SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

24 November 2015

Tagged Under:

Kamu. Kita. Kenangan

Share

Pendahuluan. Dulu, saya, Keblug, dan Jeng Erma pernah berencana bikin novel kumpulan cerpen. Karena rencananya diterbitin jadi cerita yang ini rada "sopan". Ga kayak fiksi-fiksi lain yang pernah saya posting di blog ini. Terus entah kenapa rencana nerbitin bukunya buyar di tengah jalan. Jadi diposting di sini saja, biar ga sia-sia. Dan saya mendadak semangat ngelanjutin cerita Adit dan Alin ini. Meski sudah lupa waktu itu alur ceritanya mau bagaimana. 

Kapan lagi bisa ngatur hidup tokoh-tokoh semau kita yes? Dan mana tau beneran jadi novelis yes? Hahaha. 


“...as long as nothing happens between them, the memory is cursed with what hasn't happened.” Marguerite Duras, (Blue Eyes, Black Air)


Handphone hitam Alin tiba-tiba berbunyi. Ada telepon masuk. Tertera nama Adit-SMP di layar handphone tipis dengan layar sentuh itu.. Ia kaget. Biasanya Handphone itu hanya berbunyi saat ada tawaran kartu kredit atau asuransi. Bahkan sms yang masuk sebagian besar datang dari operator telponnya. Sisanya dari bank tempat ia menyimpan uang.  Jantungnya berdebar sedikit lebih kencang saat melihat nama yang dikenalnya. Sedikit saja. Mungkin karena sudah lebih enam bulan semenjak lelaki berambut ikal itu mengirim sms ucapan selamat lebaran. Dan sudah hampir setahun sejak komunikasi via telepon pertama mereka. Setahun lalu Adit menelponnya untuk memastikan kondisi Alin setelah gempa Jogja.

__________

Alin dan Adit teman satu sekolah, satu angkatan. Sempat sekelas, di kelas berapa Alin sudah lupa. Pokoknya mereka pernah sekelas. Mereka dekat tapi ga akrab. Di sekolah Alin bermain dengan para juara kelas dan pengurus osis. Sedangkan Adit bergaul dengan anak-anak band. Di sekolah mereka hanya saling tersenyum saat berpapasan atau tertawa saat teman-teman mereka saling melempar lelucon.

Tapi Adit selalu menemani Alin berjalan kaki ke halte bus. Menemaninya menunggu bus datang. Ia tak ingat apa saja yang mereka obrolkan. Tidak banyak sepertinya, karena Adit pendiam. Mereka lebih banyak berjalan dalam diam. Kadang-kadang pundak dan tangan mereka secara tak sengaja bersentuhan. Sentuhan kecil yang diam-diam dinikmati Alin

Alin yakin Adit menyukainya dan hanya soal waktu untuk Adit menyatakan suka lalu mereka jadian. Hanya soal waktu..

Sampai penerimaan siswa baru dimulai. Sampai Adit mulai menanyakan Siska, adik kelasnya yang juga tetangga Alin. Sampai Adit mulai minta dikenalkan dengan Siska.

Tau-tau sekarang Siska-lah yang ditemani Adit  berjalan ke halte bus. Siska lah yang ditemani menunggu bus datang. Dan Alin hanya bisa mengikuti dari belakang. Cukup jauh sampai tidak bisa mendengar obrolan mereka. Tapi tidak cukup jauh sehingga ia bisa melihat ekspresi Adit, menyadari kalau Adit tidak sependiam dugaannya. Adit bisa berbicara banyak hal, dengan Siska. Bukan dengannya.

Dengan perasaan senang meluap-luap dari pinggir hatinya, Alin menerima panggilan telpon itu.

