SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

03 November 2015

Tagged Under: , ,

Jazz Mben Senen di Yogya

Share

Berkali-kali saya berniat bikin postingan soal biztrip segera setelah biztripnya selesai. Namun begitu perjalanan dinasnya kelar, kelar juga mood nulisnya. Maka kali ini mari dicoba bikin postingan segera setelah kembali dari tempat baru, meski perjalanan dinasnya belum kelar. 

Sebelum menceritakan perjalanan dinas kali ini yang dimulai dengan mata bintitan, yes you read it right, saya akan menceritakan kategori-kategori perjalanan dinas yang saya lakukan. Kategori-kategori... kesannya kayak ada banyak ya.. padahal cuma ada dua. Kategori pertama, perjalanan dinas serius dimana saya tidak mau bisa menyempatkan diri untuk eksplorasi kearifan lokal dan satu lagi perjalanan dinas santai dimana saya mau bisa mengeksplorasi kearifan lokal alias jalan-jalan. Perjalanan dinas kategori pertama biasanya perjalanan dinas benaran (dimana saya harus nyinden jadi harus nyiapin materi sampai tengah malam dan bangun dini hari biar nyindennya lancar) dan suka diiringin tugas menemani senior. Jadi pastinya lebih sering mencoba wisata kuliner. Padahal sesungguhnya kalau jalan-jalan, saya lebih suka wisata budaya atau wisata alam daripada kuliner, maka seringkali perut saya kenyang dan bahagia tapi batin saya kering. Halah.  

Nah kebahagian batin ini yang bisa saya peroleh jika melakukan perjalanan dinas kategori kedua, yaitu perjalanan dinas dimana saya menjadi pendengar sinden. Sudahlah dapat ilmu dan kenalan baru, selesai jam kantor juga bisa keliling-keliling kota. Hati senang, otak gampang bekerja. 

Terakhir kali saya melakukan perjalan dinas seperti ini ya setahun kemarin, ke Yogyakarta dan belum dibikin postingannya juga. Ternyata udah setahun yang lalu. Pantas saja saat kemarin melihat kembali foto-foto di Yogya, muncul perasaan "AKU PENGEN PIKNIK". Tabungan rohaninya udah menipis.

Begitu ingin piknik eh dapat panggilan diklat ke Yogya (iya.. yogya lagi). Seminggu pula. HORE PAKE CAPSLOCK *nari hula-hula* Benar ya.. semua itu sudah diatur sama Allah. Pas mau, pas dapat. Alhamdulillah ya. *Saya masih mau penempatan Bandung, sekolah di Inggris, dan kumpul sama keluarga Ya Allah. Kabulin ya Allah.* Hahaha.

Dan seperti biasa, sebelum ke Yogja saya selalu melihat daftar acara-acara lokal di Yogyes. Dari kalendar event yang direalese Yogyes ini saya jadi tahu acara apa yang bisa dikunjungin, di mana, dan jadwalnya kapan saja. Ini webnya komplit deh. Lumayan banget buat langkah awal dalam merancang itinerary.

Tadinya saya mau nonton wayang kulit yang digelar tiap malam di Sonobudoyo Museum. Tapi karena jadwalnya ga jelas (di kalender bilangnya tiap malam, di artikel ditulis minggu kedua dan keempat saja. Sepertinya ini lokasi pagelaran wayang kulit yang berbeda), saya memutuskan untuk nonton Jazz Mben Senen di Bentara Budaya Yogyakarta saja. 

Makannya di steak tepung, karena teman saya ini doyan banget steak tepung.
Tahun lalu waktu kita diklat di medan juga makan steak tepung.
Jazz Mben Senen ini merupakan acara tempat berkumpulnya para pelaku, pencinta dan penikmat musik jazz yang rutin diadakan setiap malam senin di Bentara Budaya Yogyakarta. Namanya pemusik kumpul-kumpul sudah pasti ada performance kan ya. Jadi setiap orang bisa dengan gratis bergabng dan menikmati alunan musik jazz.

