SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

05 November 2015

Tagged Under: ,

Demata Museum, Dearca Museum, dan Bakmi Mbah Hadi

Share

Berhubung tempat wisata yang masih buka setelah jam kerja sedikit, pilihan saya terbatas ke Taman Pelangi (yang tempatnya lumayan jauh ternyata), mengikuti kursus MC Jawa dasar di Tembi Rumah Budaya (selain tempatnya lumayan jauh, ini tampak terlalu optimis untuk orang yang ngerti bahasa jawa saja enggak), atau ke Demata dan Dearca Museum. Akhirnya pilihan jatuh ke Demata dan Dearca Museum yang tempatnya di kota dan buka sampai jam 10 malam. 

Jadi rencananya hari ini kami akan ke Demata Museum - Dearca Museum - Bakmi Mbah H. Hadi- Mirota Kampus - Bundaran UGM - Pulang.

Sesungguhnya Demata dan Dearca Museum ini lebih tepat disebut taman mainan modern daripada museum benaran. Bukan favorit saya, tapi bolehlah. Kedua museum ini terletak di XT (ex-ti) Square yang tadinya bekas terminal lalu dijadikan sebagai tempat hangout gitu. Banyak toko (ya, ada batu mulia juga jika anda tertarik), banyak tempat makan, dan ada tempat karaoke. Yang ga banyak cuma jumlah toko yang buka dan jumlah pengunjung. Sepi. Tempat makannya juga sepi. Mungkin ramainya siang tadi.

Berbeda dengan kesepian di luar, ternyata di Demata lumayan ramai dengan pengunjung. Memang ga antri-antri banget seperti mau masuk Dufan atau Kidzania, tapi adalah. Mungkin karena ini hari kerja. Namun bukankah semakin sedikit pengunjung maka semakin banyak kesempatan buat foto-foto, betul?


ini bukan kasir benarannya. Suer.
Demata Museum merupakan "museum" gambar dan foto tiga dimensi yang diklaim terbesar di dunia dan pertama di Indonesia. Terbesar ini mungkin dari banyaknya jumlah bekgron. Soalnya ukuran tempatnya menurut saya biasa aja.

Di dalam musem ini pengunjung bisa berfoto dengan latar 3D yang kelihatan asli. Seperti yang booming di foto-foto studio era 80an dulu. Foto-fotonya boleh sampai bosan, sampai mati gaya, atau di kasus saya sampai baterai kamera dan henpon habis. 

Tenang, meski baterai kamera habis, museum ini menyewakan kamera hape yang berkualitas bagus seharga Rp20.000 saja. Jadi kalau masuk kesini cuma bawa henpon kecil yang kameranya cuma seadanya, ya bisa sewa kamera untuk hasil gambar yang lebih bagus. Sayang kan udah bayar Rp40.000 buat masuk museum tapi foto yang jadi cuma ala kadar atau malah ga ada foto sama sekali. Tujuan kamu apa? Hah? Hah?*ala kakak-kakak ospek*

Selain menyewakan kamera, mereka juga menyewakan mas-mbak fotografer, untuk mengambilkan foto. Bukan untuk yang lain ya Mas dan Mbaknya *cubitin*. Kalau ingin menggunakan jasa kru Demata cukup membayar mulai Rp80ribu untuk delapan kali foto, 1 kali cetak, dan dipindahkan ke CD. Paket paling mahal kalau ga salah Rp150ribu. Saya lupa.

Dalam museum. Ada tangga buat ngambil foto
Jadi kalau datang sendirian atau mau foto berdua pasangan tapi ga ada orang ketiganya, ya mangga Mbak-mas Demata Museum dijadikan orang ketiga. Mungkin kalau mau ngajak mas dan mbak Demata untuk foto bareng sebagai pasangan juga boleh. Kalau mbak/masnya mau lah ya. Kalau ga jangan dipaksa. Ini kan masalah hati dan kerupawanan.

Kami tentu saja memilih bergantian memfoto. Emak-emak irit yes? Toh kan mau punya stok profile pic juga, jadi ya harus sendirian. Bwahahaha.

