SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

06 December 2015

Tagged Under:

Lihat Nanti Saja

Share

Dulu, setiap Suami Prohemer menjawab "Lihat nanti saja." kalau saya menanyakan suatu rencana jangka panjang, saya sebal luar biasa. Ih.. kog ga ada perencanaan sih. Kog lihat nanti saja. Harusnya kan punya plan A dan B kalau bisa  sampai E dong. Saya kesal dengar jawabannya.

Sampai saat saya minta ijin atasan untuk mengajukan pindah ke Bandung dan atasan saya memaparkan resiko dapat ditempatkan di seluruh Indonesia begitu saya melepas jabatan instruktur ini.  Iya posisi instruktur ini enak. Saya ga mungkin (Harusnya. Tapi segala sesuatu kan mungkin saja) dipindahkan ke tempat lain. Hanya di Jakarta saja.  

Berbeda ceritanya kalau saya menjadi penunjang ataupun pemeriksa. Saya harus siap-siap dipindahkan ke mana saja. Kalau nanti ditempatkan di Indonesia Timur bagaimana? Tanya beliau.

Dan saya menjawab "Saya pikirkan nanti saja Pak. Saat ini fokus saya gimana caranya pindah ke Bandung. Setelah itu, saya pikirkan nanti." Hadeuh... kog jadi mirip suami. Hahaha

Karena sesungguhnya saya benaran ga tahu. 

Kalau diminta menjawab dengan kondisi saat ini, ya pasti saya memilih keluar. Cuma saya kan gak tahu gimana kondisi saya lima tahun lagi.  

Wong, empat tahun lalu saat melamar masuk kantor ini dan ditanyakan apakah saya bersedia ditempatkan di seluruh Indonesia, saya dengan mantap menjawab iya. Meskipun akan meninggalkan anak dan suami.

Empat tahun kemudian, Jakarta-Bandung saja, tambahan satu anak. Jawaban saya berubah. 

Apalagi jika ditanyakan kemungkinan lima tahun nanti.

Saya benaran tidak tahu. Mana tahu lima tahun nanti suami saya mau ekspansi usaha ke Indonesia Timur. Mana tahu kami mau membawa anak-anak berpetualang ke Indonesia Timur. Mana tahu anak-anak saya sudah bisa ditinggal. Mana tahu saya sudah mantap meninggalkan kantor ini. Kan banyak mana tahunya. 

Jadi daripada berfokus pada kemungkinan terburuk yang masih bertahun-tahun lagi terjadinya, saya mau berfokus bagaimana memperoleh kemungkinan terbaik dalam waktu terdekat. 


Kebanyakan mikir, kebanyakan takut, kebanyakan "what if", saya ga maju-maju. Padahal mana tau Allah cuma punya rencana menempatkan saya di Bandung. Kalau saya berusaha. Ya kan? 
Post a Comment