SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

29 January 2016

Profile Pic dan Artinya (?)

29 January 2016 capcai bakar

A picture worth a thousand words, ceunah. 

Suka kepikiran ga kenapa seseorang memilih satu gambar tertentu sebagai profile picturenya di facebook, twitter, instagram, path, bbm, whatsapp, dan berbagai platform media sosial lainnya? 

Saya sih enggak, *ditimpukin pembaca*. 

Soalnya dasar saya memilih sebuah foto adalah " I look good at that picture and professional enough." Ya secara udah kerja, nomornya bisa dimiliki siapa saja. Kalau saya pasang foto monyong-monyong atau foto gelantungan di pohon (iyes.. saya punya kedua jenis foto ini), lalu foto ini dilihat orang lain maka rusak sudah nilai jual saya. Jadi saya pikir alasan orang memilih sebuah foto ya semata-mata hanya karena ia terlihat bagus di foto tersebut. 

Sampai teman saya memunculkan sebuah teori, bahwa orang yang tidak memasang foto bersama keluarganya rentan selingkuh. APAH?!!! *zoom in zoom out muka saya dan teman*. Sebagai orang yang jaraaaaaangggg banget pasang foto bareng keluarga atau pasangan, saya kan merasa harus memjelaskan diri. Yang mengharuskan untuk menjelasakan siapa sih? *dikeplak teman*

-------

Familiar dengan "kesan pertama" kan? Pada pertemuan langsung, orang akan menilai kita dari penampilan dan bahasa tubuh kita.  Penilaian ini dilakukan hanya selama empat (beberapa bilang tiga) menit pertama saja. Gila gak? Hanya butuh waktu tiga menit untuk manusia, menilai dan merasa cukup mengetahui seseorang. Dan butuh waktu jauh lebih lama juga lebih intens untuk mengubah kesan pertama tersebut. 

Makanya di era digital, profile picture adalah kesan pertama yang kita pilih untuk ditampilkan. Foto yang menjadi rangkuman siapa kita dan apa yang bisa kita jual.

Ini yang lihat mungkin mikir kalau saya bisa jaga lilin. :))
Karena manusia ada banyak dan dalamnya hati siapa yang tahu, sepertinya mustahil memformulakan satu teori yang berlaku buat semua individu. Namun secara garis besar, lelaki dan perempuan memiliki kecenderungan yang berbeda dalam memilih profile picturenya. 

Lelaki akan memilih foto yang menunjukkan mereka friendly, gampang diajak ngobrol, dan pintar. Sedangkan perempuan akan memilih foto yang menunjukkan kemampuan relationshipnya. Mungkin karena sebagai manusia purba, lelaki dituntut bisa merengkuh dan menjadi solusi bagi orang lain serta mampu meyediakan sandang, pangan, papan (yang mana di masa modern dikaitkan dengan kecerdasan). Sedangkan perempuan dinilai dari kemampuannya merawat "rumah", yaitu anak, pasangan, atau peliharaan. Peliharaan hewan atau tanaman ya, bukan dedek-dedek brondong. 

Jadi sering kan melihat lelaki yang memajang fotonya dengan kendaraan mahal, jam mewah, landmark terkenal, atau foto lagi memimpin rapat. Sedangkan wanita memajang foto bersama teman, anak, pasangan, ataupun hewan peliharaan. 

--------

Kembali ke teori teman saya tadi, kalau begitu orang yang sering memasang foto sendiri fokusnya ke diri sendiri doang dong? Bukan ke keluarga. Makanya rentan selingkuh. Ya meneketehe. *dikeplak. kalau ga tau ngapain bikin postingan panjang-panjang* Kan tadi udah dibilangin kalau dalamnya hati ga ada yang tahu.

Saya misalnya, dalamnya hati sendiri pasti tahu lah ya.  Memilih tidak memasang foto bersama keluarga semata-mata karena privasi dan.... saya mau dikenal sebagai saya. Bukan sebagai istri Suami Prohemer saja, atau emaknya Jendral Kancil dan Captain Kid saja. Saya mau orang mengenal saya sebagai "saya".  Makanya suka pasang foto hasil selfie belasan kali sendirian.


Lalu, kekhawatiran orang yang tidak saya kenal dapat dengan mudah mengenali anak-anak dan suami saya, kemudian berbuat jahat kepada mereka membuat saya membatasi diri menggunakan foto mereka sebagai profile picture. Bukan karena saya tidak bangga. Saya bangga dan pengen mamer juga. Medianya saja yang berbeda. Saya membanggakan mereka di blog dan instagram. 

Lah.. kog di blog dan instagram mau sedangkan di profile pic tidak? Padahal sama-sama online? Karena butuh usaha lebih dari sekedar punya nomor telepon untuk mengetahui mana suami dan anak-anak saya. Minimal harus ngetik alamat blognya dan mantengin postingannya satu-persatu. Harus niat. Di kasus saya, niatnya ga perlu cukup banyak karena saya suka bablas mamer keluarga di online. *menyesali diri*

Jadi menurut saya memasang foto bersama keluarga atau tidak, tidak menunjukkan tingkat loyalitas dan fokus kepada keluarga. Karena ada yang selalu masang foto sama keluarga dan stastusnya nama anak tapi centil juga. Sama seperti tidak bisa menilai kesetiaan seseorang dari memakai atau tidak memakai cincin kawin. Soalnya saya tahu banyak orang yang tetap kecentilan padahal ada cincin kawin di jari manisnya.

