SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

01 February 2016

Tagged Under:

Donor Darah dan Mie Instan

Share

Hari ini saya kejebak hujan di mall. *lalu ditoyor pembaca. kejebak kog di mall.* Sambil menunggu hujan reda jadi bisa balik ke kantor saya melipir ke acara donor darah yang diadakan di mall.

Pertama kali donor darah itu waktu jaman kuliah tingkat akhir. Saya dan teman-teman memutuskan main ke PMI Bandung. Tadinya mau ngambil PMI Bandung sebagai bahan skripsi. Entah kenapa malah memutuskan donor darah dan memilih pabrik air mineral sebagai objek penelitiannya. 

Lulus kuliah dan kerja di Jakarta, saya ikut donor darah lagi di acara kantor. Kalau donor darah di kantor enak deh, makanannya prasmanan catering gitu. Ada apetizer, main course, dan dessert. Goodie bagnya juga lumayan. Mewah lah. Secara disponsori kantor ya. Cuma setelah ga di kantor pusat lagi, saya jarang-jarang bisa ikut donor darah. Malas jalannya. Bentrok Jadwalnya.  Ga tau ada acaranya. 

Makanya gitu tadi kejebak hujan di mall dan ada acara donor darah langsung semangat, ini musti konspirasi semesta. Dan seperti biasa ya... kartu donornya ga dibawa. Jadi setiap donor saya pasti bawa pulang kartu baru. Hahaha. 

Tapi ga usah khawatir database PMI udah online dong. Begitu menyerahkan formulir pendaftaran, petugasnya ngetak-ngetik di laptop lalu muncullah nomor donor dan frekuensi saya mendonorkan darah. Ternyata lima tahun di Jakarta saya baru menyumbangkan darah tiga kali saja di kota ini. Yang di luar Jakarta belum dihitung karena datanya belum terintegrasi. Nanti maunya PMI bisa terintegrasi seluruh Indonesia. Semoga ya. Semoga juga kartunya bisa kaya kartu atm gitu. Jadi mudah dibawa-bawa di dompet. 

Begitu selesai mendonorkan darah, karena hujan sudah berhenti, sayapun buru-buru bangkit dan kembali ke kantor. Hasilnya? Di tengah jalan kepala saya muter. Pusing banget. Dibawa tidur di kantor pun masih ga selesai pusingnya. Akhirnya memutuskan minum susu dan makan pop mie yang dikasih PMI. Selesai makan saya lumayan bisa pura-pura kerja. 

Jadi, kalau menurut YLKI mie instan itu tidak ada nilai gizinya, kenapa PMI memberikan mie instan kepada pendonornya? *sodorin mike ke YLKI dan PMI* Hahaha. 


Post a Comment