Jazz Mben Senen berlangsung di pelataran parkir Bentara Budaya yang terletak dekat Perpustakaan Nasional (yang sampai malam pun masih ramai dengan mbak-mas yang wifi-an) dan Toga Mas (iya... ke luar kota mainannya tetap toko buku). Acaranya dimulai pukul setengah sembilan malam sampai selesai.

Karena sudah mampir makan dan nyari buku, kami tiba di tengah-tengah pertunjukan. Rupanya sedang ada recital piano dari Krisna, anak salah seorang tokoh jazz di Yogja. Saya lupa nama bapaknya karena namanya unik. Ini anak muda mainnya keren aja ya.. tante jadi gemes. Eh. 

Ekspresinya ngilani. Krisna di piano. Yoga di Bass. Dan Yonas (?) di drum.
Mainnya bagus-bagus. Lakik dan alat musik emang bikin debar-debar ya. 

Keliatan kan pada asyik main gitu. Senang banget dengar dan lihatnya. Apalagi MCnya juga lucu-lucu. Saya ngakak lihat dan dengar obrolan mereka. Lakik-lakik gaul maksimal tapi ngobrolnya pakai bahasa jawa. Haduh... koplak lah, saya yang paham bahasa jawa cuma selintas dua lintas aja ketawa ngakak. Apalagi orang jawanya sendiri. Yang bengong dengar obrolan mereka paling cuma turis-turis internasionil aja. Tapi hebatnya mc-mc Jazz Mben Senen ini, mereka bisaan dong ngajak ngobrol dan ngebecandai turis-turis sampai mereka ikutan ketawa juga. Baik banget sih kalian.

Ini Mcnya juga lucu-lucu. Bikin ngakak lah.

Selain lihat recital Krisna, kami juga menyaksikan turis dari Afrika Selatan yang tadinya nonton ikutan ngejamm di Jazz Mben Senen ini. Jadi di Jazz Mben Senen siapa saja bisa ikut tampil, ga harus dari komunitas. Dari penonton juga bisa. Asal berani. Dan asal ga ganggu telinga lah ya. Yang suaranya fals kayak saya cukup tepuk tangan saja. 

Mathew dan Yuana (?) yang membawakan lagu Angel (bahasa afrikannya dipronouncekan seperti angel jawa)

Btw adik-adik bule ini mahasiswa kedokteran di Afrika sana.  Keren ya muda-muda udah jalan-jalan ke benua lain. Kakak iriiii. *sok muda* Sayangnya berhubung sudah pukul 10 malam dan besok masih harus diklat, saya tidak bisa menyaksikan acaranya sampai selesai. Buru-buru pulang dan naik taksi biar bisa bobo-bobo cantik.

Saran saya, kalau senang dengar dan liat acara musik boleh loh disempatin nonton Jazz Mben Senen ini. Cuma karena acaranya dari penonton untuk penonton, kalau kelamaan nunggu orang yang mau tampil ya harap maklum ya. Orang Indonesia kan suka malu-malu mau. Tapi ga akan membosankan kog, karena selama nunggu MC-nya sangat menghibur hati.

Terus, karena ini acara musik, datanglah kalau mau ngedengarin aja. Kalau mau ngedengerin gebetan cerita soal dirinya, udahlah ga usah diajak ke sini. Suara kecengan ga kedengaran, nanti kamu dituduh ga perhatian. Muka kecengan juga nyeremin karena harus ngobrol tarik urat terus. Apalagi ada resiko dipelototin kakak-kakak galak yang pengen dengerin musik, bukan pengen dengerin kecengan kamu bisanya cuma masak air dan telur aja. Di sini cocoknya kalau pengen ngederin musik sambil pegangan tangan dan senderan di bahu aja. Bukan ngobrol untuk pemahaman entitas akan calon pasangan. Ga cocok. 

Akhir kata, akhirnya kesampean juga nonton Jazz Mben Senen. YAY!! Saya bisa tidur pulas malam ini. *drama*


Jazz Mben Senen
Setiap senin pukul 20.30 - selesai
Jl. Suroto 2 Kotabaru, Yogyakarta, Indonesia
Phone: (0274) 560 404
Tiket: Gratis
Transportasi: Taksi? Hahaha.. ga nolong memang tapi ya saya cuma tahu naik taksi dan becak kalau di Yogya. 
Post a Comment