Lah ada cincin kawin atau foto keluarga aja masih centil gimana yang enggak ada? 

Nah ini membawa saya dan teman saya ke kesimpulan berikutnya, pemajangan foto keluarga dan cincin kawin ini lebih sebagai pengumuman kepada orang lain... "Udah ada yang punya, jangan digoda." 

Dan teman saya mengamini kalau "Ya.. karena gua juga ga yakin akan kekuatan diri untuk menangkal godaan, lebih baik dari awal menghalau orang-orang yang berniat menggoda dengan memasang foto keluarga bahagia bersama pasangan rupawan. You can beat my family."

Saya? Setuju. 

Kalau kamu gimana? Apa alasan kalian memilih profile pic?

27 January 2016

Belanja Buku Bulan Ini

27 January 2016 capcai bakar

Semenjak jatuh cinta dengan Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntasnya Eka Kurniawan sayapun mulai mengoleksi beberapa bukunya. Kemarin sudah selesai baca Corat-Coret Di Toilet dan Perempuan Patah Hati Yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi. Entah ada apa antara Eka Kurniawan dengan judul panjang bak temuan audit ini. Bagus sih, tapi kan capek ngucapnya kalau mau direkomendasiin ke teman. 

Dua buku tadi, corat-coret di toilet dan perempuan patah hati blablabla itu, kumpulan cerpen. Beberapa bagus. Beberapa bagus banget. beberapa ya okelah. Gini nih kalau udah jatuh cinta. Semuanya bagus. Hahaha. Meski belum sebagus Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. 

Jadi waktu ketemu buku Lelaki Harimau di Rumah Buku, sayapun langsung membelinya. 



Terus ketemu buku Dan Hujanpun Berhentinya Farida Susanty. Dulu waktu jaman masih jadi mahasiswi kinyis-kinyis saya sudah pernah membaca buku ini dan sangat-sangat terkesan. Bagus. Banget. 

Covernya itu cuma nulis

"Kamu mau bunuh diri?"
"Ya. Asal tidak hujan"
Dan Hujanpun Berhenti
Ih.. keren banget kan. Ga perlu blurb (back cover buku yang biasanya berisi sinopsis) macam-macam, cover depannya aja udah menjual banget. 

Lalu buku ini dipinjam teman dan ga balik-balik. Padahal saya masih pengen baca lagi. Makanya pas ketemu buku ini lagi, saya langsung beli.  

Mari dinantikan reviewnya di Goodreads

25 January 2016

No Mall Weekend(s)

25 January 2016 capcai bakar

Semenjak tinggal di desa, ihik, keluarga kecik nan bahagia ini emang jarang banget banget ke mall. Jauh Nyai. Membayangkan perjalanannya saja Nyonya lelah. Jadi kalau ga buat nonton film atau memperkenalkan Captain Kid, si anak desa, ke mall  kita weekendannya di desa saja.

Nonton juga dipilih yang emang benar dipengen dan ga ngantri. Emak malas kalau ngantri.
Kayak nonton starwars, nontonnya midnight tanggal 25 Desember. Sepi. Cuma 15 orang. Yay!

Ngapain aja di desa? 

Nemanin Emak ke Pasar

Ini acara kesenangan Captain Kid, sebenarnya apapun yang melibatkan kegiatan ke luar rumah Captain Kid bahagia-bahagia aja. Kalau ke pasar anaknya bisa megang-megang daging, megang ikan, megang ayam mati, megang cumi-cumi, dll. Pulangnya bisa beli mainan dan main di Taman Ujung Berung sambil nunggu Suami Prohemer sarapan. 

Anak kota alias Jendral Kancil gimana? Ga mau ikut. Pasar becek, katanya. Ya gimana ya.. dulu kecilnya diajakin belanja ke supermarket. Salah emak juga sih. 

Hasilnya sih.. Captain Kid lebih berani megang ayam mati dan ikan. Megangnya dengan ekspresi senang malahan. Kakaknya? Pasti masang muka jijik. 

Bantu Emak

Senangnya punya anak gede adalah; udah bisa diminta bantu-bantu. Bantu bikin kue misalnya. Tinggal dikasih instruksi, anaknya nanti yang nakar, yang ngadon, dan yang nuang. Emak tinggal sabar dan masukin oven. Iya, kudu sabar karena.. semua dilakukan pelan-pelan. Sangking pelannya oven yang udah panas bisa dingin lagi. :))

Kue 4sdm.
Tepung, gula, mentega cair, susu cair, milo semuanya 4sdm.
Tambahin telur 1 butir. aduk. Panggang. Gampang. 

