SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

11 January 2018

Tagged Under:

Jatuh Cinta pada Buku Digital

Share


Dulu, saya termasuk orang yang memandang sebelah mata kepada buku-buku digital.  Mana bisa sih buku-buku digital ini mengalahkan buku fisik. Aroma yang dihasilkan buku baru, sensasi yang dirasakan jari saat membalik halaman demi halaman, dan suara kertas yang dihasilkannya? Tidak tergantikan, macam cinta pertama ya ceu. 

Pendapat saya berubah saat pusing melihat tumpukan buku di rumah. Banyak. Banget.  Sangking banyaknya sudah tidak tertampung di rak. Jadi saya simpan dalam container-container. 

Menyimpan buku dalam container itu menyebalkan. Selain merusak, bukunya juga jadi sulit dicari. Sehingga setiap ingin membaca ulang suatu buku saya memutuskan beli baru daripada repot-repot membuka container. Eaaa.  Jadinya tumpukan bukunya semakin meninggi kan ya. 

Padahal saya sudah memutuskan untuk melepas buku-buku yang tidak akan dibaca ulang. Namun..... tetap saja dong tumpukan bukunya tidak berkurang secara signifikan. Sepertinya karena selera orang beda-beda. Buku-buku yang populer sih cepat diadopsi. Yang tidak populer padahal bagus menurut saya, masih menangkring sedih di rumah. 

Mungkin karena itu di awal 2017, saya secara implusif membeli kindle paperwhite. Hahaha. Implusif dan nekat. Soalnya saya belum pernah membaca buku digital. Kalau ternyata tidak cocok, harga kindlenya kan bikin manyun.

sumber: Amazon

Untungnya saya cocok dengan kindle ini. Udahlah cocok, suka juga. Suka! Banget! Kecepatan dan jumlah buku yang saya selesaikan meningkat semenjak kehadirannya. Luar biasa! Kalau tidak menahan diri, bisa-bisa tiap minggu saya beli buku baru lagi. Bangkrut dong. Harganya dollar semua, lumayan menguras kantong. Karena itu saya selingi juga dengan buku-buku lokal yang harganya lebih murah.

Buku lokal ada di kindle? Oh tentu tidak. Untuk buku lokal saya menggunakan Google Book, yang bisa diinstall di handphone. -dikeplak-

Dan setelah setahun lebih menggunakan dua versi buku digital ini saya bisa menyimpulkan kelebihan dan kekurangan mereka. Jadi kalau kamu seperti saya yang ingin mengurangi tumpukan buku dan ingin mencoba beralih ke buku digital bisa mempertimbangkan untuk menggunakan yang mana.

KENAPA BUKU DIGITAL?
  • Lebih baik untuk lingkungan. Tidak perlu menebang pohon untuk kertas dan tidak menambah sampah.
  • Tidak memerlukan tempat penyimpanan yang besar. Secara tanah yang murah hanya di Meikarta ya Bu. Jadi kalau rumahnya masih tipe 36 dan cicilan masih 14 tahun lagi, beli buku digital jauh lebih murah ketimbang beli rak buku di Ifurholic. 
  • Ringan. Jadi bisa dibawa ke mana saja, tidak ada lagi alasan buku ketinggalan. Atau memberatkan tas yang sudah sarat beban hidup
  • Menghilangkan resiko lecek atau sudut halaman dilipat. Iya itu mengesalkan.
  • Tidak ada lagi kejadian menangis semalaman akibat buku yang tidak dikembalikan teman. 
  • Dan yang paling penting buat saya adalah “Bisa dibaca saat gelap”, jadi kalau ketiduran pas baca buku, tidak perlu bangun untuk mematikan lampu. Dan selama membaca tidak akan mengganggu suami atau anak bayi yang mau tidur. 


KINDLE 

Yang sering ditanyakan kepada saya, kalau tidak biasa membaca buku bahasa inggris, kindle tiada gunanya dong ya? Jangan khawatir saudara. Sebagian besar buku-buku kindle sudah dilengkapi dengan word wise. Dimana sepanjang halaman akan bermunculan pengertian sederhana untuk kata-kata yang sulit.  Kindle juga tetap terkoneksi dengan kamus Webster meskipun offline.  Jadi kalau bingung tinggal tekan lama-lama dan voila, arti kata tersebut pun muncul. 

