SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

27 November 2015

Tagged Under:

Review: Critical Eleven

Share

Critical Eleven

My rating: 3 of 5 stars

Dibeli karena direkomendasikan Jeng erma, katanya bagus. Meski suka pesimis dengan buku lokal, mari dicoba. Saya percaya sama selera Jeng Erma.

---

Awalnya saya terganggu dengan penggunaan bahasa inggris dan bahasa indonesia yang dicampur-campur. Mungkin ini perasaan orang-orang saat saya bikin postingan campur sari. Paham sih paham. Tapi sense nya beda. Jadi perasaan saya kebolak-balik. Ikut cerit, lalu netral lagi karena harus reframing ulang. Begitu terus. Tapi lama-lama sih biasa. 

Mungkin ingin menggambarkan kedua tokoh yang terbiasa berbahasa inggris. Iya pasangan di cerita ini kisahnya sedang LDR. Ih.. kog mirip saya. Meski kalau mereka kelasnya antar benua saya cuma antar kota sih. Jadi banyak cerita soal kota-kota di luar negeri yang mereka kunjungi. Penjabaran kota-kota di luar negeri dan adegan-adegan film yang dijadikan referensi juga terlalu detail buat saya. Apalagi, masih menurut saya, detailnya ga menambah efek ke cerita sih.

Tapi keseluruhan bukunya bagus. Saya ga sabar ingin menyelesaikannya (saya bahkan membacanya di kereta, di mobil, di stasiun, di jalan, dan di mana saja yang mungkin). Ingin tahu akhirnya seperti apa. Bikin banyak mikir. Bikin berbunga-bunga. Bikin sedih. Banget. Meski sepertinya saya saja yang lagi gampang mewek. Looks like I am followed by cutting onion ninja.

Penggambaran rasa sakit dan sedih setiap tokohnya juga dapat banget. Pokoknya jangan baca buku ini di tempat umum kalau ga mau nahan nangis. Meski saya belum dapat feel-nya kenapa Tanya harus marah.

Oh satu lagi, saya ga suka tokohnya pada naik mobil sendirian kemana-mana. Bikin macet. Eh. 

Katasaya: Beli deh.



Post a Comment