SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

07 January 2016

Tagged Under:

Pelajaran Pagi dari Supir Travel

Share

Pagi itu saya dapat tempat duduk paling depan di sebelah supir travel Bandung-Jakarta. Saya ga suka tempat duduk paling depan ini. Seram. Keliatan banget kalau supir bawa mobilnya kencang. Saya juga jarang banget dapat tempat duduk paling depan. Tahun 2016 ini aj abaru sekali *ya iyalah. digebukin pembaca*. Tapi untungnya sih sepanjang jalan saya bisa tidur *ini sih emang sayanya yang kebo*. Dan Alhamdulillah lancar-lancar saja. 

Saat di lampu merah Halim, kami berhenti menunggu lampu merah. Dari jauh saya melihat ada seorang laki-laki muda menyusuri mobil-mobil yang berhenti. Kaki kirinya cacat. Cacat beneran. Badannya masih segar sih, kan masih muda. Ia memberi isyarat ke mobil-mobil yang dilewatinya. Meminta uang. Iya.. laki-laki ini pengemis. 

Sepertinya ga ada orang yang ngasih. Mungkin mereka sama seperti saya, berpikir lebih baik sedekah ke orang yang berusaha daripada ke pengemis. Apalagi kalau badannya masih sehat. Dia kan bisa jualan sambil duduk. 

Saya perhatikan lagi setiap ditolak, abang-abang pengemis ini memberi senyum lebar. Mukanya ga kesal sama sekali. Ia senyum terus sepanjang jalan. Jaraknya ke mobil travel yang saya naikin semakin dekat, ia pun berbelok. Mungkin ia hanya meminta ke mobil pribadi. Penumpang mobil travel tidak ada yang membuka jendela mungkin. 

Bapak supir di sebelah saya lalu mengklakson dirinya dan menurunkan jendela. Ia memberi uang yang digulung sangat kecil. Tanpa diminta. Abang pengemis itu mengucapkan "Alhamdulilllah. Makasih bang!" dengan sangat gembira. 

Saya mikir.. pantesan tadi bapaknya sibuk grasak-grusuk. Saya kira sedang memasukan bukti-bukti perjalanan ke amplop. Ternyata ngambil uang, diam-diam. Ternyata ngegulung uang biar ga keliatan ngasih berapa. Padahal saya sudah pakai kacamata.

Saya mikir siapa sih yang mau cacat dan jadi pengemis. Mana tau dia beneran butuh. Benaran buntu sampai harus terpaksa mengemis. 

Kalau cuma taktik? Ya gak masalah. Dia lagi ga butuh. Hidupnya baik-baik saja. Kalau benaran butuh tapi saya ga nolong padahal bisa, itu yang jadi masalah. Kalau bukan orang mampu yang bantu, siapa lagi sih?

Dan.. siapa saya yang berhak menilai mana orang yang pantas diberi sedekah mana yang tidak? Allah saja masih memberikan saya rezeki harta dan hidup padahal banyak ngelanggar perintahNya. Kebayang ga sih kalau Allah milih-milih. Sholat kamu telat. Jatah oksigen hari ini dikurangin ya. Ga sholat? Ya udah... mata dibutain ya. Untunglah Allah Maha Pengasih dan Penyayang. 

Lalu, saya yang serpihan bubuk koya di meja warung soto ini masih mau pilih kasih? *buru-buru menebar kasih sayang kemana saja.* *dicambuk suami*


PS: Makasih ya Pak Supir. Semoga dilimpahi berkah, rejekinya dilancarkan, dan selamat di jalan. 
Post a Comment