Sumber: Amazon lagi


Kelebihannya:
  • Ukurannya pas banget dipegang dengan satu tangan. Jadi bisa menyusuin sambil baca buku, hahaha iya ini penting buat saya.
  • Baterainya tahan lama. Bisa bertahan berminggu-minggu tanpa dikasih makan.
  • Tidak membuat mata lelah meski dibaca dalam waktu lama.
  • Dibaca di bawah matahari juga tidak berbayang, pengaturan cahayanya juga otomatis. Bebas ribet.  


Kekurangannya: 
  • Layarnya memang sengaja tidak dirancang sesensitif tablet/handphone. Menghindari tertekan lalu loncat berapa halaman. Namun kalau biasa megang handphone, begitu menyentuh kindle yang tidak cukup dibelai tapi harus ditoel dengan niat baru bereaksi, ya agak kesal juga sih. Dingin amat sis.
  • Hitam putih, jadi tidak cocok untuk buku anak-anak yang biasanya warna-warni. 
  • Harga buku-bukunya mahal. Dolar ceu. Satu buku ratusan ribu jua. Meski saya pernah mendapat buku seharga $1. Tapi itu jarang. Buku yang sering saya beli kan novel-novel ringan menyenangkan hati, jadi bikin mikir-mikir kalau mengeluarkan uang ratusan ribu untuk bacaan model begini, bisa-bisa dipelototin suami. Apalagi kalau suami tahu harga novel terjemahannya tidak sampai setengahnya. 


Ngomong-ngomong soal harga novel terjemahan yang lebih murah dibandingkan aslinya, saya suka bertanya-tanya kenapa. Bukankan ada biaya tambahan untuk membayar penerjemahnya ya?


GOOGLE BOOK

Kelebihannya:
  • Sudah tentu tidak perlu membeli perangkat baru ya. Cukup menggunakan handphone/tablet yang dimiliki saat ini.
  • Google book punya animasi "membalik halaman", saya suka banget. Jadi seperti membaca buku benaran. 
  • Tersedia banyak buku lokal dan terjemahan, sehingga harga bukunya muraaaah banget. Saya pernah membeli novel Ziarah hanya Rp15ribu. Padahal di toko buku Rp40ribuan saja. Ih senang kan ya.. ya... Buku bahasa Inggris juga ada kog.


Yang saya tidak suka dari google book ini adalah:
  • Tidak nyaman di mata, mata jadi cepat lelah. Meski saya sudah memakai mode night vision, tetap saja masih terlalu terang. Dan tidak otomatis berubah mengikuti cahaya di luar. 
  • Baterainya mengikuti handphone. Jadi kalau hp mati, udah deh mati gaya. 
  • Setiap ganti buku baru, setingan ukuran huruf kembali ke awal. Jadi harus disetting kembali. 
  • Meski saat membuka google book, notifikasi dari aplikasi lain tidak muncul, tetap saja godaan untuk melihat sosial media muncul. Duh. Kalau di kindle karena tidak bisa mengakses sosial media, kita bisa membaca lebih fokus. Tapi jangan salah, ada kindle jenis lain yang dapat diinstall mainan. Jadi ya tetap rebutan dengan anak. _lirik suami_


PILIH YANG MANA

Jadi saat ini saya menggunakan dua versi buku digital, Kindle dan Google Book. Kindle untuk buku-buku berbahasa Inggris. Google Book untuk buku-buku yang tidak ada di kindle, seringnya sih yang berbahasa indonesia. Saya juga masih membeli buku fisik untuk buku-buku yang tidak tersedia di kedua perangkat ini. Kalau kamu baru pertama kali beralih ke buku digital, silahkan membeli Kindle kalau ada budget lebih dan memang ingin membaca buku bebahasa Inggris. Kalau tidak, install Google Book saja.  
Post a Comment