SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

23 November 2015

Tagged Under:

Relationship Tips. Inspired by The Death of The Cupang

Share

Menilik cerita ikan cupang kemarin, saya suka heran kenapa sampai sekarang saya belum berhasil memelihara hewan. Kayaknya ga mungkin banget saya gagal memelihara ikan, memelihara hubungan percintaan dengan suami aja mampu kog. *lalu dilempari botol aqua kosong sama pembaca*

Kan kalau di film-film hollywood, okay.. referensinya "dalam" sekali, pemeran yang baru keluar rehab diminta untuk memelihara tumbuhan dan (jika berhasil) hewan sebelum memulai hubungan dengan manusia. Logikanya kalau dia bisa bertanggung jawab dengan tumbuhan dan hewan, barulah ia dinilai bisa bertanggung jawab saat menjalin hubungan dengan manusia.  

Nah... saya kan udah pacaran terus nikah bertahun-tahun sama Tuan Suami, jadi harusnya udah bisa kan ya memelihara hewan dan tumbuhan. Tapi apa daya, jempol ga ijo-ijo banget  dan setiap memelihara hewan ya tewas semua. Sepertinya sebelum saya mengklaim kalau saya cuma jago merawat suami dan anak. *lalu ditimpuk pembaca karena yang ngerawat anak kan Suami*, mari kita analisa kenapa saya (kami ding) berhasil mengemban tanggung jawab sebagai pasangan dan orang tua padahal (saya) ga bisa ngurus tanaman dan hewan.

1. People talk. Plants not, while animal use different language

Anak saya tentu mengeluh lapar saat jadwal makannya terlewati. Tanaman dan hewan tidak. Ya mungkin mereka mengeluh sih saat lapar dengan mengeluarkan tanda-tanda tertentu, tapi saya antara tidak memahami atau tidak berusaha mengerti. 
         
Hikmahnya adalah untuk menjaga keberlangsungan suatu hubungan komunikasi itu penting, karena hanya Allah yang tahu isi hati orang tanpa harus diungkapkan. Pasangan kita bukan tuhan bukan pula cenayang. Kesal karena dia lebih sering lembur ketimbang kencan? Ngomong. Sedih karena pas ngambek malah dimarahi? Ngomong. Bosan karena setiap nonton, filmnya film india? Ngomong. 

Di sisi lain, ga semua orang nyaman mengungkapkan keinginannya secara langsung. Kebanyakan orang lebih nyaman menggunakan cara-cara halus (yang minim konflik) untuk menyampaikan keluhan dan keinginan mereka. Yang mana sangking halusnya, orang yang dituju suka ga merasa.  Karena itu saya sih lebih menganjurkan pasangan saling terbuka. Ngomong yang jelas, ga usah pakai jurus sepetan atau sindiran. 

"Nanti dia sakit hati" 
Yah namanya main hati.. pasti sakit hati lah. Bercanda. Lebih baik sakit hati sekarang dan sebentar saja (semoga) daripada anda makan hati, meledak, terus nyakitin hati juga ujung-ujungnya.

Vice versa, karena ga semua orang nyaman ngomong langsung, sebagai pasangan baik hati nan budiman anda harus bisa membaca keinginan-keinginan yang tersirat. Diajakin olahraga? Mungkin bentuk badan mulai abstrak. Diajakin ke pasar? Mungkin kangen nyicipin makanan anda. Dipuji lebih cantik pas dandan? Mungkin selama ini seringan pasang muka manyun dan kucel.  Cuma dimasakin telor dadar selama seminggu? Mungkin uang belanja kurang.

2. Sense of Belonging  

Hati saya terikat kepada suami dan anak-anak, sehingga jika saya kehilangan mereka saya juga merasa kehilangan sebagian diri saya. Berbeda dengan hewan dan tumbuhan yang saya pelihara hanya sekedar untuk bersenang-bersenang, tidak ada keterikatan di sana.  Mereka tewas, saya tidak merasakan penderitaan apapun

Hikmahnya adalah saat memutuskan menjalin hubungan dengan seseorang, unsur aku dan kamu sudah menjadi kita. Kamu sakit, aku juga sakit. Kamu rindu, aku juga rindu. Kamu jauh, aku juga jauh. Kog jadi lagu ya? 


