakultas Ekonomi.

"Yuk" ajak Adit mengulurkan tangannya ke Alin.

"Dit.." Panggil Alin setelah mereka keluar dari Bagian Akademik Pasca Sarjana.
"Nyari kostannya besok aja ya." Sambung Alin
"Hmm.." Guman Adit
"Aku pakai high heels nih. Pegel." Ujar Alin sambil menjaga keseimbangan saat berjalan di turunan.
"Susah ya jalannya?"
"Iya.. High heels ini hanya pantas dipakai naik turun mobil dan jalan di mall.. Hihi" menutupi fakta bahwa ia tidak terbiasa menggunakan high heels, ia memakainya karena akan bertemu Adit.

Ada turunan curam di depan Alin. Matanya mencari tangga. Kalau dia menggunakan flat shoes Alin tidak akan memandang turunan itu suatu masalah. Adit melangkah di depannya, lalu mengulurkan tangan sebagai pegangan Alin.

"Sini Tuan Putri.."
"Hihihi." Alin tersipu "Makasih"


Dengan gugup Alin memegang tangan kokoh Adit. Di akhir turunan, Adit berada sangat dekat. Alin bisa mencium aroma tubuhnya yang menyenangkan. Aditpun mencium wangi shampo dari rambut Alin. Adit tak dapat menahan diri, diangkatnya dagu Alin. Alin terdian. Ia kaget. Wajah Adit mendekat.

"Alin..." Bisik Adit.

Adit lalu mendaratkan ciuman di ujung bibir Alin. Sengaja mencium pipi dan bibir Alin. Walaupun seluruh tubuhnya ingin mencium bibir gadis itu, ia takut Alin akan menolaknya.   Kecupan di pipi "yang tidak sengaja mengenai bibir" tidak mungkin ditolak pikir Adit.

Alin bergetar. Seluruh tubuhnya tersengat listrik. Perasaannya meledak-ledak seperti ada ratusan kembang api. Ia menggeser wajahnya lalu menciumi bibir Adit. Adit membalasnya. Ya.. Ada ratusan kembang api meledak di dalam tubuh Alin.

____

Kamu. Kita. Kenangan

24 November 2015 capcai bakar

Pendahuluan. Dulu, saya, Keblug, dan Jeng Erma pernah berencana bikin novel kumpulan cerpen. Karena rencananya diterbitin jadi cerita yang ini rada "sopan". Ga kayak fiksi-fiksi lain yang pernah saya posting di blog ini. Terus entah kenapa rencana nerbitin bukunya buyar di tengah jalan. Jadi diposting di sini saja, biar ga sia-sia. Dan saya mendadak semangat ngelanjutin cerita Adit dan Alin ini. Meski sudah lupa waktu itu alur ceritanya mau bagaimana. 

Kapan lagi bisa ngatur hidup tokoh-tokoh semau kita yes? Dan mana tau beneran jadi novelis yes? Hahaha. 


“...as long as nothing happens between them, the memory is cursed with what hasn't happened.” Marguerite Duras, (Blue Eyes, Black Air)


Handphone hitam Alin tiba-tiba berbunyi. Ada telepon masuk. Tertera nama Adit-SMP di layar handphone tipis dengan layar sentuh itu.. Ia kaget. Biasanya Handphone itu hanya berbunyi saat ada tawaran kartu kredit atau asuransi. Bahkan sms yang masuk sebagian besar datang dari operator telponnya. Sisanya dari bank tempat ia menyimpan uang.  Jantungnya berdebar sedikit lebih kencang saat melihat nama yang dikenalnya. Sedikit saja. Mungkin karena sudah lebih enam bulan semenjak lelaki berambut ikal itu mengirim sms ucapan selamat lebaran. Dan sudah hampir setahun sejak komunikasi via telepon pertama mereka. Setahun lalu Adit menelponnya untuk memastikan kondisi Alin setelah gempa Jogja.

__________

Alin dan Adit teman satu sekolah, satu angkatan. Sempat sekelas, di kelas berapa Alin sudah lupa. Pokoknya mereka pernah sekelas. Mereka dekat tapi ga akrab. Di sekolah Alin bermain dengan para juara kelas dan pengurus osis. Sedangkan Adit bergaul dengan anak-anak band. Di sekolah mereka hanya saling tersenyum saat berpapasan atau tertawa saat teman-teman mereka saling melempar lelucon.