Kalau emak ga nafsu bikin kue, karena telur lagi mahal, anak gede bisa diberdayakan untuk bantuin nyuci baju. Awalnya masih harus dikasih tahu kalau baju harus dipisahin antara yang gelap sama yang terang. Dan selama proses penyortirannya itu Jendral Kancil bolak-balik nanya "Ini gelap atau terang Bunda?". Lama-lama ga nanya lagi dong anaknya. Yay! Proud mommy. Sekarang sih masih suka lupa mana deterjen mana softerner dan dimana nuangnya. Gak papa.. pelan-pelan aja. Ntar lagi udah bisa diminta tolong buat bersihin kamar mandi dong ya. Hahaha. 

Tracking

Tadinya saya dan Suami Prohemer yang mau lari pagi keliling komplek, secara tiap balik dari Bandung kiloan nambah terus. Eh tau-tau Captain Kid bangun. Dan sebagai anak ayah, mana mau anaknya ditinggal. Harus ikut. 

Ya sudah ganti rencana lari dengan ngajak anak bayik jalan-jalan. Lalu biar sehat sekeluarga mari kita seret Jendral Kancil buat ikut. Hahaha.

Ini baru dua kilo jalan udah ngomel. Emak bapak sih ketawa-ketawa aja
Jendral Kancil ini kan introvert. Senangnya di rumah lalu main sama sahabatnya, baca buku, atau main game. Jadi kalau diajak jalan-jalan, kecuali ke toko buku, pasti bolak-balik nanya kapan pulang atau habis ini kita ke mana lagi? Minta digigit emang. Jadi butuh dipaksa buat mau tracking ke luar rumah. 

Kalau udah berhasil dipaksa ke luar, emak bapaknya masih harus usaha biar anaknya ga pasang muka cemberut sepanjang jalan. Misalnya dengan nawarin beli games atau buku baru kalau berhasil ngalahin Bunda lari. Baru deh mukanya berseri-seri. Atau harus nyari jalan yang belum pernah dia lalui, biar ga ngomel. Tapi gitu lewat jalan yang kita semua ga tahu, anaknya khawatir kesesat. Arghhhh. Untung anak sendiri. Jadi masih lucu aja. 

Captain Kid gimana? Anak ekstrovert kan? Diajak jalan ya hepi aja. Kemarin jalan empat kilo ga minta gendong sama sekali. Paling agak cemas dan terus-terusan megangin tangan Ayah. Hahaha. 

Yang ini malah masih semangat ngamatin odong-odong

22 January 2016

Suatu hari junior di kantor curhat kalau dia sedang memasuki periode iri dengan teman-teman di perwakilan lain. Irinya ini mulai dari tingkat kemeriahan perayaan di masing-masing perwakilan sampai kebaikan bos masing-masing. Oh.. kalau iri akan jumlah pendapatan, itu mah biasa. Lazim. 

Saya cuma bilang "Sabar. Nanti ngerti kog kenapa sama Allah dikasih penempatan di sana."

Sabar ini bukan saran basa-basi. Ini saran yang keluar karena saya juga pernah mengalaminya. ini saran hasil memaksakan diri untuk sabar dan ikhlas ples pasang kacamata kuda sama kondisi teman seangkatan. Dan baru setelah empat tahun, saya agak ngeh kenapa Allah menempatkan saya di pusdiklat, bukan di tempat lain yang menurut saya harusnya di situ, itu yang terbaik. 

“Andaikan kamu tau bagaimana Allah mengatur urusan hidupmu, pasti hatimu akan meleleh karena cinta kepada-Nya” (Ibn Al-Qayyim Al-Jauziyyah)
Jadi, di kantor saya ada beberapa tempat yang terkenal sebagai tempat pembuangan. Pegawai-pegawai yang dianggap merepotkan kantor dan tidak ada yang mau mengambilnya akan ditempatkan di tempat-tempat pembuangan ini. Salah-satunya Pusdiklat. Padahal... gak juga. Banyak pegawai pintar, cerdas, berprestasi, dan lulusan universitas ciamik di sini. 

Terus waktu tahu saya ditempatkan di pusdiklat dan tidak jadi pemeriksa, saya sempat berpikir yang aneh-aneh. Apa nilai tes masuk saya jelek banget sampai ditempatkan di sini. Apa kepaksa aja nih nerima saya jadi pegawai. Trus teman-teman lain, yang tidak jadi pemeriksa, juga berpikiran yang sama. 

Untungnya, pas ikut diklat pemeriksa, saya sukses kog, top two lah. Teman-teman saya juga sukses. Waktu ikut ngeaudit juga. Kompetensi saya mencukupi kog. Ga malu-maluin lah. Jadi hipotesa awal gugur ya. Lalu kenapa sih saya ditempatkan di Pusdiklat? 

Saya bingung, teman kampus saya ngetawain. Iya diketawain dong. *kucek-kucek teman pakai parutan keju* Jadi ngerti kan gimana jeleknya stigma orang akan penempatan saya. 

Setelah empat tahun, saya terpaksa menyadari keuntungan dapat penempatan di sini. Di pusdiklat saya bisa ketemu banyak orang hebat dan pintar. Orang-orang yang dipilih menjadi pengisi diklat. Saya juga bisa kerja bareng mereka. Ga perlu kerja, sambil ngobrol aja saya bisa dapat trik-trik ngeaudit, ilmu-ilmu keren, dan kisah-kisah seru dari mereka. 