Jadi kurangi egois. Hubungan tidak berpusat pada satu orang semata, pada kebutuhan satu pihak saja, atau pada keinginan sebelah pihak. Hubungan itu harus menguntungkan dan memberdayakan seluruh individu yang terkait. Jika saya melakukan A, apakah bermamfaat buat saya? Bagaimana dampaknya terhadap pasangan saya? Kalau buat anak-anak gimana?

3. High Risk, High Effort

Di pikiran saya, kalau saya membunuh satu tanaman atau satu hewan konsekuensinya kan cuma dimarahi suami dan kehilangan sejumlah uang modal. Berbeda akibatnya jika saya menelantarkan anak atau suami bahkan sampai menghilangkan nyawa mereka. Ada resiko saya dipenjara dan dicemooh masyarakat. Karena itu saya lebih mengeluarkan segenap daya upaya untuk mengurus anak dan suami ketimbang mengurus hewan dan tanaman. 

Hikmahnya adalah jika menurut kita mengabaikan pasangan ataupun mengakhiri suatu hubungan berdampak buruk kepada diri kita (atau orang-orang yang kita pedulikan) tentu kita akan berusaha mati-matian untuk membuat hubungan ini berhasil. 

Begitu juga jika anda merasa hubungan ini bermamfaat, anda akan memperjuangkannya. Jadi timbulkan rasa penting akan hidup dan matinya hubungan anda. Pedulilah pada hubungan anda. Peduli lalu lakukan sesuatu. 


4. Takes Two to Tango and Tango Should be FUN. FUN!

Suami saya akan secara rutin membawakan coklat-coklat kecil untuk saya karena dia tahu saya suka coklat. Sayapun akan membawakan ia air putih segelas setiap selesai minum karena tahu ia haus-an. Meski tidak suka tahu dan pedas, saya sekali-sekali (yeah.. sekali-sekali aja biar dikangenin) akan memasakan ia sambalado tahu yang pedasnya cuma bisa dimakan oleh Suami.

Sedangkan ikan ini tidak. Saya kasih makan, ia ngapain? Berenang. Akuariumnya saya bersihkan, ia lalu ngapain? Berenang. Semua-semua dibalas dengan berenang. Padahal saya butuh selain berenangnya. Loncat-loncat ke lingkaran api mungkin. Atau megap-megap lucu. *oke.. mulai gila* Sayapun bosan karena apa yang saya butuhkan (teman ngobrol-ngobrol lucu) tidak dipenuhi oleh ikan ini. Lalu iapun menjadi kewajiban. Beban.

Hikmahnya adalah hubungan itu harus memenuhi kebutuhan masing-masing. Perempuan butuh didengarkan, maka meski sudah diceritakan belasan kali, dengarkanlah. Ga pernah cerita? Tanya. Laki-laki butuh disanjung, maka hujani ia dengan pujian. Ga ada yang bisa dipuji? Masa senyumnya ga bisa dipuji sih Nyai?

Hubungan juga butuh keinginan, komitmen, dan upaya dua belah pihak untuk berlangsung. Capek dong menjadi satu-satunya orang yang berusaha keras mempertahankan hubungan ini. Ini hubungan apa sms iklan dari operator? Meuni bertepuk sebelah tangan pisan.

Kebayang kan lah kalau Snape ngelawak? Nakutin iya.

Hubungan itu harus menyenangkan agar menjadi kebutuhan, bukan kewajiban. Jadi banyak-banyaklah ngelawak. Paham kan kenapa pelawak-pelawak itu, meski tampang minimalis, punya istri lebih dari satu dan cantik-cantik pula. Kalau ga bakat ngelawak? Atau terlalu ganteng buat melawak? Atau kalau ngelawak malah mengerikan?  Banyak-banyaklah nonton stand up comedy. 

Post a Comment