SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

14 December 2015

Tagged Under:

Erma dan Rumah

Share

Ini Jeng Erma. Kami kenal di blog, lalu kopdar beberapa kali dan jadi sahabat *ngeklaim semena-mena*.

Kalau dulu komen-komenan di blog, sekarang komennya di whatsapp. Erma baca postingan saya lalu nanya di wa. Sayapun demikian. 

Setelah lama ga ketemu, kemarin (kemarinnya lagi) kami ketemuan. Semua berkat Erma yang merencanakan ketemuan di tempat-tempat yang saya, orang buta arah ini, pasti ngelewatin, pasti tahu, pasti sampai. 

Waktu ketemu sambil update-update kabar, Erma sempat membahas kekonsistenan ia dan suami untuk tidak membeli rumah melalui KPR. Demi menghindari riba. Jadi sekarang mereka masih mengontrak rumah di Bintaro. Ngontrak di Bintaro itu dua tahun udah bisa buat dp rumah loh, fyi. 

"Tapi beda kan Ma rumah sendiri sama ngontrak..." 
"Bedanya apa? Mau ngontrak mau beli, rumahnya sama-sama tiga pintu kog."

Saya mikir. Mikir kalau tiga pintu berarti cuma pintu depan, belakang, dan kamar mandi dong. 

Ga ding... saya mikir. Kalau alasan saya bersikukuh meneruskan KPR 

Karena ngontrak itu ngasih duit ke orang. Kitanya ga punya tambahan harta padahal udah ngeluarin duit. Toh ngambil KPR juga ngasih duit ke bank. Seharga satu rumah. Hartanya juga baru bertambah kalau KPRnya lunas. Lalu kenapa masih memilih riba yang jelas dilaknat Allah? 

Karena nanti kalau saya dan suami ga ada, anak-anak masih kecil, mereka ga punya tempat berteduh dong kalau saya ga kpr rumah dari sekarang. Ini... di depan saya ada Erma yang ditinggal orang tuanya. Anaknya survive kog. Lulus dari Tehnik Industri UI malah. Korelasinya apa Ceu? *ditoyor Erma*

Yang saya tangkap dari cerita Erma, orang tua mereka baik banget sama orang lain semasa hidupnya. Jadi saat mereka ga ada, orang-orang inilah yang bantuin Erma dan adik. Jadi entah bagaimana, selalu ada yang bantu

Jadi... yang perlu orang tua wariskan itu hanya doa dan amal. Sisanya biar Allah yang ngatur. 

Karena beli rumah kan ga pernah rugi. Naik terus loh harganya. Kalau ini nanti suami saya ngeluari dalil andalannya "Kamu mau untung di dunia tapi rugi di akhirat?" 

Gak bisa milih untung dua-duanya ya cinta? 

Bisa.. kalau milih jalan yang benar. Ga mungkin sama Allah orang yang ingin menjalankan perintahnya tidak diberi kemudahan. Kata Erma.



Ya udah.. saya mikirnya segitu aja. Itu aja udah bikin kepala pusing, perut sakit, dan hati cenat cenut.

Post a Comment