Tapi Adit selalu menemani Alin berjalan kaki ke halte bus. Menemaninya menunggu bus datang. Ia tak ingat apa saja yang mereka obrolkan. Tidak banyak sepertinya, karena Adit pendiam. Mereka lebih banyak berjalan dalam diam. Kadang-kadang pundak dan tangan mereka secara tak sengaja bersentuhan. Sentuhan kecil yang diam-diam dinikmati Alin

Alin yakin Adit menyukainya dan hanya soal waktu untuk Adit menyatakan suka lalu mereka jadian. Hanya soal waktu..

Sampai penerimaan siswa baru dimulai. Sampai Adit mulai menanyakan Siska, adik kelasnya yang juga tetangga Alin. Sampai Adit mulai minta dikenalkan dengan Siska.

Tau-tau sekarang Siska-lah yang ditemani Adit  berjalan ke halte bus. Siska lah yang ditemani menunggu bus datang. Dan Alin hanya bisa mengikuti dari belakang. Cukup jauh sampai tidak bisa mendengar obrolan mereka. Tapi tidak cukup jauh sehingga ia bisa melihat ekspresi Adit, menyadari kalau Adit tidak sependiam dugaannya. Adit bisa berbicara banyak hal, dengan Siska. Bukan dengannya.

Dengan perasaan senang meluap-luap dari pinggir hatinya, Alin menerima panggilan telpon itu.

"Hai Lin... Lagi sibuk?"
"Hola Dit! Ga kog." Mengabaikan fakta ia hanya menggunakan sebelah tangan untuk mengedit laporan bulanan yang deadlinenya minggu ini
"Masih Kerja?" Tanya Adit lagi. Tipikal basa-basi orang timur
"Udah jam pulang kog.." Alin jujur. Sekarang memang sudah jam pulang, tapi dirinya masih akan pulang berjam-jam lagi. Deadline dan jalanan Jakarta masih padat.
"Ga lagi kerja kan? Aku ga ganggu kan?"
"Ga kog. Ada apaan?"  Dia harus mengetahui dengan cepat apa keperluan Adit agar bisa menggunakan tangan kirinya kembali. Alin perlu kedua tangannya untuk membereskan laporan itu.
"Haahahaha... Masih ga doyan basa-basi ya kau Lin.."
"Hehehe. Ga gitu... Sayang pulsa lu kalau nelpon lama-lama."
"Satu operator ini. Murah" jawabnya santai " udah berubah kau sekarang Lin"
"Hah? Berubah apa?"
"Udah ga ngapak lagi bicaramu. Udah ga medok macam orang jawa. Sekarang gaul macam anak jakarta"
"Hahaha.. Kan sekarang udah kerja di Jakarta.. Emang dulu medok ya?"
"Iya.. Medok.. Orang batak tapi ngapak"
"Ah kau pun kental kali logat bataknya" balas Alin sambil meniru logat Adit
"Jadi kenapa nelpon Pak?? Jakarta belum banjir jadi gw pasti masih baik-baik aja"
"Hahaha.. " Adit terdiam. Sebentar. Alin hampir tak menyadarinya karena 3/4 otaknya masih memproses data-data di depannya
"Udah ada nomor Siska belum Lin?" Lanjut Adit.

Alin terdiam. Ia kaget. Memang setiap Adit menelpon  - yang hanya dua tiga kali itu- ia menyinggung soal Siska. Menanyakan kabarnya. Menanyakan nomor yang bisa dihubungi. Alin berpikir itu hanya percakapan basa-basi tentang seseorang yang mereka berdua kenal. Tapi tidak. Sudah 10 tahun sejak mereka berpisah, Adit masih memikirkan Siska. Alin-lah seseorang yang dikenal oleh mereka berdua.

_________

Suara motor mendekat terdengar dari dalam rumah. Alin tidak bergegas melangkah ke ruang tamu. Film "Titanic" yang hanya bisa ditontonnya saat Ayah Bunda bekerja sudah setengah jalan. Sebentar lagi adegan yang ramai dibicarakan teman-teman sekolahnya (dan dilarang Bunda untuk ditonton) akan muncul. Lagipula tamu yang datang di Sabtu siang begini pasti Dito, pacar kakaknya.