"Hai Lin... Lagi sibuk?"
"Hola Dit! Ga kog." Mengabaikan fakta ia hanya menggunakan sebelah tangan untuk mengedit laporan bulanan yang deadlinenya minggu ini
"Masih Kerja?" Tanya Adit lagi. Tipikal basa-basi orang timur
"Udah jam pulang kog.." Alin jujur. Sekarang memang sudah jam pulang, tapi dirinya masih akan pulang berjam-jam lagi. Deadline dan jalanan Jakarta masih padat.
"Ga lagi kerja kan? Aku ga ganggu kan?"
"Ga kog. Ada apaan?"  Dia harus mengetahui dengan cepat apa keperluan Adit agar bisa menggunakan tangan kirinya kembali. Alin perlu kedua tangannya untuk membereskan laporan itu.
"Haahahaha... Masih ga doyan basa-basi ya kau Lin.."
"Hehehe. Ga gitu... Sayang pulsa lu kalau nelpon lama-lama."
"Satu operator ini. Murah" jawabnya santai " udah berubah kau sekarang Lin"
"Hah? Berubah apa?"
"Udah ga ngapak lagi bicaramu. Udah ga medok macam orang jawa. Sekarang gaul macam anak jakarta"
"Hahaha.. Kan sekarang udah kerja di Jakarta.. Emang dulu medok ya?"
"Iya.. Medok.. Orang batak tapi ngapak"
"Ah kau pun kental kali logat bataknya" balas Alin sambil meniru logat Adit
"Jadi kenapa nelpon Pak?? Jakarta belum banjir jadi gw pasti masih baik-baik aja"
"Hahaha.. " Adit terdiam. Sebentar. Alin hampir tak menyadarinya karena 3/4 otaknya masih memproses data-data di depannya
"Udah ada nomor Siska belum Lin?" Lanjut Adit.

Alin terdiam. Ia kaget. Memang setiap Adit menelpon  - yang hanya dua tiga kali itu- ia menyinggung soal Siska. Menanyakan kabarnya. Menanyakan nomor yang bisa dihubungi. Alin berpikir itu hanya percakapan basa-basi tentang seseorang yang mereka berdua kenal. Tapi tidak. Sudah 10 tahun sejak mereka berpisah, Adit masih memikirkan Siska. Alin-lah seseorang yang dikenal oleh mereka berdua.

_________

Suara motor mendekat terdengar dari dalam rumah. Alin tidak bergegas melangkah ke ruang tamu. Film "Titanic" yang hanya bisa ditontonnya saat Ayah Bunda bekerja sudah setengah jalan. Sebentar lagi adegan yang ramai dibicarakan teman-teman sekolahnya (dan dilarang Bunda untuk ditonton) akan muncul. Lagipula tamu yang datang di Sabtu siang begini pasti Dito, pacar kakaknya.

"Assalamualaikum" salam seorang lelaki
"Walaikumsalam" jawab Alin sambil berlari. Resiko menonton lewat tivi kabel ya ini, tidak ada iklan sepanjang pemutaran film. Jadi kalau ada tamu bisa dipastikan ia ketinggalan beberapa adegan. Semoga bukan adegan "mobil" itu. Dibukanya pintu depan. Dan disana, di dekat motor bebek merah warnanya, berdiri Adit, lelaki kurus tinggi berkulit gelap itu.
"Hai Lin..."
"Hai.. Ngapain kesini?" Errr bukan pertanyaan yang basa-basi yang dianjurkan semua majalah remaja. Tapi ia benar-benar kaget. Adit sudah pacaran dengan Siska. Satu sekolah sudah tahu. Jadi seharusnya sabtu siang begini Adit berada di teras rumah Siska. Bukan di teras rumahnya.
"Emang ga boleh?"
"Boleh.. Tapi ngapain kesini? Bukan ke rumah Siska, maksudnya"

Adit tertawa sembari melipir masuk ke ruang tamu.

"Toto ga kesini?" Tanyanya balik setelah menghempaskan diri di sofa krem Bunda Alin.
"Ga." Jawab Alin singkat sembari duduk di depan Adit
"Dia pernah kesini ga sih?"
"Enggak."