Begitu memasuki ruangan Demata Museum yang disusun seperti maze, kami dihadapkan ke berbagai macam foto-foto 3D yang diletakkan berdekatan. Di dekat setiap gambarnya juga disediakan tangga untuk fotografer (jika dibutuhkan), dingklik (buat naik), dan properti pelengkap. Ga perlu bingung karena ga tahu foto yang harus diambil seperti apa, karena di setiap pojok gambar ada contoh foto sebagai acuan. Jadi sebelum sibuk foto-foto, cari dulu foto contoh dan petunjuk lainnya (di lantai misalnya) sebagai acuan best angle dan best spot.

Keuntungan lain datang saat sepi adalah kami bisa foto-foto dengan santai (tanpa antri) dan pose aneh-aneh tanpa malu-malu. Iya dong.. biar foto-foto begini maksimal jadinya mau ga mau harus rela tidur-tiduran di lantai dan pasang ekspresi ngilani. Seperti foto-foto ini.

Harus rela tidur-tiduran  dan nungging syari

Ekspresi itu penting
Penting banget
Totalitas juga penting.

Kebayang kan kalau datang ke sini pas ramai? Pasti agak segan pasang ekspresi dan gaya aneh-aneh. Meski, teori saya, yang datang ke Demata Museum bisa dipastikan sebagian besar penggemar selfie, orang-orang sih pada cuek aja kalau gayanya aneh-aneh atau satu pengunjung harus ngambil foto berkali-kali sampai dapat yang dia inginkan.

Ngambil fotonya berkali-kali? Iya, karena ada beberapa foto yang meski sudah disamakan setengah mati dengan foto contohnya, efeknya gak keluar-keluar juga. Sembelit saya rasa. Jadi aja kami harus bolak-balik take ulang padahal doyan

Foto ini misalnya. Harusnya keliatan melayang.
Ini juga, berkali-kali bayangan saya menutupi kakang mas spidi
Pas ga nutupin kog saya yang ga punya bayangan. Jadi ga pas.
Secara ngambil fotonya try and error, saya mulai mengubah strategi. Kalau di awal-awal saya napsu harus foto di setiap latar, begitu masuk ke bagian lain dan menyadari kegiatan ini menguras waktu dan tenaga,, saya mulai selektif. Hanya foto di latar yang terlihat riil benaran. Hanya foto di latar yang lucu-lucu saja. Soalnya kalau semua latar difoto, capek Nyaiiii. Di museum ini ada 120 foto loh.. kalau semua difoto bisa-bisa kami ga keluar-keluar dari museum ini. 

Ah.. Sultan...
Airnya dingin mbak?
One of my Fav
Tetangga boleh cowok-cowok ganteng.
Tapi kalau berantem terus kan bingung
Selain background, Demata juga menyediakan foto dengan properti seperti di bawah ini. Ada bawahan lelaki dengan celana coklat dan bawahan perempuan dengan atasan berwarna merah. Jadi mangga kalau mau disamakan kostumnya biar matching.

Yang matching
Yang ga matching
Akhir kata, main ke sini itu menyenangkan kalau doyan selfie. Kalau ga begitu doyan, ya bosan. Terus jangan mengharapkan fotonya bagus luar biyasak, standar lah. Pencahayaannya juga kurang mendukung. Beberapa background mulai luntur karena keseringan diinjak. Tapi lumayanlah secara harga tiket masuknya jauh lebih murah daripada wahana serupa di luar negeri. 


Demata Museum
XT Square. Basement. Jalan Veteran Pandeyan.
Buka : Senin - Minggu; pukul 10.00 pagi - 10.00 malam
Tiket Demata : Rp.40.000,-
Tiket Demata+Dearca : Rp.75.000,-
Promo
Happy Hour Rp30rb mulai pukul 10 pagi s.d 3 siang. 
Kalau ulang tahun, masuknya gratis


Karena kami Emak-Emak Irit tentu saja beli tiketnya tiket terusan dari Demata Museum ke Dearca Museum. Mumpung lagi di Yogja. Mumpung santai. Mumpung ada di satu tempat.

