SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

04 July 2016

Tagged Under:

Scholarship Journey: The Beginning

Share

Saya selalu ingin sekolah di luar negeri. Mungkin karena dulu lihat Mama Papa belajar di Eropa. Tapi inginnya itu baru sebatas ingin. Usahanya minimal. Dulu waktu SMA dan kuliah saya pernah ikut seleksi pertukaran pelajar, yang dua-duanya gagal di tahap terakhir. Setelah itu ya ga pernah usaha lagi buat mewujudkan keinginan belajar di luar.

Untungnya punya suami yang ambisius. Rasanya kalau Suami Prohemer tipe yang lempeng-lempeng dan ga punya mimpi muluk-muluk, saya akan tenang-tenang saja dengan kondisi apapun. Tinggal di rumah, nganter anak sekolah, masak makan siang, anter makan siang ke kantor suami, dan nulis blog. Gitu terus setiap hari juga saya puas-puas aja. Ya ditambah seminggu sekali ke salon dan (minimal) sebulan sekali belanja baju baru. 

Dialah yang semenjak saya lulus S1, sibuk "mengingatkan" untuk mencari beasiswa. Mengingatkannya ini setiap saya ngobrol dengan Suami loh ya. Setiap hari, tiga kali sehari. Setiap ketemu. 

Bikin kesal sebenarnya. Bahkan saya pernah (sering ding) marah dan bilang Suami mengrongrong. Bwahahaha. Untungnya beliau ga patah hati lalu berhenti "mengingatkan saya". Dan sayapun belajar mengabaikan "peringatannya". Kurang ajar ya?

Terus kog tiba-tiba tahun ini saya serius cari beasiswa? Karena comfort zone saya hilang. Tahun pertama kerja, saya masih beradaptasi dengan kantor. Tahun kedua, saya ikut pendidikan menjadi Trainer dan sibuk mempersiapkan metode mengajar. Tahun ketiga, saya ikut pelatihan jadi auditor. Tahun keempat, sibuk audit. Tahun kelima? Stuck. Saya dapat jadwal mengajar maksimal dua kali dalam sebulan. Selebihnya saya bengong-bengong cantik di kantor. Sampai-sampai saya (dan teman-teman) punya jargon "Ngobrol-ngobrol dapat duit." Karena benaran ga ada kerjaan sama sekali. Memperbaharui bahan ajar? Mmm... udah lebih dari dua tahun ngajar itu aja. Khatam. Pengen ngajar yang lebih serius tapi pengalaman audit saya masih minim. Minta ikut ngeaudit lagi? Ga diijinin. Ya salam. 

Prinsip saya kalau ninggalin keluarga, kariernya harus berarti dong ya. Masa ninggalin anak-anak cuma buat ngobrol-ngobrol ga jelas di kantor. Rugi. Jadi karena terus-terusan bengong di kantor, mulailah saya dengan serius menelusuri tawaran beasiswa di kantor. Serius menpersiapkan persyaratan yang diperlukan. Serius ikut seleksinya. 

Alhamdulilah tahun ini dapat beasiswanya. Alhamdulillah juga keterima di universitas yang saya inginkan. Alhamdulillah sekarang masih ketar-ketir ngurus paspor dinas, visa, akomodasi, dan sekolah anak-anak. Karena rencananya mau bawa anak-anak dan suami eh harus bawa anak-anak dan suami. Tolong ya Allah. Hahaha. Mohon doanya ya, urusan paspor, visa, dan keberangkatan kami sekeluarga bisa dipermudah, lancar, dan tepat waktu. Doain juga ada dananya. 

Dengan postingan ini, semoga postingan berlabel sedang mencari beasiswa bisa bertambah dan berkembang menjadi sedang di UK. See you!!
Post a Comment