Alin diam. Adit diam.

"Mungkin kejauhan. Rumah lu ini sangking jauhnya  jin mau buang anak aja males"
"Tapi lu datang"
"Ga ada kendaraan kali dia"
"Iya kali.. Tiap minggu ga ada kendaraan"Jawab Alin ketus.

Toto itu teman Adit. Toto itu kapten sepak bola. Toto itu pacar Alin. Pacar yang tidak pernah menelponnya apalagi mendatangi rumahnya.

"Dia sayang elu  Lin."
"Iya kali" jawab Alin acuh.

Adit diam.

_______

Meski Toto kapten sepak bola yang disukai banyak perempuan. Alin tak pernah mengobrol dengan Toto,  sampai Toto duduk di sebelahnya, di kantin sekolah. Alin sedang mengaduk-aduk mie ayam, mencari bakso yang menyempil.

"Hai Lin!"
"Hai.."
"Ada orang?" Tanyannya sambil menunjuk tempat duduk di samping Alin.
"Enggak. duduk aja"

Toto duduk diam sambil meminum teh botol yang baru saja diambil dari warung Emak.

Alin kebingungan harus membicarakan apa dengan Toto.

"Mesen apa?" Tanya Alin basa basi.
"Baru teh botol"
"Ga makan?"
"Masih bingung."
"Ooooo" Alin kehabisan bahan pembicaraan

Ia memutuskan melanjutkan makannya sambil diam.

"Lin" panggil Toto tiba-tiba
"Ya?!"
"Jadi pacarku yuk."
"Hah?!" Alin kaget. Dihentikannya makannya. Ia lalu menatap wajah Toto. Tapi percuma. Ia tidak pernah ngobrol denggan Toto sebelumnya. Ia tidak tahu apakah Toto bercanda atau serius. Ia clueless. Cuma ada senyum jahil khas Toto disana.
"Iya.. Kita pacaran yuk."

Alin berpikir sebentar. Ia kesepian. Teman-temannya sudah punya pacar. Adit juga. Ia butuh seseorang. Dan Toto jauh lebih baik dari kata lumayan. Pasti banyak cewek-cewek lain yang memimpikan diberi pertanyaan itu oleh Toto. Kalaupun ini hanya gurauan Toto, Alin tak kan sakit hati.


"Boleh." Jawab Alin lugas.
"Siip." Jawab Toto sambil tersenyum lebar "Mie ayamnya sudah kubayar ya" ujar Toto sambil berlalu meninggalkan kantin.

Dan resmilah sudah  ia jadi pacar Toto. Sekarang  ia tidak berjalan sendiri di belakang Adit dan Siska. Ada Toto yang menemaninya. Kadang-kadang pundak dan tangan mereka secara tak sengaja bersentuhan. Tapi tak ada sengatan listrik yang menyebar ke seluruh tubuh Alin saat itu terjadi. Tidak seperti saat bersama Adit.

_______

"Ya ampunnnnn.. Masih nyari aja Pak?" Jawab Alin. Suaranya diceria-ceRiakan.
"Lah iya ini kan nanya"
"Emangnya gw pernah janji ya nyariin no telp dia?"
"Ya masa' ga mau nolong temen sih.."
"Hahaha.. Ga tau gw. Ga pernah ketemu anaknya di facebook. Nama lengkapnya siapa sih?"
"Siska Novita. Masa' lupa?"
"Yee yang punya kenangan kan situ. Wajar lah gw ga inget namanya" jawab Alin sambil mengetik Siska Novita di google.