Dearca ini berisi berbagai macam patung tokoh-tokoh terkenal di Indonesiadan di dunia. Baik di dunia artis, dunia film, dunia buku, dunia teknologi, dan semoga tidak ada yang dari dunia lain. Yah.. Madame Tussaud kw sekian lah ya. KW ya ceu.. bukan Ori Super. Karena itu jangan membayangkan patungnya cihui banget. Beberapa patung bahkan harus saya lirik nametagnya untuk tahu dia siapa. Hahaha.

Penerangannya juga kurang menurut saya.


Awalnya agak kecewa, sampai saya menemukan patung Jokowi dan Ahok. Langsung ingat suami. Langsung Hepi. Hahaha. Kebayang kekinya dia kalau saya foto dengan dua tokoh "kesukaannya" ini.



Selanjutnya ya sudah mari lucu-lucuan saja. Dinikmatin karena sudah beli tiketnya mamak.


Jadi ahlinya staf presiden
Teman saya suka yang shirtless gini. Saya suka yang full body armor yang mihil.
Lakik pintar lebih menggoda


What should we do? Bosen.
Ya udahlah foto di tulisan aja. 

Dan... kelar!

Kata saya kalau pergi ke tempat-tempat begini, enaknya sama teman sih. Biar ga dipuk-pukin karena foto-foto pakai tongsis. 

Dearca Museum
XT Square. Depan Gerai ATM.  Jalan Veteran Pandeyan.
Buka : Senin - Minggu; pukul 10.00 pagi - 10.00 malam
Tiket Dearca : Rp.50.000,-
Tiket Demata+Dearca : Rp.75.000,-
Promo
Happy Hour Rp35rb mulai pukul 10 pagi s.d 3 siang. 
Kalau ulang tahun, masuknya gratis


Bakmi Mbah H. Hadi

Baterai kamera kedua sudah habis, baterai handphone juga sudah kritis, baterai tubuh apalagi. Secara tadi berangkat jalan-jalannya tanpa makan malam. Nyonyah sudah lapar berat nyai. Sambil menahan diri untuk tidak makan di XT Square (yang aroma makanannya sudah merayu-rayu), kami memberhentikan taksi dan melaju ke Bakmi Mbah H. Hadi yang terletak di dalam Pom Bensin Terban.

Di hayalan kami, Bakmi Mbah Hadi ini tempat makan dengan tampilan tradisional. Di rumah atau emperan. Ternyata tempatnya modern, semacam ruko biasa. Tempat duduknya ada yang indoor dan outdoor.

Saya sih mengincar tempat duduk outdoor karena bisa melihat pemandangan malam yang ciamik ini. Malam itu hebat ya, mampu membuat pemandangan perkampungan jadi indah begini.

Cantik ya? Padahal lokasinya persis di sebelah perkampungan yang jalannya kecil-kecil gitu.

Berhubung saat itu masih banyak yang mengantri (padahal sudah hampir jam 10 malam), duduk di mana saja ga masalah. Yang penting makan. Nyonyah lapar.

Namun tiada kemudahan untuk mendapatkan sesuatu yang luar biasa right? Untuk dapat menumpas lapar kami harus menunggu selama 50 menit sebelum bisa duduk. Ya salam. Meski sudah lapar berat, mari kita tabahkan diri dengan membeli cemilan di mini market sekitar.

Kog sabar menunggu Nyai? Tumben.

Soalnya Bakmi Mbah Hadi ini termasuk salah satu bakmi terkenal yang direkomendasikan di Yogja. Bakmi jogja itu enak luar biasa karena dimasak satu persatu dengan anglo yang dikipasin. Yes.. satu persatu dengan kompor arang. Wajar kalau butuh waktu lama untuk menyiapkan pesanan, meski anglo di Bakmi Mbah Hadi ada dua.

foto seadanya karena baterai hape sudah habis benar.
Ga papa, selama masih ada cemilan saya akan tabah. Begitu cemilan habis dan perut masih lapar, satu bakmi nyemek pedas, satu bakmi godog sedang dengan kepala ayam, dan segelas minuman wedang tape hangat diantarkan ke meja kami. Ya ampun pas banget. Dan aroma bakminya wangi banget. Ini nulisnya aja sambil nahan air liur.