"Assalamualaikum" salam seorang lelaki
"Walaikumsalam" jawab Alin sambil berlari. Resiko menonton lewat tivi kabel ya ini, tidak ada iklan sepanjang pemutaran film. Jadi kalau ada tamu bisa dipastikan ia ketinggalan beberapa adegan. Semoga bukan adegan "mobil" itu. Dibukanya pintu depan. Dan disana, di dekat motor bebek merah warnanya, berdiri Adit, lelaki kurus tinggi berkulit gelap itu.
"Hai Lin..."
"Hai.. Ngapain kesini?" Errr bukan pertanyaan yang basa-basi yang dianjurkan semua majalah remaja. Tapi ia benar-benar kaget. Adit sudah pacaran dengan Siska. Satu sekolah sudah tahu. Jadi seharusnya sabtu siang begini Adit berada di teras rumah Siska. Bukan di teras rumahnya.
"Emang ga boleh?"
"Boleh.. Tapi ngapain kesini? Bukan ke rumah Siska, maksudnya"

Adit tertawa sembari melipir masuk ke ruang tamu.

"Toto ga kesini?" Tanyanya balik setelah menghempaskan diri di sofa krem Bunda Alin.
"Ga." Jawab Alin singkat sembari duduk di depan Adit
"Dia pernah kesini ga sih?"
"Enggak."

Alin diam. Adit diam.

"Mungkin kejauhan. Rumah lu ini sangking jauhnya  jin mau buang anak aja males"
"Tapi lu datang"
"Ga ada kendaraan kali dia"
"Iya kali.. Tiap minggu ga ada kendaraan"Jawab Alin ketus.

Toto itu teman Adit. Toto itu kapten sepak bola. Toto itu pacar Alin. Pacar yang tidak pernah menelponnya apalagi mendatangi rumahnya.

"Dia sayang elu  Lin."
"Iya kali" jawab Alin acuh.

Adit diam.

_______

Meski Toto kapten sepak bola yang disukai banyak perempuan. Alin tak pernah mengobrol dengan Toto,  sampai Toto duduk di sebelahnya, di kantin sekolah. Alin sedang mengaduk-aduk mie ayam, mencari bakso yang menyempil.

"Hai Lin!"
"Hai.."
"Ada orang?" Tanyannya sambil menunjuk tempat duduk di samping Alin.
"Enggak. duduk aja"

Toto duduk diam sambil meminum teh botol yang baru saja diambil dari warung Emak.

Alin kebingungan harus membicarakan apa dengan Toto.

"Mesen apa?" Tanya Alin basa basi.
"Baru teh botol"
"Ga makan?"
"Masih bingung."
"Ooooo" Alin kehabisan bahan pembicaraan

Ia memutuskan melanjutkan makannya sambil diam.

"Lin" panggil Toto tiba-tiba
"Ya?!"
"Jadi pacarku yuk."
"Hah?!" Alin kaget. Dihentikannya makannya. Ia lalu menatap wajah Toto. Tapi percuma. Ia tidak pernah ngobrol denggan Toto sebelumnya. Ia tidak tahu apakah Toto bercanda atau serius. Ia clueless. Cuma ada senyum jahil khas Toto disana.
"Iya.. Kita pacaran yuk."

Alin berpikir sebentar. Ia kesepian. Teman-temannya sudah punya pacar. Adit juga. Ia butuh seseorang. Dan Toto jauh lebih baik dari kata lumayan. Pasti banyak cewek-cewek lain yang memimpikan diberi pertanyaan itu oleh Toto. Kalaupun ini hanya gurauan Toto, Alin tak kan sakit hati.


"Boleh." Jawab Alin lugas.
"Siip." Jawab Toto sambil tersenyum lebar "Mie ayamnya sudah kubayar ya" ujar Toto sambil berlalu meninggalkan kantin.