"Bukannya lu punya pacar ya Dit sekarang?"
"Punya.."
"Lah kog masih penasaran sama Siska?"
"Pengen tau aja.. Masih idup apa gak tu anak"
"Emang mantan lu Siska doang?"
"Ya enggak.."
"Tapi penasarannya sama Siska doang nih?"
"Hahahaha.... Yang ilang dia doang"

"Ga tau gw.." Jawab Alin saat hasil pencariaan google tidak membuahkan apapun. Tidak ada satu akun facebook atas nama Siska Novita, bahkan akun friendster, yahoo, atau apalah yang biasa dimiliki orang.
"Anak-anak kompleks di grup BBM juga ga tau..ga ada kabar soal keluarganya" sambung Alin

Adit diam.

"Ntar gw tanyain teman-teman SD nya. Kalau ada info gw kabari"
"Ok." Jawab Adit
Alin diam. "Udah dulu ya Dit. Assalammualaikum" Alin mengakhiri percakapan.

Alin segera membuka halaman facebook di komputernya. Dengan banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan oleh Alin, hal-hal tidak penting seperti membalas sms, membalas mentionan twitter atau menanyakan no telepon mantan pacar orang seperti ini akan terlupakan kalau tidak dilakukan saat ini juga. Alin lalu mengirim pesan massal ke beberapa sahabat Siska saat SD dan SMP. Tanpa basa-basi Alin menanyakan no telepon Siska. Sekarang tinggal menunggu balasan dari mereka dan nanti kalau Adit bertanya ia bisa menjawab kalau ia sudah berusaha. Pikir Alin lalu kembali menekuni pekerjaannya. Kantor sudah semakin sepi.



_____

Alin dan Adit bertukar nomor telepon di Facebook. Jejaring sosial tempat reuni masal digelar.  Jaman mereka masih berseragam putih-biru handphone masih hak khusus para pejabat. Karena itu mereka hanya bertukar alamat sesudah lulus SMP. Alin meneruskan SMA di Jogja, menyusul Ayah yang dipindahkan ke Bank cabang Jogja.

"Sering-sering kirim surat ya Lin" pesan Adit setelah menuliskan alamat rumahnya di buku angkatan.

"Siiip" senyum Alin "Asal sering dibalas pasti aku rajin ngirimnya"

Mereka terdiam. Adit membolak-balik buka angkatan Alin, melihat pesan-pesan yang dituliskan teman-teman mereka. Sedangkan Alin melihat teman-temannya yang masih bermain siram-siraman air di halaman sekolah. Mereka baru saja menerima hasil kelulusan ujian akhir SMP. Semua lulus. Entah siapa yangpertama kali  memulai perang air di halaman sekolah. Alin yang sedang berdiri di pinggir lapangan tau-tau sudah terjebak di tengah-tengah siraman air. Bajunya kuyup.

Tiba-tiba  dari arah belakang seseorang menarik tangannya. Membawanya pergi dari lapangan sekolah. Seluruh tubuhnya merasakan sengatan listrik yang menyenangkam. Diamatinya tangan kekar yang menariknya. Itu tangan Adit. Adit membawa Alin menyingkir dari perang air itu. Dibawanya Alin ke ruangan kelas yang kosong melompong ditinggal penghuninya berkejar-kejaran di lapangan.

Adit melepaskan pegangan tangannya sambil duduk di meja, ia lalu menyodorkan baju kaos olahraga ke Alin.

"Nih buat ganti"

Alin memandang ragu ke kaos olahraga itu

"Ealahhhh bersih ini... Tadinya mau buat dicoret-coret" ujar Adit saat melihat keraguan di mata Alin
"Kenapa ga jadi?" Tanya Alin sambil mengambil kaos itu dari tangan Adit.
"Daripada kamu masuk angin." Jawab Adit santai.

Alin melangkah pergi ke toilet

"Ga usah.. Nanti disiram lagi. Aku cuma bawa baju satu. Ganti di sini aja. Aku keluar" ujarnya sambil menutup pintu kelas.

Alin ragu-ragu berdiri di balik pintu. Memilih sudut paling tersembunyi. Dengan cepat ia mengganti baju basahnya. Jantung Alin berdebar keras. Begitu juga Adit.