Ini orang-orang hebat loh, petinggi-petinggi kantor yang sepertinya kalau ga karena kerja sama bikin modul, saya negur aja malu. Sekarang malah curhat-curhatan.  

Terus karena Pusdiklat ini terkenal sebagai tempat "kering", tempat yang pegawainya jarang keluar kota, yang jarang rapat di hotel, yang jarang ada kemeriahan, dan jarang akan hal-hal lainnya yang bisa memotivasi manusia, saya sampai sekarang (semoga istiqomah ya) merasa ga masalah melakukan kerja tambahan tanpa dibayar. Saya ga merasa harus keluar kota, harus ke hotel, dan harus-harus lainnya adalah hak saya. 

Karenanya mendapatkan atau tidak mendapatkan, tidak mempengaruhi mood, kepuasan, dan performa saya. Kerja ya kerja aja. Lembur ya lembur aja. Dibayar lebih alhamdulillah. Ga dibayar ya ga masalah. Toh bisa sibuk aja udah bikin hepi. Malahan pas dapat bayaran lebih saya mengkhawatirkan kehalalannya. Haha. 

Jadi setelah empat tahun, saya baru paham (dan berterima kasih) sama Allah ditempatkan di Pusdiklat. Mungkin kalau di tempat lain saya bisa khilaf. Mungkin Allah tahu saya ga akan kuat jadi orang lurus kalau terus-terusan dihidangkan godaan. Mungkin kalau ga di Pusdiklat dari awal saya akan membenarkan hal yang biasa dan membiarkan nurani saya mati. Mungkin ya. 

Jadi buat adek junior yang lagi kecewa sama kantor, sabar ya. Percayalah kalau Allah itu sudah merencanakan hidup hambanya. Merencanakan sebaik-baiknya. You are in the right place kog. Dan ga usah kebanyakan iri lihat hidup orang lain. Unfollow aja temannya kalau kebanyakan check in di bandara. Eh. Haha. 

Rencana Allah

22 January 2016 capcai bakar

Suatu hari junior di kantor curhat kalau dia sedang memasuki periode iri dengan teman-teman di perwakilan lain. Irinya ini mulai dari tingkat kemeriahan perayaan di masing-masing perwakilan sampai kebaikan bos masing-masing. Oh.. kalau iri akan jumlah pendapatan, itu mah biasa. Lazim. 

Saya cuma bilang "Sabar. Nanti ngerti kog kenapa sama Allah dikasih penempatan di sana."

Sabar ini bukan saran basa-basi. Ini saran yang keluar karena saya juga pernah mengalaminya. ini saran hasil memaksakan diri untuk sabar dan ikhlas ples pasang kacamata kuda sama kondisi teman seangkatan. Dan baru setelah empat tahun, saya agak ngeh kenapa Allah menempatkan saya di pusdiklat, bukan di tempat lain yang menurut saya harusnya di situ, itu yang terbaik. 

“Andaikan kamu tau bagaimana Allah mengatur urusan hidupmu, pasti hatimu akan meleleh karena cinta kepada-Nya” (Ibn Al-Qayyim Al-Jauziyyah)
Jadi, di kantor saya ada beberapa tempat yang terkenal sebagai tempat pembuangan. Pegawai-pegawai yang dianggap merepotkan kantor dan tidak ada yang mau mengambilnya akan ditempatkan di tempat-tempat pembuangan ini. Salah-satunya Pusdiklat. Padahal... gak juga. Banyak pegawai pintar, cerdas, berprestasi, dan lulusan universitas ciamik di sini. 

Terus waktu tahu saya ditempatkan di pusdiklat dan tidak jadi pemeriksa, saya sempat berpikir yang aneh-aneh. Apa nilai tes masuk saya jelek banget sampai ditempatkan di sini. Apa kepaksa aja nih nerima saya jadi pegawai. Trus teman-teman lain, yang tidak jadi pemeriksa, juga berpikiran yang sama. 

Untungnya, pas ikut diklat pemeriksa, saya sukses kog, top two lah. Teman-teman saya juga sukses. Waktu ikut ngeaudit juga. Kompetensi saya mencukupi kog. Ga malu-maluin lah. Jadi hipotesa awal gugur ya. Lalu kenapa sih saya ditempatkan di Pusdiklat? 

Saya bingung, teman kampus saya ngetawain. Iya diketawain dong. *kucek-kucek teman pakai parutan keju* Jadi ngerti kan gimana jeleknya stigma orang akan penempatan saya. 

Setelah empat tahun, saya terpaksa menyadari keuntungan dapat penempatan di sini. Di pusdiklat saya bisa ketemu banyak orang hebat dan pintar. Orang-orang yang dipilih menjadi pengisi diklat. Saya juga bisa kerja bareng mereka. Ga perlu kerja, sambil ngobrol aja saya bisa dapat trik-trik ngeaudit, ilmu-ilmu keren, dan kisah-kisah seru dari mereka. 

