SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

10 November 2015

Tagged Under: , ,

Sate Godrill, Malioboro, dan Kalimilk

Share

Hari-hari terakhir di Yogya, kami mulai mati gaya kehabisan opsi wisata malam yang menggugah pemikiran. Akhirnya kami memutuskan kembali ke fitrah manusia purba, sandang dan pangan. Mari kita wisata kuliner dan belanja-belanja saja.


Awalnya kami mau nyobain sate klathak Pak Pong yang terkenal itu, tapi apa daya lihat di google maps statusnya sudah tutup. Takut jauh-jauh ke sana terus ternyata benaran udah tutup, kami memutuskan mencoba sate Godril yang salah satu cabangnya ada di dekat wisma. Jalan kaki sedikit dari wisma diklat, warung satenya persis sebelum pasar Klitikhan. 

Tengahnya, saya kaget lihat tempatnya yang sepi, pengunjungnya cuma kami berdua. Ini benaran salah-satu sate terkenal di Yogya? Kog sepi? Maka marilah kita coba. Saya dan teman memesan sate daging, sate hati, dan tengklengan. Semuanya daging kambing. Tengklengan ini semacam tongseng tulang rusuk. Kayaknya. Hahaha. Saya sok tahu. 

Tengklengan
Kata saya, daging kambingnya empuk dan ga bau kambing. Bumbunya juga lumayan pedas. Enak lah. Selain itu satenya sudah dilepaskan dari tusukannya. Jadi makannya ga repot dan ga berisiko memudarkan khasiat susuk. 

Sate tanpa tusuk
Kata teman saya, sate tanpa tusuk ini merupan cara menghindangkan makanan kepada orang yang dihormati. Ini cara makan priyayi. Hihi.. makan satenya bolehlah anggun-anggun bak puteri keraton, tapi gitu makan tengkleng langsung kelihatan barbarnya. 
Akhirnya, satenya enak, tengklengnya biasa aja, harganya juga lumayan masuk akal. Tiga porsi ples minum habis 70ribuan gitu. Lumayan kan ya.

Sate Godril
Jl. Hos Cokroaminoto No 36 dan Jl. Godean km 1
Buka mulai 10 pagi- 10 malam

Selesai makan kami naik becak ke (manalagi kalau bukan) Malioboro, memutuskan membakar kalori sate dengan menyusuri toko-toko di sepanjang jalan malioboro. Ada kali jalan nya sekilo dua kilometer. 

Meski setiap ke Yogja saya belanjanya ke mirota lagi mirota lagi, saya tetap suka jalan-jalan di malioboro. Buat cuci mata aja. Kalau buat makan ga tahu mana yang enak.

Sebenarnya toko-toko yang menjual batik bertebaran di sepanjang malioboro. Sangking banyaknya kalau dimasukin satu persatu, akan menghabiskan banyak waktu dan uang pastinya. Biasanya saya hanya memasuki sebuah toko kalau ada batik yang ditaksir di manekinnya. Kalau ga ada ya ga masuk. Harga dagangan di toko-toko ini lebih murah sedikit, iya beda tipis nyai, daripada Mirota. Namun modelnya banyak yang lebih bagus dan displaynya juga lebih memancing mata.

Di Mirota display dagangannya kan berantakan banget sangking banyaknya turis yang ngobrak-ngabrik. Harga batik di mirota juga sama saja dengan Thamrin City, jadi sebagai penghuni Jakarta cukuplah ngabur jam kantor ke Thamrin City. Kelebihan Mirota itu cuma dia buka sampai jam 9 malam dan one stop shop. Pakaian segala jenis kelamin dan umur ada. Kaos juga ada. Pernak-pernik dan mainan ada. Sprei dan mukena juga ada. Studio foto jawa juga ada. Jadi kalau mau nyari oleh-oleh buat mama, papa, kakak, adek, suami, anak, kakek, nenek, sampai teteh ga perlu jalan ke tempat lain. 