"Udah Dit." seru Alin dari balik pintu. Dibukanya pintu kelas. Pipinya memerah saat melihat Adit. Buru-buru ia memalingkan mukanya, sehingga Alin tak melihat semburat kemerahan di wajah Adit.

Untunglah beberapa menit kemudian kecangungan di antara mereka mencair dengan obrolan mengenai teman-teman mereka. Alin dan Adit sudah bertukar buku angkatan untuk diisi.

"Toto ngisi juga??" Tanya Adit heran melihat kata-kata mesra di buku angkatan milik Alin.
"Itu sebelum putus" jawab Alin.

Ia dan Toto putus saat liburan kemarin. Berpacaran dengan Toto sama seperti masih jomblo. Tidak ada kunjungan seminggu sekali, tidak ada kencan, dan tidak ada telepon. Bukan hubungan seperti itu yang diinginkan Alin.

Adit tidak bertanya lebih lanjut.

Ragu-ragu Alin bertanya "Lu sama Siska gimana?"

Keluarga Siska pindah ke Solo pertengahan tahun ini. Adit tidak pernah bercerita bagaimana kelanjutan hubungan mereka.

Adit hanya menjawab dengan senyuman.

Mereka menunggu hingga sore di dalam kelas. Menunggu hingga lapangan sekolah sudah sepi. Adit lalu mengantar Alin ke halte bus. Seperti dulu.

Sesampainya di halte Adit mengeluarkan boneka tedy bear kecil berbaju pink.

"Nih.. Kenang-kenangan" ujarnya.
"Makasih" jawab Alin. Senang.

Bus Alin sudah datang. Itu pertemuan terakhir mereka. Sejak perpisahan itu, Alin dan Adit sempat beberapa lama rajin berkirim surat. Membahas sekolah saat ini, teman-teman, dan kegiatan masing-masing. Perlahan intesitas surat yang dikirimkan menurun. Sampai pelan-pelan tidak ada sama sekali.

Rasa rindu itu juga perlahan menghilang. Hingga saat ini, Alin tiba-tiba merindukan momen-momen bersama Adit

____________________________________________


Alin sedang memainkan tablet miliknya saat suara notifikasi handphone berbunyi. Ada pesan masuk di facebooknya, dari Dian, sahabat Siska.

“Kabar baik Kak Alin… ini nomor Siska 081xxxx7584. Waktu lebaran kemarin Siska sms Dian lewat nomor ini.”

Alin lalu mengsms nomor tersebut ke Adit. Sent. Hutangnya lunas.

“Ngelamun aja” sebuah suara menyapanya dari belakang. Lelaki pemilik suara itu lalu menarik dagu Alin ke arahnya dan mendaratkan sebuah kecupan manis di bibir Alin.
“Ya abis kamunya lama.” Balas Alin “Sudah selesai belanjanya Tuan?”
“Sudah Nyonyahhh..” Ledek lelaki itu “ Lagian kenapa ga mau ikut sih? Daripada bengong disini coba.”
“Males ah.. keliling-keliling cuma ngeliatin kabel. Kamu kalau di toko elektronik macam ini pasti lamaaaa banget.”
“Ampun deh.. punya pacar perhitungan macam ini. Aku itu nemenin kamu keliling-keliling puluhan kali buat nyari sepasang sepatu doang rela loh.. rela..”
“Wajar dong… sepatu kan cantik.. kamu pasti suka lihatnya. Warna-warni juga. Kabel mana ada bagusnya..”

If only I could find my way to the ocean I’m already there with you If somewhere down the line We will never get to meet I’ll always wait for you after the rain

Lagu After The Rain-nya Adhitia Sofyan berdering dari Handphone Alin. Adit –SMP. Ia memberikan kode akan menerima telepon kepada lelaki yang sudah duduk di depannya.