Mi dan kuahnya enak banget. Enak. Banget. Minya kenyal. Bumbu kuahnya nendang. Manis-manis gurih. Sangking enaknya kuah Bakmi Mbah Hadi ini, saya nyesal ga mesan bakmi godog saja. Kuahnya kan lebih banyak kakakkk..

Daging ayamnya juga besar-besar, manis, dan empuk seperti ayam kampung. Porsinya ngenyangin. Banget. Minuman tapenya enak. Manis-manis hambar gitu. Manis ga manis.

Pedasnya gimana? Buat orang yang ga suka pedas kayak saya, level Pedas di sini sama dengan level ga pedas saya. Mungkin karena pedasnya berasal dari cabe rawit yang diiris-iris. Jadi baru kerasa pedas kalau dikunyah, saya ga suka. Bikin kaget soalnya. Tiba-tiba pedas.

Pelayanannya juga luar biasa. Antriannya dijaga agar tertib. Perkiraan waktunya juga on time. Waktu saya celingukan mau nambah minum, pelayannya dengan cepat membantu. Me like it. Mau datang lagi!

Oh ya, harganya juga lumayan murah. Total kerusakan dompet cuma Rp46ribu kakak.. murah kan?

Mirota Kampus

Keluar dengan perut kekenyangan dari Bakmi Mbah Hadi, kami jalan kaki agak jauh ke Mirota Kampus yang mengkhususkan diri menyediakan berbagai jenis atk dan pernak-pernik lucu banget tapi ga penting. Tadinya mau nostalgia keliling mirota kampus dan khilaf membeli pernak-pernik lucu. Tapi apa daya, akibat kelamaan foto-foto, kami sampai di Mirota Kampus saat mirota kampusnya sudah tutup. Lihat dari luar aja Kakak. 

Dulu waktu jaman pacaran ndak berkah itu dan LDRan sama Suami Prohemer, saya sering ke Mirota Kampus untuk milih kertas surat lucu-lucu. Iya.. jaman dulu belum ada messenger yang gratis-gratis apalagi messenger dengan stiker lucu-lucu. Telpon dan sms masih mahal, ga pakai bonus-bonus pulak. Kalau mau internetan harus ke warnet malam-malam biar murah. Jadi selain memandang langit yang sama, saya dan Tuan Suami cuma bisa surat-suratan untuk melepas rindu. Saya yang nyuratin tiap hari sih, dianya balas sekali dua kali aja. 

Bundaran UGM

Karena Mirota Kampus tutup kamipun melanjutkan perjalanan ke Bundaran UGM. Tadinya kami berpikir Bundaran UGM ini akan ramai dengan muda-mudi Yogja dan berbagai penjual makanan ringan. Jadi sengaja jalan kaki dari Bakmi Mbah Hadi biar ada ruang kosong di perut untuk nyemil-nyemil cantik di sini. Ternyata begitu sampai, bundaran UGMnya sepi aja.

Krik.

Krik.

Penjual makanan yang ada cuma kacang rebus. Muda-mudi yang nongkrong cuma beberapa gerombolan dan itupun kalau ga pacaran, ya ngerokok, ya mabuk. Malesin.


Ga berapa lama mobil patroli polisi lewat dan keliling-keliling di sekitar bundaran. Oh.. sepertinya sudah ga boleh membuat keramaian lagi di sini. Jadi lah kami foto-foto sekali dan memutuskan pulang. Semangat boleh semangat remaja tapi apa daya badan udah minta tidur. 

Sampai ketemu lagi!

Btw, lumayan repot juga ya nulis blog di sela-sela belajar (yeah... pencitraan) dan jalan-jalan. *usap keringat di jari jemari*
Post a Comment