Cuma sangking seringnya keluar-masuk toko di sini, saya punya beberapa toko favorit, salah satunya sebuah toko kecil yang saya lupa namanya karena ga pernah dilihat. Bonnya juga main buang aja. Kalau jalan agak jauh sedikit ke sebelah kanan Mirota (posisi menghadap toko ya), ada toko kecil yang displaynya biasa saja tapi menjual batik murah. Murah banget. Ga sampai seratus ribu. Yang 25ribu juga ada. Barangnya sih biasa, tapi kalau beruntung bisa dapat barang lumayan bagus  yang kalau dipakai Raisa orang pasti mikir harganya ratusan ribu. Iya.. kalau Raisa yang pakai. 

street performance by Angklung Malioboro

Saat menyusuri malioboro kemarin, kami menemukan kerumunan yang sedang menyaksikan pertujukan Angklung Malioboro. Ini performance grup musik jalanan yang menggunakan angklung. Mainnya bagus. Kalau mau dan ga malu, penonton boleh goyang-goyang lucu atau maju mundur cantik aja. Lumayan mengistriahatkan kaki dan dompet.


Selesai berbelanja meski masih kenyang mari meluncur ke tempat muda-mudi Jogja yang senang nyusu berlabuh, Kalimilk. Kalimilk ini semacam tempat nongkrong-nongkrong cantik yang menyediakan berbagai macam minuman susu murni dan berbagai macam cemilan. 


Tempatnya bagus buat foto-foto dan nyaman buat ngobrol-ngobrol. Nyaman karena suara musiknya ga memaksa orang berbicara sampai teriak-teriak tapi ga membolehkan orang untuk curi-curi dengar obrolan orang lain. Ya.. bisi aya nu kepo maksimal. 


Minumannya cuma susu segar dingin dan panas yang sudah divariasikan. Yang berbeda cuma ukurannya, ada yang medium dan gajah. Kami tentu saja memilih ukuran gajah, kan rencananya mau nyusu-nyusu cantik sambil ngobrol-ngobrol lama. Ngegosipin orang-orang dan ngomongin pengunjung lain. Kalau memesan susu dingin, bisa ditambahkan dengan topping es krim. Menggoda sih, tapi kami datangnya sudah malam banget, diet apa kabar kalau malam-malam masih makan es krim padahal tadi baru makan sate 3 porsi?


Susunya enak menurut saya tapi biasa saja menurut teman saya. Mungkin karena saya memesan susu vanila cookies yang dimix oreo dan teman saya memesan susu biasa. Untuk cemilan kami memesan chicken wings. Iya.. ayam kog dicemil.. kurang sugih gimana coba kami ini. Ayamnya sih biasa banget. Bumbunya ga menyerap. Tapi ya habis juga dimakannya.

Kata saya, tempat ini sih cuma tempat nongkrong gaul aja. Makanan dan minumannya ga istimewa. Harganya juga mahal. Kami menghabiskan 70ribuan loh. Sama dengan makan sate kambing 10 tusuk ples tengkleng ples minum. Ya emak-emak irit tentu memilih makan daging ketimbang nyusu. 

Waktu tau tagihannya sama dengan pas makan sate kambing, saya menyadari kenapa beberapa pasangan yang saya lihat cuma memesan masing-masing satu gelas saja. Udah habis juga ga nambah. Antara memang kemahalan jadi harus hemat atau karena lagi dimabuk asmara jadi dikasih susu segelas saja kenyang. kata siapa cinta ga bisa bikin kenyang.

Pelayanan di Kalimilk ini bagus, meski sudah sold out dan mereka boleh menutup toko, tidak ada pelayan yang mengeluarkan metode "Makan dan minumannya sudah? Atau mau pesan lagi?" sambil mengangkati gelas kotor. Jadi meski gelas sudah kosong, kalau pasangannya masih betah diajak ngobrol ya silahkan lanjut terus sampai jadi pengunjung terakhir. Kalau tidak? Mungkin ga naksir sampeyan mas.. makanya perlu minuman buat mengalihkan diri. Hihi. 

The Kalimilk, Jl. Kaliurang KM 4.9, Yogyakarta
Open Daily from 9am – Sold Out
TKP 1, Jl.Lempongsari Raya, No.251, Yogyakarta
Open Daily from 11am – Sold Out
TKP 2, Jl.Perumnas Mundu Saren, No.148, Yogyakarta
Open Daily from 11am – Sold Out
Post a Comment