“Bentar ya” Bisik Alin
“Halo Dit..” Jawab Alin
“Halo.. Salah sambung.”
“Hah?!” Alin tidak mengerti.
“Nomor Siska yang kau kasih itu salah sambung. Yang angkat cowok.”
“Oooo… ya mana gw tau.. itu nomor dapat dari temannya. Katanya lebaran kemarin Siska mengirim sms dari nomor itu.”
“Beuh..” Keluh Adit. “Lagi ngapain?” Tanyanya basa-basi.
“Malam mingguan lah.” Sombong Alin
“Dasar mentel!” Adit tertawa. “Eh Lin, kau Jakartanya dimana sih?”
“Kenapa gitu? Gw ngomong dimana lu juga ga bakal ngerti Dit.” Ledek Alin
“ Minggu depan gw dinas di Jakarta nih.. Ketemuan yuk.”
“Siip.. kabari aja ya. Udah dulu ya Dit. Bye..”
“Dari siapa?” Tanya lelaki di depan Alin, mengalihkan pandangannya dari buku menu.
“Adit.. teman SMP. Nyariin nomor telpon mantannya.”
“Niat banget. Secantik apa sih mantannya?”
“Cantikan aku kog..”
“Iya… cantikan kamu.” Jawab lelaki tinggi berkulit putih itu
“Gombal!”
“Ga.” Akhirnya sambil memanggil pelayan untuk mencatat pesanan mereka.


Alin deg-degan. 10 menit lagi sebelum Adit datang. Iya.. Adit benar-benar datang ke Jakarta. Berulang kali Alin melirik bayangan dirinya di kaca restoran amerika itu. Dirapikan rambutnya yang sebahu itu, hari ini poninya sedang tidak mau diatur. Bolak-balik Alin merapikan poninya. Wajahnya cemas. Ini pertemuan pertama setelah sepuluh tahun mereka berpisah.  Ia takut mengecewakan Adit.

“Dandan bu?” Tanya Adit mengejutkannya.
“Adiiittt… kangen ih” Alin bangun lalu hendak memeluk Adit, sampai ia sadar Adit belum jadi orang Jakarta. Prosesi peluk lalu cium pipi kanan kiri yang biasa Alin lakukan dengan sahabat-sahabat prianya tentu terasa aneh di Adit.
“Udah minumnya?”
"Udah.. Lu ga minum dulu?"
"Ga. Buru-buru nih." Jawab Adit sambil meletakkan lembaran uang di meja yang tadi didudukin Alin.
"Mau kemana sih?"
"Liat aja nanti" ujar Adit sambil menghentikan taksi.

"Dit kita mau kemana sih?" Paksa Alin ingin tahu.
"Temenin aku cari kostan ya."
"Kostan? Lu dimutasi ke Jakarta?"
"Enggak.. Belum." Jawab Adit "Aku ngelanjutin sekolah lagi di UI, jadi sekarang mau lihat persyaratan daftar ulangnya dan cari kostan"
"Ya ampunnnn.. Pakai rahasia-rahasiaan." ujar Alin kesal sambil mencubit pundak Adit " Mulai kapan? Terus sekarang lu nginap dimana?"
"Satu-satu dong Non. Mulai bulan depan. Nginap di hotel lah. Mampu ini."
"Sombong banget!"


"Eh" ujar adit tiba-tiba "Toto udah nikah tuh.."
"Tau kog. Kan lihat foto kawinannya di facebook. Trus?"
"Kalah dong ya.."
"Cih.. Nikah kog jadi kompetisi sih.. Persoalan nyari pasangan seumur hidup ini.. salah milih, derita tauk" ujar Alin sewot. Soal nikah menikah ini persoalan sensitif. Apalagi soal pernikahan Toto.
"Iya Bu Guru" jawab Adit geli. Ia tidak mau memperpanjang masalah.
"Lagian ga enak gw kalau ngelangkahin elu.." Ledek Alin
"Hahaha.. Laki-laki kecepatan kalau umur 25 udah nikah. Masih nunggu jodohnya juga kog. Masih lama"
"Nunggu jodoh apa nunggu Siska?"
"Hahaha" Adit tertawa.