Ini orang-orang hebat loh, petinggi-petinggi kantor yang sepertinya kalau ga karena kerja sama bikin modul, saya negur aja malu. Sekarang malah curhat-curhatan.  

Terus karena Pusdiklat ini terkenal sebagai tempat "kering", tempat yang pegawainya jarang keluar kota, yang jarang rapat di hotel, yang jarang ada kemeriahan, dan jarang akan hal-hal lainnya yang bisa memotivasi manusia, saya sampai sekarang (semoga istiqomah ya) merasa ga masalah melakukan kerja tambahan tanpa dibayar. Saya ga merasa harus keluar kota, harus ke hotel, dan harus-harus lainnya adalah hak saya. 

Karenanya mendapatkan atau tidak mendapatkan, tidak mempengaruhi mood, kepuasan, dan performa saya. Kerja ya kerja aja. Lembur ya lembur aja. Dibayar lebih alhamdulillah. Ga dibayar ya ga masalah. Toh bisa sibuk aja udah bikin hepi. Malahan pas dapat bayaran lebih saya mengkhawatirkan kehalalannya. Haha. 

Jadi setelah empat tahun, saya baru paham (dan berterima kasih) sama Allah ditempatkan di Pusdiklat. Mungkin kalau di tempat lain saya bisa khilaf. Mungkin Allah tahu saya ga akan kuat jadi orang lurus kalau terus-terusan dihidangkan godaan. Mungkin kalau ga di Pusdiklat dari awal saya akan membenarkan hal yang biasa dan membiarkan nurani saya mati. Mungkin ya. 

Jadi buat adek junior yang lagi kecewa sama kantor, sabar ya. Percayalah kalau Allah itu sudah merencanakan hidup hambanya. Merencanakan sebaik-baiknya. You are in the right place kog. Dan ga usah kebanyakan iri lihat hidup orang lain. Unfollow aja temannya kalau kebanyakan check in di bandara. Eh. Haha. 

19 January 2016

Jendral Kancil suatu hari

"Bunda, di jakarta ada bom ya katanya? Bomnya di enam tempat. Korbannya tujuh ya?"

"Iya. Nan tau dari mana?"

"Baca di komputer. Itu dekat tempat Bunda?"

"Ga. Jauh."

"Kalau Bunda di Jakarta lewat dekat situ ga?"

"Ga Nan. Bunda kan ngantornya di kantor aja. Gak kemana-mana. Buci yang lewat situ."

"Nan takut. I cant stand to lose our family again."
Jendral Kancil baru kehilangan sepupunya. Dia masih sedih.

"Mmmm... bunda di kantor aja sih Nan. Ga keluar-keluar. Dan lagian kalau sudah umurnya, sudah janjian sama Allah.. mau di mana saja lagi ngapain saja.. ya meninggal juga sih Nan."

"Why people do thing like that Nda?"

"..........."

I dont know kiddos. Bunda ga tahu kenapa ada orang yang berpikir menyakiti orang lain itu boleh saja, asal tujuan tercapai. Apalagi mengambil nyawa orang yang tidak menyerang siapapun. I dont know.

Bom Sarinah dan Jendral Kancil

19 January 2016 capcai bakar

Jendral Kancil suatu hari

"Bunda, di jakarta ada bom ya katanya? Bomnya di enam tempat. Korbannya tujuh ya?"

"Iya. Nan tau dari mana?"

"Baca di komputer. Itu dekat tempat Bunda?"

"Ga. Jauh."

"Kalau Bunda di Jakarta lewat dekat situ ga?"

"Ga Nan. Bunda kan ngantornya di kantor aja. Gak kemana-mana. Buci yang lewat situ."

"Nan takut. I cant stand to lose our family again."
Jendral Kancil baru kehilangan sepupunya. Dia masih sedih.

"Mmmm... bunda di kantor aja sih Nan. Ga keluar-keluar. Dan lagian kalau sudah umurnya, sudah janjian sama Allah.. mau di mana saja lagi ngapain saja.. ya meninggal juga sih Nan."

"Why people do thing like that Nda?"

"..........."

I dont know kiddos. Bunda ga tahu kenapa ada orang yang berpikir menyakiti orang lain itu boleh saja, asal tujuan tercapai. Apalagi mengambil nyawa orang yang tidak menyerang siapapun. I dont know.

07 January 2016

Pagi itu saya dapat tempat duduk paling depan di sebelah supir travel Bandung-Jakarta. Saya ga suka tempat duduk paling depan ini. Seram. Keliatan banget kalau supir bawa mobilnya kencang. Saya juga jarang banget dapat tempat duduk paling depan. Tahun 2016 ini aj abaru sekali *ya iyalah. digebukin pembaca*. Tapi untungnya sih sepanjang jalan saya bisa tidur *ini sih emang sayanya yang kebo*. Dan Alhamdulillah lancar-lancar saja. 

Saat di lampu merah Halim, kami berhenti menunggu lampu merah. Dari jauh saya melihat ada seorang laki-laki muda menyusuri mobil-mobil yang berhenti. Kaki kirinya cacat. Cacat beneran. Badannya masih segar sih, kan masih muda. Ia memberi isyarat ke mobil-mobil yang dilewatinya. Meminta uang. Iya.. laki-laki ini pengemis. 

