SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

03 February 2016

Tagged Under:

Marah ke Siapa?

Share

Pukul 8 pagi ini saya dihubungi Jendral Kancil. Ia baru bangun padahal sekolah sudah dimulai setengah jam yang lalu. Saya langsung marah.

Saya mengomeli Jendral Kancil. Dia sudah kelas empat dan setiap pertemuan orang tua murid dan guru, gurunya mengingatkan manajemen waktu Jendral Kancil. Ia sering terlambat sehingga tidak sempat mengikuti hapalan quran yang berujung hapalannya tertinggal dibandingkan teman-temannya. Padahal sudah dibangunkan saya (lewat telepon) dan ayahnya pukul setengah tujuh.

Saya paham, ayahnya tidur lagi setelah membangunkan Jendral Kancil karena malamnya lembur dan menjaga Captain Kid. Apalagi tadi malam dapat laporan Captain Kid ngamuk-ngamuk. Suami saya baru bisa tidur (meski sudah mengantuk) setelah lewat pukul 2 dini hari. Setiap hari. Jadi wajar ia tidur lagi setelah membangunkan Jendral Kancil. Ia harus cukup segar untuk bisa menyetir dan mengantar anak kami.

Kenapa lembur? Karena siangnya harus menjaga Captain Kid. Sudah seminggu ini pengasuh kami sakit. Dan kalaupun pengasuh kami tidak sakit, pekerjaan suami sebagai pemilik perusahaan menyita banyak waktu. Ibarat punya bayi seorang lagi.

Karena itu saya menuntut Jendral Kancil lah yang harus bisa mengurus dirinya dan bisa mengatur waktunya sendiri. Tidur lebih cepat. Segera mandi begitu dibangunkan, sehingga tidak sempat ngantuk lagi. Saya marah karena ia tidak bisa mengatur dirinya.

Padahal, seringkali Jendral Kancil tidak bisa segera tidur karena masih di kantor Ayah, nungguin ayah selesai kerja dan pulang. Sampai di rumah dia juga masih memaksakan diri biar bisa main dulu dengan ayah dan adek.

Padahal kalau emaknya ada di sana, anaknya bisa segera pulang begitu selesai sekolah dan bisa main dulu. Kalau emaknya ada di sana, pasti bisa tanpa henti ngomelin biar tidur lebih cepat dan segera bangun. Jadi tadi saya marah ke siapa? Ke Jendral Kancil atau ke diri sendiri yang menuntut terlalu tinggi kepada anak? 

Menuntut anak saya lebih cepat dewasa, menuntut ia mampu mengurus keperluan sekolah sendiri, meminta ia mampu mengerjakan tugas sendiri, menuntut ia bisa memutuskan tugas apa yang dikumpulkan ke sekolah, dll. Padahal itu seharusnya tugas saya. Tugas saya, ibunya.

Saya pernah kaget waktu tahu Jendral Kancil memutuskan menunda mengumpulkan tugas karena ia perlu koneksi internet dan printer. Ia menunggu sampai bisa ke kantor Ayahnya. Padahal kalau cerita ke kami, kami pasti memberikan tethering internet dan pergi ke tukang fotokopian untuk mencetak tugasnya. Tapi anaknya tidak bercerita dan memutuskan sendiri. Saya jadi sedih. Iya anak saya mandiri tapi bukankah anak-anak harusnya tidak dipusingkan hal-hal begini ya.. tugas saya sebagai orang tua yang pusing-pusing.

Kalau sudah begini, saya cuma bisa meminta sama Allah, tolong kumpulkan kami bersama jika itu yang terbaik buat kami. Saya tidak tahu caranya, sepertinya mustahil. Tapi engkau Maha Tahu, engkaulah sebaik-baiknya perencana. Jika engkau mengijinkan maka apapun bisa terjadi. Tolong ya Rahman ya Rahim.
Post a Comment