Dan resmilah sudah  ia jadi pacar Toto. Sekarang  ia tidak berjalan sendiri di belakang Adit dan Siska. Ada Toto yang menemaninya. Kadang-kadang pundak dan tangan mereka secara tak sengaja bersentuhan. Tapi tak ada sengatan listrik yang menyebar ke seluruh tubuh Alin saat itu terjadi. Tidak seperti saat bersama Adit.

_______

"Ya ampunnnnn.. Masih nyari aja Pak?" Jawab Alin. Suaranya diceria-ceRiakan.
"Lah iya ini kan nanya"
"Emangnya gw pernah janji ya nyariin no telp dia?"
"Ya masa' ga mau nolong temen sih.."
"Hahaha.. Ga tau gw. Ga pernah ketemu anaknya di facebook. Nama lengkapnya siapa sih?"
"Siska Novita. Masa' lupa?"
"Yee yang punya kenangan kan situ. Wajar lah gw ga inget namanya" jawab Alin sambil mengetik Siska Novita di google.

"Bukannya lu punya pacar ya Dit sekarang?"
"Punya.."
"Lah kog masih penasaran sama Siska?"
"Pengen tau aja.. Masih idup apa gak tu anak"
"Emang mantan lu Siska doang?"
"Ya enggak.."
"Tapi penasarannya sama Siska doang nih?"
"Hahahaha.... Yang ilang dia doang"

"Ga tau gw.." Jawab Alin saat hasil pencariaan google tidak membuahkan apapun. Tidak ada satu akun facebook atas nama Siska Novita, bahkan akun friendster, yahoo, atau apalah yang biasa dimiliki orang.
"Anak-anak kompleks di grup BBM juga ga tau..ga ada kabar soal keluarganya" sambung Alin

Adit diam.

"Ntar gw tanyain teman-teman SD nya. Kalau ada info gw kabari"
"Ok." Jawab Adit
Alin diam. "Udah dulu ya Dit. Assalammualaikum" Alin mengakhiri percakapan.

Alin segera membuka halaman facebook di komputernya. Dengan banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan oleh Alin, hal-hal tidak penting seperti membalas sms, membalas mentionan twitter atau menanyakan no telepon mantan pacar orang seperti ini akan terlupakan kalau tidak dilakukan saat ini juga. Alin lalu mengirim pesan massal ke beberapa sahabat Siska saat SD dan SMP. Tanpa basa-basi Alin menanyakan no telepon Siska. Sekarang tinggal menunggu balasan dari mereka dan nanti kalau Adit bertanya ia bisa menjawab kalau ia sudah berusaha. Pikir Alin lalu kembali menekuni pekerjaannya. Kantor sudah semakin sepi.



_____

Alin dan Adit bertukar nomor telepon di Facebook. Jejaring sosial tempat reuni masal digelar.  Jaman mereka masih berseragam putih-biru handphone masih hak khusus para pejabat. Karena itu mereka hanya bertukar alamat sesudah lulus SMP. Alin meneruskan SMA di Jogja, menyusul Ayah yang dipindahkan ke Bank cabang Jogja.

"Sering-sering kirim surat ya Lin" pesan Adit setelah menuliskan alamat rumahnya di buku angkatan.

"Siiip" senyum Alin "Asal sering dibalas pasti aku rajin ngirimnya"

Mereka terdiam. Adit membolak-balik buka angkatan Alin, melihat pesan-pesan yang dituliskan teman-teman mereka. Sedangkan Alin melihat teman-temannya yang masih bermain siram-siraman air di halaman sekolah. Mereka baru saja menerima hasil kelulusan ujian akhir SMP. Semua lulus. Entah siapa yangpertama kali  memulai perang air di halaman sekolah. Alin yang sedang berdiri di pinggir lapangan tau-tau sudah terjebak di tengah-tengah siraman air. Bajunya kuyup.

Tiba-tiba  dari arah belakang seseorang menarik tangannya. Membawanya pergi dari lapangan sekolah. Seluruh tubuhnya merasakan sengatan listrik yang menyenangkam. Diamatinya tangan kekar yang menariknya. Itu tangan Adit. Adit membawa Alin menyingkir dari perang air itu. Dibawanya Alin ke ruangan kelas yang kosong melompong ditinggal penghuninya berkejar-kejaran di lapangan.

Adit melepaskan pegangan tangannya sambil duduk di meja, ia lalu menyodorkan baju kaos olahraga ke Alin.

