SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

22 January 2016

Tagged Under:

Rencana Allah

Share

Suatu hari junior di kantor curhat kalau dia sedang memasuki periode iri dengan teman-teman di perwakilan lain. Irinya ini mulai dari tingkat kemeriahan perayaan di masing-masing perwakilan sampai kebaikan bos masing-masing. Oh.. kalau iri akan jumlah pendapatan, itu mah biasa. Lazim. 

Saya cuma bilang "Sabar. Nanti ngerti kog kenapa sama Allah dikasih penempatan di sana."

Sabar ini bukan saran basa-basi. Ini saran yang keluar karena saya juga pernah mengalaminya. ini saran hasil memaksakan diri untuk sabar dan ikhlas ples pasang kacamata kuda sama kondisi teman seangkatan. Dan baru setelah empat tahun, saya agak ngeh kenapa Allah menempatkan saya di pusdiklat, bukan di tempat lain yang menurut saya harusnya di situ, itu yang terbaik. 

“Andaikan kamu tau bagaimana Allah mengatur urusan hidupmu, pasti hatimu akan meleleh karena cinta kepada-Nya” (Ibn Al-Qayyim Al-Jauziyyah)
Jadi, di kantor saya ada beberapa tempat yang terkenal sebagai tempat pembuangan. Pegawai-pegawai yang dianggap merepotkan kantor dan tidak ada yang mau mengambilnya akan ditempatkan di tempat-tempat pembuangan ini. Salah-satunya Pusdiklat. Padahal... gak juga. Banyak pegawai pintar, cerdas, berprestasi, dan lulusan universitas ciamik di sini. 

Terus waktu tahu saya ditempatkan di pusdiklat dan tidak jadi pemeriksa, saya sempat berpikir yang aneh-aneh. Apa nilai tes masuk saya jelek banget sampai ditempatkan di sini. Apa kepaksa aja nih nerima saya jadi pegawai. Trus teman-teman lain, yang tidak jadi pemeriksa, juga berpikiran yang sama. 

Untungnya, pas ikut diklat pemeriksa, saya sukses kog, top two lah. Teman-teman saya juga sukses. Waktu ikut ngeaudit juga. Kompetensi saya mencukupi kog. Ga malu-maluin lah. Jadi hipotesa awal gugur ya. Lalu kenapa sih saya ditempatkan di Pusdiklat? 

Saya bingung, teman kampus saya ngetawain. Iya diketawain dong. *kucek-kucek teman pakai parutan keju* Jadi ngerti kan gimana jeleknya stigma orang akan penempatan saya. 

Setelah empat tahun, saya terpaksa menyadari keuntungan dapat penempatan di sini. Di pusdiklat saya bisa ketemu banyak orang hebat dan pintar. Orang-orang yang dipilih menjadi pengisi diklat. Saya juga bisa kerja bareng mereka. Ga perlu kerja, sambil ngobrol aja saya bisa dapat trik-trik ngeaudit, ilmu-ilmu keren, dan kisah-kisah seru dari mereka. 

Ini orang-orang hebat loh, petinggi-petinggi kantor yang sepertinya kalau ga karena kerja sama bikin modul, saya negur aja malu. Sekarang malah curhat-curhatan.  

Terus karena Pusdiklat ini terkenal sebagai tempat "kering", tempat yang pegawainya jarang keluar kota, yang jarang rapat di hotel, yang jarang ada kemeriahan, dan jarang akan hal-hal lainnya yang bisa memotivasi manusia, saya sampai sekarang (semoga istiqomah ya) merasa ga masalah melakukan kerja tambahan tanpa dibayar. Saya ga merasa harus keluar kota, harus ke hotel, dan harus-harus lainnya adalah hak saya. 

Karenanya mendapatkan atau tidak mendapatkan, tidak mempengaruhi mood, kepuasan, dan performa saya. Kerja ya kerja aja. Lembur ya lembur aja. Dibayar lebih alhamdulillah. Ga dibayar ya ga masalah. Toh bisa sibuk aja udah bikin hepi. Malahan pas dapat bayaran lebih saya mengkhawatirkan kehalalannya. Haha. 

Jadi setelah empat tahun, saya baru paham (dan berterima kasih) sama Allah ditempatkan di Pusdiklat. Mungkin kalau di tempat lain saya bisa khilaf. Mungkin Allah tahu saya ga akan kuat jadi orang lurus kalau terus-terusan dihidangkan godaan. Mungkin kalau ga di Pusdiklat dari awal saya akan membenarkan hal yang biasa dan membiarkan nurani saya mati. Mungkin ya. 

Jadi buat adek junior yang lagi kecewa sama kantor, sabar ya. Percayalah kalau Allah itu sudah merencanakan hidup hambanya. Merencanakan sebaik-baiknya. You are in the right place kog. Dan ga usah kebanyakan iri lihat hidup orang lain. Unfollow aja temannya kalau kebanyakan check in di bandara. Eh. Haha. 
Post a Comment