"Pacar lu gimana Dit? Ditinggal di Medan?" Tanya Alin
"Udah besar.. Bisa sendiri ini"
"Ga romantis"
"Ini sekolah lagi juga demi peningkatan karier. Biar bisa beliin kapal pesiar buat calon istriku" jawab Adit serius.
"Nyontek." Ledek Alin. Ingin kapal pesiar adalah jawaban Alin setiap  Adit bertanya ia ingin dibelikan apa.
"Hahaha" tawa Adit lagi. Kali ini tangannya membelai rambut Alin sekilas.


"Terus ngobrol dong sama Toto di facebook?"
"Kadang-kadang.. Ga sering."
"Cieee yang mantannya ada di facebook."
"Emang situ..yang mantannya menghilang." Ledek Alin balik
"Sindir aja terus.. Istrinya Toto ga cemburu tuh?"
"Calon waktu itu" jawab Alin "Lagian mana Alin tau pacarnya cemburu apa enggak. Lah ditanya pacarnya mana jawabnya udah putus. Lagi nyari. Tau-tau udah ada aja foto kawinan dia. Ga sopan si Toto"
"Marah nih ketipu?"
"Sebel tauk! Toto tu bukan satu-satunya lelaki yang ngegodain gw menjelang pernikahan mereka." Ujar Alin sewot. "Laki-laki itu ya mau nikah malah belanja. Emang ga bisa setia"

"Ga semua laki-laki." Sangkal Adit
"Lu nyariin mantan padahal udah punya pacar"
"Kan cuma nyari."
"Kalau udah ketemu mau diapain?"Jawab Alin datar.
Adit diam.

Taksi menurunkan mereka di depan Fakultas Ekonomi.

"Yuk" ajak Adit mengulurkan tangannya ke Alin.

"Dit.." Panggil Alin setelah mereka keluar dari Bagian Akademik Pasca Sarjana.
"Nyari kostannya besok aja ya." Sambung Alin
"Hmm.." Guman Adit
"Aku pakai high heels nih. Pegel." Ujar Alin sambil menjaga keseimbangan saat berjalan di turunan.
"Susah ya jalannya?"
"Iya.. High heels ini hanya pantas dipakai naik turun mobil dan jalan di mall.. Hihi" menutupi fakta bahwa ia tidak terbiasa menggunakan high heels, ia memakainya karena akan bertemu Adit.

Ada turunan curam di depan Alin. Matanya mencari tangga. Kalau dia menggunakan flat shoes Alin tidak akan memandang turunan itu suatu masalah. Adit melangkah di depannya, lalu mengulurkan tangan sebagai pegangan Alin.

"Sini Tuan Putri.."
"Hihihi." Alin tersipu "Makasih"


Dengan gugup Alin memegang tangan kokoh Adit. Di akhir turunan, Adit berada sangat dekat. Alin bisa mencium aroma tubuhnya yang menyenangkan. Aditpun mencium wangi shampo dari rambut Alin. Adit tak dapat menahan diri, diangkatnya dagu Alin. Alin terdian. Ia kaget. Wajah Adit mendekat.

"Alin..." Bisik Adit.

Adit lalu mendaratkan ciuman di ujung bibir Alin. Sengaja mencium pipi dan bibir Alin. Walaupun seluruh tubuhnya ingin mencium bibir gadis itu, ia takut Alin akan menolaknya.   Kecupan di pipi "yang tidak sengaja mengenai bibir" tidak mungkin ditolak pikir Adit.

Alin bergetar. Seluruh tubuhnya tersengat listrik. Perasaannya meledak-ledak seperti ada ratusan kembang api. Ia menggeser wajahnya lalu menciumi bibir Adit. Adit membalasnya. Ya.. Ada ratusan kembang api meledak di dalam tubuh Alin.

____
Post a Comment