"Nih buat ganti"

Alin memandang ragu ke kaos olahraga itu

"Ealahhhh bersih ini... Tadinya mau buat dicoret-coret" ujar Adit saat melihat keraguan di mata Alin
"Kenapa ga jadi?" Tanya Alin sambil mengambil kaos itu dari tangan Adit.
"Daripada kamu masuk angin." Jawab Adit santai.

Alin melangkah pergi ke toilet

"Ga usah.. Nanti disiram lagi. Aku cuma bawa baju satu. Ganti di sini aja. Aku keluar" ujarnya sambil menutup pintu kelas.

Alin ragu-ragu berdiri di balik pintu. Memilih sudut paling tersembunyi. Dengan cepat ia mengganti baju basahnya. Jantung Alin berdebar keras. Begitu juga Adit.

"Udah Dit." seru Alin dari balik pintu. Dibukanya pintu kelas. Pipinya memerah saat melihat Adit. Buru-buru ia memalingkan mukanya, sehingga Alin tak melihat semburat kemerahan di wajah Adit.

Untunglah beberapa menit kemudian kecangungan di antara mereka mencair dengan obrolan mengenai teman-teman mereka. Alin dan Adit sudah bertukar buku angkatan untuk diisi.

"Toto ngisi juga??" Tanya Adit heran melihat kata-kata mesra di buku angkatan milik Alin.
"Itu sebelum putus" jawab Alin.

Ia dan Toto putus saat liburan kemarin. Berpacaran dengan Toto sama seperti masih jomblo. Tidak ada kunjungan seminggu sekali, tidak ada kencan, dan tidak ada telepon. Bukan hubungan seperti itu yang diinginkan Alin.

Adit tidak bertanya lebih lanjut.

Ragu-ragu Alin bertanya "Lu sama Siska gimana?"

Keluarga Siska pindah ke Solo pertengahan tahun ini. Adit tidak pernah bercerita bagaimana kelanjutan hubungan mereka.

Adit hanya menjawab dengan senyuman.

Mereka menunggu hingga sore di dalam kelas. Menunggu hingga lapangan sekolah sudah sepi. Adit lalu mengantar Alin ke halte bus. Seperti dulu.

Sesampainya di halte Adit mengeluarkan boneka tedy bear kecil berbaju pink.

"Nih.. Kenang-kenangan" ujarnya.
"Makasih" jawab Alin. Senang.

Bus Alin sudah datang. Itu pertemuan terakhir mereka. Sejak perpisahan itu, Alin dan Adit sempat beberapa lama rajin berkirim surat. Membahas sekolah saat ini, teman-teman, dan kegiatan masing-masing. Perlahan intesitas surat yang dikirimkan menurun. Sampai pelan-pelan tidak ada sama sekali.

Rasa rindu itu juga perlahan menghilang. Hingga saat ini, Alin tiba-tiba merindukan momen-momen bersama Adit

____________________________________________


Alin sedang memainkan tablet miliknya saat suara notifikasi handphone berbunyi. Ada pesan masuk di facebooknya, dari Dian, sahabat Siska.

“Kabar baik Kak Alin… ini nomor Siska 081xxxx7584. Waktu lebaran kemarin Siska sms Dian lewat nomor ini.”

Alin lalu mengsms nomor tersebut ke Adit. Sent. Hutangnya lunas.

“Ngelamun aja” sebuah suara menyapanya dari belakang. Lelaki pemilik suara itu lalu menarik dagu Alin ke arahnya dan mendaratkan sebuah kecupan manis di bibir Alin.
“Ya abis kamunya lama.” Balas Alin “Sudah selesai belanjanya Tuan?”
“Sudah Nyonyahhh..” Ledek lelaki itu “ Lagian kenapa ga mau ikut sih? Daripada bengong disini coba.”
“Males ah.. keliling-keliling cuma ngeliatin kabel. Kamu kalau di toko elektronik macam ini pasti lamaaaa banget.”
“Ampun deh.. punya pacar perhitungan macam ini. Aku itu nemenin kamu keliling-keliling puluhan kali buat nyari sepasang sepatu doang rela loh.. rela..”
“Wajar dong… sepatu kan cantik.. kamu pasti suka lihatnya. Warna-warni juga. Kabel mana ada bagusnya..”