Sepertinya ga ada orang yang ngasih. Mungkin mereka sama seperti saya, berpikir lebih baik sedekah ke orang yang berusaha daripada ke pengemis. Apalagi kalau badannya masih sehat. Dia kan bisa jualan sambil duduk. 

Saya perhatikan lagi setiap ditolak, abang-abang pengemis ini memberi senyum lebar. Mukanya ga kesal sama sekali. Ia senyum terus sepanjang jalan. Jaraknya ke mobil travel yang saya naikin semakin dekat, ia pun berbelok. Mungkin ia hanya meminta ke mobil pribadi. Penumpang mobil travel tidak ada yang membuka jendela mungkin. 

Bapak supir di sebelah saya lalu mengklakson dirinya dan menurunkan jendela. Ia memberi uang yang digulung sangat kecil. Tanpa diminta. Abang pengemis itu mengucapkan "Alhamdulilllah. Makasih bang!" dengan sangat gembira. 

Saya mikir.. pantesan tadi bapaknya sibuk grasak-grusuk. Saya kira sedang memasukan bukti-bukti perjalanan ke amplop. Ternyata ngambil uang, diam-diam. Ternyata ngegulung uang biar ga keliatan ngasih berapa. Padahal saya sudah pakai kacamata.

Saya mikir siapa sih yang mau cacat dan jadi pengemis. Mana tau dia beneran butuh. Benaran buntu sampai harus terpaksa mengemis. 

Kalau cuma taktik? Ya gak masalah. Dia lagi ga butuh. Hidupnya baik-baik saja. Kalau benaran butuh tapi saya ga nolong padahal bisa, itu yang jadi masalah. Kalau bukan orang mampu yang bantu, siapa lagi sih?

Dan.. siapa saya yang berhak menilai mana orang yang pantas diberi sedekah mana yang tidak? Allah saja masih memberikan saya rezeki harta dan hidup padahal banyak ngelanggar perintahNya. Kebayang ga sih kalau Allah milih-milih. Sholat kamu telat. Jatah oksigen hari ini dikurangin ya. Ga sholat? Ya udah... mata dibutain ya. Untunglah Allah Maha Pengasih dan Penyayang. 

Lalu, saya yang serpihan bubuk koya di meja warung soto ini masih mau pilih kasih? *buru-buru menebar kasih sayang kemana saja.* *dicambuk suami*


PS: Makasih ya Pak Supir. Semoga dilimpahi berkah, rejekinya dilancarkan, dan selamat di jalan. 

Pelajaran Pagi dari Supir Travel

07 January 2016 capcai bakar

Pagi itu saya dapat tempat duduk paling depan di sebelah supir travel Bandung-Jakarta. Saya ga suka tempat duduk paling depan ini. Seram. Keliatan banget kalau supir bawa mobilnya kencang. Saya juga jarang banget dapat tempat duduk paling depan. Tahun 2016 ini aj abaru sekali *ya iyalah. digebukin pembaca*. Tapi untungnya sih sepanjang jalan saya bisa tidur *ini sih emang sayanya yang kebo*. Dan Alhamdulillah lancar-lancar saja. 

Saat di lampu merah Halim, kami berhenti menunggu lampu merah. Dari jauh saya melihat ada seorang laki-laki muda menyusuri mobil-mobil yang berhenti. Kaki kirinya cacat. Cacat beneran. Badannya masih segar sih, kan masih muda. Ia memberi isyarat ke mobil-mobil yang dilewatinya. Meminta uang. Iya.. laki-laki ini pengemis. 

Sepertinya ga ada orang yang ngasih. Mungkin mereka sama seperti saya, berpikir lebih baik sedekah ke orang yang berusaha daripada ke pengemis. Apalagi kalau badannya masih sehat. Dia kan bisa jualan sambil duduk. 

Saya perhatikan lagi setiap ditolak, abang-abang pengemis ini memberi senyum lebar. Mukanya ga kesal sama sekali. Ia senyum terus sepanjang jalan. Jaraknya ke mobil travel yang saya naikin semakin dekat, ia pun berbelok. Mungkin ia hanya meminta ke mobil pribadi. Penumpang mobil travel tidak ada yang membuka jendela mungkin. 

Bapak supir di sebelah saya lalu mengklakson dirinya dan menurunkan jendela. Ia memberi uang yang digulung sangat kecil. Tanpa diminta. Abang pengemis itu mengucapkan "Alhamdulilllah. Makasih bang!" dengan sangat gembira. 

Saya mikir.. pantesan tadi bapaknya sibuk grasak-grusuk. Saya kira sedang memasukan bukti-bukti perjalanan ke amplop. Ternyata ngambil uang, diam-diam. Ternyata ngegulung uang biar ga keliatan ngasih berapa. Padahal saya sudah pakai kacamata.

Saya mikir siapa sih yang mau cacat dan jadi pengemis. Mana tau dia beneran butuh. Benaran buntu sampai harus terpaksa mengemis. 

