SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

29 January 2016

Tagged Under:

Profile Pic dan Artinya (?)

Share

A picture worth a thousand words, ceunah. 

Suka kepikiran ga kenapa seseorang memilih satu gambar tertentu sebagai profile picturenya di facebook, twitter, instagram, path, bbm, whatsapp, dan berbagai platform media sosial lainnya? 

Saya sih enggak, *ditimpukin pembaca*. 

Soalnya dasar saya memilih sebuah foto adalah " I look good at that picture and professional enough." Ya secara udah kerja, nomornya bisa dimiliki siapa saja. Kalau saya pasang foto monyong-monyong atau foto gelantungan di pohon (iyes.. saya punya kedua jenis foto ini), lalu foto ini dilihat orang lain maka rusak sudah nilai jual saya. Jadi saya pikir alasan orang memilih sebuah foto ya semata-mata hanya karena ia terlihat bagus di foto tersebut. 

Sampai teman saya memunculkan sebuah teori, bahwa orang yang tidak memasang foto bersama keluarganya rentan selingkuh. APAH?!!! *zoom in zoom out muka saya dan teman*. Sebagai orang yang jaraaaaaangggg banget pasang foto bareng keluarga atau pasangan, saya kan merasa harus memjelaskan diri. Yang mengharuskan untuk menjelasakan siapa sih? *dikeplak teman*

-------

Familiar dengan "kesan pertama" kan? Pada pertemuan langsung, orang akan menilai kita dari penampilan dan bahasa tubuh kita.  Penilaian ini dilakukan hanya selama empat (beberapa bilang tiga) menit pertama saja. Gila gak? Hanya butuh waktu tiga menit untuk manusia, menilai dan merasa cukup mengetahui seseorang. Dan butuh waktu jauh lebih lama juga lebih intens untuk mengubah kesan pertama tersebut. 

Makanya di era digital, profile picture adalah kesan pertama yang kita pilih untuk ditampilkan. Foto yang menjadi rangkuman siapa kita dan apa yang bisa kita jual.

Ini yang lihat mungkin mikir kalau saya bisa jaga lilin. :))
Karena manusia ada banyak dan dalamnya hati siapa yang tahu, sepertinya mustahil memformulakan satu teori yang berlaku buat semua individu. Namun secara garis besar, lelaki dan perempuan memiliki kecenderungan yang berbeda dalam memilih profile picturenya. 

Lelaki akan memilih foto yang menunjukkan mereka friendly, gampang diajak ngobrol, dan pintar. Sedangkan perempuan akan memilih foto yang menunjukkan kemampuan relationshipnya. Mungkin karena sebagai manusia purba, lelaki dituntut bisa merengkuh dan menjadi solusi bagi orang lain serta mampu meyediakan sandang, pangan, papan (yang mana di masa modern dikaitkan dengan kecerdasan). Sedangkan perempuan dinilai dari kemampuannya merawat "rumah", yaitu anak, pasangan, atau peliharaan. Peliharaan hewan atau tanaman ya, bukan dedek-dedek brondong. 

Jadi sering kan melihat lelaki yang memajang fotonya dengan kendaraan mahal, jam mewah, landmark terkenal, atau foto lagi memimpin rapat. Sedangkan wanita memajang foto bersama teman, anak, pasangan, ataupun hewan peliharaan. 

--------

Kembali ke teori teman saya tadi, kalau begitu orang yang sering memasang foto sendiri fokusnya ke diri sendiri doang dong? Bukan ke keluarga. Makanya rentan selingkuh. Ya meneketehe. *dikeplak. kalau ga tau ngapain bikin postingan panjang-panjang* Kan tadi udah dibilangin kalau dalamnya hati ga ada yang tahu.

Saya misalnya, dalamnya hati sendiri pasti tahu lah ya.  Memilih tidak memasang foto bersama keluarga semata-mata karena privasi dan.... saya mau dikenal sebagai saya. Bukan sebagai istri Suami Prohemer saja, atau emaknya Jendral Kancil dan Captain Kid saja. Saya mau orang mengenal saya sebagai "saya".  Makanya suka pasang foto hasil selfie belasan kali sendirian.


Lalu, kekhawatiran orang yang tidak saya kenal dapat dengan mudah mengenali anak-anak dan suami saya, kemudian berbuat jahat kepada mereka membuat saya membatasi diri menggunakan foto mereka sebagai profile picture. Bukan karena saya tidak bangga. Saya bangga dan pengen mamer juga. Medianya saja yang berbeda. Saya membanggakan mereka di blog dan instagram. 

Lah.. kog di blog dan instagram mau sedangkan di profile pic tidak? Padahal sama-sama online? Karena butuh usaha lebih dari sekedar punya nomor telepon untuk mengetahui mana suami dan anak-anak saya. Minimal harus ngetik alamat blognya dan mantengin postingannya satu-persatu. Harus niat. Di kasus saya, niatnya ga perlu cukup banyak karena saya suka bablas mamer keluarga di online. *menyesali diri*

Jadi menurut saya memasang foto bersama keluarga atau tidak, tidak menunjukkan tingkat loyalitas dan fokus kepada keluarga. Karena ada yang selalu masang foto sama keluarga dan stastusnya nama anak tapi centil juga. Sama seperti tidak bisa menilai kesetiaan seseorang dari memakai atau tidak memakai cincin kawin. Soalnya saya tahu banyak orang yang tetap kecentilan padahal ada cincin kawin di jari manisnya.

Lah ada cincin kawin atau foto keluarga aja masih centil gimana yang enggak ada? 

Nah ini membawa saya dan teman saya ke kesimpulan berikutnya, pemajangan foto keluarga dan cincin kawin ini lebih sebagai pengumuman kepada orang lain... "Udah ada yang punya, jangan digoda." 

Dan teman saya mengamini kalau "Ya.. karena gua juga ga yakin akan kekuatan diri untuk menangkal godaan, lebih baik dari awal menghalau orang-orang yang berniat menggoda dengan memasang foto keluarga bahagia bersama pasangan rupawan. You can beat my family."

Saya? Setuju. 

Kalau kamu gimana? Apa alasan kalian memilih profile pic?
Post a Comment