If only I could find my way to the ocean I’m already there with you If somewhere down the line We will never get to meet I’ll always wait for you after the rain

Lagu After The Rain-nya Adhitia Sofyan berdering dari Handphone Alin. Adit –SMP. Ia memberikan kode akan menerima telepon kepada lelaki yang sudah duduk di depannya.

“Bentar ya” Bisik Alin
“Halo Dit..” Jawab Alin
“Halo.. Salah sambung.”
“Hah?!” Alin tidak mengerti.
“Nomor Siska yang kau kasih itu salah sambung. Yang angkat cowok.”
“Oooo… ya mana gw tau.. itu nomor dapat dari temannya. Katanya lebaran kemarin Siska mengirim sms dari nomor itu.”
“Beuh..” Keluh Adit. “Lagi ngapain?” Tanyanya basa-basi.
“Malam mingguan lah.” Sombong Alin
“Dasar mentel!” Adit tertawa. “Eh Lin, kau Jakartanya dimana sih?”
“Kenapa gitu? Gw ngomong dimana lu juga ga bakal ngerti Dit.” Ledek Alin
“ Minggu depan gw dinas di Jakarta nih.. Ketemuan yuk.”
“Siip.. kabari aja ya. Udah dulu ya Dit. Bye..”
“Dari siapa?” Tanya lelaki di depan Alin, mengalihkan pandangannya dari buku menu.
“Adit.. teman SMP. Nyariin nomor telpon mantannya.”
“Niat banget. Secantik apa sih mantannya?”
“Cantikan aku kog..”
“Iya… cantikan kamu.” Jawab lelaki tinggi berkulit putih itu
“Gombal!”
“Ga.” Akhirnya sambil memanggil pelayan untuk mencatat pesanan mereka.


Alin deg-degan. 10 menit lagi sebelum Adit datang. Iya.. Adit benar-benar datang ke Jakarta. Berulang kali Alin melirik bayangan dirinya di kaca restoran amerika itu. Dirapikan rambutnya yang sebahu itu, hari ini poninya sedang tidak mau diatur. Bolak-balik Alin merapikan poninya. Wajahnya cemas. Ini pertemuan pertama setelah sepuluh tahun mereka berpisah.  Ia takut mengecewakan Adit.

“Dandan bu?” Tanya Adit mengejutkannya.
“Adiiittt… kangen ih” Alin bangun lalu hendak memeluk Adit, sampai ia sadar Adit belum jadi orang Jakarta. Prosesi peluk lalu cium pipi kanan kiri yang biasa Alin lakukan dengan sahabat-sahabat prianya tentu terasa aneh di Adit.
“Udah minumnya?”
"Udah.. Lu ga minum dulu?"
"Ga. Buru-buru nih." Jawab Adit sambil meletakkan lembaran uang di meja yang tadi didudukin Alin.
"Mau kemana sih?"
"Liat aja nanti" ujar Adit sambil menghentikan taksi.

"Dit kita mau kemana sih?" Paksa Alin ingin tahu.
"Temenin aku cari kostan ya."
"Kostan? Lu dimutasi ke Jakarta?"
"Enggak.. Belum." Jawab Adit "Aku ngelanjutin sekolah lagi di UI, jadi sekarang mau lihat persyaratan daftar ulangnya dan cari kostan"
"Ya ampunnnn.. Pakai rahasia-rahasiaan." ujar Alin kesal sambil mencubit pundak Adit " Mulai kapan? Terus sekarang lu nginap dimana?"
"Satu-satu dong Non. Mulai bulan depan. Nginap di hotel lah. Mampu ini."
"Sombong banget!"


"Eh" ujar adit tiba-tiba "Toto udah nikah tuh.."
"Tau kog. Kan lihat foto kawinannya di facebook. Trus?"
"Kalah dong ya.."
"Cih.. Nikah kog jadi kompetisi sih.. Persoalan nyari pasangan seumur hidup ini.. salah milih, derita tauk" ujar Alin sewot. Soal nikah menikah ini persoalan sensitif. Apalagi soal pernikahan Toto.
"Iya Bu Guru" jawab Adit geli. Ia tidak mau memperpanjang masalah.
"Lagian ga enak gw kalau ngelangkahin elu.." Ledek Alin
"Hahaha.. Laki-laki kecepatan kalau umur 25 udah nikah. Masih nunggu jodohnya juga kog. Masih lama"
"Nunggu jodoh apa nunggu Siska?"
"Hahaha" Adit tertawa.