Kalau cuma taktik? Ya gak masalah. Dia lagi ga butuh. Hidupnya baik-baik saja. Kalau benaran butuh tapi saya ga nolong padahal bisa, itu yang jadi masalah. Kalau bukan orang mampu yang bantu, siapa lagi sih?

Dan.. siapa saya yang berhak menilai mana orang yang pantas diberi sedekah mana yang tidak? Allah saja masih memberikan saya rezeki harta dan hidup padahal banyak ngelanggar perintahNya. Kebayang ga sih kalau Allah milih-milih. Sholat kamu telat. Jatah oksigen hari ini dikurangin ya. Ga sholat? Ya udah... mata dibutain ya. Untunglah Allah Maha Pengasih dan Penyayang. 

Lalu, saya yang serpihan bubuk koya di meja warung soto ini masih mau pilih kasih? *buru-buru menebar kasih sayang kemana saja.* *dicambuk suami*


PS: Makasih ya Pak Supir. Semoga dilimpahi berkah, rejekinya dilancarkan, dan selamat di jalan. 

05 January 2016

Razan Bachtiar Yafiq

05 January 2016 capcai bakar

Razan Bachtiar Yafiq
26 Agustus 2011 - 31 Desember 2015
Hai Razan, ini sudah hari kelima sejak adek pergi. Tapi di sana pasti ga terasa lama seperti di sini ya Dek. Kayak baru sebentar kan sayang? Adek udah kenalan sama malaikat?  Udah ada yang nemenin? Jangan-jangan adek malah udah galak sama malaikat di sana, udah "nasehatin" malaikat panjang lebar juga. Adek kan suka galak kalau belum kenal. Suka ngasih nasehat kayak orang gede. Padahal kamu masih empat tahun. Sekolah TK aja baru mulai kan kemarin. 

Bunda baru balik dari Bandung waktu Bube minta bunda nelpon Umi Cici. Umi Cici nangis-nangis sambil pulang kantor. Umi adek itu orangnya tegar banget loh. Jadi waktu Umi nangis kencang dan ga berhenti-henti, pasti ada sesuatu. Umi waktu itu belum tahu adek udah meninggal. Umi cuma diminta pulang sama Umi Nana, yang jaga adek. Logikanya kalau adek masuk rumah sakit Umi Nana pasti cerita kan. Ini Umi Nana ga cerita apa-apa, itu bikin umi Razan makin takut. Bunda juga takut dek. Takut yang terburuk terjadi sama adek. Tapi kami masih berharap, semoga bukan apa-apa. Mungkin adek sakit atau kecelakaan parah banget, sampai Umi Nana ga bisa cerita.. tapi adek bukan meninggal. Ga mungkin ah. 

Gak mungkin adek meninggal. Kan kemarin kita baru ketemu pas jemput Oma di Bandara. Kita baru makan ayam goreng. Adek makan sendiri (setelah rebutan minum sama Abang), tapi ga abis.. terus minta Abi nyuapin sambil jalan-jalan lihat pesawat. Iya adek senang banget lihat pesawat. Makanya meski itu udah malam banget, adek tetap semangat nunjukin pesawat-pesawat yang ada di Bandara. Adek juga main troli sama Bube kan? Eh udah bisa bilang troli belum dek? Ingat ga Oma ngeledekin adek yang cadel, terus minta adek ngulang "Ada ular melingkar-lingkar di pagar rumah Pak Amir?" Dan adek ga mau.. Bunda pikir ga apa-apa, toh nanti seiring umur pasti bisa ngomong huruf R ya dek. 

Tapi, ternyata umur adek cuma segini. Janjian sama Allah kog cepat banget sih Dek. 

Waktu Bunda dikasih tau Bube kalau adek meninggal. Rasanya ga percaya. Bunda mikir, Bube mungkin salah dapat informasi. Adek belum meninggal. Adek ga mungkin meninggal. 

Tapi.. waktu Bunda ke rumah, udah ada bendera kuning di setiap belokan ke rumah Adek. Ada bendera kuning di depan rumah. Ada banyak orang. Terus ada adek lagi tidur di ruang tamu, ditemanin umi dan abi. Iya, adek kayak tidur aja. Adek kalau tidur kan kayak Umi, matanya kebuka setengah. Itu juga, mata adek kebuka setengah, adek senyum. Adek ganteng banget sih. Alisnya bagus kayak Umi, hidungnya mancung kayak abi, kulitnya putih kayak umi, badannya tinggi kurus kayak abi.  Kepalanya kog ditutupi selendang sih dek.. kan Bunda jadi ga bisa mandangin dan elus-elus rambut lurus adek. 

Adek kayak tidur cuma badannya dingin, jadi Bunda pikir kalau muka adek bunda usap-usap, adek jadi hangat dan bangun lagi.  Tapi enggak. Orang nyuruh Bunda nutup muka adek pakai selendang, Bunda ga mau. Kami masih mau ngeliatin muka adek, masih mau ngehapalin muka adek, masih mau nyiumin dan ngusap-ngusap adek. Karena kami tahu, bentar lagi ga bisa meluk, nyentuh, dan ngelihat adek langsung. Gak apa-apa ya dek ga ditutup. Umi, Abi, dan Bunda mau memperpanjang waktu selama mungkin buat ngelihat kamu. 

