SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

12 November 2015

Tagged Under: , ,

Pempek Ny. Kamto dan Bakmi Pele

Share

Melanjutkan petualang malam kemarin, malam terakhir di Yogyakarta ini mari dihabiskan dengan makan dan makan lagi. Lalu belanja dan belanja lagi. 

Pempek Ny. Kamto

Sebelum menyusuri jalanan malioboro dan ke mirota lagi, mari mengisi tenaga dengan makan pempek kesayangan orang Yogja. Iya.. ini jauh-jauh ke yogya makannya pempek, bukan gudeg. sikap istri orang Palembang ya harus begini. 


Pusat pempek Ny. Kamto terletak di jalan Beskalan, samping Ramai Mall. Dari wisma ke sini kami cukup membayar 20ribu ke tukang becaknya. Di jalan yang sama terdapat dua toko pempek Ny Kamto. Berdasarkan hasil konfirmasi (gaya auditor) kepada pegawai toko, dua-duanya asli, cuma kalau kepenuhan pengunjung bisa melipir ke cabang satunya lagi.

2 lenggang, 3 pempek kecil, dua minuman cuma 50ribuan saja.

Pempek yang dijual di sini jenisnya hampir sama dengan yang dijual di Palembang. Ada lenggang panggang sampai pastel. Soal rasa, biasa saja. Saya lebih suka pempek di kostan saya. Pempek Ny. Kamto ini tidak terasa ikannya dan gorengnya juga terlalu kering. Yang saya suka dari Ny. Kamto cuma cukonya yang ada dua versi. Cuko pedas dan manis. Ini mengakomodir cuko palembang (asli) yang terlalu pedas. Sayangnya sih, cuko disini cair, tidak sekental aslinya.  

Karena tidak seenak yang saya bayangkan, pempek ini batal saya jadikan oleh-oleh. Tapi lumayanlah ya.. kalau lagi di Yogja terus kangen sama orang palembang.

Grosir Kaos Orang Jogja

Selesai makan kami lalu melanjutkan jalan kaki ke Malioboro, namun belum sampai ke sana, pandangan mata bertemu dengan sebuah toko kaos grosir yang terletak persis di sebelah pempek Ny Kamto. Teman saya yang kebetulan sedang mencari kaos-kaos bertema Yogja langsung berbinar-binar. Yuk masuk. 

Luarnya
Dalamnya. Banyak kaosssssss..
Kata teman saya sih murah, Pakaian anak satu stel cuma 30ribuan, kaos orang dewasa 40ribuan. Apalagi disini tersedia berbagai macam kaos lengan panjang dan pendek, dengan berbagai macam jenis dan warna, serta berbagai macam ukuran. Kalau beli di pinggir jalan kan suka ga ada desainnya atau ga ada ukurannya. Worth to visit lah. 

Bakmi Pele

Selesai membelikan berbagai macam titipan, kami berburu kuliner lagi. Tadinya mau oseng-oseng mercon, tapi sudah makan pempek yang pedas masa mau makan pedas lagi. Bisa bubar jalan perutnya. 


Jadi kami memutuskan kembali berburu bakmi saja. Kali ini ke Bakmi Pele yang ada di Alun-Alun Utara. Kami sampai di Alun-alun utara saat sudah hampir jam 11 malam, namun warung bakminya masih ramai dong. Cuma yang tersisa tinggal bakmi campur, mie kuning dicampur bihun. Ga papa yang penting nyobain.

Saya memesan Bakmi Godog dan teman saya berbaik hati memesan bakmi goreng karena saya penasaran rasanya seperti apa. Kami lalu memilih tempat duduk di tikar yang dibentangkan di pinggir jalan. 

Bakmi  Campur Godog 

Entah karena keasikan ngobrol dan dengarin live music, atau karena sudah sempat makan pempek dulu, rasanya pesanan kami datang tidak selama waktu makan di Mbah Hadi. 

Menurut kami, rasanya lebih enak Bakmi Mbah Hadi. Gurih kuah dan kekenyalan mienya lebih unggul Mbah Hadi. Apalagi dengan harga yang sama, porsi bakmi di Mbah Hadi jauh lebih banyak. Yang unggul di Bakmi Pele ini adalah lokasinya yang bisa selonjoran sambil ngobrol-ngobrol lama (banget) dan ngedengarin live music. Kalau ga bolak-balik "diajakin ngobrol" sama salah satu personil bandnya, kami mungkin masih betah ngobrol sampai warung bakminya tutup. 

Bakmi Campur Goreng

Jadi kalau mau makan bakmi di Yogya, saya akan memilih bakmi godog (yang kuah lezatnya berlimpah ruah) dan tidak dicampur bihun (karena bihun memunculkan rasa beras) di Bakmi Mbah Hadi saja. Enakan Bakmi Mbah Hadi. Apalagi selesai makan di Bakmi Pele ini, lidah saya dan teman kog berasa ada selimutnya, micinnya kebanyakan mungkin. 

Malam itu setelah mengakhiri petualang menyenangkan kami di Yogja, saya berpikir pantas saja beberapa hari ini ga merasa lapar meski tidak sarapan, secara makan malamnya dua kali dengan menu-menu yang berat. Hahaha.

Bye Yogya. See you!



Ya ampun.. akhirnya kelar juga nulis postingannya. Makasih ya Allah. *sujud syukur. kretekin jari dan punggung.*
Post a Comment