"Pacar lu gimana Dit? Ditinggal di Medan?" Tanya Alin
"Udah besar.. Bisa sendiri ini"
"Ga romantis"
"Ini sekolah lagi juga demi peningkatan karier. Biar bisa beliin kapal pesiar buat calon istriku" jawab Adit serius.
"Nyontek." Ledek Alin. Ingin kapal pesiar adalah jawaban Alin setiap  Adit bertanya ia ingin dibelikan apa.
"Hahaha" tawa Adit lagi. Kali ini tangannya membelai rambut Alin sekilas.


"Terus ngobrol dong sama Toto di facebook?"
"Kadang-kadang.. Ga sering."
"Cieee yang mantannya ada di facebook."
"Emang situ..yang mantannya menghilang." Ledek Alin balik
"Sindir aja terus.. Istrinya Toto ga cemburu tuh?"
"Calon waktu itu" jawab Alin "Lagian mana Alin tau pacarnya cemburu apa enggak. Lah ditanya pacarnya mana jawabnya udah putus. Lagi nyari. Tau-tau udah ada aja foto kawinan dia. Ga sopan si Toto"
"Marah nih ketipu?"
"Sebel tauk! Toto tu bukan satu-satunya lelaki yang ngegodain gw menjelang pernikahan mereka." Ujar Alin sewot. "Laki-laki itu ya mau nikah malah belanja. Emang ga bisa setia"

"Ga semua laki-laki." Sangkal Adit
"Lu nyariin mantan padahal udah punya pacar"
"Kan cuma nyari."
"Kalau udah ketemu mau diapain?"Jawab Alin datar.
Adit diam.

Taksi menurunkan mereka di depan Fakultas Ekonomi.

"Yuk" ajak Adit mengulurkan tangannya ke Alin.

"Dit.." Panggil Alin setelah mereka keluar dari Bagian Akademik Pasca Sarjana.
"Nyari kostannya besok aja ya." Sambung Alin
"Hmm.." Guman Adit
"Aku pakai high heels nih. Pegel." Ujar Alin sambil menjaga keseimbangan saat berjalan di turunan.
"Susah ya jalannya?"
"Iya.. High heels ini hanya pantas dipakai naik turun mobil dan jalan di mall.. Hihi" menutupi fakta bahwa ia tidak terbiasa menggunakan high heels, ia memakainya karena akan bertemu Adit.

Ada turunan curam di depan Alin. Matanya mencari tangga. Kalau dia menggunakan flat shoes Alin tidak akan memandang turunan itu suatu masalah. Adit melangkah di depannya, lalu mengulurkan tangan sebagai pegangan Alin.

"Sini Tuan Putri.."
"Hihihi." Alin tersipu "Makasih"


Dengan gugup Alin memegang tangan kokoh Adit. Di akhir turunan, Adit berada sangat dekat. Alin bisa mencium aroma tubuhnya yang menyenangkan. Aditpun mencium wangi shampo dari rambut Alin. Adit tak dapat menahan diri, diangkatnya dagu Alin. Alin terdian. Ia kaget. Wajah Adit mendekat.

"Alin..." Bisik Adit.

Adit lalu mendaratkan ciuman di ujung bibir Alin. Sengaja mencium pipi dan bibir Alin. Walaupun seluruh tubuhnya ingin mencium bibir gadis itu, ia takut Alin akan menolaknya.   Kecupan di pipi "yang tidak sengaja mengenai bibir" tidak mungkin ditolak pikir Adit.

Alin bergetar. Seluruh tubuhnya tersengat listrik. Perasaannya meledak-ledak seperti ada ratusan kembang api. Ia menggeser wajahnya lalu menciumi bibir Adit. Adit membalasnya. Ya.. Ada ratusan kembang api meledak di dalam tubuh Alin.

____