Terus, orang-orang menyarankan adek segera dimandikan kalau sudah ga ada yang ditunggu. Iya.. kita ga bisa nunggu Mbah, Abang Rafi, Opa Oma, Om Andar, Bube, Tante Ani, dan Anna datang dan ngelihat adek dulu. Ini malam tahun baru. Jalanan bisa macet banget. Opa Oma juga dapat penerbangan yang malam. Kalau nunggu, nanti kemalaman. Kasian adek.  

Yang mandiin adek Abi dan Papa, Abi yang mangku. Abi minta direkam, biar nanti Mbah, Opa Oma, Abang Rafi, dan semua keluarga bisa lihat. Adek dimandiinnya pakai air dingin, Umi langsung nangis karena tahu adek ga suka air dingin. Airnya juga kencang banget ya dek. Ya ampun.. dulu waktu adek masih hidup, Abi Umi pasti mandiinnya pakai air hangat dan pelan-pelan biar adek nyaman. Sekarang lihat adek dimandiin gitu, Bunda sedih banget. Pengen minta bapaknya pelan-pelan mandiin adek. Kasian adek. 

Rasanya Bunda masih berharap adek bangun dan kesal karena dimandiin air dingin. Tapi adek diam aja. 

Terus adek dikafanin, dikasih bedak juga mukanya. Padahal adek kan ga pernah pakai bedak. Apa Bunda yang ga pernah lihat ya? Rasanya tiap Umi ngirim foto adek, adek ga pernah pakai bedak deh dari bayi. Terus tahu-tahu muka adek udah ditutup, tahu-tahu adek udah disholatin, tahu-tahu adek udah digendong Abi ke makam. Kog cepat banget sih. Bunda masih mau ngelihat adek. Masih mau meluk adek. 

Umi nganterin adek ke makam. Sepanjang jalan Umi ga nangis loh. Umi bolak-balik bilang adek meninggalnya bagus. Senyum dan cepat. Jadi gak apa-apa. Umi kalian tabah banget kan ya. Umi ngelihatin adek diturunin. Lubangnya dalam ya dek. Abi turun buat ngeadzanin adek, suara abi tegas loh dek, ga keputus-putus. Padahal pasti nahan tangis. Nahan sedih ditinggal adek. Gitu Abi naik, Abi langsung nangis karena keingatan belum beliin pancingan yang adek minta. Rencananya abi mau beli di Lampung aja waktu jemput Abang Rafi. Tapi ga sempat. Adek keburu janjian sama Allah. 

Duh kog cepat banget sih Nak. Rasanya belum puas sama adek. 

Bunda mikir, adek bakalan berani ga ya pas dibangunin malaikat nanti. Adek kan takut gelap. Adek bisa ga sendiri di sana. Adek takut ga waktu tau ga ada Abi Umi, Abang Rafi dan Adek Rein? Tapi insyaallah ada malaikat-malaikat baik yang nemenin adek kan ya, yang ngajakin adek main (main minecraft juga di sana?), yang bantuin adek makan, bantuin adek mandi. Insyaallah ada yang jaga ya dek. Insyaallah kuburannya luas dan terang. Insyaalah nanti adek kumpul lagi ya sama abi umi, abang rafi dan adek rein. Sebentar aja nunggunya di sana, kayak nunggu Abi Umi ngantor kan. Baik-baik ya sama malaikatnya jangan galak-galak. 

Doain Abi dan Umi ya dek. Doain mereka kuat. Bunda, Bube, Om Andar, Oma, Opa, dan Ayah agus aja sedihnya gini dek. Apalagi Abi Umi. Doain Bang Rafi juga ya dek. Abang kan dari kecil teman main dan berantemnya itu adek Razan. Sekarang harus main sendiri. Abang bingung dan kesepian tuh Dek ga ada Adek. Doain adek Rein juga ya.. kan yang suka ngajak adek Rein main itu Razan. Sampai adek Rein ngamuk-ngamuk karena ga bisa napas adek ciumin terus. 

Doain kami kuat ya. Kalau Abi, Umi, Abang Rafi, dan Adek Rein kangen banget sama Razan... datang ya sekali-kali ke mimpi mereka.  Bilangin ke Abi Umi kalau selama sama mereka adek senang banget, kalau Abi dan Umi udah ngasih yang terbaik ke adek, kalau waktu kalian udah cukup banyak. Adek bahagia kog selama sama Abi dan Umi. Cuma sekarang Allah minta adek balik, karena Allah kangen sama adek. Allah pemilik adek, kami cuma dititipkan. Dan betapa sayangnya kami sama adek, betapa rasanya waktu kita bersama itu kurang, kalau Allah udah minta, kami harus rela kan Dek. Insyaallah ikhlas.

Ya udah... dadah Adek.  Maaf selama adek hidup kita cuma ketemu sekali-kali. Bunda pikir waktu kita masih lama dek..Bunda pikir bisa lihat kalian dewasa. Jadi anak-anak lelaki ganteng, sok cool, yang kalau dicium sebel. Maaf ya.